16 Februari 2019

Lontar Perlu Meski Terbatas


Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda

PADA saat membuka Bulan Bahasa Bali awal bulan ini di Gedung Ksirarnawa Denpasar, seribuan pelajar berkumpul untuk menulis aksara Bali di daun lontar. Gubernur Bali Wayan Koster bahkan ikut bergabung dengan para pelajar itu di lantai dasar Gedung Ksirarnawa. Apa yang disasar oleh kegiatan ini?

Sesungguhnya yang pertama-tama sasarannya adalah melestarikan aksara Bali itu sendiri. Tentu aksara dalam kaitan juga dengan bahasa Bali. Ini sesuai dengan maksud diadakan Bulan Bahasa Bali yang ditetapkan pada setiap bulan Februari. Pijakannya mengacu kepada Pergub No. 80 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara dan Sastra Bali.

Jadi bukan untuk memproduksi kembali naskah dengan menggunakan lontar. Kalau tujuannya seperti itu tentu saja kita balik kembali ke zaman dulu dengan menggunakan sarana tradisional untuk menuangkan pikiran kita, baik itu pikiran berupa hasil sastra mau pun naskah untuk kepentingan budaya dan agama.


Seperti kita ketahui bersama, lontar itu hanyalah sarana untuk menulis pada zamannya. Pada saat belum ditemukan kertas dan alat tulis lain, daun lontar digunakan sebagai pengganti kertas. Pada saat alat tulis kertas mulai ada, orang tentu menulis di kertas. Bahkan kini pada saat ada komputer orang menulis di komputer dan disimpan lewat CD (compact disc) atau flashdisk. Maka CD dan flashdisk saat ini adalah “lontar yang moderen”. Bahkan ada trend lebih canggih lagi, tulisan itu langsung masuk ke handphone sehingga handphone masa kini berfungsi seperti lontar. Banyak kegiatan keagamaan, misalnya, membaca kidung, melafalkan mantram, sudah mulai dengan panduan di handphone. Luar biasa.

Namun lontar-lontar yang ada harus diselamatkan. Lontar itu dikaji apa isinya. Kalau manfaatnya banyak bisa disalin dan diterjemahkan. Sudah banyak lontar itu disalin dan diterjemahkan, terutama yang berkaitan dengan sastra dan agama. Orang cukup membaca salinannya. Kalau mau membaca aslinya datang ke museum. Misalnya ke Gedong Kirtya Singaraja atau Museum Lontar milik Fakuktas Sastra dan Budaya Universitas Udayana. Di sana lontar-lontar itu disimpan untuk menjaga warisan para leluhur.

Kalau demikian halnya, apakah kita tak boleh belajar menulis lontar? Apa gunanya ada kegiatan massal belajar menulis lontar yang bahkan diikuti oleh Gubernur Wayan Koster? Tentu saja kegiatan itu masih penting. Seperti yang sudah dikatakan, yang pertama-tama bertujuan melestarikan aksara Bali dan sekaligus bahasa Bali itu sendiri. Tujuan kedua adalah agar tradisi menulis di daun lontar itu tidak sampai dilupakan.

Menulis di daun lontar itu sangatlah rumit dan perlu keahlian. Orang harus belajar terlebih dahulu sebelum membuat tulisan di lontar yang sebenarnya. Bagaimana memegang pengutik (pisau kecil untuk menulis), bagaimana mengguratnya di daun lontar, cara memegang dan sebagainya, sangatlah rumit. Kalau tidak ahli jari tangan bisa luka kena pisau atau yang banyak terjadi daun lontar malah robek. Bayangkan kalau robeknya itu mendekati akhir, praktis kerja keras sebelumnya menjadi sia-sia.

Lalu apa manfaatnya dari sudut ritual agama Hindu? Masih banyak kegunaannya terutama dalam kaitan yadnya dalam budaya Bali tradisional. Banyak ornamen sesajen atau perlengkapan sesajen yang membutuhkan tulisan aksara Bali di daun lontar, atau sekarang ini bisa diganti dengan janur yang lebih tebal seperti janur ibung. Misalnya, rerajahan banten caru, rerajahan pada adegan, belum lagi perlengkapan prasasti. Dalam ritual Pitra Yadnya juga banyak memerlukan rerajahan yang ditulis di daun lontar. Kalau tradisi menulis aksara Bali di daun lontar itu tidak diwariskan ke generasi berikutnya maka kelestarian ritual yang betul-betul sesuai dengan tradisi akan semakin hilang.

Memang banyak hal yang sudah bisa diganti oleh kertas, tetapi itu terutama pada pernik-pernik pendamping dan bukan sesuatu yang sakral atau inti dari sesajen. Misalnya, pembacaan putru pada saat Pitra Yadnya, sudah boleh dibaca dari naskah yang berupa kertas, bahkan dengan tulisan latin pula.

Jadi fungsi lontar yang dipakai sarana untuk menulis aksara Bali masih dibutuhkan dalam ritual-ritual tertentu dan ini bagian yang tak terpisahkan dari sebuah yadnya. Maka memang perlu untuk dilestarikan dan dilatih kepada anak-anak muda. Lontar memang tak lagi memuat pemikiran orang atau berisi mantram-mantram panjang, namun tetap perlu untuk penggunaan yang terbatas. (*)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar