13 Januari 2018

Pemimpin Meniru Langkah Lubdaka

HARI Senin lusa kita merayakan Hari Siwaratri, malam pemujaan Dewa Siwa. Ada tiga pantangan yang harus dijalani hari itu, yakni monabrata, upawasa dan jagra. Monabrata adalah tidak berbicara sedang upawasa adalah berpuasa. Ada pun jagra adalah tidak tidur. 

Ini simbol-simbol pengendalian diri. Monabrata yang dimaksudkan agar kita berbicara seperlunya saja. Upawasa adalah menahan nafsu buruk. Sedang jagra kita diharapkan selalu berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan buruk sehingga tak sampai merusak keheningan kita dalam melakukan pembersihan jiwa.

Ada yang salah kaprah sejak lama yang menyebutkan bahwa pada malam pemujaan Siwa ini kita bisa begadang untuk melebur dosa yang ada. Salah kaprah itu kentara karena dalam ajaran Hindu perbuatan dosa tidak bisa dilebur atau dihapus, tetapi bisa diminimalkan dan menjadi seperti tidak nampak karena sudah ditebus dengan karma atau perbuatan baik. Ibarat setitik noda di dalam gelas air, kalau gelas itu kemudian terus-menerus diisi air yang bersih sebagai simbol dari karma baik kita, maka kekeruhan air menjadi berkurang. Apalagi gelas itu diganti dengan wadah yang lebih besar sebagai simbol kelapangan dan keikhlasan kita dalam hidup ini, lalu diteruskan dengan mengisi air jernih sebagai simbol karma baik, maka air seperti menjadi bening. Padahal noda sebagai simbol dosa kadarnya tetap saja sama, hanya karena dipenuhi karma baiklah maka menjadi tidak menonjol.

Perayaan Siwaratri di Nusantara ini mengacu pada Kekawin Siwaratri Kalpa yang digubah oleh Mpu Tanakung. Di situ ada lakon seorang pemburu bernama Lubdaka yang tersesat di hutan dan tak menemui jalan pulang sampai kemalaman. Karena takut dengan binatang buas di hutan yang lebat malam hari, dia pun naik ke pohon bila untuk berlindung. Takut ketiduran dan bisa jatuh lalu dimangsa binatang buas, dia memetik daun bila satu persatu dan dijatuhkan ke bawah, agar tetap bisa terjaga. Ternyata di bawah itulah ada singgasana Siwa dan Lubdaka diberikan “hadiah masuk sorga” kelak ketika dia meninggal dunia, karena dianggap dia telah memuja Siwa.

Karena kekawin gubahan Mpu Tanakung ini adalah simbol-simbol maka banyak cara untuk menafsirkannya, dari hal yang ringan sampai hal yang berat. Penafsiran ringan itu seperti yang kini salah kaprah, yakni hanya dengan begadang semalaman pada saat Malam Siwa maka kita kelak akan mendapatkan sorga, yang kemudian diartikan sorga itu sebagai lenyapnya segala dosa kita di dunia ini.

Mari kita jadikan Lubdaka itu sebagai simbol pemimpin yang kita harap-harapkan. Mumpung saat ini sudah dimulai tahun politik dan pasangan calon gubernur serta calon wakil gubernur sudah mulai mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum. Apa yang kita harapkan dari pemimpin itu dalam meneladani langkah Lubdaka?

Lubdaka seorang pemburu. Mpu Tanakung yang ahli bahasa Sansekerta tentu sengaja memberi nama tokoh rekaannya itu Lubdaka karena artinya memang pemburu. Yang dimaksudkan pemburu itu bukan sekadar memburu binatang di hutan, tetapi berburu dalam arti kiasan. Berburu ilmu pengetahuan, berburu amal baik, berburu dalam memberi keteladanan.  Namun ada kalanya pemburuan itu dalam wilayah yang buruk. Berburu materi yang tak ada puasnya, berburu jabatan yang tak kunjung diraih, berburu kesenangan yang tak ada ujungnya. Namun di jalan mana pun pemburuan itu dilakukan, suatu saat pasti ada jedanya untuk melakukan perenungan.

Pemimpin yang kita harapkan tentu yang memburu hal-hal baik. Bagaimana agar rakyat yang dipimpinnya tenang dan damai, juga menjadi lebih sejahtra. Buatlah program yang betul-betul bermanfaat untuk masyarakat, bukan untuk memburu keuntungan sendiri, apalagi memburu rente untuk membayar biaya kampanye. Jangan terlalu banyak memberi janji-janji muluk, lakukan monabrata dalam arti batasi berbicara yang hanya memberi angin sorga. Lakukan upawasa, mengekang nafsu-nafsu berkuasa yang hanya untuk mementingkan kelompok. Kekuasaan harus sebesar-besarnya untuk kepentingan masyarakat. Dan jagra sebagai simbol dari kewaspadaan harus senantiasa dilakukan, waspada terhadap godaan yang bisa menghancurkan jabatan, apalagi godaan melakukan korupsi.

Mari jadikan perayaan Siwaratri ini sebagai kekuatan baru setelah melakukan penyucian diri dengan melakukan brata (pantangan) dan semoga pemimpin yang terpilih mengikuti jejak Lubdaka melalui simbol-simbol yang digubah Mpu Tanakung. 
\
(Mpu Jaya Prema 13 Januari 2018)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar