25 Mei 2019

Tajamkan Pikiran dalam Kegelapan


Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda

TUMPEK Landep, hari yang jatuh pada Sabtu ini, oleh masyarakat biasa dipakai untuk menghaturkan sesajen pada warisan leluhurnya yang berupa keris, tombak, pahat dan peralatan lainnya dari besi. Hanya belakangan bertambah ke peralatan lain yang berunsurkan besi seperti mobil, motor bahkan kompor sampai kulkas. Namun inti awalnya adalah keris, tombak dan sebangsanya. Dan unsur itu pun berubah dari unsur ketajaman menjadi unsur besi.

Kenapa tadinya unsur ketajaman? Karena dikaitkan dengan makna hari Tumpek Landep ini untuk mengasah ketajaman itu agar menjadi landep atau lancip atau tajam. Padahal mengasah ketajaman itu pun sesungguhnya bukan ditujukan kepada benda-benda warisan semacam keris dan tombak. Itu hanyalah simbol. Yang sesungguhnya dimaksud adalah mengasah ketajaman pikiran kita dan mengasah ilmu yang kita terima pada hari-hari sebelumnya.

Tumpek Landep adalah tumpek yang pertama di antara lima tumpek lainnya dalam sistem wariga di Bali. Manusia adalah ciptaan yang paling mulia dibandingkan ciptaan lainnya seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan. Binatang dan tumbuh-tumbuhan tak diberi pikiran sedang manusia punya. Namun kalau pikiran itu tidak diasah tidak bisa berkembang. Pikiran harus dipertajam dan harinya adalah Tumpek Landep.

Karena itu pada hari ini banyak umat Hindu yang melakukan pewintenan.
Kita memohon kepada Hyang Pasupati, supaya kita punya ketajaman pikiran dalam mempergunakan ilmu pengetahuan yang diturunkan oleh Dewi Saraswati. Sesajen penting dalam ritual ini adalah sesayut pasupati. Tentu ada sesayut lainnya. Karena di masa lalu leluhur kita juga banyak mencari ilmu untuk menjaga dan mempertahankan diri dari berbagai serangan yang mungkin terjadi, maka diciptakan simbul dengan sesayut jayeng perang dan sesayut kusuma yudha. Dengan harapan selalu menang di dalam peperangan. Di era masa kini peperangan itu bisa diartikan secara luas, ilmu yang kita peroleh selalu menghasilkan sesuatu yang dasyat. Itulah banten pada Tumpek Landep yang pokok, sesayut pasupati, sesayut jayeng perang, sesayut kusuma yudha ditambah yang umum seperti pengeresikan dan ayaban sebagai tradisi setempat.

Ketajaman pikiran sangat diperlukan sepanjang hidup dan sepanjang masa. Dan ketajaman itu harus selalu diasah dan diperuncing bagaikan mengasah keris atau pisau secara berkala. Kalau tidak akan tergilas oleh zaman karena zaman itu juga selalu bergerak. Apa yang kita hadapi pada masa lalu sudah berubah pada masa kini dan mungkin akan berubah pula pada masa depan.

Tantangan masa kini adalah “kegelapan di masa terang” suatu ungkapan yang paradoks. Kita dihadapkan pada suatu zaman di mana transparansi begitu gamplang. Seolah-olah tidak ada rahasia secara pribadi. Orang mudah sekali melihat apa yang kita ingin rahasiakan. Namun secara tidak sadar kita pun sering membuka sendiri masalah-masalah yang bersifat pribadi yang seharusnya kita tutupi. Misalnya, lewat media sosial. Sering tanpa berpikir panjang kita mengunggah hal-hal yang sifatnya begitu pribadi, tentang keseharian kita, tentang keluarga kita, makanan dan kegemaran kita, dan seterusnya.

Dalam keterus-terangan ini kita tidak sadar bahwa ada kegelapan yang harus kita lawan. Kita sering lupa bahwa apa pun tindakan kita akan ada pengaruhnya buat orang lain dan bisa mencelakakan kita. Contohnya, ada orang ikut aksi masa, larut dengan yel-yel yang memaki pemerintah. Sampai-sampai keluar ucapannya akan memenggal kepala presiden. Itu dikatakan dengan terang-benderang. Temannya pun merekam dengan kamera apa yang mereka katakan dengan gamblang itu. Seperti tak terjadi apa-apa, rekaman itu mereka unggah ke media sosial.

Lalu apa yang terjadi? Itulah kegelapan semu, mereka tak pernah menduga kalau ada sisi gelap yang tanpa disadarinya, yakni proses hukum. Bahwa apa yang mereka lakukan itu sesungguhnya sudah merupakan tindak pidana yang bisa dihukum. Maka ketika video mereka viral di media sosial dengan mudah polisi menangkap orang-orang itu. Baik yang lancang berseru memenggal kepala presiden, mau pun yang merekam dan mengunggah video itu media sosial.

Dan kegelapan seperti ini yang harus terus diasah dan dipertajam. Kita harus tahu rambu-rambunya dan itu harus menuntut kita punya ilmu yang terus diperbarui. Ilmu pengetahuan tentang hukum, misalnya. Di situ sesungguhnya makna Tumpek Landep dalam kehidupan keseharian, setiap enam bulan kita jadikan sebagai pengasah ketajaman pikiran kita. (*)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar