04 Mei 2019

Miskin Materi dan Miskin Rohani


Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda

ADA dua macam kemiskinan. Miskin materi dan miskin rohani. Miskin materi, misalnya, makan tidak bergizi atau kadang tak ada yang dimakan. Urusan ini sudah ada program yang bagus dari pemerintah. Membuka lapangan kerja, memberikan bantuan sarana pertanian bagi yang bertani, membedah rumah orang-orang miskin. Termasuk memberi modal kerja bagi yang mau berusaha kecil-kecilan.

Miskin rohani yang sesungguhnya susah untuk dientaskan. Karena mereka yang miskin itu sebenarnya orang yang berpunya, kehidupannya cukup sandang dan makan. Tetapi rohaninya miskin. Ia tak tergerak melihat penderitaan orang-orang yang miskin materi. Ia masih tega untuk mencatut nama orang miskin materi untuk janji-janji politik, misalnya. Bahkan dia tega melakukan korupsi yang sesungguhnya adalah harta orang-orang miskin materi.

Miskin materi jelas orang-orang yang susah. Dalam bahasa Sansekerta orang miskin ini disebut daridra. Kemiskinan mereka itu banyak faktor penyebabnya. Mungkin karena pendidikannya rendah sehingga tak punya kemampuan bersaing dalam mendapatkan pekerjaan. Penyebab rendahnya pendidikan juga karena kemiskinan. Bagaimana orang sekolah kalau tak bisa membeli buku, membayar uang sekolah dan bahkan harus ikut orangtua bekerja mencari nafkah?  Maka jadilah orang miskin yang bodoh. Sejak dulu kala sampai sekarang, orang yang miskin dan bodoh disebut sengsara dan melarat. Predikat kemiskinan itu juga membuat orang sering diacuhkan, meski pun pintar. Jika orang miskin memberikan pendapat atau urun rembug dalam rapat-rapat, apakah itu rapat adat atau formal, pendapat mereka jarang diperhatikan. Kalau orang kaya memberikan pendapat pasti didengar. Ini namanya nasib sial.

Namun, kemiskinan materi ini sudah mendapat perhatian pemerintah. Apalagi sekarang ini ada program dari Presiden Jokowi mengenai Kartu Pintar yang membuat orang miskin pun bisa bersekolah sehingga ia menjadi pintar. Ada Kartu Sehat yang membuat orang miskin bisa berobat gratis. Lalu ada sejumlah lagi kartu lain yang memberikan bantuan kepada orang-orang miskin seperti untuk membeli sembako murah dan seterusnya.

Bagaimana mengentaskan orang-orang yang miskin rohani? Dalam susastra Hindu, miskin rohani ini disebut  dinabuddhi. Ternyata mengentaskan orang-orang yang tergolong dinabuddhi ini sulit. Mereka memiliki kekayaan dan karena itu biasanya angkuh. Kalau bersembahyang minta di depan meski datang belakangan, apalagi kalau disorot televisi. Kalau memberikan bantuan harus ada imbalan untuk pamer, misalnya, minta dipublikasikan.  Mereka rajin bersembahyang namun budinya kosong dan tak ada tanda-tanda meningkatkan kehidupan spiritualnya.

Ajaran Hindu menyebutkan cara mengentaskan kemiskinan rohani ini adalah dengan mengajak mereka berbuat di jalan dharma. Kelihatan mudah tetapi amatlah sulit mengajak orang berbuat di jalan dharma itu. Apalagi kalau kekayaan mereka itu didapat dengan penuh serakah, misalnya, korupsi. Atau perbuatan lain yang tergolong jahat. Juga karena pengaruh lingkungan dan kekerabatan di antara orang-orang kaya yang miskin rohani. 

Dalam Rg Weda VII.86.6 ada disebutkan: “Orang-orang hendaknya jangan melakukan dosa di dalam hidupnya. Tetapi lingkungan yang menjadikan demikian. Adapun penyebab perbuatan dosa, antara lain, minuman keras, suka mencela orang lain, judi dan kebodohan.” Jadi, lingkunganlah yang paling sering menghancurkan orang-orang baik sehingga ia menjadi orang miskin rohani. Di lingkungan pemabuk, orang yang tadinya baik tentu akan terbiasa pula mabuk minum-minuman keras.

Mempelajari agama dengan membaca kitab suci, purana, ithiasa dan sebagainya, adalah penting dalam mengentaskan kemiskinan rohani ini.  Tetapi ini pun sulit juga kalau lingkungan tidak mendukung. Minat baca rendah dan kalau pun mereka misalnya suka mendengarkan pesantian, sastra yang bertembang itu hanya didengar lewat telinga saja, bukan didengar lewat hati. Artinya, selesai mendengar selesailah sudah, pesan moral apa yang dibahas dalam tembang pesantian itu tak masuk di hati.

 Ini yang banyak ada di masyarakat. Mereka rajin membahas kekawin, geguritan dan sebagainya, tetapi prilakunya tetap saja miskin rohani. Masih suka berjudi, berselingkuh, serakah dan seterusnya. Tetapi kita jangan menyerah untuk mengentaskan kemiskinan rohani ini dengan memberi teladan yang baik. (*)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar