Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda
PADA saat membuka Bulan Bahasa Bali awal bulan ini di
Gedung Ksirarnawa Denpasar, seribuan pelajar berkumpul untuk menulis aksara
Bali di daun lontar. Gubernur Bali Wayan Koster bahkan ikut bergabung dengan
para pelajar itu di lantai dasar Gedung Ksirarnawa. Apa yang disasar oleh
kegiatan ini?
Sesungguhnya yang pertama-tama sasarannya adalah
melestarikan aksara Bali itu sendiri. Tentu aksara dalam kaitan juga dengan
bahasa Bali. Ini sesuai dengan maksud diadakan Bulan Bahasa Bali yang
ditetapkan pada setiap bulan Februari. Pijakannya mengacu kepada Pergub No. 80
Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara dan Sastra Bali.
Jadi bukan untuk memproduksi kembali naskah dengan
menggunakan lontar. Kalau tujuannya seperti itu tentu saja kita balik kembali
ke zaman dulu dengan menggunakan sarana tradisional untuk menuangkan pikiran
kita, baik itu pikiran berupa hasil sastra mau pun naskah untuk kepentingan
budaya dan agama.
Seperti kita ketahui bersama, lontar itu hanyalah sarana
untuk menulis pada zamannya. Pada saat belum ditemukan kertas dan alat tulis
lain, daun lontar digunakan sebagai pengganti kertas. Pada saat alat tulis
kertas mulai ada, orang tentu menulis di kertas. Bahkan kini pada saat ada
komputer orang menulis di komputer dan disimpan lewat CD (compact disc) atau flashdisk. Maka CD dan flashdisk
saat ini adalah “lontar yang moderen”. Bahkan ada trend lebih canggih lagi,
tulisan itu langsung masuk ke handphone
sehingga handphone masa kini
berfungsi seperti lontar. Banyak kegiatan keagamaan, misalnya, membaca kidung,
melafalkan mantram, sudah mulai dengan panduan di handphone. Luar biasa.
Namun lontar-lontar yang ada harus diselamatkan. Lontar
itu dikaji apa isinya. Kalau manfaatnya banyak bisa disalin dan diterjemahkan. Sudah
banyak lontar itu disalin dan diterjemahkan, terutama yang berkaitan dengan
sastra dan agama. Orang cukup membaca salinannya. Kalau mau membaca aslinya
datang ke museum. Misalnya ke Gedong Kirtya Singaraja atau Museum Lontar milik
Fakuktas Sastra dan Budaya Universitas Udayana. Di sana lontar-lontar itu
disimpan untuk menjaga warisan para leluhur.
Kalau demikian halnya, apakah kita tak boleh belajar
menulis lontar? Apa gunanya ada kegiatan massal belajar menulis lontar yang
bahkan diikuti oleh Gubernur Wayan Koster? Tentu saja kegiatan itu masih
penting. Seperti yang sudah dikatakan, yang pertama-tama bertujuan melestarikan
aksara Bali dan sekaligus bahasa Bali itu sendiri. Tujuan kedua adalah agar
tradisi menulis di daun lontar itu tidak sampai dilupakan.
Menulis di daun lontar itu sangatlah rumit dan perlu
keahlian. Orang harus belajar terlebih dahulu sebelum membuat tulisan di lontar
yang sebenarnya. Bagaimana memegang pengutik
(pisau kecil untuk menulis), bagaimana mengguratnya di daun lontar, cara
memegang dan sebagainya, sangatlah rumit. Kalau tidak ahli jari tangan bisa
luka kena pisau atau yang banyak terjadi daun lontar malah robek. Bayangkan
kalau robeknya itu mendekati akhir, praktis kerja keras sebelumnya menjadi
sia-sia.
Lalu apa manfaatnya dari sudut ritual agama Hindu? Masih
banyak kegunaannya terutama dalam kaitan yadnya dalam budaya Bali tradisional.
Banyak ornamen sesajen atau perlengkapan sesajen yang membutuhkan tulisan
aksara Bali di daun lontar, atau sekarang ini bisa diganti dengan janur yang
lebih tebal seperti janur ibung. Misalnya, rerajahan
banten caru, rerajahan pada adegan, belum lagi perlengkapan
prasasti. Dalam ritual Pitra Yadnya juga banyak memerlukan rerajahan yang ditulis di daun lontar. Kalau tradisi menulis aksara
Bali di daun lontar itu tidak diwariskan ke generasi berikutnya maka
kelestarian ritual yang betul-betul sesuai dengan tradisi akan semakin hilang.
Memang banyak hal yang sudah bisa diganti oleh kertas,
tetapi itu terutama pada pernik-pernik pendamping dan bukan sesuatu yang sakral
atau inti dari sesajen. Misalnya, pembacaan putru
pada saat Pitra Yadnya, sudah boleh dibaca dari naskah yang berupa kertas,
bahkan dengan tulisan latin pula.
Jadi fungsi lontar yang dipakai sarana untuk menulis
aksara Bali masih dibutuhkan dalam ritual-ritual tertentu dan ini bagian yang
tak terpisahkan dari sebuah yadnya. Maka memang perlu untuk dilestarikan dan
dilatih kepada anak-anak muda. Lontar memang tak lagi memuat pemikiran orang
atau berisi mantram-mantram panjang, namun tetap perlu untuk penggunaan yang
terbatas. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar