HARI Senin lusa kita merayakan
Hari Siwaratri, malam pemujaan Dewa Siwa. Ada tiga pantangan yang harus
dijalani hari itu, yakni monabrata,
upawasa dan jagra. Monabrata
adalah tidak berbicara sedang upawasa
adalah berpuasa. Ada pun jagra adalah
tidak tidur.
Ini simbol-simbol pengendalian diri. Monabrata yang dimaksudkan agar kita berbicara seperlunya saja. Upawasa adalah menahan nafsu buruk.
Sedang jagra kita diharapkan selalu
berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan buruk sehingga tak sampai merusak
keheningan kita dalam melakukan pembersihan jiwa.
Ada yang salah kaprah sejak
lama yang menyebutkan bahwa pada malam pemujaan Siwa ini kita bisa begadang
untuk melebur dosa yang ada. Salah kaprah itu kentara karena dalam ajaran Hindu
perbuatan dosa tidak bisa dilebur atau dihapus, tetapi bisa diminimalkan dan
menjadi seperti tidak nampak karena sudah ditebus dengan karma atau perbuatan
baik. Ibarat setitik noda di dalam gelas air, kalau gelas itu kemudian
terus-menerus diisi air yang bersih sebagai simbol dari karma baik kita, maka
kekeruhan air menjadi berkurang. Apalagi gelas itu diganti dengan wadah yang
lebih besar sebagai simbol kelapangan dan keikhlasan kita dalam hidup ini, lalu
diteruskan dengan mengisi air jernih sebagai simbol karma baik, maka air
seperti menjadi bening. Padahal noda sebagai simbol dosa kadarnya tetap saja
sama, hanya karena dipenuhi karma baiklah maka menjadi tidak menonjol.
Perayaan Siwaratri di Nusantara
ini mengacu pada Kekawin Siwaratri Kalpa yang digubah oleh Mpu Tanakung. Di
situ ada lakon seorang pemburu bernama Lubdaka yang tersesat di hutan dan tak
menemui jalan pulang sampai kemalaman. Karena takut dengan binatang buas di
hutan yang lebat malam hari, dia pun naik ke pohon bila untuk berlindung. Takut ketiduran dan bisa jatuh lalu dimangsa
binatang buas, dia memetik daun bila
satu persatu dan dijatuhkan ke bawah, agar tetap bisa terjaga. Ternyata di
bawah itulah ada singgasana Siwa dan Lubdaka diberikan “hadiah masuk sorga”
kelak ketika dia meninggal dunia, karena dianggap dia telah memuja Siwa.
Karena kekawin gubahan Mpu
Tanakung ini adalah simbol-simbol maka banyak cara untuk menafsirkannya, dari
hal yang ringan sampai hal yang berat. Penafsiran ringan itu seperti yang kini
salah kaprah, yakni hanya dengan begadang semalaman pada saat Malam Siwa maka
kita kelak akan mendapatkan sorga, yang kemudian diartikan sorga itu sebagai
lenyapnya segala dosa kita di dunia ini.
Mari kita jadikan Lubdaka itu
sebagai simbol pemimpin yang kita harap-harapkan. Mumpung saat ini sudah
dimulai tahun politik dan pasangan calon gubernur serta calon wakil gubernur
sudah mulai mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum. Apa yang kita harapkan
dari pemimpin itu dalam meneladani langkah Lubdaka?
Lubdaka seorang pemburu. Mpu
Tanakung yang ahli bahasa Sansekerta tentu sengaja memberi nama tokoh rekaannya
itu Lubdaka karena artinya memang pemburu. Yang dimaksudkan pemburu itu bukan
sekadar memburu binatang di hutan, tetapi berburu dalam arti kiasan. Berburu
ilmu pengetahuan, berburu amal baik, berburu dalam memberi keteladanan. Namun ada kalanya pemburuan itu dalam wilayah
yang buruk. Berburu materi yang tak ada puasnya,
berburu jabatan yang tak kunjung
diraih, berburu kesenangan yang tak ada ujungnya. Namun di jalan mana pun pemburuan itu dilakukan,
suatu saat pasti ada jedanya untuk
melakukan perenungan.
Pemimpin yang kita harapkan
tentu yang memburu hal-hal baik. Bagaimana agar rakyat yang dipimpinnya tenang
dan damai, juga menjadi lebih sejahtra. Buatlah program yang betul-betul
bermanfaat untuk masyarakat, bukan untuk memburu keuntungan sendiri, apalagi
memburu rente untuk membayar biaya kampanye. Jangan terlalu banyak memberi
janji-janji muluk, lakukan monabrata
dalam arti batasi berbicara yang hanya memberi angin sorga. Lakukan upawasa, mengekang nafsu-nafsu berkuasa
yang hanya untuk mementingkan kelompok. Kekuasaan harus sebesar-besarnya untuk
kepentingan masyarakat. Dan jagra
sebagai simbol dari kewaspadaan harus senantiasa dilakukan, waspada terhadap
godaan yang bisa menghancurkan jabatan, apalagi godaan melakukan korupsi.
Mari jadikan perayaan Siwaratri
ini sebagai kekuatan baru setelah melakukan penyucian diri dengan melakukan brata (pantangan) dan semoga pemimpin
yang terpilih mengikuti jejak Lubdaka melalui simbol-simbol yang digubah Mpu
Tanakung.
\
(Mpu Jaya Prema 13 Januari 2018)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar