28 Agustus 2018

Olahraga yang Mempersatukan

Mpu Jaya Prema

ASIAN Games sedang berlangsung di Jakarta dan Palembang. Pesta olahraga terbesar di Asia ini membuat banyak orang melupakan hal-hal lain, bahkan termasuk melupakan penderitaan rakyat Lombok yang bertubi-tubi dilanda gempa bumi. Tentu saja pelupaan itu hanya sesaat ketika para atlet bertanding.

Betapa besar perhatian orang terhadap pesta olahraga Asia ini dimulai sejak pembukaan Asian Games yang begitu spektakuler. Apalagi dengan munculnya video Presiden Joko Widodo yang seolah-olah datang ke Gelora Bung Karno dengan naik moge atau mobil gede. Tepuk tangan membahana untuk atraksi ini sehingga orang pun bisa lupa kalau sesungguhnya Jokowi memberikan contoh yang tidak baik. Mana ada presiden yang nampak ugal-ugalan naik moge tanpa nomor polisi, lalu kesan betapa macetnya jalanan di Jakarta sehingga seorang presiden pun tak bisa berjalan normal ke sebuah acara. Tetapi sekali lagi ini adalah atraksi hiburan sebagaimana pertandingan olahraga itu sendiri yang bisa membius orang untuk melupakan sejenak kesehariannya.

Olahraga memang mempersatukan banyak orang, bahkan mempersatukan negara yang sebelumnya kurang mesra. Korea Utara dan Korea Selatan contohnya. Dua negara ini bersatu di Asian Games sehingga melupakan konflik di antara negara serumpun yang puluhan tahun saling bermusuhan.
Begitu antusiasnya orang menonton pertandingan di dua kota, Jakarta dan Palembang. Tiket selalu habis dan penonton yang kecewa hanya bisa menonton di luar gelanggang lewat layar lebar. Presiden Jokowi pun asyik menonton dan sempat mengalungkan medali emas. Target Indonesia akan berada di urutan 10 besar nampaknya akan bisa dicapai. Demam Asian Games terus didengungkan.

Tetapi apa yang kira-kira terjadi setelah itu? Kita akan terkotak-kotak kembali. Media sosial pun penuh lagi dengan saling mencela menjelang kampanye pilpres dan pileg yang akan dimulai akhir September nanti. Tak peduli itu kawan lama, tak peduli tetangga, kalau sudah beda dukungan calon presiden, langsung saling serang kata-kata. Begitu  pula yang suka mempermainkan isu SARA, terutama isu agama, akan terus terulang. Cuma uniknya, pasangan yang akan mengumbar isu agama justru bisa berbalik. Yang tadinya anti membawa-bawa agama ke politik kini justru memainkan jurus agama. Contohnya Jokowi yang diusung sembilan partai politik. Kesan yang ada selama ini koalisi sembilan partai ini tak akan mempermainkan isu agama.  Tetapi faktanya pasangan Jokowi sebagai calon wakil presiden justru seorang ulama. Dia adalah Ma’ruf Amin, Ketua Majelis Ulama Indonesia yang kental dengan pernyataan untuk kepentingan agama mayoritas. Dia pula yang dulu membuat pernyataan dalam sidang pengadilan Ahok bahwa Ahok memang menista agama. Sementara Prabowo Subianto sebagai lawan Jokowi justru menolak usulan ulama sebagai calon wakil presidennya.

Akankah kebencian dipelihara terus setelah Asian Games ini? Nampaknya hal itu akan tetap terjadi meski dibalut dengan kata-kata yang siap untuk tidak mempermainkan isu agama yang menyebabkan kebencian tubuh subur. Namun, baru saja terjadi kasus yang sangat memilukan. Seorang ibu keturunan Tionghoa di Tanjung Balai, Sumatra Utara, Meiliana, divonis hakim pengadilan negeri dengan hukuman 18 bulan penjara. Penyebabnya hanya karena Meiliana memprotes suara adzan yang begitu keras dari masjid. Hanya untuk urusan itu Meiliana harus dihukum kendati suaminya sudah meminta maaf ketika kasusnya diproses polisi. MUI Sumatra Utara yang memperkuat bahwa Meiliana melakukan penistaan agama.

Banyak sekali kasus gesekan antaragama yang penyebabnya dipicu oleh keputusan MUI, baik di tingkat daerah mau pun pusat. Larangan mengucapkan selamat Natal bagi muslim untuk umat Kristiani pernah datang dari MUI. Tahun lalu juga muncul kasus atribut Santa yang menghebohkan karena MUI mengeluarkan fatwa tentang larangan pemakaian topi Santa untuk kaum muslim. Padahal ini hal-hal yang rutin setiap tahun menjelang Natal dan para karyawan – apa pun agamanya – senang dengan hal itu untuk menarik pembeli meningkatkan penjualan barang.

Pucuk tertinggi MUI kini mendampingi Jokowi sebagai calon wakil presiden. Banyak yang tidak sreg karena ulama diseret-seret ke masalah politik. Ulama sebagai penjaga moral bangsa seharusnya bersikap netral, seperti yang dikatakan Ustad Abdul Somad. Karena sikap netral itulah Ustad Abdul Somad yang kondang ini menolak dijadikan calon wakil presiden dari kubu Prabowo.

Jadi, apakah isu SARA terutama dalam kaitan perbedaan agama, akan tetap mewarnai menjelang pemilihan serentak 2019? Mungkin hal itu tak terhindari, tetapi bisa jadi pula mereda jika kubu Jokowi, terutama pengikutnya yang sangat militan di media sosial, bisa mengendalikan diri. Akan lebih mudah pula untuk meredamnya jika kegiatan olahraga diperbanyak setelah Asian Games selesai. Turnamen harus diperbanyak yang membuat masyarakat lupa sejenak dengan urusan politik yang makin carut marut.

Olahraga bisa melupakan hal-hal yang seharusnya tidak perlu dipermasalahkan yang menyangkut perbedaan agama, budaya, mau pun perbedaan pilihan politik. Kita perlu keluar dari kungkungan sempit itu dan menatap wajah Indonesia yang majemuk. Indonesia yang punya beragam agama dan kebudayaan yang saling mempengaruhi. Semuanya itu jadi indah, berbeda-beda tetapi satu Indonesia. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar