Mpu Jaya Prema
ADA yang perlu kita pelajari dari Malaysia, terutama
dalam hal menyelenggarakan pemilihan umum. Yakni kesederhanaan pelaksanaan
pemilu dan begitu cepatnya proses berlangsung. Hari Rabu pemungutan suara dilangsungkan,
malamnya hasil pemilu sudah diketahui. Esok dini hari diumumkan siapa yang
menang dan Kamis malam Perdana Menteri yang terpilih sudah dilantik oleh Yang
Dipertuan Agung.
Bandingkan dengan penyelenggaraan pemilu yang terjadi
di negeri kita. Pemilu yang ribet dan bertele-tele padahal setiap orang sudah
punya kartu tanpa penduduk berbasis elektronik. Bahkan untuk hajatan pemilu tahun
2019 mendatang, mengutip pernyataan Wakil Presiden Jusuf Kalla, pemilu yang
merupakan gabungan pemilihan anggota legislatif, anggota dewan perwakilan
daerah dan pemilihan presiden merupakan pemilu teruwet di dunia. Pemilu yang
disebut serentak itu menjadi teka-teki pula karena presiden yang terpilih belum
tentu didukung parlemen yang mayoritas. Orang bebas memilih presiden siapa
saja, kemudian bebas pula memilih anggota legislatif dan partai. Tidak ada
keterikatan kalau memilih partai ini harus juga memilih presiden yang diusung
partai ini. Orang bisa memilih Jokowi sebagai presiden tetapi bebas memilih Partai
Golkar atau PDIP atau sesukanya.
Dan rentang waktu sehari itu suara yang masuk ke
Tempat Pemungutan Suara (TPS) baru sampai di tingkat kecamatan untuk kemudian
direkapitulasi kembali. Kemudian ke kabupaten terus ke provinsi. Masih jauh
dari kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat di Jakarta, lembaga yang berhak
mengumumkan siapa pemenang pemilu. Kalau pun hasilnya sudah ditetapkan oleh KPU
masih terbuka pula gugatan karena ada dugaan pelanggaran. Pokoknya ruwet bin
ribet dan butuh waktu yang panjang.
Hasil pemilu di Malaysia, politisi usia lanjut Mahathir
Mohamad, akhirnya kembali menjabat sebagai Perdana Menteri setelah partai
koalisinya memenangi pemilihan umum di semenanjung jiran itu. Kini Mahathir
tercatat sebagai Perdana Menteri tertua di dunia. Usianya 92 tahun. Ia pernah
memegang jabatan itu sangat lama, yakni dari tahun 1981 sampai tahun 2003.
Konon saat ini ia tak mau berkuasa lama karena faktor usia. Sebentar lagi, satu
atau dua tahun, ia akan menyerahkan jabatan Perdana Menteri kepada Anwar
Ibrahim, koleganya satu koalisi, yang kini sedang ditahan di penjara. Mahathir adalah pemimpin koalisi Pakatan
Harapan, gabungan empat partai (di Malaysia disebut parti). Keempat partai itu
adalah Parti Tindakan Demokratik. Parti Keadilan Rakyat yang dipimpin Anwar
Ibrahim, Parti Amanah Negara dan Parti Pribumi Bersatu Malaysia (PPBM) yang
dipimpin Mahathir sendiri.
Pelajaran apalagi yang bisa didapatkan dari Malaysia
di sekitar pemilu ini? Tidak ada perpecahan dalam masyarakat secara mencolok
oleh perbedaan politik. Ini jika dibandingkan dengan Indonesia sekarang.
Oposisi yang dipimpin Mahathir memang gencar menyerang pemerintah yang diduga
banyak melakukan praktek korupsi, tetapi tak begitu banyak muncul celaan mau
pun ejekan di media sosial. Sedangkan di sini pecah antara opisisi yang
diwakili oleh kubu Prabowo Subianto dengan pendukung pemerintah dari kubu Joko
Widodo. Perseteruan dua kubu politik menjelang Pemilu 2019 ini terus mencapai
puncaknya. Bukan saja memecah dunia maya untuk lahan saling mengejek, tetapi
juga merembet ke dunia nyata. Urusan tulisan di baju kaos saja sudah menjadi bahan
untuk usir-mengusir. Yang berbaju kaos dengan tagar #DiaAsyikKerja dipersekusi
oleh pemakai baju kaos bertagar #2019GantiPresiden. Padahal siapa yang “asyik
kerja” dan “siapa presiden yang diganti” masih simbol yang tak jelas benar, apalagi
siapa yang menggantikannya. Belum ada hitam putih bahwa Prabowo akan maju
sebagai presiden yang diharapkan “menggantikan Jokowi”.
Pelajaran lain adalah sosok Mahathir Mohamad yang semakin tua semakin
bijak, sebagaimana umumnya seorang manusia. Kita tak punya tokoh seperti itu,
yang ada politisi yang semakin tua semakin nyinyir dan sulit dipegang
kata-katanya seperti yang dipertontonkan sekarang ini. Dengan demikian
ketegangan dua kubu tak ada yang melerai karena tidak ada tokoh alternatif.
Upaya memunculkan poros ketiga masih menjadi kendala besar karena masing-masing
partai punya ego sendiri untuk menampilkan kadernya. Poros ketiga itu
dimungkinkan jika tiga partai yang kini belum menentukan pilihannya untuk
bergabung ke kubu Jokowi maupun Prabowo bersatu. Ketiganya adalah Partai
Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa dan Partai Amanat Nasioonal. Satu saja yang
tak mau ikut gabung, maka poros ketiga tak bisa terwujud karena gabungan
suaranya kurang dari 20 persen sebagai persyaratan mengusung capres dan cawapres.
Tiba-tiba ada yang melirik Jusuf Kalla. Politisi usia 75 tahun ini sekarang
digadang-gadang lagi menjadi wakil presiden untuk pemilu 2019. Disebut “lagi”
karena Kalla saat ini sudah menjadi wakil presiden untuk Joko Widodo. Dulu juga
menjadi wakil presiden untuk Susilo Bambang Yudhoyono. Jadi sudah dua kali
menjadi wakil presiden untuk dua presiden berbeda. Masa jabatan yang jauh lebih
pendek dari Mahathir Mohamad sebagai Perdana Menteri.
Untuk apa menggadang Jusuf Kalla? Alasannya adalah karena Kalla bisa
diterima oleh banyak orang. Dia dinilai bisa membuat adem dari suhu panas saat
ini. Namun yang jadi masalah Jusuf Kalla hanya digadang-gadang untuk menjadi
wakil presiden, bukan sebagai presiden. Pertanyaannya juga belum jelas benar, siapa
sesungguhnya yang menggadang (lagi) Jusuf Kalla sebagai calon wakil presiden?
Untuk calon presiden siapa Kalla dijadikan wakilnya? Sementara orang tahu – dan
seperti sudah yakin – calon presiden yang bertarung di Pemilu 2019 hanyalah
Jokowi dan Prabowo. Namun rumor yang beredar Jusuf Kalla akan dijadikan wakil
presiden untuk Jokowi. Karena itu sudah masuk uji materi ke Mahkamah Konstitusi
agar “nasib Kalla” dipertegas, boleh menjadi wakil presiden lagi atau tidak –
karena sudah dua kali menjabat meski tak berurutan.
Jika benar Jusuf Kalla bisa membuat adem dari perseteruan dua kubu saat
ini, kenapa Jusuf Kalla tidak dijadikan calon presiden saja? Dengan demikian tak perlu lagi ada uji materi
ke Mahkamah Konstitusi karena Kalla tak pernah menjadi presiden. Kalau saja
poros ketiga mau bersatu mengusung Jusuf Kalla maka peta pemilu 2019 akan
menjadi menarik. Ada tokoh alternatif, tokoh tua tetapi tak setua Mahathir.
Namun belum tentu bisa mengalahkan Jokowi yang masih tetap kuat. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar