09 April 2017

Pengamalan Agama Ibarat Sebutir Telur

Om Asato ma sadgamaya, tamaso ma jyotir gamaya, mrtyor mãmrtham gamaya.

SLOKA di atas kalau diterjemahkan dengan bebas artinya begini: Om Hyang Widhi, bimbinglah kami dari jalan yang tidak benar, menuju jalan kebenaran. Bimbinglah kami dari kegelapan pikiran, menuju cahaya pengetahuan yang suci. Bimbinglah kami dari kehancuran, menuju kehidupan yang abadi.

Ada ungkapan yang menarik bagaimana mengamalkan ajaran Hindu dengan mengumpamakan sebutir telur. Sebagaimana kita ketahui bersama, kerangka dasar dalam pengamalan agama Hindu di masyarakat ada tiga hal. Yakni ritual keagamaan atau berbagai upacara yang dibuat masyarakat, etika yang melandasi tata pergaulan di masyarakat, dan filsafat atau tatwa yang harus terus-menerus dipelajari. Jadi upacara, etika dan tatwa itu haruslah menyatu dan saling mendukung. Kalau ketiganya itu diumpamakan sebagai sebutir telur, maka upacara atau ritualnya adalah kulit telur. Putih telur adalah etika atau susilanya. Kuning telur itulah inti dari ajaran yang harus terus-menerus dikuasai.

Bagaimana sekarang menggunakan telur itu sebaik-baiknya agar bermanfaat bagi kehidupan kita? Apakah kita diamkan saja dan tanpa perlu berbuat sesuatu? Bagaimana mungkin kita bisa memanfaatkan kuning telur atau mendalami tatwa kalau kulitnya belum dipecahkan atau ritual tidak diadakan? Maka rituallah yang pertama-tama harus dilakukan. Karena ini amalan yang paling luar, sudah tentu ritual ini akan mengalami berbagai cobaan dan juga bisa dipengaruhi oleh berbagai hal. Gesekan bisa terjadi di sini dan itu tak jadi masalah karena tak akan menyebabklan kuning telur ternoda. Tatwa ajaran agama tetaplah suci tak tersentuh oleh berbagai gesekan itu. Dengan kata lain, kita jangan terjebak pada kulit.

Perubahan apa pun yang terjadi, pengaruh apa pun yang ada dikarenakan kemajuan zaman, masih ada pelapisnya untuk sampai pada tatwa sebagai mana yang diajarkan kitab suci. Yakni etika atau susila yang dalam perumpamaan ini adalah putih telur. Setiap ritual harus sejalan dengan etika yang ada di mana ritual itu diselenggarakan. Kalau di masyarakat pedesaan yang akrab dengan kidung wargasari di saat ada pujawali di pura, janganlah melantunkan bajan atau kritanam di sana. Kalau sebuah pura sejak awal dalam konsep budaya agama khas masyarakat Bali dengan ritual seperti memakuh, mendem pedagingan, melaspas dan seterusnya, janganlah tiba-tiba diganti dengan ritual agni hotra atau homa yadnya. Akan bertentangan dengan etika dan susila jika ritual mecaru, misalnya, tiba-tiba tidak menggunakan daging ayam, bebek, anjing dan seterusnya. Bagaimana pemangku atau sulinggih melantunkan mantram karena daging cacahan caru itu terkait dengan penamaan bhuta?


Begitu sebaliknya. Kalau sebuah kelompok secara etika dan susila sudah menjalankan ritual dengan homa yadnya, tetaplah diteruskan dengan tempat yang sesuai untuk itu. Ritual bisa berbeda dan tempatnya juga berbeda, namun tatwa sama karena semuanya ada pijakan di dalam kitab suci. Tatwa tak bisa diperdebatkan namun pengamalannya bisa dengan susila dan acara yang berbeda.

Dalam hal pengamalan agama tidak dilakukan berkelompok, artinya kita melakukan secara pribadi tanpa melibatkan orang lain, konsep “kulit, putih dan kuning telur” pun bisa dipakai acuan. Tentu hal ini dikaitkan dengan tahapan asrama atau jenjang kehidupan spiritual kita. Jenjang spiritual ini yang umumnya sejalan pula dengan jenjang kehidupan sebagai manusia seperti yang diajarkan dalam konsep Catur Asrama, mempengaruhi antara kulit luar dan isinya itu.  Perbedaan jenjang atau tahapan spiritual itu juga tergantung pada masalah pendidikan maupun status spiritual. Ada yang tetap menggunakan simbol-simbol seperti banten pada saat pemujaan kepada Tuhan, namun ada pula yang bisa tanpa simbol. Ritualnya beda, dan etika bisa dikesampingkan karena tak bersentuhan dengan orang lain. Seperti menggoreng telur, pecahkan kulitnya maka kuning telur langsung keluar.

Demikianlah cara-cara kita mengamalkan agama sehingga ajaran Hindu memberi peluang kepada pemeluknya untuk memilih caranya sendiri sehingga diharapkan tidak ada gesekan antar kelompok umat yang memakai ritual yang berbeda. Karena setiap ritual masih dilengkapi dengan etika atau susila yang tak boleh diabaikan. Mari kita tetap rukun dalam ritual yang beda karena apa yang kita jadikan rujukan, yakni tatwa agama, sama adanya. Tentu kita juga tak boleh berhenti hanya sampai pada ritual, kita harus terus mencapai pengetahuan tatwa. 

(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda - 8 April 2017)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar