MEMUJA dalam ulasan ini adalah
dalam pengertian memuja turunnya Saraswati, dewi ilmu pengetahuan. Bukan memuja
Dewi Saraswati sehari-hari. Kalau memuja setiap saat kita tak perlu membuat
banten khusus, cukup dengan melafalkan Mantram Saraswati dengan sarana bunga
seadanya. Tetapi kalau kita memuja Dewi pada saat turunnya, ada banten khusus
untuk itu. Ibaratnya turunnya ilmu pengetahuan ini sebagai wetonan Saraswati.
Dewi Saraswati turun pada hari
Sabtu Wuku Watugunung, sebagai wuku terakhir dalam wariga yang dipakai umat
Hindu Nusantara. Setelah turunnya ilmu pengetahuan itu dilanjutkan dengan
hari-hari yang penuh dengan penyucian diri, seperti banyu pinaruh, soma ribek, sabuh mas, pager wesi sampai ditutup
dengan Tumpek Landep. Karena itulah dalam hal pemujaan wetonan Saraswati
marilah kita tepat waktu.
Masalahnya adalah Hari Saraswati
yang berlangsung Sabtu 17 Maret yang akan datang bertepatan dengan Hari Raya
Nyepi. Lalu hari mana yang harus “dikalahkan”? Ada uger-uger (patokan) yang selama ini dipakai untuk ritual agama
Hindu di Bali yang dikenal dengan “dina alah oleh wuku, wuku alah oleh sasih”
yang artinya “hari dikalahkan oleh wuku dan wuku dikalahkan oleh sasih”. Hari Saraswati
berpedoman pada hari (dina) dan wuku,
maka ia harus “dikalahkan” oleh Hari Raya Nyepi yang berpedoman pada sasih.
Mungkin oleh sebab ini PHDI Bali memberikan pedoman agar perayaan Saraswati
sudah selesai dilakukan sebelum pukul 06.00 waktu setempat.
Masalahnya apakah waktu yang
disarankan itu sudah tepat? Sama sekali tidak tepat. Hari berganti menurut
wariga adalah pada saat matahari terbit yang disesuaikan pada pukul 06.00 pagi.
Sebelum waktu itu maka menjadi milik hari kemarinnya. Bagaimana kita memuja
Dewi Saraswati kalau hari itu masih Jumat dan Sang Dewi belum turun ke bumi? Wetonan tak bisa diubah harinya.
Pergantian hari itu berbeda-beda menurut
sistem kalender. Pergantian
hari Tahun Masehi pada saat tengah
malam, pukul 00.00. Sedang Tahun Hijrah yang digunakan umat Islam (dan sekarang
diikuiti pula oleh Tahun Jawa), pergantian harinya dimulai magrib pada hari
tersebut. Jadi, malam hari ini setelah magrib adalah milik hari esoknya. Karena
itu umat Islam, misalnya, menyebut “malam Jumat” padahal hari itu Kamis malam yang biasa dikenal di Bali.
Kalau begitu pergantian hari
menurut wariga, kapan sebaiknya memuja Dewi Saraswati untuk merayakan wetonan-nya yang pas Sabtu Wuku
Watugunung? Tetaplah pada hari itu, jangan hari lain. Namun karena bertepatan dengan
Nyepi maka jangan sampai melanggar brata
penyepian. Misalnya, cukup Dewi Saraswati dipuja di merajan rumah sendiri,
jadi tidak perlu keluar pekarangan. Atau di kamar suci kalau ada. Bolehkah
menyalakan dupa? Boleh, karena dupa pada persembahyangan adalah “saksi Surya
Raditya” sementara “geni” dalam brata amati
geni dimaksudkan sebagai “api nafsu”.
Bolehkah memuja sambil
melafalkan Mantram Saraswati? Tentu saja boleh dan bagus sekali. Brata penyepian tidak ada monabrata (berdiam diri) seperti pada
Hari Siwaratri. Kalau mekidung dan membunyikan genta lihat situasi. Kalau
merajan letaknya jauh dari rumah penduduk tetangga, bisa saja genta dibunyikan.
Kalau dekat sekali sebaiknya jangan karena bisa mengganggu tetangga yang
barangkali sangat taat pada brata
penyepian.
Artinya, khusus Hari Saraswati
tahun ini, kita jangan memuja Dewi Saraswati di pura yang jauh dari rumah.
Karena hal ini bertentangan dengan amati
lelungan. Prinsipnya kita tetap memuja Dewi Saraswati pada hari Nyepi itu
sendiri karena kaitannya adalah runtutan setelah itu, esoknya yang bertepatan
dengan Ngembak Geni kita melakukan penyucian banyu pinaruh.
Kesempatan Nyepi justru kita
bisa membaca kitab suci atau lontar pada hari Saraswati. Tentu kita membaca kitab-kitab itu
setelah melakukan persembahyangan kepada Dewi Ilmu Pengetahuan ini. Di masa lalu ada kebiasaan yang
salah di Bali. Anak-anak justru dilarang membaca buku pelajaran, termasuk buku
agama di Hari Saraswati. Itu kebiasaan yang salah. Yang benar adalah mari kita
hormati semua kitab (buku pelajaran, buku sastra, buku agama, lontar dan
sejenisnya) di Hari Saraswati dengan memberikan persembahan sesajen dan tirta
lalu kita baca dalam keadaan yang suci agar meresap.
Mari kita
berdoa: Om Saraswati namastu bhayam, warade
kama rupini, sidharambhan kari syami, siddhir bhawantu me sada.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar