06 April 2019

Pilih Pemimpin yang Memberi Teladan


Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda 

TINGGAL beberapa hari lagi kita bakal memilih pemimpin. Kita memilih wakil-wakil rakyat yang duduk di kabupaten/kota, di tingkat ptovinsi, di tingkat nasional dan memilih pemimpin yang mewakili aspirasi daerah kita. Yang tak kalah pentingnya adalah memilih pemimpin yang mengatur negara ini, yakni presiden beserta wakilnya.

Pemimpin seperti apa yang akan kita pilih? Dalam kitab Bhagawad Gita pada Percakapan Ketiga butir 21 (BG III.21) ada sloka berbunyi: yad-yad acharati sreshthas, tad-tad eve taro janah, sa yat pramanam kurute, lokas tad anuvartate.  Terjemahan bebasnya begini: “Apapun juga yang dilakukan oleh orang besar (pemimpin), maka orang lain (masyarakat) akan mengikutinya. Contoh (teladan) apapun yang diberikannya, orang lain (masyarakat) akan meniru dan menurutinya.

Jadi seorang pemimpin itu menjadi panutan masyarakat. Pemimpin itu memberi contoh yang baik di masyarakat. Kalau contohnya jelek maka jelek pulalah yang terjadi di masyarakat. Kalau contohnya bagus dan bisa menularkan contoh bagus itu maka masyarakat pun menjadi lebih baik. Wejangan Sri Krishna kepada Arjuna dalam kitab Bhagawad Gita ini layak untuk dicamkan. Ini hanya salah satu wejangan dari begitu banyak wejangan tentang kepemimpinan yang ada dalam kitab Bhagawad Gita.

Pemimpin itu jelas harus memberi contoh dalam berperilaku, karena masyarakat akan segera mengikuti perilakunya itu. Atau setidak-tidaknya masyarakat mencari pembenaran di dalam perilaku pemimpinnya. Jika pemimpinnya berprilaku buruk, masyarakat bisa berkata: “Wow dia saja berperilaku begitu, masak kita tidak boleh?” Masyarakat ibarat menggunakan pemimpin itu sebagai cermin. Karena itu seharusnya pemimpin menjaga tingkah lakunya di masyarakat dan seluruh aktifitasnya bisa memberikan kesejukan pada masyarakat. Karena tugas pemimpin adalah memberikan rasa damai kepada masyarakat dan bukan menyakiti hati masyarakat.

Dalam Yajur Weda sloka XIII. 30 disebutkan: acchinan napatrah praja anuviksasva.  Artinya, seorang pemimpin melindungi warganya tanpa menyakiti hati masyarakat. Masyarakat memilih seorang pemimpin untuk meningkatkan kesejahtraan warga. Bagaimana meningkatkan kesejahtraan warga itu? Tentu tak cuma memberi sembako pada saat menjelang pemilu saja. Atau memberi amplop dengan uang sekedarnya saja sebagai “serangan fajar” tetapi setelah itu masyarakat ditinggalkan pada saat pemimpin itu sudah terpilih. Pemimpin itu harus menyatu dengan masyarakat sehingga tahu apa kebutuhan masyarakat yang harus diperjuangkan. Sudah tahu jalan di pedesaan banyak yang rusak, seorang pemimpin harus memperjuangkan anggaran untuk memperbaiki jalan itu. Bukan memperjuangkan anggaran untuk bisa jalan-jalan ke luar negeri dengan alasan study banding. Atau sudah jelas jalan pedesaan rusak yang dikerjakan pemimpin itu justru membuat rejang massal untuk meraih Piagam Muri, misalnya.


Pemimpin harus tahu kebutuhan masyarakat. Bukan asal membuat proyek untuk mendapatkan upeti. Pura masih kokoh dengan tradisi lama tiba-tiba mau diganti dengan model baru. Dari bata merah yang anggun disulap jadi batu hitam, alasannya sesuai dengan trend masa kini. Yang penting ada proyek dan ada upeti dari proyek itu.

Memberi teladan adalah hal yang paling penting ditekankan dalam Bhagawad Gita. Bagaimana kita menyuruh orang lain berhenti berjudi kalau pemimpin itu sendiri ikut berjudi? Judi main ceki yang marak di pedesaan Bali, misalnya, oleh pemimpin yang gemar berjudi dijadikan turnamen seolah-olah judinya bisa hilang. Ini bukan teladan tetapi akal-akalan. Sabungan ayam yang jelas judi dan ahimsa menurut ajaran Hindu mau dibuatkan peraturan daerahnya dengan dalih budaya. Ini pun akal-akalan dan bukan pola memberi teladan bagaimana berprilaku baik sesuai ajaran agama. Pemimpin seperti ini tak layak dipilih.

Kitab Sama Weda sloka 733 ada menyebutkan contoh teladan untuk sang pemimpin. Bunyinya jika diterjemahkan bebas adalah: “Wahai para pemimpin, datangilah masyarakat dan bebaskan mereka dari penderitaan.” Jadi yang pertama-tama tanggap terhadap setiap kejadian di masyarakat itu adalah pemimpin. Bukannya pemimpin hanya menerima laporan saja

Penderitaan itu banyak. Bukan saja masalah kemiskinan, tetapi juga kebodohan karena kurangnya pendidikan dan informasi, juga nafsu berjudi yang jelas-jelas jauh dari ajaran agama. Ini yang harus diperangi sang pemimpin. Nah jika ada calon pemimpin seperti itu, mari kita pilih mereka. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar