Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda
JIKA kita membaca-baca susastra Hindu banyak sekali
ada istilah yang memberikan petunjuk kepada umat bagaimana perilaku yang baik
dalam kehidupan ini. Tentu saja tidak semua susastra itu bersumber kepada kitab
suci Weda, sehingga apa yang disajikan di sana harus dipilah-pilah apakah
sesuai dengan keadaan pada saat kita hidup ini atau sudah usang. Yang sesuai
kita pertahankan dan yang sudah usang mari kita tinggalkan. Begitulah umumnya
susastra Hindu yang menjadi landasan tradisi harus bisa diuji di zamannya.
Misalnya ada istilah Panca Nirrta. Sesuai dengan
namanya istilah ini artinya adalah lima jenis kebohongan yang diperbolehkan.
Kenapa ada kebohongan yang diperbolehkan sementara ajaran Hindu jelas melarang
orang berbohong? Tiada lain ini adalah susastra yang lahir pada zamannya di
mana banyak hal yang terjadi di masyarakat harus disikapi dengan berbagai
teknik. Penyebabnya adalah pada saat itu aturan yang mendukung suatu masalah tidak
tersedia sehingga dicarikan jalan paradok, boleh berbohong asalnya tujuan
utamanya adalah kebaikan. Jadi intinya adalah berbohong untuk kebaikan.
Bagaimana uraian dari Panca Nirrta itu? Kebohongan
pertama yang diperbolehkan adalah untuk hak-hal yang bersenda-gurau. Berbohong
dengan maksud guyonan. Ini kebiasaan kita dalam bercanda atau ngobrol membunuh
waktu luwang, misalnya saat begadang menunggu banten di pura menjelang odalan
atau begadang saat ada kematian. Orang biasa saling berbohong. Namun syarat
dari kebohongan ini adalah sang pembohong mengakui apa yang dikatakannya itu
bohong begitu obrolan selesai. Artinya kebohongan tak sampai dibawa ke tempat
lain.
Kebohongan yang kedua adalah dalam proses pawiwahan (perkawinan). Nah, ini
masalahnya lebih serius, barangkali saat Panca Nirrta disuratkan, belum banyak
ada aturan bagaimana perkawinan yang baik. Contohnya perkawinan paksa di mana
lelaki melarikan seorang perempuan untuk jadi istrinya, padahal perempuan itu
tidak bersedia. Di Bali disebut nganten
melegandang. Begitu pula kalau ada perkawinan yang tidak direstui orang tua
masing-masng, namun lelaki dan wanita yang mau kawin itu tetap ngotot. Berbagai
kebohongan bisa dilakukan di sini dengan tujuan utama keselamatan pengantin dan
juga kedua keluarga. Tidak terjadi pertengkaran apalagi perkelahian sebagai
mana cerita-cerita dalam dunia pewayangan. Namun di masa sekarang, tentu dalam
hal perkawinan tidak ada celahnya membuat kebohongan. Karena aturan adat dan
aturan negara begitu ketat. Perkawinan harus jelas asal-usulnya.
Kebohongan ketiga diperbolehkan kepada para pencuri,
perampok, pembegal dan sejenisnya. Tujuannya untuk menyelamatkan harta benda
dari perampokan. Kalau kita jujur kepada maling dan misalnya menyebutkan di
mana kita menyimpan uang, habislah harta kita itu.
Kebohongan keempat adalah boleh berbohong untuk
menyelamatkan jiwa kita sendiri atau nyawa orang lain. Kita bisa menyusun
berbagai upaya kebohongan agar orang yang mencelakakan kita itu tidak berhasil
melakukan niat jahatnya. Misalnya si penjahat menanyakan alamat seseorang yang
akan dicelakakannya, kita tahu alamat yang benar, tetapi kita berbohong. Ini
menyangkut keselamatan diri dan orang lain dari ulah orang-orang yang ingin
berbuat onar.
Kebohongan kelima adalah berbohong untuk kebaikan
anak-anak. Misalnya, kepada anak kecil yang sakit dan tak mau minum obat karena
obat itu pahit, kita bisa bujuk dengan menyebut obat itu manis. Dalam tradisi
masa lalu di Bali banyak juga kebohongan jenis ini, contohnya melarang
anak-anak duduk di bantal dengan alasan bisa bisul. Dilarang makan berceceran
dengan alasan ayam bisa mati. Sesuatu yang tak ada hubungannya sama sekali dan
itu jelas bohong. Tetapi bukankah itu untuk kebaikan dan pelajaran etika kepada
anak pada zamannya? Tentu sekarang hal itu tak bisa lagi dilakukan. Anak-anak
sudah tak bisa lagi ditipu, obat pahit ya tetap pahit dan karena itu sudah
diciptakan obat yang manis untuk anak-anak.
Jadi, meski pun dalam susastra Hindu ada lima jenis
kebohongan yang jauh dari dosa, kadarnya tetap saja tergantung situasi dan
kondisi zaman. Sekarang ini banyak berita bohong yang disebut hoax, masuk ke
jenis mana kebohongan itu? Tentu tak ada kaitannya dengan Panca Nirrta karena
hoax adalah tergolong dosa yang besar. Berbohong dengan niat bergurau di media
sosial tentu saja boleh, karena itu diciptakan simbol-simbol yang harus kita
sertakan. (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar