MASIH banyak keluhan yang terdengar dari para pengelola museum atau
perpustakaan yang mengkhususkan pada penyimpanan lontar. Keluhan itu adalah
semakin minimnya peminat yang membaca lontar. Kalau peminatnya saja minim,
bagaimana pula orang yang mempelajari isi lontar itu, pastilah amat sedikit
jumlahnya. Berangkat dari sini maka ada kekhawatiran bahwa ilmu yang ada di
dalam lontar itu tak banyak diketahui orang dan lama-lama akan hilang ditelan
zaman. Bagaimana pula rujukan untuk ritual keagamaan yang sumbernya ada di
dalam lontar itu, pastilah tak bisa langgeng kalau yang membaca lontar itu
sedikit.
Museum Gedung Kirtya di Singaraja yang menyimpan ratusan lontar, pengunjung sangat
sepi. Begitu pula di Pusat Kajian Lontar Universitas Udayana Denpasar, jarang
sekali ada mahasiswa dan dosen peneliti yang membaca-baca lontar. Kalau pun ada mereka umumnya mahasiswa Sastra
Bali dan Sastra Jawa Kuno yang berada di bawah Fakultas Ilmu Budaya yang dulu
dikenal sebagai Fakultas Sastra. Mahasiswa dari fakultas lain jarang yang
berminat padahal koleksi lontar di sana bukan sekadar masalah budaya dan agama,
ada lintas ilmu seperti politik, ekonomi
dan kesehatan.
Tetapi apakah masalah membaca lontar yang semakin kecil peminatnya menjadi
sesuatu yang memprihatinkan? Seharusnya tidak, jika yang dimaksudkan adalah
membaca apa yang tersurat di dalam lontar itu secara phisik. Artinya
membuka-buka lembar lontar yang beraksara Bali yang ditulis para leluhur di
daun rontal. Karena yang penting bukan membaca secara phisik dari sebuah
lontar, tetapi mempelajari apa isi lontar itu. Dengan demikian ilmu yang
tersurat di dalam lontar dan petunjuk ritual yang ditulis di dalam lontar,
sesungguhnya tetap bisa dipelajari jika lontar itu sudah disalin ke dalam
tulisan latin disertai terjemahan. Hal itu sudah banyak yang dilakukan baik
oleh pihak swasta (perorangan) mau pun pihak pemerintah. Dinas Kebudayaan
Provinsi Bali, misalnya, sudah banyak melakukan terjemahan lontar-lontar yang
berkaitan dengan ritual yang dijadikan acuan dalam melaksanakan yadnya pada
umat Hindu di Bali.
Di era teknologi canggih saat ini keberadaan lontar haruslah dianggap
“isinya” yang utama, bukan bentuk phisiknya yang bisa rusak ditelan waktu.
Seharusnya ada pandangan yang lebih moderen saat ini dalam menyikapi lontar.
Yakni, janganlah lontar itu dikatagorikan barang keramat yang setiap saat
diberikan sesajen dan tidak bisa dibaca sembarang orang. Kalau lontar disucikan
memang boleh saja, dalam pengertian cukup ditaruh di tempat yang baik dan
sebagai warisan leluhur diberikan sesajen sebagai rasa syukur, misalnya, pada
Hari Saraswati.
Lontar haruslah dianggap sebagai sarana untuk menulis pada zamannya. Pada saat
belum ditemukan kertas dan alat tulis lain, media lontar diciptakan para
leluhur kita. Pada saat alat tulis kertas ada, orang tentu menulis di kertas.
Bahkan kini pada saat ada komputer orang menulis di komputer dan disimpan lewat
CD (compact disc) atau flashdisk. Maka CD dan flashdisk saat ini adalah “lontar yang
moderen”. Karena itu seharusnya lontar disalin ke dalam bentuk digital. Bahkan
kemudian bisa diunggah dalam sebuah web khusus dan masuk ke dalam jaringan
Google. Sehingga kelak kalau ada orang bertanya, bagaimana pedoman yadnya
menurut Lontar Sundarigama, kita tak lagi membuka lontar tetapi cukup membuka
laptop atau handphone dengan mencarinya lewat “Mbah Google”. Bukankah sebagian
ritual Hindu termasuk aturan yadnya, pedewasan,
cara membuat sesajen dan sebagainya sudah bisa dicari lewat internet?
Umat Hindu harus mulai punya sikap kritis baru terhadap warisan leluhur
termasuk lontar itu. Kalau lontar hanya berisi aksara suci dan gambar-gambar
yang disertai rerajahan (kaligrafi
aksara Hindu yang sakral), maka lontar itu boleh saja dijadikan semacam pratima. Letakkan di kamar suci dan tak
boleh sembarang orang mengambilnya. Tetapi kalau lontar isinya hanya acuan
yadnya, bagaimana tatndingan banten, apalagi isinya masalah usada (pengobatan tradisional), tidak
perlu dijadikan pratima. Perlu segera
disalin dan diterjemahkan. Lalu mari kita pelajari isinya sebagai ilmu yang
diwariskan para leluhur.
Pada akhirnya, museum yang kini menampung lontar, tak apa sepi pengunjung
karena yang mempelajari “isi lontar” itu sudah ada di tempat lain. Seperti
halnya perpustakaan sekarang ini, sudah semakin sedikit pajangan buku-bukunya
karena sebagian buku sudah bisa dibaca dalam bentuk digital atau yang disebut e-book. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar