Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda
SASIH
Kedasa sedang kita jalani. Purnama Kedasa jatuh pada Rabu depan, 20 Maret 2019,
adalah puncak dari sasih yang penuh berkah ini. Di Pura Besakih akan ada puncak
acara Bethara Turun Kabeh sebagai kelanjutan dari Panca Wali Krama yang sudah
dimulai sejak Tilem Kesanga yang lalu. Hampir di seluruh Bali akan ditemui
kegiatan piodalan di berbagai pura.
Kenapa
Sasih Kedasa disebut bulan penuh berkah? Karena dalam tradisi umat Hindu di
Bali, Sasih Kedasa (bulan ke sepuluh) dan Sasih Kapat (bulan ke empat) disebut
sebagai rajaning sasih atau dalam
bahasa Indonesia “rajanya bulan”. Inilah bulan di mana umat Hindu ramai memakai
sebagai patokan melakukan Dewa Yadnya. Persembahyangan ada di mana-mana.
Kenapa saat
itu yang dipilih? Dalam sistem kalender Saka di Bali, umat Hindu sangat
memuliakan keberadaan matahari dan bulan untuk dikaitkan dengan hari-hari
melakukan ritual keagamaan. Posisi matahari dan bulan senantiasa menjadi patokannya.
Kita semua tahu, posisi matahari di bulan Maret atau awal April (pada saat Sasih
Kedasa) dan bulan September atau awal Oktober (pada Sasih Kapat) berada di atas
katulistiwa. Peredaran matahari memang sesuai dengan tahun masehi, sehingga
pada tanggal 21 Maret adalah tepat matahari di atas katulistiwa. Setelah 21
Maret matahari bergerak ke utara dan pada tanggal 21 Juni berada di posisi
paling utara untuk kembali bergerak ke selatan. Dalam perjalanan ke selatan,
matahari kembali di atas katulistiwa pada tanggal 23 September. Terus pada 21
Desember matahari berada di posisi paling selatan bumi untuk kemudian berbalik
lagi ke utara. Perjalanan matahari ini yang terus diikuti dalam tradisi
masyarakat Hindu Nusantara untuk menentukan hari terbaik melakukan Dewa Yadnya.
Dan saat matahari berada di atas katulistiwa itu disebut dengan istilah bejeging surya.
Kenapa
sasih dalam kalender Saka itu bisa sinkron dengan bulan-bulan Masehi padahal
sasih berdasarkan peredaran bulan, bukan peredaran matahari? Kenapa bisa Sasih
Kedasa selalu di bulan Maret atau awal April dan Sasih Kapat selalu di bulan
September atau awal Oktober? Itu karena sistem kalender Saka ada penyesuaian
sasih di mana dalam masa tertentu ada sasih yang dobel dalam satu tahun. Itu
disebut “nampi sasih”, seperti yang akan terjadi tahun ini, Sasih Sadha ada dua
kali berturut-turut. Tujuan dari “nampi sasih” ini adalah agar sasih itu tetap
sesuai dengan musim dan juga sesuai dengan peredakan matahari.
Pada saat
Tilem (bulan mati) disimbulkan sebagai puncak dari melepas segala kegelapan
hidup, dan setelah Tilem adalah memulai kehidupan yang lebih terang untuk
sampai pada puncak terang yakni Purnama. Siklus ini terus berlanjut menjadi
sebuah kesatuan yang harmonis. Tilem dan Purnama sesungguhnya sama-sama hari
yang baik, hanyalah sebagai penanda perubahan berganti dari kegelapan menuju
penerangan. Kita sudah tahu bersama pada saat Tilem Kesanga adalah puncak dari
melepas kegelapan paling besar dengan ritual Tawur Agung. Dan esoknya kita
menyambut Nyepi lalu memulai mencari penerangan yang sejati dengan puncaknya
pada Purnama Kedasa. Dari situ pula adanya istilah Bethara Turun Kabeh di Pura
Besakih pada Purnama Kedasa yang istimewa, karena semua Bethara turun bersamaan
(kabeh) dan umat menyambutnya dengan
lebih meriah. Di banyak desa, pada Purnama Kedasa ini juga ada ngusaba di pura-pura besar, umumnya di
Pura Tri Kahyangan.
Pergantian
sasih terutama setelah momentum bajeging
surya (matahari di atas katulistiwa) juga berkaitan dengan musim. Di situ
pula arti penting penyesuaian kalender Saka yang hitungannya berdasarkan bulan
dengan peredaran matahari. Setelah Kedasa maka hujan mulai reda, musim lebih
dingin, dan bunga mulai bermekaran. Buah-buahan pun mulai muncul satu persatu.
Demikian
pula setelah Sasih Kapat, hujan mulai turun lagi. Tanah kembali subur agar
petani bisa bercocok tanam. Sisa-sisa bunga masih cukup untuk menyambut sasih
yang penuh berkah di Kapat ini.
Sasih Kedasa dan Sasih Kapat dengan demikian adalah sasih yang merupakan pergantian musim, pergantian pergerakan matahari sementara dalam peredaran bulan adalah tetap sesuai siklusnya antara memancarkan kegelapan dan memulai penerangan. Kombinasi inilah yang membuat kedua sasih itu menjadi rajaning sasih, agak istimewa dibandingkan dengan sasih-sasih yang lain.
Sasih Kedasa dan Sasih Kapat dengan demikian adalah sasih yang merupakan pergantian musim, pergantian pergerakan matahari sementara dalam peredaran bulan adalah tetap sesuai siklusnya antara memancarkan kegelapan dan memulai penerangan. Kombinasi inilah yang membuat kedua sasih itu menjadi rajaning sasih, agak istimewa dibandingkan dengan sasih-sasih yang lain.
Mari kita maknai Sasih Kedasa yang sedang kita lalui ini dengan menyambut Bethara Turun Kabeh pada puncaknya minggu depan. ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar