Salah satu kearifan yang diwarisi bangsa ini adalah sifat gotong royongnya. Presiden Soekarno dalam uraiannya mengatakan Pancasila bisa diperas menjadi trisila dan bahkan eka sila, yakni gotong royong. Apa pun masalahnya, bisa dikerjakan secara gotong royong.
Dalam
hal pengumpulan dana, sifat gotong royong bisa berupa patungan, urunan, saweran
dan nama lokal lain lagi. Patungan istilah yang dipakai dengan cara memberikan sumbangan
dana tanpa ditentukan jumlahnya. Urunan biasanya sudah ditetapkan besarnya.
Sedangkan saweran hampir sama dengan patungan. Hanya saja di beberapa daerah,
terutama di Jawa, istilah saweran ini lebih pada memberikan dana dalam bentuk
spontan untuk kegiatan tertentu. Misalnya, memberi saweran saat menghadiri
acara pernikahan. Memberi uang kepada penari di panggung. Pada pentas Srimulat
dan Ketoprak di masa jayanya, ada saja penonton yang melempar uang ke panggung
dan itu pun disebut saweran. Apa pun istilahnya, semua dilakukan suka rela dalam
suasana kegembiraan, karena ada rasa memiliki.
Cara
pengumpulan dana itu sekarang mau dipakai untuk membiayai Ibu Kota Negara (IKN)
Nusantara yang akan dibangun di Kalimantan Timur. Istilahnya bisa saja keren, crowd
funding. Pertanyaannya, apakah ibu kota baru itu disambut dengan kegembiraan
dan semua orang merasa memiliki?
Di
sini kunci dari keberhasilan meraup dana lewat warisan kearifan lokal tersebut.
Kepala Otorita IKN Nusantara, Bambang Susantono, harusnya menyadari kondisi
batin warga bangsa saat ini. Apakah masyarakat saat ini sedang dalam
kegembiraan dalam hidup kesehariannya? Apakah IKN Nusantara itu sudah disambut
oleh warga bangsa ini sebagai milik bersama?
Ibu-ibu
masih antre untuk mendapatkan minyak goreng. Supir truck di Balikpapan antre
solar selama tiga hari. Antrean serupa terjadi juga di daerah lain. Warga
Sangata, tak jauh dari IKN Nusantara dengan struktur alam yang sama-sama rusak
oleh tambang batubara, masih bergulat dengan banjir. Sebentar lagi bulan suci
Ramadan tiba, sebagian besar penduduk bangsa ini mengeluhkan naiknya harga
kebutuhan pokok. Sementara jutaan orang masih terpuruk secara ekonomi akibat pandemi
Covid-19. Bagaimana bisa patungan dana untuk membiayai ibu kota negara itu?
Lalu
kebersamaan dan rasa memiliki. Apakah IKN Nusantara sudah mendapat tempat di hati
masyarakat? Perencanaan yang tidak melibatkan banyak orang, pemilihan tempat di
lokasi yang hutannya banyak lubang akibat tambang, alasan pemindahan kota, sampai
pada undang-undang IKN yang terburu-buru, adalah sisi buruk yang menumpuk.
Apalagi adanya target fantastis, IKN Nusantara harus bisa dipakai untuk upacara
HUT Proklamasi pada 17 Agustus 2024 – hajatan terakhir Presiden Joko Widodo jika
masa jabatan presiden tak bisa diperpanjang. Dengan rasa tak memiliki ini,
bagaimana orang mau saweran?
Kegaduhan
sangat mungkin terjadi jika saweran itu dipaksakan lantaran kehabisan akal mencari
dana. Ada pengalaman bagaimana Taman Mini Indonesia Indah (TMII) digagas Ibu
Negara Tien Suharto pada 1972. Dana pemerintah tak banyak. Presiden Suharto
lantas meminta semua provinsi di Indonesia urunan untuk membuat paviliyun
daerahnya. TMII baru diresmikan tiga tahun kemudian dan Ibu Tien terus meminta
instansi membangun museum tentang lembaganya.
TMII
akhirnya hanya menjadi salah satu tempat rekreasi orang Jakarta. Gagal sebagai pintu
gerbang budaya Nusantara. Museum dan paviliyun mulai terlantar dan sepi. Di
mana salahnya? Perencanaan dan gagasan tidak melibatkan banyak orang untuk
sebuah ide tentang keberagaman budaya Nusantara. Orang daerah tak merasa
memilikinya bagaimana paviliyun itu bisa hidup? Tak ada yang mau urunan lagi.
IKN
pun bisa gagal jika rasa memiliki ibu kota negara itu tak ada. Siapa yang mau patungan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar