22 Februari 2019

Mengendalikan Diri Tanpa Instruksi


Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda

SUDAH beredar seruan bersama majelis-majelis agama dan keagamaan Provinsi Bali yang berkaitan dengan perayaan Nyepi yang berlangsung pada 7 Maret nanti. Isinya hampir sama dengan tahun-tahun lalu yakni mengenai berbagai larangan yang berkaitan dengan Catur Brata dalam menyambut Hari Raya Nyepi. Tidak boleh keluar rumah, tak boleh menyalakan lampu, bandara ditutup, televisi dan radio tak boleh siaran, bahkan internet pun diminta tutup pada saat itu.

Seperti biasa pula, seruan bersama ini dikeluarkan Parisada Hindu Dharma Indonesia, Majelis Utama Desa Pakraman, Forum Komunikasi Umat Beragama, Majelis Ulama Indonesia, Perwalian Umat Buddha Indonesia, perwakilan umat Kristen. Lalu seruan itu ditandatangani juga oleh Kanwil Kementrian Agama, Kapolda Bali, Korem Wira Satya dan Gubernur Bali.

Apakah Nyepi itu perayaan agama atau perayaan adat budaya setempat? Pertanyaan itu sangat wajar. Kalau perayaan agama dalam hal ini yang dimaksudkan adalah agama Hindu, kenapa seruan itu tidak ada di luar Bali? Katanya umat Hindu lebih banyak ada di luar Bali. Dengan begitu Nyepi itu mungkin lebih tepat perayaan adat di pulau Bali saja, untuk semua penduduk apa pun agamanya. Bukankah yang menyerukan itu semua pimpinan majelis agama secara bersama-sama? Pendapat ini tentu ada dasarnya pula. Untuk apa majelis umat Islam, majelis agama Buddha, Kristen, Katolik, Konghucu dibuat ikut repot untuk mengatur prilaku penduduk kalau cuma Nyepi untuk umat Hindu saja.

Bahwa pentingnya Nyepi sebagai sehari tanpa asap, bebas polusi, bahkan membatasi energi, tentu kita semua sepakat. Terbukti udara semakin bersih dengan sehari jeda polusi. Tetapi jika dikaitkan dengan perayaan agama yang intinya adalah pengendalian diri, apakah kita terus-menerus mengendalikan diri lewat instruksi lembaga agama? Kapan kita belajar mengendalikan diri dengan kesadaran tersendiri? Apakah umat Islam ketika di bulan suci Ramadhan memberikan instruksi supaya warung ditutup? Yang ada adalah imbauan untuk membatasi tetapi jika mau buka tidak masalah. Kesadaran diri yang lebih utama.

Umat Hindu wajib melakukan “brata penyepian” namun dalam pelaksanaannya lebih banyak dengan pengawasan bahkan dikenakan sanksi kalau ada pelanggaran. Dan itu pun diawasi pecalang. Bukankah itu berarti pecalang sendiri tidak ikut melaksanakan “brata penyepian”? Lalu bagaimana menyebutkan bahwa pengendalian diri itu harus dengan kesadaran diri dan kapan kita mau belajar mengendalikan diri tanpa ada pengawasan orang lain?

Konsep beragama adalah keyakinan berdasarkan niat yang ada dalam diri sendiri dan sanksinya adalah dari Tuhan Yang Maha Esa. Kokoh mempertahankan diri dalam pengendalian indria akan mendapatkan kebahagiaan sebagai karma baik dalam kehidupan ini, juga kehidupan di alam sana setelah kita tiada.

Ajaran Hindu menempatkan pentingnya mulatsarisa (pengendalian diri) dilakukan setiap orang, tanpa takut dengan sanksi duniawi. Dalam kitab Atharvaveda XI.8.2 disebutkan, tapas caivastam karma cantar mahatyarnave..”  Artinya,  tapa (pengendalian diri) dan keteguhan hati adalah satu-satunya juru selamat di dunia ini.

Kitab Bhagawad Gita III.41 menyebutkan: tasmaat tvam indriyany adau, niyamya bharatarsabham, papmanam prajahi hy enam, jnana vijnana nasanam. Terjemahan bebasnya: “Oleh karena itu wahai (Arjuna) yang paling utama di antara keturunan Bharata, sedari awal hendaknya engkau mengendalikan indria tersebut, dengan kekuatan sepenuhnya, bunuhlah hawa nafsu yang merupakan penghancur segala pengetahuan dan keinsyafan diri”.

Jadi perlu “kekuatan sepenuhnya”, bukan ketakutan pada sanksi pecalang, Setiap manusia pasti punya nafsu. Nafsu itu adalah kama yang merupakan suatu kekuatan atau energi yang membuat orang hidup bergairah dan bersemangat. Namun bagaimana mengendalikan kama itu agar menjadi suatu kekuatan yang positif. Maka dasari kama itu dengan dharma, ajaran kebenaran. Kalau kama didasari oleh sifat atau ajaran adharma maka menjadilah dia kekuatan yang negatif. Kama yang tidak terkendali inilah yang menjadi salah satu bagian dari Sadripu, enam musuh utama yang tersembunyi pada setiap manusia. Lima unsur lain dalam Sadripu itu adalah kroda (emosi kemarahan), loba (ketamakan), moha (kebingungan), mada (kemabukan) dan matsarya (kedengkian).

Kalau ini kita jadikan pedoman, seharusnya semakin banyak kita mempelajari agama dan semakin aktif melaksanakan apa yang diajarkan agama, maka menjalankan agama tak harus repot-repot diurus oleh instansi pemerintah. Itulah beragama yang ideal. (*)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar