15 Maret 2021

CariAngin KoranTempo BERISIK


Debat di kalangan politisi makin tidak sehat. Sangat berisik. Perlu jeda sehari untuk introspeksi sebagaimana dimaknai pada Hari Raya Nyepi.
\
Berisik

Putu Setia | @mpujayaprema

Hari ini umat Hindu di Nusantara melaksanakan ritual hening sehari. Menyambut tahun baru Saka hari ini dinamai Nyepi. Memang asal katanya dari sepi. Almarhum Prof. Dr. Umar Kayam pernah menulis di Majalah Tempo tentang Nyepi. Pesan yang disampaikan, bagaimana kita berhenti melakukan aktifitas sejenak untuk merenung dan tidak berisik.

Nyepi memiliki empat pantangan. Tidak bekerja, tidak bepergian, tidak mencari hiburan, tidak menyalakan api. Tapi tidak ada larangan berbicara. Yang dimaksudkan Pak Kayam di era 1980-an itu adalah kurangi perdebatan yang tidak perlu. Ketimbang kita berdebat dengan riuh mari kita melakukan introspeksi dengan melakukan perenungan, apa yang sudah kita kerjakan, apa yang salah untuk kita perbaiki.

Jika berdebat itu yang dimaksudkan dengan berisik, pas dengan situasi sekarang. Para tokoh berdebat nyaris dengan kata-kata yang tidak pantas. Para politisi saling menyela omongan lawan jika berdebat live di televisi. Tujuannya memang agar omongan lawan debat tak ditangkap jelas oleh pemirsa.  Mantan petinggi negara juga tak memberi contoh bagaimana melakukan perdebatan yang sehat. Padahal mereka bukan kusir delman, kok maunya debat kusir.

Polemik kongres luar biasa Partai Demokrat, misalnya, sudah kelewat berisik. Seolah-olah kader partai di negeri ini – apa pun partainya – masih dipercaya rakyat. Tidak, rakyat lagi fokus menghadapi kesulitan di masa pandemi ini. Susilo Bambang Yudhoyono dengan berwajah dingin, mengecam Muldoko yang tiba-tiba menjadi lawannya karena disebut mengkudeta partai lewat kongres abal-abal. SBY sampai perlu meminta maaf  karena merasa salah telah memilih Muldoko sebagai Panglima TNI di saat SBY sebagai presiden. Kesannya SBY berjasa luar biasa dalam mengangkat karier Muldoko dan seolah-olah itu adalah utang jasa yang harus dibayar. Itu kata-kata tak elok lantaran SBY bukan kusir delman.

Tapi Muldoko dengan jabatan Kepala Staf Kantor Presiden juga melahirkan keberisikan dengan bersedia memimpin partai, padahal bukan kader. Bisa dibayangkan betapa riuhnya para kader partai menyaksikan pimpinan puncaknya berprilaku begini.

Presiden Jokowi berada di ujung tanduk – dia kebetulan kader partai dengan lambang hewan bertanduk. Jokowi diam bisa salah, ikut berisik juga salah. Jika Jokowi diam bisa diartikan dia membiarkan Muldoko sibuk dengan urusan Demokrat. Atau malah mendukungnya. Jika Jokowi berisik juga salah, banyak urusan lain yang harus dikomentari. Padahal apa pun yang dilakukan Jokowi tetap jadi sumber keberisikan baru. Ada yang lantang bersuara agar Jokowi tidak dikaitkan dengan Muldoko dalam urusan Demokrat. Ada yang meminta Jokowi menindak Muldoko.

Susah menjadi presiden di negeri yang berisik ini. Keceplosan bicara juga jadi ramai. Misalnya, saat Jokowi mengajak rakyatnya untuk mencintai produksi dalam negeri. Kalau cuma berhenti di situ, mungkin tak apa-apa, meski ajakan itu sudah teramat klise sejak lama. Namun Jokowi menambahkan kalimat, “mari kita membenci impor”. Nah, ini jadi berisik, sampai Jokowi sendiri heran, kok masalah itu jadi ribut?

Ya, tentu saja ribut. Presiden meminta membenci impor, sementara menterinya siap-siap impor beras. Petani heran padahal panen akan melimpah dan stock beras banyak. Harga gabah malah terbanting rendah.

Di mana salahnya? Mungkin kita terlalu sibuk kerja, kerja, dan kerja. Lupa mengevaluasi pekerjaan kita. Maka marilah sehari saja kita berhenti bekerja, kita merenung dan melakukan instrospeksi, apa yang salah dan bagaimana memperbaiki di hari esok. Selamat Hari Raya Nyepi bagi yang merayakannya.

(Koran Tempo 14 Maret 2021)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar