Perhelatan bola sudah digelar di negeri ini. Bola sudah di tendang ke sana ke mari di lapangan. Tapi tak ada tepuk sorak. Stadion lengang. Yang ada cuma petugas pertandingan dan polisi yang berjaga-jaga – entah menjaga siapa. Liga 1 yang diikuti 18 klub sudah dimulai Jumat lalu, berlanjut Sabtu dan Minggu ini. Apa setelah itu? Akan ada evaluasi, diteruskan atau tidak Liga 1 ini.
Dalam izin yang dikeluarkan
kepolisian, setelah tiga pertandingan sampai malam ini, hasil evaluasi akan
menentukan apakah adu sepak bola ini dilanjutkan atau tidak. Jika berlanjut
apakah ada kemajuan, misalnya, penonton dibolehkan masuk ke stadion dengan
jumlah terbatas. Jika mal saja sudah boleh dibuka dengan pengunjung 50 persen
dari kapasitas, siapa tahu penonton bola bisa
mengisi stadion dalam kapasitas tertentu. Tentu dengan persyaratan yang
sama ketatnya, sudah harus divaksin, dites suhu dan memakai masker.
Bergulirnya Liga 1 bukan saja
menggembirakan pencinta bola. Tapi menggembirakan banyak orang sebagai pertanda
bahwa sudah mulai nampak kehidupan yang membaik setelah satu setengah tahun
lebih dihantam pandemi. Memang, kasus positif harian Covid-19 masih di angka 10
ribu lebih, tetapi tanda-tanda melandainya semakin nampak. Pusat perdagangan sudah
dibuka dengan pembatasan pengunjung. Juga tempat rekreasi. Bahkan sekolah tatap
muka pun mulai disiapkan tanpa ada persyaratan siswa harus sudah divaksin.
Syarat yang divaksin hanyalah guru. Hajatan bola justru lebih berat syaratnya.
Pemain, pelatih dan seluruh petugas yang masuk stadion harus sudah divaksin dua
kali – termasuk wartawan peliput. Bahkan para pemain harus menjalani tes
antigen sebanyak lima kali. Yakni, sebelum berangkat ke hotel tempat menginap,
sesampainya di hotel, sehari sebelum pertandingan, menjelang pertandingan dan
selesai pertandingan. Secara berkelakar ada pemain yang bergumam: “Bisa lecet
hidung ini dicocok terus”.
Bermain bola tanpa penonton, bagi
pemain, pasti menurunkan semangat bertanding. Tak ada sorak-sorak ketika
berhasil menggiring bola ke arah gawang. Tak ada keriuhan yang memberi semangat.
Pemain pun seperti enggan melakukan selebrasi sebagai ekspresi kegembiraannya
setelah menjebol gawang lawan. Sementara penonton di depan layar televisi hanya
bersorak sendiri. Kebisingan berkurang meski penyiar televisi terlalu banyak
ngoceh.
Pembatasan di stadion yang begitu
ketat bisa dimaklumi. Namun, sebaiknya ada kelonggaran bagi para penggemar nobar
alias nonton bareng. Apalagi kalau yang berlaga adalah klub jagoannya. Ini
sebagai pengganti karena tak bisa masuk ke stadion. Nonton bareng pun
seharusnya tidak dijadikan bahan evaluasi untuk meneruskan atau tidak turnamen
Liga ini. Kenakan persyaratan umum yang ditentukan oleh Satgas Covid-19 sesuai
pembatasan yang ditetapkan di daerah bersangkutan. Kalau ada pelanggaran, lepaskan
dari tanggungjawab pelaksana pertandingan yang ada di stadion.
Masyarakat sudah jenuh stay at
home. Perlu hiburan. Ada yang ingin jalan-jalan di mal, makan di restoran,
menyusuri pantai, melihat unggas di kebun binatang, dan menonton bola dengan
bintang asal daerahnya. Sepanjang protokol kesehatan dipatuhi, janganlah nonton
bola ini diatur ribet. Kegembiraan menghilangkan rasa jenuh, mungkin pula bisa
menambah imun tubuh untuk melawan pandemi.
*Putu Setia/MpuJayaPrema
(Koran Tempo 29 Agustus 2021)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar