Ida
Pandita Mpu Jaya Prema Ananda
WEDA itu sudah identik dengan ilmu pengetahuan. Tak ada
awal dan tak ada ujung karena ilmu pengetahuan mengalir sepanjang masa. Ada pun
yang disebut sebagai kitab suci umat Hindu adalah Catur Weda, empat pokok kitab
yang dirangkum dari wahyu Tuhan yang diterima oleh tujuh Maharsi. Catur Weda
itu adalah Rg Weda yang berisi 10.552 mantram, Yayur Weda dengan 1.975 mantram,
Sama Weda dengan 1.875 mantram dan Atharwa Weda dengan 5.987 mantram. Bagaimana
mungkin kita mempelajari ribuan mantram itu? Ada intisari-intisari yang
diturunkan dari “kitab iduknya” ini. Mari kita baca dan kita resapi semampu
yang bisa kita lakukan.
Hari ini, Sabtu Kliwon Watugunung, disebut sebagai
turunnya dewi ilmu pengetahuan itu. Dewi itu adalah Saraswati. Pada hari inilah kita mulai lebih tekun untuk mempelajari Weda, sebagai
ilmu pengetahuan. Juga Kitab Suci Weda sebagai pegangan dalam mengamalkan
agama. Tentu harus disesuaikan dengan kemampuan dan minat kita. Intinya adalah
hari ini kita memuja Dewi Saraswati dengan cara membaca Weda. Para tetua kita
di masa lalu menganjurkan sebelum membuka-buka Weda maka tubuh dan pikiran kita
harus bersih lebih dahulu. Dari sini lahir apa yang disebut dengan pewintenan Saraswati. Cuma saja
belakangan ini, pewintenan sebagai
sarana membersihkan diri secara rohani itu yang lebih utama dibandingkan
membaca Weda.
Bahkan ada masa
di mana kita
tidak diperbolehkan membaca pada Hari Saraswati, suatu kesalahan dalam
mengartikan “pembersihan diri” itu. Padahal yang dimaksudkan adalah mari kita
membersihkan diri dulu dengan cara memuja Dewi Saraswati dan memohon anugrahnya
sebelum membaca Weda. Mari
kita sucikan semua kitab (buku pelajaran, buku
sastra, buku agama, lontar dan sejenisnya) di Hari Saraswati dengan memberikan
persembahan sesajen dan tirta lalu kita baca dalam keadaan yang suci agar
meresap. Di malam hari sangat baik untuk menyelenggarakan “malam sastra” sesuai
dengan lingkungan kita. Di pedesaan umumnya ada acara pesantian. Di Pura Jagatnatha Denpasar pun setiap
malam Saraswati ada diskusi sastra. Akan halnya di Jakarta, perayaan Saraswati
disatukan dengan odalan di Pura Rawamangun dan biasanya ada malam sastra di
sana.
Dewi
Saraswati adalah "sakti" dari Dewa Brahma, sang pencipta. “Sakti” dalam bahasa yang populer di Bali
sering disebutkan sebagai “istri”. Ini adalah simbol bahwa apapun yang tercipta
(Dewa Brahma adalah dewa pencipta) pada dasarnya terjadi karena adanya ilmu
pengetahuan. Maka umat dianjurkan untuk menuntut ilmu yang diturunkan oleh Dewi Saraswati agar bisa menciptakan karya
apa pun.
Dewi
Saraswati bertangan empat. Ada yang memegang kecapi, ada yang memegang aksamala
atau genitri.
Sebutan genitri ini salah
kaprah karena
kebanyakan terbuat dari buah genitri padahal buah lain atau butir-butir logam
juga bisa dipakai. Kemudian satu
tangan Saraswati memegang damaru atau semacam kendang
di Bali, dan tangan satu lagi memegang buku. Ada merak dan angsa di sampingnya.
Semua itu simbol-simbol tentang ilmu yang tak habis-habisnya dipelajari dengan
cara mencintainya. Ilmu yang akan memperindah budi.
Kenapa
ada angsa? Angsa adalah hewan yang sangat bijaksana. Angsa bisa mencari makanan
di lumpur, tetapi tak pernah ada lumpur yang masuk ke tubuhnya. Makanan itu
disaring, lumpurnya dibuang, makanan masuk ke perut untuk sumber kehidupan.
Begitulah sebaiknya ilmu itu diamalkan. Ilmu yang membuat kerusuhan haruslah
dibuang, ilmu yang membuat kesejahtraan yang terus dipelihara. Hanya orang yang
berilmu yang bisa merakit bom, tak mungkin petani yang bodoh bisa merakit bom.
Tetapi apa gunanya bom jika itu dipakai untuk membunuh orang-orang yang tak
berdosa?
Di
Bali, Dewi Saraswati dipuja dengan sesajen khusus, tapi sudah banyak dijual di
pasar-pasar. Harganya pun tak sampai Rp 20
ribu. Lihatlah di sesajen itu, ada ciri khasnya, yakni ada
jajan melambangkan cecak. Kenapa cecak? Ini adalah
simbul keheningan. Suara cecak sering terdengar dalam keadaan yang hening. Tetua kita sering
mengingatkan, jika kita dalam keadaan semadi atau sembahyang sendiri, dan ada
suara cecak maka itu pertanda baik.
Mari
kita membaca Weda hari ini, apakah itu Sruti, Smerti, Ithiasa, Purana atau
tafsir-tafsir yang sudah dibuatkan dalam bentuk kekawin dan tembang alit. Om Saraswati namastu bhayam, warade kama rupini,
sidharambhan kari syami, siddhir bhawantu me sada. Om Saraswati ya namah swaha. (***)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar