30 Maret 2019

Merosotnya Peran Catur Guru


Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda

PERANAN guru di era sekarang ini sudah mulai merosot. Bahkan banyak guru yang dilecehkan. Ada murid yang sudah mulai berani memukul gurunya di kelas. Suatu tindakan yang sangat keterlaluan. Padahal sejak dulu sudah disebutkan bahwa bangsa yang maju karena di sana ada guru-guru bermutu. Artinya, peran dan peranan guru sangat menentukan maju mundurnya sebuah bangsa. Karena generasi yang terdidik bagus hanya bisa dilakukan oleh guru yang baik. Tentu pula ada sistem di dalamnya sehingga guru punya pegangan dalam mengajar.

Demikian pentingnya guru sudah diantisipasi sejak dulu kala, bahkan ketika di awal peradaban ini dengan berbagai ajaran tentang guru. Dalam Hindu guru itu bukan saja pendidik yang secara formal mendapatkan sertifikat mengajar sebagai guru, tetapi di setiap lingkungan ada guru. Hindu mengenal ada Catur Guru, yakni Guru Rupaka, Guru Pengajian, Guru Wisesa dan Guru Swadyaya. Keempat guru ini membimbing seseorang agar mencapai kecerdasan dan perilaku yang baik.

Guru Rupaka adalah orang tua yang melahirkan kita. Kedua orang tua inilah yang memberikan pendidikan awal untuk seorang anak sejak dilahirkan. Guru yang mengajarkan anak berjalan, berbicara, mengenal lingkungan dan mengajarkan nilai-nilai kehidupan pada seorang anak. Kalau orang tua salah dalam mendidik anak sejak kecil maka resikonya akan diterima anak itu setelah dewasa. Kalau teladan yang diberikan orang tua buruk, maka buruklah anak itu. Kalau orang tuanya perokok anak itu besar kemungkinan juga perokok. Kalau orang tuanya rajin sembahyang dan melantunkan sloka-sloka suci, si anak pasti akan mengikutinya. Tetapi kalau Guru Rupaka ini sibuk dan membiarkan anaknya diasuh oleh teknologi seperti ipad lengkap dengan sambungan ke media sosial seperti YouTube, maka anak-anaknya pun akan lahir sebagai generasi yang terasing dengan sosialisasi di masyarakat.

Di luar rumah, anak-anak diberi pelajaran oleh guru yang kedua, yakni Guru Pengajian. Guru formal di sekolah, bisa pula disebut Guru Parampara. Guru di sekolah inilah yang perannya lebih banyak memberikan pendidikan sesuai dengan kurikulum yang disediakan pemerintah. Tetapi bagaimana kalau Guru Pengajian ini justru dilecehkan oleh muridnya sendiri? Pak Guru naik angkot atau sepeda, anak didik naik motor, terjadi kesenjangan yang membuat hubungan guru murid jadi tak imbang.
Seorang anak yang meningkat menjadi remaja, apalagi menjadi dewasa, harus belajar bermasyarakat dan belajar pula hidup dalam komunitas bangsa. Maka ada guru yang ketiga disebut Guru Wisesa. Wisesa yang dimaksud adalah pemerintah dari tingkatan yang terendah sampai yang tertinggi. Guru Wisesa juga berarti pemimpin. Nah, bagaimana kalau pemimpin kita justru bermental buruk, korup dan perilakunya tak bisa memberikan teladan?

Guru keempat atau yang terakhir adalah Guru Sejati, Guru Maha Agung. Tak lain adalah Tuhan itu sendiri. Dalam istilah Catur Guru ini disebut Guru Swadyaya. Tuhan yang Maha Esa dalam fungsinya sebagai guru sejati adalah Maha Guru Alam Semesta atau Sang Hyang Paramesti Guru. Semua ilmu pengetahuan dengan segala bentuknya adalah bersumber dari Tuhan. Dalam kasus ini Guru Swadyaya pastilah tak ada yang meremehkan, namun yang jadi masalah apakah umat selalu menjalankan ajaran agama sebagaimana diwahyukan Tuhan?

Keempat guru ini seharusnya dihormati. Seorang anak yang tidak menghormati orang tuanya akan menyebabkan anak itu kehilangan keseimbangan. Ia menjadi anak yang durhaka. Dalam berbagai agama disebutkan bahwa sorga itu letaknya di telapak kaki ibu. Artinya seorang anak wajib sujud bhakti kepada ibunya.

Anak yang tidak menghormati guru di sekolahnya juga bukan anak yang baik. Sekarang ini banyak terjadi, anak-anak sekolah hanya menghormati guru ketika berada di dalam kelas. Begitu di luar kelas apalagi di luar sekolah, guru itu kurang dihormati lagi. Jarang misalnya anak yang menawarkan kepada gurunya untuk dibonceng atau diajak naik mobil. Kalau kepada guru sekolah saja tak hormat, bagaimana menghormati pemerintah sebagai guru Wisesa? Berbagai peraturan pemerintah dilanggar seenaknya oleh anak-anak muda.

Mari kita menghayati ajaran Catur Guru tanpa pernah membedakan kasih kepada empat guru itu. Apalagi dalam Hindu adanya Hyang Guru atau Bethara Guru menjadi tumpuan kita memuja setiap hari. Jadilah anak yang suputra, jangan coba-coba meremehkan para guru. Meremehkan Catur Guru itu berarti tidak menjalankan ajaran agama dengan baik. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar