23 Mei 2021

CariAngin KoranTempo LEDAKAN PANDEMI


Diprediksi usai libur lebaran ledakan pandemi terjadi. Kecemasan ini membuat penyekatan arus balik diperketat. Tapi masyarakat tetap saja cari hiburan ke obyek wisata.

Lebaran sudah berlalu. Namun ketakutan akan adanya ledakan pandemi  setelah libur keagamaan itu menghantui kita semua. Ketakutan bahwa kita tak siap mengatasi masalah ini sehingga penyekatan orang-orang yang balik dari kampung semakin diperketat. Kalau ada yang lolos, pemudik yang kembali ini disambut aparat kelurahan. Mereka harus dites antigen oleh petugas desa.

Libur panjang tahun lalu agaknya memberi pelajaran, Covid-19 melonjak tinggi. Libur itu disertai dengan pembukaan kawasan wisata, membuat masyarakat eforia seolah-olah pandemi sudah menurun. Kepatuhan akan protokol kesehatan pun berkurang. Orang mulai tidak memakai masker. Kerumunan makin terlihat di mana-mana. Sejumlah negara lain juga seperti itu. Saat itu India pun dinyatakan sukses menurunkan penularan Covid-19 dengan baik.

Ternyata itu pandemi gelombang pertama. Ada gelombang keduanya. Gelombang kedua ini lebih dasyat penularannya. Itu varian baru dari virus yang sudah ada sebelumnya. Lebih ganas dan lebih sulit ditangkal. India yang berhasil menanggulangi virus generasi pertama, langsung menghadapi serangan gelombang kedua yang maha dasyat. Rumah sakit kewalahan, jenazah antre di krematorium. Angka kematian sampai 4.000 orang sehari. Dan virus varian baru itu sudah masuk ke Indonesia.

India lalu menerapkan lockdown diikuti negara tetangga. Kita di Indonesia cuma mengeluarkan aturan dilarang mudik, yang ternyata jebol. Polisi kasihan kepada pemudik yang nekad bermacet ria 10 km dari area penyekatan. Pemudik pun tak takut diancam dengan karantina sesampai di kampung halaman, bahkan ditakut-takuti dengan isolasi di rumah angker.

Berapa jumlah orang yang lolos mudik? Ada yang memperkirakan 8 juta lebih karena sebelum larangan mudik diberlakukan saja sudah 1,2 juta orang meninggalkan Jakarta. Dan pemudik yang positif Covid-19 ada 4.123 dari 6.742 orang yang diperiksa secara random. Bayangkan kalau pemeriksaannya lebih ketat lagi dengan jumlah yang besar. Yang positif ini pun tak semua dapat penanganan yang memadai. Hanya 75 orang yang dirawat, dan 1.686 isolasi mandiri. Sisanya masih gentayangan. Ini yang mengkhawatirkan pakar-pakar pandemi. Apalagi kawasan wisata di daerah-daerah tetap ramai. Di Jakarta, kawasan Ancol, Taman Mini, Kebun Binatang Ragunan, tetap dikerumuni pengunjung.

Rakyat memang butuh hiburan dengan berbagai alasan. Sudah lama berdiam diri di rumah. Ada yang menghibur diri karena tak bisa mudik ketemu orang tua. Pengelola kawasan wisata juga butuh dana setelah lama tutup. Lalu ada kementrian yang memang tugasnya untuk menggerakkan ekonomi agar tidak macet. Jadi, ya, semuanya bisa dilonggarkan.

Di satu sisi ada ketakutan pandemi melonjak. Jangan seperti India, kata orang. Satu sisi kegiatan ekonomi jangan mandeg. Pertumbuhan ekonomi semakin minus. Lalu di sudut lain ada kecemasan dengan varian baru yang lebih dasyat. Barangkali terobsesi setelah membaca novel Disorder karya Akmal Nasery Basral yang bercerita soal pandemi yang diduga dari laboratorium yang bocor.

Bagaimana seharusnya kita mengelola ketakutan menghadapi ledakan pandemi yang konon ada di depan mata? Ya, kita mesti tega untuk bertindak tegas. Segala celah yang sudah diketahui akan berdampak pada penularan virus lebih cepat, harus dicegah. Tanpa ampun. Masyarakat harus disadarkan akan bahaya virus varian baru, bukan sekadar menakut-nakuti dengan menyebarkan video gelimpangan mayat di India. Juga bukan sikap pasrah dan menyerahkan semuanya akan kekuatan doa. Doa penting, Tuhan Yang Maha Kuasa pasti bisa menghentikan pandemi ini. Tapi Tuhan mungkin sedang menguji usaha kita.

(Mpu Jaya Prema, Koran Tempo 23 Mei 2021)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar