Bupati Karanganyar Juliyatmono berpidato di acara hajatan pernikahan. Dalam pidato berbahasa Jawa itu dia meminta warganya untuk menganggap virus Covid-19 dan varian Omicron sudah tidak ada lagi. Langsung potongan video berdurasi 30 detik itu menjadi viral.
Apa yang salah
dari pidato ini? Bupati Juliyatmono menyebut warga tidak perlu takut karena
Omicron mirip dengan pilek biasa. Toh dia mengimbau warga untuk tetap menggunakan
masker. Kalau pun mengalami gejala pilek, jangan buru-buru diperiksa. Tinggal
saja di rumah barang tiga hari, nanti akan sembuh sendiri. “Ora sah wedi,”
katanya.
Dokter
Puskesmas di pedesaan Bali kini kebanjiran pasien dengan gejala seperti pilek. Suhu
badan tinggi di atas 38 derajat Celsius, lalu ditambah batuk. Tak ada yang disarankan
tes swab antigen. Tinggal diberi obat: Paracetamol, vitamin B Komplek, vitamin
D3 dan vitamin C 1000. Kalau obat ini tak ada stocknya di Puskesmas pasien beli
sendiri di apotek. Tak habis Rp 50 ribu. Masyarakat juga punya obat alternatif,
daun papaya tua direbus campur jahe dan madu. Konon dalam hitungan 5 atau 6
hari semuanya jadi normal. Yang penting diam di rumah, jangan keluyuran.
Penyakit
dengan ciri ini mewabah di mana-mana. Tapi tak ada yang mengkaitkan dengan
Omicron. Bahwa kasus konfirmasi Covid-19 di Bali angkanya naik terus, itu lebih
pada pelacakan di perkotaan. Terutama lewat transmisi perjalanan luar negeri.
Orang-orang desa menganggap wabah “meriang dan batuk” saat ini adalah musimnya.
Ini sasih (bulan) ke sembilan menjelang Hari Raya Nyepi, biasa ada wabah
pilek. Karena itu ketika Gubernur Bali sempat melarang pawai ogoh-ogoh yang
biasa terjadi menjelang Nyepi dengan alasan Covid-19 melonjak tinggi, banyak
orang yang protes. Akhirnya larangan dicabut Rabu lalu. Pawai ogoh-ogoh tetap diizinkan.
Ini soal wabah pilek, bukan Omicron.
Ajakan Bupati Karanganyar yang meminta
warganya jangan terlalu memikirkan Omicron sudah lama diberlakukan di Bali. Ini
bahkan senada dengan pernyataan Menko Maritim dan Investasi, Luhut Binsar
Pandjaitan, yang meminta masyarakat tak perlu takut dengan Covid-19. Luhut
memberikan lampu hijau kepada masyarakat untuk melakukan aktivitas seperti
biasa tanpa perlu khawatir adanya pandemi Covid-19. Ia bahkan membebaskan warga
yang tidak memiliki komorbid dan sudah mendapatkan vaksinasi untuk pergi
jalan-jalan. “Kalau memang sudah vaksin,
sudah dua kali, sudah booster, tidak ada komorbid, ya jalan-jalan saja. Tidak
ada yang perlu dikhawatirkan berlebihan,” kata Luhut.
Lalu, siapa sebenarnya yang khawatir
berlebihan? Media masa masih rajin menyiarkan kenaikan Covid-19 dengan segala
bumbu-bumbu yang mencemaskan. Angka kasus konfirmasi harian naik mencapai
64.718 dan menjadi rekor baru selama pandemi Covid-19 di Indonesia. Contoh
berita dari sumber pemerintah, tapi tidak menjelaskan bagaimana sebenarnya sikap
pemerintah. Lonjakan kasus terus meninggi sementara kegiatan aktifitas
masyarakat diizinkan untuk diperlonggar. Bahkan kalau cuma meriang dan
batuk-batuk tak usah diperiksa, itu hanya pilek biasa.
Covid-19 memang ada, terbukti
masih ada orang yang meninggal karena Covid. Rumah sakit rujukan kembali sibuk
menyiapkan ruang perawatan. Ini respon Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo atas
pidato viral Bupati Karanganyar. Namun kalau Covid-19 tetap mengkhawatirkan bagaimana
menghentikan laju penularan ini? Anjuran Bupati Karanganyar agar tidak usah
memikirkan Omicron tapi tetap memakai masker, bisa jadi juga sebuah sindiran
bahwa tak ada satu bahasa mengatasi Covid-19. Seperti pula di Bali, pembatasan
kegiatan masyarakat yang dikaitkan dengan kenaikan angka positif Covid-19
ditolak ramai-ramai. Bukankah yang ada hanya pilek dan itu sembuh sendiri? Nah,
bingung kan?
(Koran Tempo, 20 Februari 2022)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar