ASIAN Games sedang berlangsung di Jakarta dan
Palembang. Pesta olahraga terbesar di Asia ini membuat banyak orang melupakan
hal-hal lain, bahkan termasuk melupakan penderitaan rakyat Lombok yang
bertubi-tubi dilanda gempa bumi. Tentu saja pelupaan itu hanya sesaat ketika
para atlet bertanding.
Betapa besar perhatian orang terhadap pesta olahraga
Asia ini dimulai sejak pembukaan Asian Games yang begitu spektakuler. Apalagi
dengan munculnya video Presiden Joko Widodo yang seolah-olah datang ke Gelora
Bung Karno dengan naik moge atau mobil gede. Tepuk tangan membahana untuk
atraksi ini sehingga orang pun bisa lupa kalau sesungguhnya Jokowi memberikan
contoh yang tidak baik. Mana ada presiden yang nampak ugal-ugalan naik moge
tanpa nomor polisi, lalu kesan betapa macetnya jalanan di Jakarta sehingga
seorang presiden pun tak bisa berjalan normal ke sebuah acara. Tetapi sekali
lagi ini adalah atraksi hiburan sebagaimana pertandingan olahraga itu sendiri
yang bisa membius orang untuk melupakan sejenak kesehariannya.
Olahraga memang mempersatukan banyak orang, bahkan
mempersatukan negara yang sebelumnya kurang mesra. Korea Utara dan Korea
Selatan contohnya. Dua negara ini bersatu di Asian Games sehingga melupakan
konflik di antara negara serumpun yang puluhan tahun saling bermusuhan.
Begitu antusiasnya orang menonton pertandingan di dua
kota, Jakarta dan Palembang. Tiket selalu habis dan penonton yang kecewa hanya
bisa menonton di luar gelanggang lewat layar lebar. Presiden Jokowi pun asyik
menonton dan sempat mengalungkan medali emas. Target Indonesia akan berada di
urutan 10 besar nampaknya akan bisa dicapai. Demam Asian Games terus
didengungkan.
Tetapi apa yang kira-kira terjadi setelah itu? Kita akan
terkotak-kotak kembali. Media sosial pun penuh lagi dengan saling mencela
menjelang kampanye pilpres dan pileg yang akan dimulai akhir September nanti.
Tak peduli itu kawan lama, tak peduli tetangga, kalau sudah beda dukungan calon
presiden, langsung saling serang kata-kata. Begitu pula yang suka mempermainkan isu SARA,
terutama isu agama, akan terus terulang. Cuma uniknya, pasangan yang akan
mengumbar isu agama justru bisa berbalik. Yang tadinya anti membawa-bawa agama
ke politik kini justru memainkan jurus agama. Contohnya Jokowi yang diusung
sembilan partai politik. Kesan yang ada selama ini koalisi sembilan partai ini
tak akan mempermainkan isu agama. Tetapi
faktanya pasangan Jokowi sebagai calon wakil presiden justru seorang ulama. Dia
adalah Ma’ruf Amin, Ketua Majelis Ulama Indonesia yang kental dengan pernyataan
untuk kepentingan agama mayoritas. Dia pula yang dulu membuat pernyataan dalam
sidang pengadilan Ahok bahwa Ahok memang menista agama. Sementara Prabowo
Subianto sebagai lawan Jokowi justru menolak usulan ulama sebagai calon wakil
presidennya.
Akankah kebencian dipelihara terus setelah Asian Games
ini? Nampaknya hal itu akan tetap terjadi meski dibalut dengan kata-kata yang
siap untuk tidak mempermainkan isu agama yang menyebabkan kebencian tubuh
subur. Namun, baru saja terjadi kasus yang sangat memilukan. Seorang ibu
keturunan Tionghoa di Tanjung Balai, Sumatra Utara, Meiliana, divonis hakim
pengadilan negeri dengan hukuman 18 bulan penjara. Penyebabnya hanya karena
Meiliana memprotes suara adzan yang begitu keras dari masjid. Hanya untuk
urusan itu Meiliana harus dihukum kendati suaminya sudah meminta maaf ketika
kasusnya diproses polisi. MUI Sumatra Utara yang memperkuat bahwa Meiliana
melakukan penistaan agama.
Banyak sekali kasus gesekan antaragama yang
penyebabnya dipicu oleh keputusan MUI, baik di tingkat daerah mau pun pusat.
Larangan mengucapkan selamat Natal bagi muslim untuk umat Kristiani pernah
datang dari MUI. Tahun lalu juga muncul kasus atribut Santa yang menghebohkan
karena MUI mengeluarkan fatwa tentang larangan pemakaian topi Santa untuk kaum
muslim. Padahal ini hal-hal yang rutin setiap tahun menjelang Natal dan para
karyawan – apa pun agamanya – senang dengan hal itu untuk menarik pembeli
meningkatkan penjualan barang.
Pucuk tertinggi MUI kini mendampingi Jokowi sebagai
calon wakil presiden. Banyak yang tidak sreg karena ulama diseret-seret ke
masalah politik. Ulama sebagai penjaga moral bangsa seharusnya bersikap netral,
seperti yang dikatakan Ustad Abdul Somad. Karena sikap netral itulah Ustad
Abdul Somad yang kondang ini menolak dijadikan calon wakil presiden dari kubu
Prabowo.
Jadi, apakah isu SARA terutama dalam kaitan perbedaan
agama, akan tetap mewarnai menjelang pemilihan serentak 2019? Mungkin hal itu
tak terhindari, tetapi bisa jadi pula mereda jika kubu Jokowi, terutama
pengikutnya yang sangat militan di media sosial, bisa mengendalikan diri. Akan
lebih mudah pula untuk meredamnya jika kegiatan olahraga diperbanyak setelah
Asian Games selesai. Turnamen harus diperbanyak yang membuat masyarakat lupa
sejenak dengan urusan politik yang makin carut marut.
Olahraga bisa melupakan hal-hal yang seharusnya tidak
perlu dipermasalahkan yang menyangkut perbedaan agama, budaya, mau pun
perbedaan pilihan politik. Kita perlu keluar dari kungkungan sempit itu dan
menatap wajah Indonesia yang majemuk. Indonesia yang punya beragam agama dan kebudayaan
yang saling mempengaruhi. Semuanya itu jadi indah, berbeda-beda tetapi satu
Indonesia. (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar