23 Maret 2019

Berbohong Menurut Panca Nirrta


Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda

JIKA kita membaca-baca susastra Hindu banyak sekali ada istilah yang memberikan petunjuk kepada umat bagaimana perilaku yang baik dalam kehidupan ini. Tentu saja tidak semua susastra itu bersumber kepada kitab suci Weda, sehingga apa yang disajikan di sana harus dipilah-pilah apakah sesuai dengan keadaan pada saat kita hidup ini atau sudah usang. Yang sesuai kita pertahankan dan yang sudah usang mari kita tinggalkan. Begitulah umumnya susastra Hindu yang menjadi landasan tradisi harus bisa diuji di zamannya.

Misalnya ada istilah Panca Nirrta. Sesuai dengan namanya istilah ini artinya adalah lima jenis kebohongan yang diperbolehkan. Kenapa ada kebohongan yang diperbolehkan sementara ajaran Hindu jelas melarang orang berbohong? Tiada lain ini adalah susastra yang lahir pada zamannya di mana banyak hal yang terjadi di masyarakat harus disikapi dengan berbagai teknik. Penyebabnya adalah pada saat itu aturan yang mendukung suatu masalah tidak tersedia sehingga dicarikan jalan paradok, boleh berbohong asalnya tujuan utamanya adalah kebaikan. Jadi intinya adalah berbohong untuk kebaikan.

Bagaimana uraian dari Panca Nirrta itu? Kebohongan pertama yang diperbolehkan adalah untuk hak-hal yang bersenda-gurau. Berbohong dengan maksud guyonan. Ini kebiasaan kita dalam bercanda atau ngobrol membunuh waktu luwang, misalnya saat begadang menunggu banten di pura menjelang odalan atau begadang saat ada kematian. Orang biasa saling berbohong. Namun syarat dari kebohongan ini adalah sang pembohong mengakui apa yang dikatakannya itu bohong begitu obrolan selesai. Artinya kebohongan tak sampai dibawa ke tempat lain.

Kebohongan yang kedua adalah dalam proses pawiwahan (perkawinan). Nah, ini masalahnya lebih serius, barangkali saat Panca Nirrta disuratkan, belum banyak ada aturan bagaimana perkawinan yang baik. Contohnya perkawinan paksa di mana lelaki melarikan seorang perempuan untuk jadi istrinya, padahal perempuan itu tidak bersedia. Di Bali disebut nganten melegandang. Begitu pula kalau ada perkawinan yang tidak direstui orang tua masing-masng, namun lelaki dan wanita yang mau kawin itu tetap ngotot. Berbagai kebohongan bisa dilakukan di sini dengan tujuan utama keselamatan pengantin dan juga kedua keluarga. Tidak terjadi pertengkaran apalagi perkelahian sebagai mana cerita-cerita dalam dunia pewayangan. Namun di masa sekarang, tentu dalam hal perkawinan tidak ada celahnya membuat kebohongan. Karena aturan adat dan aturan negara begitu ketat. Perkawinan harus jelas asal-usulnya.

Kebohongan ketiga diperbolehkan kepada para pencuri, perampok, pembegal dan sejenisnya. Tujuannya untuk menyelamatkan harta benda dari perampokan. Kalau kita jujur kepada maling dan misalnya menyebutkan di mana kita menyimpan uang, habislah harta kita itu.

Kebohongan keempat adalah boleh berbohong untuk menyelamatkan jiwa kita sendiri atau nyawa orang lain. Kita bisa menyusun berbagai upaya kebohongan agar orang yang mencelakakan kita itu tidak berhasil melakukan niat jahatnya. Misalnya si penjahat menanyakan alamat seseorang yang akan dicelakakannya, kita tahu alamat yang benar, tetapi kita berbohong. Ini menyangkut keselamatan diri dan orang lain dari ulah orang-orang yang ingin berbuat onar.

Kebohongan kelima adalah berbohong untuk kebaikan anak-anak. Misalnya, kepada anak kecil yang sakit dan tak mau minum obat karena obat itu pahit, kita bisa bujuk dengan menyebut obat itu manis. Dalam tradisi masa lalu di Bali banyak juga kebohongan jenis ini, contohnya melarang anak-anak duduk di bantal dengan alasan bisa bisul. Dilarang makan berceceran dengan alasan ayam bisa mati. Sesuatu yang tak ada hubungannya sama sekali dan itu jelas bohong. Tetapi bukankah itu untuk kebaikan dan pelajaran etika kepada anak pada zamannya? Tentu sekarang hal itu tak bisa lagi dilakukan. Anak-anak sudah tak bisa lagi ditipu, obat pahit ya tetap pahit dan karena itu sudah diciptakan obat yang manis untuk anak-anak.

Jadi, meski pun dalam susastra Hindu ada lima jenis kebohongan yang jauh dari dosa, kadarnya tetap saja tergantung situasi dan kondisi zaman. Sekarang ini banyak berita bohong yang disebut hoax, masuk ke jenis mana kebohongan itu? Tentu tak ada kaitannya dengan Panca Nirrta karena hoax adalah tergolong dosa yang besar. Berbohong dengan niat bergurau di media sosial tentu saja boleh, karena itu diciptakan simbol-simbol yang harus kita sertakan. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar