18 Juli 2021

#CariAngin KoranTempo - LINGKARAN


Putu Setia

 Kondisi bangsa sudah porak poranda diterjang pandemi Covid-19. Kita sudah sampai pada puncak kegagalan melawan corona. Angka kematian sudah tertinggi di dunia, pun angka kasus positif harian. Rumah sakit penuh, pasien tak tertampung. Ada yang meninggal saat antre tanpa pertolongan. Ada yang meninggal di rumahnya dengan status isolasi mandiri. Petugas pemakaman kewalahan. Bertahan hidup sulit, meninggal pun sulit. 

Ini lingkaran maut. Kenapa rumah sakit penuh? Karena pasien terus berdatangan. Kenapa tak membangun rumah sakit darurat? Sudah dilakukan. Wisma atlet, rumah susun, asrama haji, kapal apung, semua sudah menjadi rumah sakit darurat. Ada wacana gedung DPR pun jadi rumah sakit darurat. Tapi di mana mencari tenaga kesehatan? Ada upaya mempercepat kelulusan dokter, tapi sebatas untuk tenaga relawan. Sementara dokter yang sesungguhnya, justru berkurang karena gugur dalam tugas.

Andai pun dokter dan perawat ada, di mana mencari alat kesehatan dengan cepat? Oksigen saja harus antre. Mengerikan. Upaya mengurangi orang terpapar Covid-19 ditempuh dengan cara meningkatkan jumlah orang divaksin. Tapi vaksin harus diimpor dan itu butuh waktu. Vaksin buatan dalam negeri belum diizinkan untuk uji klinis. Kalau pun vaksin datang dalam jumlah banyak, petugas vaksinasi juga tak memadai. Mereka kelelahan karena ada beban melakukan testing, tracing dan treatment. Kenapa testing dan tracing harus digencarkan dan bukankah itu justru yang membuat angka positif melonjak terus? Lo, kalau itu tak diperbanyak bagaimana kita tahu sarang virus ada di mana? 

Lingkaran maut berputar-putar tanpa ujung. Lalu, penyebab penularan virus juga ada dalam lingkaran setan.  Orang diminta diam di rumah. Aktifitas masyarakat harus disekat. Rakyat jangan dibiarkan bandel. Tapi, makan apa mereka di rumah kalau penghasilan yang mereka cari dengan bekerja hari ini hanya untuk belanja esok? Mereka tidak punya gaji bulanan. Memangnya pemerintah menjamin kebutuhan pokok warganya agar tidak kelaparan?  Sudah satu setengah tahun ada pembatasan gerak, bantuan sosial – apalagi tidak merata – tak menjamin hidup di rumah saja. Mereka pun berjuang melawan penyekatan. Sama sekali tak ingin menyebar virus, semata-mata menghindari kelaparan.

Di tengah lingkaran masalah tanpa ujung ini, muncul celotehan kalau Covid-19 hanyalah dibuat-buat. Seperti ucapan dokter Lois Owien yang diviralkan di media sosial itu. Sudah lebih 4 juta kematian di seluruh dunia, dokter Lois justru menyebut penyebabnya salah obat. Celakanya rakyat yang frustasi karena tak menemukan ujung lingkaran, mudah tergoda oleh penyesatan macam ini. Kita tak cukup gesit untuk menghentikan propaganda yang menyesatkan dalam tempo singkat. Lagi pula komunikasi kita kian buruk dan selalu menjadi bulanan kecurigaan rakyat. Misalnya, soal vaksin berbayar itu. Kesimpulan yang sampai di masyarakat adalah: “Covid-19 ini ada bisnisnya, jualan vaksin.”

Gagal melandaikan penyebaran virus, sulit memotong lingkaran masalah pandemi, tiba-tiba  muncul sinyal dari pemerintah untuk memperpanjang PPKM darurat. Suara penolakan langsung muncul. Bukan cuma dari pengusaha, juga terutama dari rakyat sendiri, yang semakin menjerit dalam kesulitan ekonomi. Bagaimana mengembalikan kepercayaan masyarakat bahwa menghentikan penularan virus perlu bekerja bersama-sama? Barangkali perlu ditampilkan orang yang lebih tegas tapi humanis, menjadi komandan perlawanan terhadap Covid-19. Ya, entah siapa. Mungkin Presiden Jokowi sendiri, yang langsung tampil di depan. Wakil Presiden diminta membantu dengan aktif sebagai simbul kebersamaan. Hanya kebersamaan yang mampu melawan wabah ini.

(Koran Tempo, 18 Juli 2021)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar