Putu Setia | @mpujayaprema
Hari ini umat Hindu di Nusantara melaksanakan ritual
hening sehari. Menyambut tahun baru Saka hari ini dinamai Nyepi. Memang asal
katanya dari sepi. Almarhum Prof. Dr. Umar Kayam pernah menulis di Majalah
Tempo tentang Nyepi. Pesan yang disampaikan, bagaimana kita berhenti melakukan
aktifitas sejenak untuk merenung dan tidak berisik.
Nyepi memiliki empat pantangan. Tidak bekerja, tidak
bepergian, tidak mencari hiburan, tidak menyalakan api. Tapi tidak ada larangan
berbicara. Yang dimaksudkan Pak Kayam di era 1980-an itu adalah kurangi
perdebatan yang tidak perlu. Ketimbang kita berdebat dengan riuh mari kita
melakukan introspeksi dengan melakukan perenungan, apa yang sudah kita
kerjakan, apa yang salah untuk kita perbaiki.
Jika berdebat itu yang dimaksudkan dengan berisik, pas
dengan situasi sekarang. Para tokoh berdebat nyaris dengan kata-kata yang tidak
pantas. Para politisi saling menyela omongan lawan jika berdebat live di
televisi. Tujuannya memang agar omongan lawan debat tak ditangkap jelas oleh
pemirsa. Mantan petinggi negara juga tak
memberi contoh bagaimana melakukan perdebatan yang sehat. Padahal mereka bukan
kusir delman, kok maunya debat kusir.
Polemik kongres luar biasa Partai Demokrat, misalnya,
sudah kelewat berisik. Seolah-olah kader partai di negeri ini – apa pun
partainya – masih dipercaya rakyat. Tidak, rakyat lagi fokus menghadapi kesulitan
di masa pandemi ini. Susilo Bambang Yudhoyono dengan berwajah dingin, mengecam
Muldoko yang tiba-tiba menjadi lawannya karena disebut mengkudeta partai lewat
kongres abal-abal. SBY sampai perlu meminta maaf karena merasa salah telah memilih Muldoko
sebagai Panglima TNI di saat SBY sebagai presiden. Kesannya SBY berjasa luar
biasa dalam mengangkat karier Muldoko dan seolah-olah itu adalah utang jasa
yang harus dibayar. Itu kata-kata tak elok lantaran SBY bukan kusir delman.
Tapi Muldoko dengan jabatan Kepala Staf Kantor
Presiden juga melahirkan keberisikan dengan bersedia memimpin partai, padahal
bukan kader. Bisa dibayangkan betapa riuhnya para kader partai menyaksikan
pimpinan puncaknya berprilaku begini.
Presiden Jokowi berada di ujung tanduk – dia kebetulan
kader partai dengan lambang hewan bertanduk. Jokowi diam bisa salah, ikut
berisik juga salah. Jika Jokowi diam bisa diartikan dia membiarkan Muldoko
sibuk dengan urusan Demokrat. Atau malah mendukungnya. Jika Jokowi berisik juga
salah, banyak urusan lain yang harus dikomentari. Padahal apa pun yang
dilakukan Jokowi tetap jadi sumber keberisikan baru. Ada yang lantang bersuara
agar Jokowi tidak dikaitkan dengan Muldoko dalam urusan Demokrat. Ada yang
meminta Jokowi menindak Muldoko.
Susah menjadi presiden di negeri yang berisik ini.
Keceplosan bicara juga jadi ramai. Misalnya, saat Jokowi mengajak rakyatnya
untuk mencintai produksi dalam negeri. Kalau cuma berhenti di situ, mungkin tak
apa-apa, meski ajakan itu sudah teramat klise sejak lama. Namun Jokowi
menambahkan kalimat, “mari kita membenci impor”. Nah, ini jadi berisik, sampai
Jokowi sendiri heran, kok masalah itu jadi ribut?
Ya, tentu saja ribut. Presiden meminta membenci impor,
sementara menterinya siap-siap impor beras. Petani heran padahal panen akan
melimpah dan stock beras banyak. Harga gabah malah terbanting rendah.
Di mana salahnya? Mungkin kita terlalu sibuk kerja,
kerja, dan kerja. Lupa mengevaluasi pekerjaan kita. Maka marilah sehari saja
kita berhenti bekerja, kita merenung dan melakukan instrospeksi, apa yang salah
dan bagaimana memperbaiki di hari esok. Selamat Hari Raya Nyepi bagi yang
merayakannya.
(Koran Tempo 14 Maret 2021)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar