Lebaran sudah berlalu. Namun ketakutan akan adanya ledakan
pandemi setelah libur keagamaan itu
menghantui kita semua. Ketakutan bahwa kita tak siap mengatasi masalah ini sehingga
penyekatan orang-orang yang balik dari kampung semakin diperketat. Kalau ada
yang lolos, pemudik yang kembali ini disambut aparat kelurahan. Mereka harus
dites antigen oleh petugas desa.
Libur panjang tahun lalu agaknya memberi pelajaran, Covid-19 melonjak
tinggi. Libur itu disertai dengan pembukaan kawasan wisata, membuat masyarakat
eforia seolah-olah pandemi sudah menurun. Kepatuhan akan protokol kesehatan pun
berkurang. Orang mulai tidak memakai masker. Kerumunan makin terlihat di
mana-mana. Sejumlah negara lain juga seperti itu. Saat itu India pun dinyatakan
sukses menurunkan penularan Covid-19 dengan baik.
Ternyata itu pandemi gelombang pertama. Ada gelombang keduanya. Gelombang
kedua ini lebih dasyat penularannya. Itu varian baru dari virus yang sudah ada
sebelumnya. Lebih ganas dan lebih sulit ditangkal. India yang berhasil
menanggulangi virus generasi pertama, langsung menghadapi serangan gelombang
kedua yang maha dasyat. Rumah sakit kewalahan, jenazah antre di krematorium.
Angka kematian sampai 4.000 orang sehari. Dan virus varian baru itu sudah masuk
ke Indonesia.
India lalu menerapkan lockdown diikuti negara tetangga.
Kita di Indonesia cuma mengeluarkan aturan dilarang mudik, yang ternyata jebol.
Polisi kasihan kepada pemudik yang nekad bermacet ria 10 km dari area
penyekatan. Pemudik pun tak takut diancam dengan karantina sesampai di kampung
halaman, bahkan ditakut-takuti dengan isolasi di rumah angker.
Berapa jumlah orang yang lolos mudik? Ada yang memperkirakan 8
juta lebih karena sebelum larangan mudik diberlakukan saja sudah 1,2 juta orang
meninggalkan Jakarta. Dan pemudik yang positif Covid-19 ada 4.123 dari 6.742 orang
yang diperiksa secara random. Bayangkan kalau pemeriksaannya lebih ketat lagi
dengan jumlah yang besar. Yang positif ini pun tak semua dapat penanganan yang
memadai. Hanya 75 orang yang dirawat, dan 1.686 isolasi mandiri. Sisanya masih
gentayangan. Ini yang mengkhawatirkan pakar-pakar pandemi. Apalagi kawasan
wisata di daerah-daerah tetap ramai. Di Jakarta, kawasan Ancol, Taman Mini, Kebun
Binatang Ragunan, tetap dikerumuni pengunjung.
Rakyat memang butuh hiburan dengan berbagai alasan. Sudah lama
berdiam diri di rumah. Ada yang menghibur diri karena tak bisa mudik ketemu
orang tua. Pengelola kawasan wisata juga butuh dana setelah lama tutup. Lalu
ada kementrian yang memang tugasnya untuk menggerakkan ekonomi agar tidak
macet. Jadi, ya, semuanya bisa dilonggarkan.
Di satu sisi ada ketakutan pandemi melonjak. Jangan seperti
India, kata orang. Satu sisi kegiatan ekonomi jangan mandeg. Pertumbuhan
ekonomi semakin minus. Lalu di sudut lain ada kecemasan dengan varian baru yang
lebih dasyat. Barangkali terobsesi setelah membaca novel Disorder karya
Akmal Nasery Basral yang bercerita soal pandemi yang diduga dari laboratorium
yang bocor.
Bagaimana seharusnya kita mengelola ketakutan menghadapi ledakan
pandemi yang konon ada di depan mata? Ya, kita mesti tega untuk bertindak
tegas. Segala celah yang sudah diketahui akan berdampak pada penularan virus
lebih cepat, harus dicegah. Tanpa ampun. Masyarakat harus disadarkan akan
bahaya virus varian baru, bukan sekadar menakut-nakuti dengan menyebarkan video
gelimpangan mayat di India. Juga bukan sikap pasrah dan menyerahkan semuanya
akan kekuatan doa. Doa penting, Tuhan Yang Maha Kuasa pasti bisa menghentikan
pandemi ini. Tapi Tuhan mungkin sedang menguji usaha kita.
(Mpu Jaya Prema, Koran Tempo 23 Mei 2021)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar