Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda
TUMPEK Landep, hari yang jatuh pada Sabtu ini, oleh masyarakat biasa
dipakai untuk menghaturkan sesajen pada warisan leluhurnya yang berupa keris,
tombak, pahat dan peralatan lainnya dari besi. Hanya belakangan bertambah ke
peralatan lain yang berunsurkan besi seperti mobil, motor bahkan kompor sampai
kulkas. Namun inti awalnya adalah keris, tombak dan sebangsanya. Dan unsur itu
pun berubah dari unsur ketajaman menjadi unsur besi.
Kenapa tadinya unsur ketajaman? Karena dikaitkan dengan makna hari Tumpek
Landep ini untuk mengasah ketajaman itu agar menjadi landep atau lancip atau tajam. Padahal mengasah ketajaman itu pun sesungguhnya
bukan ditujukan kepada benda-benda warisan semacam keris dan tombak. Itu
hanyalah simbol. Yang sesungguhnya dimaksud adalah mengasah ketajaman pikiran
kita dan mengasah ilmu yang kita terima pada hari-hari sebelumnya.
Tumpek Landep adalah tumpek yang pertama di antara lima tumpek lainnya
dalam sistem wariga di Bali. Manusia adalah ciptaan yang paling mulia
dibandingkan ciptaan lainnya seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan. Binatang dan
tumbuh-tumbuhan tak diberi pikiran sedang manusia punya. Namun kalau pikiran
itu tidak diasah tidak bisa berkembang. Pikiran harus dipertajam dan harinya
adalah Tumpek Landep.
Karena itu pada hari ini banyak umat Hindu yang melakukan pewintenan.
Kita memohon
kepada Hyang Pasupati, supaya kita punya ketajaman pikiran dalam mempergunakan ilmu pengetahuan yang diturunkan
oleh Dewi Saraswati. Sesajen penting dalam ritual ini adalah sesayut pasupati. Tentu ada sesayut lainnya. Karena di masa lalu
leluhur kita juga banyak mencari ilmu untuk menjaga dan mempertahankan diri
dari berbagai serangan yang mungkin terjadi, maka diciptakan simbul dengan sesayut jayeng perang dan sesayut kusuma yudha. Dengan harapan selalu menang di dalam
peperangan. Di era masa kini peperangan itu bisa diartikan secara luas, ilmu
yang kita peroleh selalu menghasilkan sesuatu yang dasyat. Itulah banten pada
Tumpek Landep yang pokok, sesayut
pasupati, sesayut jayeng perang, sesayut kusuma yudha ditambah yang umum
seperti pengeresikan dan ayaban sebagai tradisi setempat.
Ketajaman pikiran sangat diperlukan sepanjang hidup dan sepanjang masa. Dan
ketajaman itu harus selalu diasah dan diperuncing bagaikan mengasah keris atau
pisau secara berkala. Kalau tidak akan tergilas oleh zaman karena zaman itu
juga selalu bergerak. Apa yang kita hadapi pada masa lalu sudah berubah pada
masa kini dan mungkin akan berubah pula pada masa depan.
Tantangan masa kini adalah “kegelapan di masa terang” suatu ungkapan yang
paradoks. Kita dihadapkan pada suatu zaman di mana transparansi begitu
gamplang. Seolah-olah tidak ada rahasia secara pribadi. Orang mudah sekali
melihat apa yang kita ingin rahasiakan. Namun secara tidak sadar kita pun
sering membuka sendiri masalah-masalah yang bersifat pribadi yang seharusnya
kita tutupi. Misalnya, lewat media sosial. Sering tanpa berpikir panjang kita
mengunggah hal-hal yang sifatnya begitu pribadi, tentang keseharian kita,
tentang keluarga kita, makanan dan kegemaran kita, dan seterusnya.
Dalam keterus-terangan ini kita tidak sadar bahwa ada kegelapan yang harus
kita lawan. Kita sering lupa bahwa apa pun tindakan kita akan ada pengaruhnya
buat orang lain dan bisa mencelakakan kita. Contohnya, ada orang ikut aksi
masa, larut dengan yel-yel yang memaki pemerintah. Sampai-sampai keluar
ucapannya akan memenggal kepala presiden. Itu dikatakan dengan
terang-benderang. Temannya pun merekam dengan kamera apa yang mereka katakan
dengan gamblang itu. Seperti tak terjadi apa-apa, rekaman itu mereka unggah ke
media sosial.
Lalu apa yang terjadi? Itulah kegelapan semu, mereka tak pernah menduga
kalau ada sisi gelap yang tanpa disadarinya, yakni proses hukum. Bahwa apa yang
mereka lakukan itu sesungguhnya sudah merupakan tindak pidana yang bisa
dihukum. Maka ketika video mereka viral di media sosial dengan mudah polisi
menangkap orang-orang itu. Baik yang lancang berseru memenggal kepala presiden,
mau pun yang merekam dan mengunggah video itu media sosial.
Dan kegelapan seperti ini yang harus terus diasah dan dipertajam. Kita
harus tahu rambu-rambunya dan itu harus menuntut kita punya ilmu yang terus
diperbarui. Ilmu pengetahuan tentang hukum, misalnya. Di situ sesungguhnya
makna Tumpek Landep dalam kehidupan keseharian, setiap enam bulan kita jadikan
sebagai pengasah ketajaman pikiran kita. (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar