BELUM saatnya kampanye tetapi baliho dan spanduk sudah tersebar di
seluruh pedesaan Bali untuk dua pasangan calon gubernur dan wakil gubernur.
Juga berbagai rapat umum atas nama deklarasi karena rapat umum atas nama
kampanye belum boleh.
Sudahkah kita punya pilihan, pasangan mana yang akan dicoblos pada
pilkada nanti? Mari kita lihat-lihat dulu calon gubernur itu sebelum menentukan
pilihan. Coba baca kitab Sama Weda sloka 733. Di situ disebutkan: “Wahai para
pemimpin, datangilah masyarakat dan bebaskan mereka dari penderitaan.” Dengan
demikian pemimpin itu harus banyak datang ke desa untuk membuat masyarakat
sejahtra. Artinya kita harus lihat mana calon gubernur yang punya program bagus
untuk masyarakat dan siapa yang lebih banyak mendatangi masyarakat. Bukan
datang saat menjelang pilkada saja, tetapi terus menerus datang jika ada
persoalan di masyarakat.
Kedatangan pemimpin itu harus juga memberi teladan yang baik. Jangan
datang untuk memberi bantuan membuat bale sabungan ayam. Jangan datang untuk
meresmikan “turnamen ceki” sebuah turnamen yang tak jauh amat dari judi. Dalam
kitab Bhagawad Gita III.21 ada disebutkan: Yad-yad acharati sreshthas,
tad-tad eve taro janah, sa yat pramanam kurute, lokas tad anuvartate. Terjemahan
bebasnya: “Apapun juga yang dilakukan
oleh orang besar (pemimpin), maka orang lain (masyarakat) akan mengikutinya.
Contoh (teladan) apapun yang diberikannya, orang lain (masyarakat) akan meniru dan
menurutinya.
Selain harus banyak mendatangi masyarakat dan memberi teladan yang
baik, pemimpin pun harus melindungi warganya. Ini juga ada di dalam sloka
XVIII.30 Yajur Weda yang berbunyi: acchinan napatrah praja anuviksasva. Artinya: “Seorang pemimpin melindungi warganya tanpa
menyakiti hati masyarakat.”
Sekarang tinggal kita yang berhati-hati untuk memilah dan lalu memilih,
karena banyak kampanye dengan cara-cara klise seolah-olah semua calon gubernur
memperjuangkan kepentingan rakyat. Kemiskinan rakyat dijadikan obyek kampanye
dengan memberikan janji-janji bantuan, entah itu perbaikan balai banjar, pura
dan malah uang kontan. Padahal yang harus dilakukan adalah apa program kerja
jika calon itu terpilih dan beranikah membuat kontrak politik?
Ajaran Hindu tetang kepemimpinan
itu banyak sekali. Yang paling banyak diumbar adalah ajaran Asta Brata, yaitu
delapan syarat-syarat kepemimpinan. Ke delapan sifat-sifat itu mengambil dari
alam. Ada juga ajaran yang lebih luas dalam kitab Chanakya Nitisastra, yang
saat bulan purnama Kewulu yang lalu dibahas di Pura Jagadnatha Denpasar oleh
nara sumber Dr. IB Putu Suamba. Lalu yang menarik tetapi tak banyak
disebut-sebut adalah syarat-syarat seorang pemimpin yang dirangkum dalam Sad
Warnaning Rajaniti.
Dalam buku Substance
of Hindu Polity tulisan Cam Prakash Bamri, Sad Warnaning Rajaniti berarti
enam syarat-syarat kepemimpinan yang ideal. Penekanannya adalah pemimpin yang
ideal, dengan demikian calon gubernur itu haruslah sudah memenuhi persyaratan
ini. Kalau ada calon yang “kurang ideal” seharusnya tidak dipilih. Atau kita
harus memilih yang paling mendekati ideal.
Keenam syarat itu adalah
Atmasampad,
artinya berkepribadian mulia dan luhur. Yang kedua, Pradnya, artinya
cerdas dan bijaksana. Yang ketiga, Utsaha, artinya kerja keras dan
kreatif. Yang keempat, Abhigamika, artinya berpenampilan
yang menarik. Yang kelima, Sakya Samanta, artinya bisa
menyadarkan dan mengontrol bawahannya. Yang keenam, Aksudra Parisatha,
artinya mampu memimpin persidangan, memimpin rapat, mengarahkan pembicaraan dan
seterusnya.
Keenam syarat itu harus
menyatu dan melebur ke dalam diri sang pemimpin. Kalau satu saja tak
dipenuhinya, apalagi lebih banyak yang tidak dipenuhi, janganlah dipilih.
Sekali lagi ini idealnya.
Bagaimana mampu menjadi
gubernur yang baik kalau calonnya tidak cerdas dan bijaksana. Gubernur Mangku
Pastika yang harus mundur karena sudah dua periode menjabat mengatakan dalam
bukunya, pemimpin itu haruslah “lebih baik dari rata-rata orang yang
dipimpinnya”. Baik dari segi kecerdasan, pendidikan, pengalaman, maupun
kebijaksanaannya yang sudah teruji. Artinya ikuti juga rekam jejaknya.
Karena ada dua pasang
calon gubernur dan wakil gubernur di Bali, maka mau tak mau kita harus memilih
“kalau bukan ini ya itu”. Artinya kalau semuanya tidak ideal mari kita pilih
yang terbaik dari yang tidak ideal itu.
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda)
50% OFF $50 - Slots, Poker, and More!
BalasHapusLOCKSTREAM SALE! - Slots and Poker - 바카라 사이트 에스뱅크 Exclusive Deal! Slot machines and the 슈어 맨 chance to 바카라 사이트 win even more cash 제이티엠허브출장안마 with the latest release of the new Slots 바카라사이트