20 Februari 2022

CariAngin KoranTempo - PILEK


Bupati Karanganyar Juliyatmono berpidato di acara hajatan pernikahan. Dalam pidato berbahasa Jawa itu dia meminta warganya untuk menganggap virus Covid-19 dan varian Omicron sudah tidak ada lagi. Langsung potongan video berdurasi 30 detik itu menjadi viral.

Apa yang salah dari pidato ini? Bupati Juliyatmono menyebut warga tidak perlu takut karena Omicron mirip dengan pilek biasa. Toh dia mengimbau warga untuk tetap menggunakan masker. Kalau pun mengalami gejala pilek, jangan buru-buru diperiksa. Tinggal saja di rumah barang tiga hari, nanti akan sembuh sendiri. “Ora sah wedi,” katanya.

Dokter Puskesmas di pedesaan Bali kini kebanjiran pasien dengan gejala seperti pilek. Suhu badan tinggi di atas 38 derajat Celsius, lalu ditambah batuk. Tak ada yang disarankan tes swab antigen. Tinggal diberi obat: Paracetamol, vitamin B Komplek, vitamin D3 dan vitamin C 1000. Kalau obat ini tak ada stocknya di Puskesmas pasien beli sendiri di apotek. Tak habis Rp 50 ribu. Masyarakat juga punya obat alternatif, daun papaya tua direbus campur jahe dan madu. Konon dalam hitungan 5 atau 6 hari semuanya jadi normal. Yang penting diam di rumah, jangan keluyuran.

Penyakit dengan ciri ini mewabah di mana-mana. Tapi tak ada yang mengkaitkan dengan Omicron. Bahwa kasus konfirmasi Covid-19 di Bali angkanya naik terus, itu lebih pada pelacakan di perkotaan. Terutama lewat transmisi perjalanan luar negeri. Orang-orang desa menganggap wabah “meriang dan batuk” saat ini adalah musimnya. Ini sasih (bulan) ke sembilan menjelang Hari Raya Nyepi, biasa ada wabah pilek. Karena itu ketika Gubernur Bali sempat melarang pawai ogoh-ogoh yang biasa terjadi menjelang Nyepi dengan alasan Covid-19 melonjak tinggi, banyak orang yang protes. Akhirnya larangan dicabut Rabu lalu. Pawai ogoh-ogoh tetap diizinkan. Ini soal wabah pilek, bukan Omicron.

Ajakan Bupati Karanganyar yang meminta warganya jangan terlalu memikirkan Omicron sudah lama diberlakukan di Bali. Ini bahkan senada dengan pernyataan Menko Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, yang meminta masyarakat tak perlu takut dengan Covid-19. Luhut memberikan lampu hijau kepada masyarakat untuk melakukan aktivitas seperti biasa tanpa perlu khawatir adanya pandemi Covid-19. Ia bahkan membebaskan warga yang tidak memiliki komorbid dan sudah mendapatkan vaksinasi untuk pergi jalan-jalan. “Kalau memang sudah vaksin, sudah dua kali, sudah booster, tidak ada komorbid, ya jalan-jalan saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan berlebihan,” kata Luhut.

Lalu, siapa sebenarnya yang khawatir berlebihan? Media masa masih rajin menyiarkan kenaikan Covid-19 dengan segala bumbu-bumbu yang mencemaskan. Angka kasus konfirmasi harian naik mencapai 64.718 dan menjadi rekor baru selama pandemi Covid-19 di Indonesia. Contoh berita dari sumber pemerintah, tapi tidak menjelaskan bagaimana sebenarnya sikap pemerintah. Lonjakan kasus terus meninggi sementara kegiatan aktifitas masyarakat diizinkan untuk diperlonggar. Bahkan kalau cuma meriang dan batuk-batuk tak usah diperiksa, itu hanya pilek biasa.

Covid-19 memang ada, terbukti masih ada orang yang meninggal karena Covid. Rumah sakit rujukan kembali sibuk menyiapkan ruang perawatan. Ini respon Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo atas pidato viral Bupati Karanganyar. Namun kalau Covid-19 tetap mengkhawatirkan bagaimana menghentikan laju penularan ini? Anjuran Bupati Karanganyar agar tidak usah memikirkan Omicron tapi tetap memakai masker, bisa jadi juga sebuah sindiran bahwa tak ada satu bahasa mengatasi Covid-19. Seperti pula di Bali, pembatasan kegiatan masyarakat yang dikaitkan dengan kenaikan angka positif Covid-19 ditolak ramai-ramai. Bukankah yang ada hanya pilek dan itu sembuh sendiri? Nah, bingung kan?

(Koran Tempo, 20 Februari 2022)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar