23 Januari 2022

CariAngin KoranTempo - NUSANTARA


Putu Setia @mpujayaprema

 Kelompok musik legendaris Koes Plus melahirkan serangkaian lagu dengan judul Nusantara, dimulai 1973. Paling tidak ada sembilan lagu yang ditulis Tonny Koeswoyo dengan judul yang sama. Semua menggambarkan kekaguman Indonesia yang indah. Sebagian liriknya: Di Nusantara yang indah rumahku/Kamu harus tahu/Hutannya lebat seperti rambutku/Gunungnya tinggi seperti hatiku/Lautnya luas seperti jiwaku….

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Nusantara artinya “sebutan (nama) bagi seluruh wilayah kepulauan Indonesia.” Kata itu berasal dari nusa yang berarti pulau dan antara yang berarti meliputi atau di antara. Ini dari bahasa Jawa Kuno yang diadopsi dari bahasa Sansekerta dan sudah ada di dalam Kakawin Nagarakertagama gubahan Mpu Prapanca di era Majapahit. Berabad-abad dipakai sebagai istilah untuk menggambarkan sebuah negeri yang terdiri dari gugusan pulau dengan laut dan gunungnya yang indah. Berbagai kata turunan muncul. Misalnya, masyarakat adat nusantara, budaya nusantara, kuliner nusantara. Semua orang paham nusantara itu artinya Indonesia. Bahkan seorang ilmuwan, Dr. Arkand, pernah mengusulkan agar nama Indonesia diganti menjadi Nusantara. Itu disampaikan Arkand, pakar analis nama, empat tahun silam.

Kini, nama Nusantara dipersempit menjadi nama ibu kota negara. Presiden Joko Widodo memilih nama itu untuk ibu kota negara yang dibangun di hutan Kalimantan Timur. Apakah ibu kota itu betul-betul terwujud atau mungkin tidak diteruskan oleh presiden setelah era Jokowi, kita tak tahu pasti saat ini. Semua bisa terjadi. Seperti halnya Jokowi membiarkan proyek besar Hambalang, warisan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, tetap mangkrak.

Debat ibu kota negara yang baru sudah makin ramai. Ini hanya serpihan kecilnya, nama Nusantara. Kenapa itu yang dipilih oleh Jokowi dari 80 nama yang tersedia? Tidakkah akan menjadi rancu jika seseorang menyebut nama itu, Nusantara apa yang dimaksudkannya? Apakah Nusantara sebagai keseluruhan wilayah Indonesia atau Nusantara sebagai ibu kota negara?

Kita mengenal ada Hari Nusantara yang diperingati setiap 13 Desember. Hari Nusantara ini lahir lewat Keputusan Presiden No.126 Tahun 2001 di era Presiden Megawati. Tujuannya memperingati Deklarasi Djuanda 1957 yang dianggap deklarasi penting setelah proklamasi kemerdekaan. Bunyinya: "Bahwa semua perairan di sekitar, di antara dan yang menghubungkan pulau-pulau yang masuk daratan NKRI, adalah bagian-bagian yang tak terpisahkan dari wilayah yurisdiksi Republik Indonesia". Nah, bagaimana nanti Hari Nusantara ini dikaitkan dengan Ibu Kota Nusantara? Apa tak membingungkan?

Undang-undang Ibu Kota Negara yang baru disahkan memang kurang menyertakan partisipasi masyarakat. Siapa yang tahu ada 80 nama yang diusulkan kepada Jokowi? Siapa pula ahli bahasa dan ahli sejarah yang dimintai pendapatnya saat memilih nama Nusantara? Padahal di antara nama ibu kota yang diusulkan itu ada yang bernama Nusantarajaya. Tambahan kata jaya ini justru membuat ke-nusantara-an makin diagungkan. Memang tambahan jaya terlalu umum dan klise. Kenapa tidak dicari tambahan kata lain, misalnya, Nusantarapura atau Nusantarakertha (atau dibalik Kerthanusantara)? Pura artinya kawasan tentram. Di Bali ada tiga nama kota yang diperbarui dengan kata pura, yakni Amlapura (dulu Karangasem), Semarapura (dulu Klungkung) dan Mangupura (kota baru kabupaten Badung). Di Kalimantan Selatan ada kota Martapura, juga nama Martapura ada di Sumatra Selatan. Sedangkan kertha artinya sejahtra. Jadi kalau orang menyebut Nusantarapura atau Kerthanusantara pasti yang dimaksudkan adalah ibu kota negara gagasan Jokowi. Kalau sebut Nusantara saja, orang akan bertanya, ini maksudnya ibukota negara atau negara itu sendiri? Rancu kan?

(Koran Tempo 23 Januari 2022)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar