29 Agustus 2021

CariAngin KoranTempo - NONTON BOLA


Perhelatan bola sudah digelar di negeri ini. Bola sudah di tendang ke sana ke mari di lapangan. Tapi tak ada tepuk sorak. Stadion lengang. Yang ada cuma petugas pertandingan dan polisi yang berjaga-jaga – entah menjaga siapa. Liga 1 yang diikuti 18 klub sudah dimulai Jumat lalu, berlanjut Sabtu dan Minggu ini. Apa setelah itu? Akan ada evaluasi, diteruskan atau tidak Liga 1 ini.

 Era baru menonton bola di masa pandemi yang belum usai meski sudah mereda, harus dilewati. Pemerintah menetapkan pandemi Covid-19 ini ke PPKM level 3, turun dari puncaknya, level 4. Ini khusus di Pulau Jawa dan Bali. Dan karena itu pula Liga 1 hanya akan bergulir di Pulau Jawa, meski pun pesertanya ada dari luar Jawa.

 

Dalam izin yang dikeluarkan kepolisian, setelah tiga pertandingan sampai malam ini, hasil evaluasi akan menentukan apakah adu sepak bola ini dilanjutkan atau tidak. Jika berlanjut apakah ada kemajuan, misalnya, penonton dibolehkan masuk ke stadion dengan jumlah terbatas. Jika mal saja sudah boleh dibuka dengan pengunjung 50 persen dari kapasitas, siapa tahu penonton bola bisa  mengisi stadion dalam kapasitas tertentu. Tentu dengan persyaratan yang sama ketatnya, sudah harus divaksin, dites suhu dan memakai masker.

 

Bergulirnya Liga 1 bukan saja menggembirakan pencinta bola. Tapi menggembirakan banyak orang sebagai pertanda bahwa sudah mulai nampak kehidupan yang membaik setelah satu setengah tahun lebih dihantam pandemi. Memang, kasus positif harian Covid-19 masih di angka 10 ribu lebih, tetapi tanda-tanda melandainya semakin nampak. Pusat perdagangan sudah dibuka dengan pembatasan pengunjung. Juga tempat rekreasi. Bahkan sekolah tatap muka pun mulai disiapkan tanpa ada persyaratan siswa harus sudah divaksin. Syarat yang divaksin hanyalah guru. Hajatan bola justru lebih berat syaratnya. Pemain, pelatih dan seluruh petugas yang masuk stadion harus sudah divaksin dua kali – termasuk wartawan peliput. Bahkan para pemain harus menjalani tes antigen sebanyak lima kali. Yakni, sebelum berangkat ke hotel tempat menginap, sesampainya di hotel, sehari sebelum pertandingan, menjelang pertandingan dan selesai pertandingan. Secara berkelakar ada pemain yang bergumam: “Bisa lecet hidung ini dicocok terus”.

 

Bermain bola tanpa penonton, bagi pemain, pasti menurunkan semangat bertanding. Tak ada sorak-sorak ketika berhasil menggiring bola ke arah gawang. Tak ada keriuhan yang memberi semangat. Pemain pun seperti enggan melakukan selebrasi sebagai ekspresi kegembiraannya setelah menjebol gawang lawan. Sementara penonton di depan layar televisi hanya bersorak sendiri. Kebisingan berkurang meski penyiar televisi terlalu banyak ngoceh.

 

Pembatasan di stadion yang begitu ketat bisa dimaklumi. Namun, sebaiknya ada kelonggaran bagi para penggemar nobar alias nonton bareng. Apalagi kalau yang berlaga adalah klub jagoannya. Ini sebagai pengganti karena tak bisa masuk ke stadion. Nonton bareng pun seharusnya tidak dijadikan bahan evaluasi untuk meneruskan atau tidak turnamen Liga ini. Kenakan persyaratan umum yang ditentukan oleh Satgas Covid-19 sesuai pembatasan yang ditetapkan di daerah bersangkutan. Kalau ada pelanggaran, lepaskan dari tanggungjawab pelaksana pertandingan yang ada di stadion.

 

Masyarakat sudah jenuh stay at home. Perlu hiburan. Ada yang ingin jalan-jalan di mal, makan di restoran, menyusuri pantai, melihat unggas di kebun binatang, dan menonton bola dengan bintang asal daerahnya. Sepanjang protokol kesehatan dipatuhi, janganlah nonton bola ini diatur ribet. Kegembiraan menghilangkan rasa jenuh, mungkin pula bisa menambah imun tubuh untuk melawan pandemi.


*Putu Setia/MpuJayaPrema

(Koran Tempo 29 Agustus 2021)

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar