11 Mei 2019

Bacalah Weda Semampu Kita


Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda

WEDA itu sudah identik dengan ilmu pengetahuan. Tak ada awal dan tak ada ujung karena ilmu pengetahuan mengalir sepanjang masa. Ada pun yang disebut sebagai kitab suci umat Hindu adalah Catur Weda, empat pokok kitab yang dirangkum dari wahyu Tuhan yang diterima oleh tujuh Maharsi. Catur Weda itu adalah Rg Weda yang berisi 10.552 mantram, Yayur Weda dengan 1.975 mantram, Sama Weda dengan 1.875 mantram dan Atharwa Weda dengan 5.987 mantram. Bagaimana mungkin kita mempelajari ribuan mantram itu? Ada intisari-intisari yang diturunkan dari “kitab iduknya” ini. Mari kita baca dan kita resapi semampu yang bisa kita lakukan.

Hari ini, Sabtu Kliwon Watugunung, disebut sebagai turunnya dewi ilmu pengetahuan itu. Dewi itu adalah Saraswati. Pada hari inilah kita mulai lebih tekun untuk mempelajari Weda, sebagai ilmu pengetahuan. Juga Kitab Suci Weda sebagai pegangan dalam mengamalkan agama. Tentu harus disesuaikan dengan kemampuan dan minat kita. Intinya adalah hari ini kita memuja Dewi Saraswati dengan cara membaca Weda. Para tetua kita di masa lalu menganjurkan sebelum membuka-buka Weda maka tubuh dan pikiran kita harus bersih lebih dahulu. Dari sini lahir apa yang disebut dengan pewintenan Saraswati. Cuma saja belakangan ini, pewintenan sebagai sarana membersihkan diri secara rohani itu yang lebih utama dibandingkan membaca Weda.

Bahkan ada masa di mana kita tidak diperbolehkan membaca pada Hari Saraswati, suatu kesalahan dalam mengartikan “pembersihan diri” itu. Padahal yang dimaksudkan adalah mari kita membersihkan diri dulu dengan cara memuja Dewi Saraswati dan memohon anugrahnya sebelum membaca Weda. Mari kita sucikan semua kitab (buku pelajaran, buku sastra, buku agama, lontar dan sejenisnya) di Hari Saraswati dengan memberikan persembahan sesajen dan tirta lalu kita baca dalam keadaan yang suci agar meresap. Di malam hari sangat baik untuk menyelenggarakan “malam sastra” sesuai dengan lingkungan kita. Di pedesaan umumnya ada acara pesantian. Di Pura Jagatnatha Denpasar pun setiap malam Saraswati ada diskusi sastra. Akan halnya di Jakarta, perayaan Saraswati disatukan dengan odalan di Pura Rawamangun dan biasanya ada malam sastra di sana.

Dewi Saraswati adalah "sakti" dari Dewa Brahma, sang pencipta. “Sakti” dalam bahasa yang populer di Bali sering disebutkan sebagai “istri”. Ini adalah simbol bahwa apapun yang tercipta (Dewa Brahma adalah dewa pencipta) pada dasarnya terjadi karena adanya ilmu pengetahuan. Maka umat dianjurkan untuk menuntut ilmu yang diturunkan oleh Dewi Saraswati agar bisa menciptakan karya apa pun.

Dewi Saraswati bertangan empat. Ada yang memegang kecapi, ada yang memegang aksamala atau genitri. Sebutan genitri ini salah kaprah karena kebanyakan terbuat dari buah genitri padahal buah lain atau butir-butir logam juga bisa dipakai. Kemudian satu tangan Saraswati memegang damaru atau semacam kendang di Bali, dan tangan satu lagi memegang buku. Ada merak dan angsa di sampingnya. Semua itu simbol-simbol tentang ilmu yang tak habis-habisnya dipelajari dengan cara mencintainya. Ilmu yang akan memperindah budi.

Kenapa ada angsa? Angsa adalah hewan yang sangat bijaksana. Angsa bisa mencari makanan di lumpur, tetapi tak pernah ada lumpur yang masuk ke tubuhnya. Makanan itu disaring, lumpurnya dibuang, makanan masuk ke perut untuk sumber kehidupan. Begitulah sebaiknya ilmu itu diamalkan. Ilmu yang membuat kerusuhan haruslah dibuang, ilmu yang membuat kesejahtraan yang terus dipelihara. Hanya orang yang berilmu yang bisa merakit bom, tak mungkin petani yang bodoh bisa merakit bom. Tetapi apa gunanya bom jika itu dipakai untuk membunuh orang-orang yang tak berdosa?

Di Bali, Dewi Saraswati dipuja dengan sesajen khusus, tapi sudah banyak dijual di pasar-pasar. Harganya pun tak sampai Rp 20 ribu. Lihatlah di sesajen itu, ada ciri khasnya, yakni ada jajan melambangkan cecak. Kenapa cecak? Ini adalah simbul keheningan. Suara cecak sering terdengar dalam keadaan yang hening. Tetua kita sering mengingatkan, jika kita dalam keadaan semadi atau sembahyang sendiri, dan ada suara cecak maka itu pertanda baik.

Mari kita membaca Weda hari ini, apakah itu Sruti, Smerti, Ithiasa, Purana atau tafsir-tafsir yang sudah dibuatkan dalam bentuk kekawin dan tembang alit. Om Saraswati namastu bhayam, warade kama rupini, sidharambhan kari syami, siddhir bhawantu me sada. Om Saraswati ya namah swaha. (***)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar