Ida Pandita
Mpu Jaya Prema Ananda
PERANAN guru
di era sekarang ini sudah mulai merosot. Bahkan banyak guru yang dilecehkan.
Ada murid yang sudah mulai berani memukul gurunya di kelas. Suatu tindakan yang
sangat keterlaluan. Padahal sejak dulu sudah disebutkan bahwa bangsa yang maju
karena di sana ada guru-guru bermutu. Artinya, peran dan peranan guru sangat
menentukan maju mundurnya sebuah bangsa. Karena generasi yang terdidik bagus
hanya bisa dilakukan oleh guru yang baik. Tentu pula ada sistem di dalamnya
sehingga guru punya pegangan dalam mengajar.
Demikian
pentingnya guru sudah diantisipasi sejak dulu kala, bahkan ketika di awal
peradaban ini dengan berbagai ajaran tentang guru. Dalam Hindu guru itu bukan
saja pendidik yang secara formal mendapatkan sertifikat mengajar sebagai guru,
tetapi di setiap lingkungan ada guru. Hindu mengenal ada Catur Guru, yakni Guru
Rupaka, Guru Pengajian, Guru Wisesa dan Guru Swadyaya. Keempat guru ini
membimbing seseorang agar mencapai kecerdasan dan perilaku yang baik.
Guru Rupaka
adalah orang tua yang melahirkan kita. Kedua orang tua inilah yang memberikan
pendidikan awal untuk seorang anak sejak dilahirkan. Guru yang mengajarkan anak
berjalan, berbicara, mengenal lingkungan dan mengajarkan nilai-nilai kehidupan
pada seorang anak. Kalau orang tua salah dalam mendidik anak sejak kecil maka
resikonya akan diterima anak itu setelah dewasa. Kalau teladan yang diberikan
orang tua buruk, maka buruklah anak itu. Kalau orang tuanya perokok anak itu
besar kemungkinan juga perokok. Kalau orang tuanya rajin sembahyang dan
melantunkan sloka-sloka suci, si anak pasti akan mengikutinya. Tetapi kalau
Guru Rupaka ini sibuk dan membiarkan anaknya diasuh oleh teknologi seperti ipad
lengkap dengan sambungan ke media sosial seperti YouTube, maka anak-anaknya pun
akan lahir sebagai generasi yang terasing dengan sosialisasi di masyarakat.
Di luar
rumah, anak-anak diberi pelajaran oleh guru yang kedua, yakni Guru Pengajian. Guru
formal di sekolah, bisa pula disebut Guru Parampara. Guru di sekolah inilah
yang perannya lebih banyak memberikan pendidikan sesuai dengan kurikulum yang
disediakan pemerintah. Tetapi bagaimana kalau Guru Pengajian ini justru
dilecehkan oleh muridnya sendiri? Pak Guru naik angkot atau sepeda, anak didik
naik motor, terjadi kesenjangan yang membuat hubungan guru murid jadi tak
imbang.
Seorang anak
yang meningkat menjadi remaja, apalagi menjadi dewasa, harus belajar
bermasyarakat dan belajar pula hidup dalam komunitas bangsa. Maka ada guru yang
ketiga disebut Guru Wisesa. Wisesa yang dimaksud adalah pemerintah dari
tingkatan yang terendah sampai yang tertinggi. Guru Wisesa juga berarti
pemimpin. Nah, bagaimana kalau pemimpin kita justru bermental buruk, korup dan
perilakunya tak bisa memberikan teladan?
Guru keempat
atau yang terakhir adalah Guru Sejati, Guru Maha Agung. Tak lain adalah Tuhan
itu sendiri. Dalam istilah Catur Guru ini disebut Guru Swadyaya. Tuhan yang
Maha Esa dalam fungsinya sebagai guru sejati adalah Maha Guru Alam Semesta atau
Sang Hyang Paramesti Guru. Semua ilmu pengetahuan dengan segala bentuknya
adalah bersumber dari Tuhan. Dalam kasus ini Guru Swadyaya pastilah tak ada
yang meremehkan, namun yang jadi masalah apakah umat selalu menjalankan ajaran
agama sebagaimana diwahyukan Tuhan?
Keempat guru
ini seharusnya dihormati. Seorang anak yang tidak menghormati orang tuanya akan
menyebabkan anak itu kehilangan keseimbangan. Ia menjadi anak yang durhaka.
Dalam berbagai agama disebutkan bahwa sorga itu letaknya di telapak kaki ibu.
Artinya seorang anak wajib sujud bhakti kepada ibunya.
Anak yang
tidak menghormati guru di sekolahnya juga bukan anak yang baik. Sekarang ini
banyak terjadi, anak-anak sekolah hanya menghormati guru ketika berada di dalam
kelas. Begitu di luar kelas apalagi di luar sekolah, guru itu kurang dihormati
lagi. Jarang misalnya anak yang menawarkan kepada gurunya untuk dibonceng atau
diajak naik mobil. Kalau kepada guru sekolah saja tak hormat, bagaimana
menghormati pemerintah sebagai guru Wisesa? Berbagai peraturan pemerintah
dilanggar seenaknya oleh anak-anak muda.
Mari kita
menghayati ajaran Catur Guru tanpa pernah membedakan kasih kepada empat guru
itu. Apalagi dalam Hindu adanya Hyang Guru atau Bethara Guru menjadi tumpuan
kita memuja setiap hari. Jadilah anak yang suputra, jangan coba-coba meremehkan
para guru. Meremehkan Catur Guru itu berarti tidak menjalankan ajaran agama
dengan baik. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar