16 Maret 2019

Sasih Kedasa dan Kapat Penuh Berkah


Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda

SASIH Kedasa sedang kita jalani. Purnama Kedasa jatuh pada Rabu depan, 20 Maret 2019, adalah puncak dari sasih yang penuh berkah ini. Di Pura Besakih akan ada puncak acara Bethara Turun Kabeh sebagai kelanjutan dari Panca Wali Krama yang sudah dimulai sejak Tilem Kesanga yang lalu. Hampir di seluruh Bali akan ditemui kegiatan piodalan di berbagai pura.
 
Kenapa Sasih Kedasa disebut bulan penuh berkah? Karena dalam tradisi umat Hindu di Bali, Sasih Kedasa (bulan ke sepuluh) dan Sasih Kapat (bulan ke empat) disebut sebagai rajaning sasih atau dalam bahasa Indonesia “rajanya bulan”. Inilah bulan di mana umat Hindu ramai memakai sebagai patokan melakukan Dewa Yadnya. Persembahyangan ada di mana-mana.

Kenapa saat itu yang dipilih? Dalam sistem kalender Saka di Bali, umat Hindu sangat memuliakan keberadaan matahari dan bulan untuk dikaitkan dengan hari-hari melakukan ritual keagamaan. Posisi matahari dan bulan senantiasa menjadi patokannya. Kita semua tahu, posisi matahari di bulan Maret atau awal April (pada saat Sasih Kedasa) dan bulan September atau awal Oktober (pada Sasih Kapat) berada di atas katulistiwa. Peredaran matahari memang sesuai dengan tahun masehi, sehingga pada tanggal 21 Maret adalah tepat matahari di atas katulistiwa. Setelah 21 Maret matahari bergerak ke utara dan pada tanggal 21 Juni berada di posisi paling utara untuk kembali bergerak ke selatan. Dalam perjalanan ke selatan, matahari kembali di atas katulistiwa pada tanggal 23 September. Terus pada 21 Desember matahari berada di posisi paling selatan bumi untuk kemudian berbalik lagi ke utara. Perjalanan matahari ini yang terus diikuti dalam tradisi masyarakat Hindu Nusantara untuk menentukan hari terbaik melakukan Dewa Yadnya. Dan saat matahari berada di atas katulistiwa itu disebut dengan istilah bejeging surya.

Kenapa sasih dalam kalender Saka itu bisa sinkron dengan bulan-bulan Masehi padahal sasih berdasarkan peredaran bulan, bukan peredaran matahari? Kenapa bisa Sasih Kedasa selalu di bulan Maret atau awal April dan Sasih Kapat selalu di bulan September atau awal Oktober? Itu karena sistem kalender Saka ada penyesuaian sasih di mana dalam masa tertentu ada sasih yang dobel dalam satu tahun. Itu disebut “nampi sasih”, seperti yang akan terjadi tahun ini, Sasih Sadha ada dua kali berturut-turut. Tujuan dari “nampi sasih” ini adalah agar sasih itu tetap sesuai dengan musim dan juga sesuai dengan peredakan matahari.

Pada saat Tilem (bulan mati) disimbulkan sebagai puncak dari melepas segala kegelapan hidup, dan setelah Tilem adalah memulai kehidupan yang lebih terang untuk sampai pada puncak terang yakni Purnama. Siklus ini terus berlanjut menjadi sebuah kesatuan yang harmonis. Tilem dan Purnama sesungguhnya sama-sama hari yang baik, hanyalah sebagai penanda perubahan berganti dari kegelapan menuju penerangan. Kita sudah tahu bersama pada saat Tilem Kesanga adalah puncak dari melepas kegelapan paling besar dengan ritual Tawur Agung. Dan esoknya kita menyambut Nyepi lalu memulai mencari penerangan yang sejati dengan puncaknya pada Purnama Kedasa. Dari situ pula adanya istilah Bethara Turun Kabeh di Pura Besakih pada Purnama Kedasa yang istimewa, karena semua Bethara turun bersamaan (kabeh) dan umat menyambutnya dengan lebih meriah. Di banyak desa, pada Purnama Kedasa ini juga ada ngusaba di pura-pura besar, umumnya di Pura Tri Kahyangan.

Pergantian sasih terutama setelah momentum bajeging surya (matahari di atas katulistiwa) juga berkaitan dengan musim. Di situ pula arti penting penyesuaian kalender Saka yang hitungannya berdasarkan bulan dengan peredaran matahari. Setelah Kedasa maka hujan mulai reda, musim lebih dingin, dan bunga mulai bermekaran. Buah-buahan pun mulai muncul satu persatu.

Demikian pula setelah Sasih Kapat, hujan mulai turun lagi. Tanah kembali subur agar petani bisa bercocok tanam. Sisa-sisa bunga masih cukup untuk menyambut sasih yang penuh berkah di Kapat ini.

Sasih Kedasa dan Sasih Kapat dengan demikian adalah sasih yang merupakan pergantian musim, pergantian pergerakan matahari sementara dalam peredaran bulan adalah tetap sesuai siklusnya antara memancarkan kegelapan dan memulai penerangan. Kombinasi inilah yang membuat kedua sasih itu menjadi rajaning sasih, agak istimewa dibandingkan dengan sasih-sasih yang lain.

Mari kita maknai Sasih Kedasa yang sedang kita lalui ini dengan menyambut Bethara Turun Kabeh pada puncaknya minggu depan. ***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar