Ida Pandita Mpu Jaya
Prema Ananda
ADA dua macam
kemiskinan. Miskin materi dan miskin rohani. Miskin materi, misalnya, makan
tidak bergizi atau kadang tak ada yang dimakan. Urusan ini sudah ada program
yang bagus dari pemerintah. Membuka lapangan kerja, memberikan bantuan sarana
pertanian bagi yang bertani, membedah rumah orang-orang miskin. Termasuk
memberi modal kerja bagi yang mau berusaha kecil-kecilan.
Miskin rohani yang
sesungguhnya susah untuk dientaskan. Karena mereka yang miskin itu sebenarnya orang
yang berpunya, kehidupannya cukup sandang dan makan. Tetapi rohaninya miskin.
Ia tak tergerak melihat penderitaan orang-orang yang miskin materi. Ia masih
tega untuk mencatut nama orang miskin materi untuk janji-janji politik,
misalnya. Bahkan dia tega melakukan korupsi yang sesungguhnya adalah harta
orang-orang miskin materi.
Miskin materi jelas
orang-orang yang susah. Dalam bahasa Sansekerta orang miskin ini disebut daridra. Kemiskinan mereka itu banyak
faktor penyebabnya. Mungkin karena pendidikannya rendah sehingga tak punya
kemampuan bersaing dalam mendapatkan pekerjaan. Penyebab rendahnya pendidikan
juga karena kemiskinan. Bagaimana orang sekolah kalau tak bisa membeli buku,
membayar uang sekolah dan bahkan harus ikut orangtua bekerja mencari
nafkah? Maka jadilah orang miskin yang
bodoh. Sejak dulu kala sampai sekarang, orang yang miskin dan bodoh disebut
sengsara dan melarat. Predikat kemiskinan itu juga membuat orang sering
diacuhkan, meski pun pintar. Jika orang miskin memberikan pendapat atau urun
rembug dalam rapat-rapat, apakah itu rapat adat atau formal, pendapat mereka
jarang diperhatikan. Kalau orang kaya memberikan pendapat pasti didengar. Ini
namanya nasib sial.
Namun, kemiskinan
materi ini sudah mendapat perhatian pemerintah. Apalagi sekarang ini ada
program dari Presiden Jokowi mengenai Kartu Pintar yang membuat orang miskin
pun bisa bersekolah sehingga ia menjadi pintar. Ada Kartu Sehat yang membuat
orang miskin bisa berobat gratis. Lalu ada sejumlah lagi kartu lain yang
memberikan bantuan kepada orang-orang miskin seperti untuk membeli sembako
murah dan seterusnya.
Bagaimana mengentaskan
orang-orang yang miskin rohani? Dalam susastra Hindu, miskin rohani ini
disebut dinabuddhi. Ternyata mengentaskan orang-orang yang tergolong dinabuddhi ini sulit. Mereka memiliki
kekayaan dan karena itu biasanya angkuh. Kalau bersembahyang minta di depan
meski datang belakangan, apalagi kalau disorot televisi. Kalau memberikan
bantuan harus ada imbalan untuk pamer, misalnya, minta dipublikasikan. Mereka rajin bersembahyang namun budinya
kosong dan tak ada tanda-tanda meningkatkan kehidupan spiritualnya.
Ajaran Hindu
menyebutkan cara mengentaskan kemiskinan rohani ini adalah dengan mengajak
mereka berbuat di jalan dharma. Kelihatan mudah tetapi amatlah sulit mengajak
orang berbuat di jalan dharma itu. Apalagi kalau kekayaan mereka itu didapat
dengan penuh serakah, misalnya, korupsi. Atau perbuatan lain yang tergolong
jahat. Juga karena pengaruh lingkungan dan kekerabatan di antara orang-orang
kaya yang miskin rohani.
Dalam Rg Weda VII.86.6
ada disebutkan: “Orang-orang hendaknya jangan melakukan dosa di dalam hidupnya.
Tetapi lingkungan yang menjadikan demikian. Adapun penyebab perbuatan dosa,
antara lain, minuman keras, suka mencela orang lain, judi dan kebodohan.” Jadi,
lingkunganlah yang paling sering menghancurkan orang-orang baik sehingga ia
menjadi orang miskin rohani. Di lingkungan pemabuk, orang yang tadinya baik
tentu akan terbiasa pula mabuk minum-minuman keras.
Mempelajari agama
dengan membaca kitab suci, purana, ithiasa dan sebagainya, adalah penting dalam
mengentaskan kemiskinan rohani ini.
Tetapi ini pun sulit juga kalau lingkungan tidak mendukung. Minat baca
rendah dan kalau pun mereka misalnya suka mendengarkan pesantian, sastra yang
bertembang itu hanya didengar lewat telinga saja, bukan didengar lewat hati.
Artinya, selesai mendengar selesailah sudah, pesan moral apa yang dibahas dalam
tembang pesantian itu tak masuk di hati.
Ini yang banyak ada di masyarakat. Mereka
rajin membahas kekawin, geguritan dan sebagainya, tetapi prilakunya tetap saja
miskin rohani. Masih suka berjudi, berselingkuh, serakah dan seterusnya. Tetapi
kita jangan menyerah untuk mengentaskan kemiskinan rohani ini dengan memberi
teladan yang baik. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar