Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda
TINGGAL beberapa hari lagi kita bakal memilih pemimpin. Kita memilih
wakil-wakil rakyat yang duduk di kabupaten/kota, di tingkat ptovinsi, di
tingkat nasional dan memilih pemimpin yang mewakili aspirasi daerah kita. Yang
tak kalah pentingnya adalah memilih pemimpin yang mengatur negara ini, yakni
presiden beserta wakilnya.
Pemimpin seperti apa yang akan kita pilih? Dalam kitab Bhagawad Gita
pada Percakapan Ketiga butir 21 (BG III.21) ada sloka berbunyi: yad-yad
acharati sreshthas, tad-tad eve taro janah, sa yat pramanam kurute, lokas tad
anuvartate. Terjemahan bebasnya
begini: “Apapun juga yang dilakukan oleh orang besar (pemimpin), maka orang
lain (masyarakat) akan mengikutinya. Contoh (teladan) apapun yang diberikannya,
orang lain (masyarakat) akan meniru dan menurutinya.
Jadi seorang pemimpin itu menjadi panutan masyarakat. Pemimpin itu
memberi contoh yang baik di masyarakat. Kalau contohnya jelek maka jelek
pulalah yang terjadi di masyarakat. Kalau contohnya bagus dan bisa menularkan
contoh bagus itu maka masyarakat pun menjadi lebih baik. Wejangan Sri Krishna
kepada Arjuna dalam kitab Bhagawad Gita ini layak untuk dicamkan. Ini hanya salah
satu wejangan dari begitu banyak wejangan tentang kepemimpinan yang ada dalam
kitab Bhagawad Gita.
Pemimpin itu jelas harus memberi contoh dalam berperilaku, karena
masyarakat akan segera mengikuti perilakunya itu. Atau setidak-tidaknya
masyarakat mencari pembenaran di dalam perilaku pemimpinnya. Jika pemimpinnya
berprilaku buruk, masyarakat bisa berkata: “Wow dia saja berperilaku begitu,
masak kita tidak boleh?” Masyarakat ibarat menggunakan pemimpin itu sebagai
cermin. Karena itu seharusnya pemimpin menjaga tingkah lakunya di masyarakat
dan seluruh aktifitasnya bisa memberikan kesejukan pada masyarakat. Karena
tugas pemimpin adalah memberikan rasa damai kepada masyarakat dan bukan
menyakiti hati masyarakat.
Dalam Yajur Weda sloka XIII. 30 disebutkan: acchinan napatrah praja
anuviksasva. Artinya, seorang
pemimpin melindungi warganya tanpa menyakiti hati masyarakat. Masyarakat
memilih seorang pemimpin untuk meningkatkan kesejahtraan warga. Bagaimana
meningkatkan kesejahtraan warga itu? Tentu tak cuma memberi sembako pada saat
menjelang pemilu saja. Atau memberi amplop dengan uang sekedarnya saja sebagai
“serangan fajar” tetapi setelah itu masyarakat ditinggalkan pada saat pemimpin
itu sudah terpilih. Pemimpin itu harus menyatu dengan masyarakat sehingga tahu
apa kebutuhan masyarakat yang harus diperjuangkan. Sudah tahu jalan di pedesaan
banyak yang rusak, seorang pemimpin harus memperjuangkan anggaran untuk
memperbaiki jalan itu. Bukan memperjuangkan anggaran untuk bisa jalan-jalan ke
luar negeri dengan alasan study banding. Atau sudah jelas jalan pedesaan rusak
yang dikerjakan pemimpin itu justru membuat rejang massal untuk meraih Piagam
Muri, misalnya.
Pemimpin harus tahu kebutuhan masyarakat. Bukan asal membuat proyek
untuk mendapatkan upeti. Pura masih kokoh dengan tradisi lama tiba-tiba mau
diganti dengan model baru. Dari bata merah yang anggun disulap jadi batu hitam,
alasannya sesuai dengan trend masa kini. Yang penting ada proyek dan ada upeti
dari proyek itu.
Memberi teladan adalah hal yang paling penting ditekankan dalam Bhagawad
Gita. Bagaimana kita menyuruh orang lain berhenti berjudi kalau pemimpin itu
sendiri ikut berjudi? Judi main ceki yang marak di pedesaan Bali, misalnya,
oleh pemimpin yang gemar berjudi dijadikan turnamen seolah-olah judinya bisa
hilang. Ini bukan teladan tetapi akal-akalan. Sabungan ayam yang jelas judi dan
ahimsa menurut ajaran Hindu mau dibuatkan peraturan daerahnya dengan dalih
budaya. Ini pun akal-akalan dan bukan pola memberi teladan bagaimana berprilaku
baik sesuai ajaran agama. Pemimpin seperti ini tak layak dipilih.
Kitab Sama Weda sloka 733 ada menyebutkan contoh teladan untuk sang
pemimpin. Bunyinya jika diterjemahkan bebas adalah: “Wahai para pemimpin,
datangilah masyarakat dan bebaskan mereka dari penderitaan.” Jadi yang
pertama-tama tanggap terhadap setiap kejadian di masyarakat itu adalah
pemimpin. Bukannya pemimpin hanya menerima laporan saja
Penderitaan itu banyak. Bukan saja masalah kemiskinan, tetapi juga
kebodohan karena kurangnya pendidikan dan informasi, juga nafsu berjudi yang
jelas-jelas jauh dari ajaran agama. Ini yang harus diperangi sang pemimpin. Nah
jika ada calon pemimpin seperti itu, mari kita pilih mereka. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar