Di Batuceper, Tangerang, ada
mural bergambar mirip wajah Presiden Joko Widodo. Cuma matanya ditutup dengan
tulisan 404:Not Found.
Gambar serupa dicetak di baju kaos oleh seorang pemuda di Tuban, Jawa
Timur. Mural di Batuceper dihapus dan sang pemuda di Tuban diperiksa polisi.
Seberapa orang yang tahu apa
arti 404: Not Found? Jangan-jangan pemuda di Tuban itu juga tak tahu
dari mana asal kata itu. Polisi pun diragukan paham apa makna kata 404 Not
Found. Lalu di mana unsur penghinaannya kepada orang yang berwajah mirip
Jokowi? Begitu pula mural bertulis “Wabah Sesungguhnya adalah Kelaparan” dan
mural tanpa gambar yang bertulis “Tuhan Aku Lapar”. Ini cuma kalimat pernyataan
kepada Tuhan seperti halnya doa sejenis “Tuhan Lindungi Kami”.
Mural itu karya seni yang
sedap dipandang. Berbeda dengan grafiti, coretan ngawur yang mengotori tembok. Begitulah
mural dari sisi gambar dan pesan yang disampaikannya. Penikmat mural punya
wawasan lebih dibanding pembaca grafiti. Supir angkot dan pemulung di Batuceper
mungkin tak paham kenapa wajah yang mirip Jokowi itu ditutupi tulisan 404:
Not Found. Jangan-jangan mereka mengira angka 404 itu semacam kode judi
yang asalnya dari toto gelap. Mereka tak tahu kalau 404 itu berasal dari dunia
teknologi canggih berkaitan dengan pencarian di dunia maya yang berakhir error.
Lalu bagaimana kalau mural dikaitkan
dengan kritik yang tidak beradab, sebagaimana disebutkan seorang pejabat
tinggi? Ini yang lebih membingungkan
lagi, apa kriteria kritik itu sendiri dan bagaimana yang tidak beradab itu.
Presiden Jokowi berulang kali menyebutkan bukan orang yang antikritik. Bahkan
hal itu diulang lagi dalam pidato kenegaraan di depan sidang Majelis
Permusyawaratan Rakyat pada ulang tahun proklamasi kemerdekaan. Dalam contoh
kasus mural yang viral di mana-mana, Kapolri Listyo Sigit Prabowo dan Kabarekrim Polri Agus Andrianto sudah menegaskan, Presiden
Jokowi tak ingin polisi bersikap reaktif dalam merespons kritik yang berupa
mural. Tetapi kenapa sikap reaktif yang terjadi di lapangan itu dibiarkan saja?
Inkonsistensi
ini menjadi tanda tanya. Dan jika itu ditarik ke atas lagi, ketidak-konsistenan
ini seperti diteladani dari kebijakan Presiden sendiri. Satu contoh saja yang
tetap menjadi carut marut dan tak selesai-selesai. Tes wawasan kebangsaan yang
terjadi di lingkungan pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi yang menelan korban
pegawai dan penyidik terbaik. Presiden Jokowi meminta tes itu bukan dijadikan
penyebab gugurnya status kepegawaian di KPK. Tapi pimpinan KPK membangkang.
Bahkan rekomendasi Ombudsman dan Komnas HAM sama sekali tak
dihiraukan KPK. Nah, kenapa Jokowi diam?
Pembangkangan
yang dibiarkan seperti ini tentu bisa menular ke instansi lain. Maka tak heran
jika Kapolri memerintahkan bawahannya untuk tidak reaktif terhadap keberadaan
mural yang dianggap penuh kritik, sama sekali dicuekin polisi di daerah.
Kasus
pemberangusan mural adalah cermin bagaimana mundurnya demokrasi kita. Pada saat
suara rakyat tak bisa disalurkan oleh wakilnya di parlemen, suara rakyat di
dinding-dinding bangunan tepi jalan juga error not found, tak ditemukan
lagi. Memprihatinkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar