Om Asato ma sadgamaya, tamaso ma jyotir gamaya, mrtyor mãmrtham gamaya.
SLOKA di atas kalau diterjemahkan
dengan bebas artinya begini: Om Hyang Widhi, bimbinglah kami
dari jalan yang tidak benar, menuju jalan kebenaran. Bimbinglah kami dari
kegelapan pikiran, menuju cahaya pengetahuan yang
suci. Bimbinglah kami dari kehancuran, menuju kehidupan yang abadi.
Ada ungkapan yang menarik
bagaimana mengamalkan ajaran Hindu dengan mengumpamakan sebutir telur.
Sebagaimana kita ketahui bersama, kerangka dasar dalam pengamalan agama Hindu di
masyarakat ada tiga hal. Yakni ritual keagamaan atau berbagai upacara yang
dibuat masyarakat, etika yang melandasi tata pergaulan di masyarakat, dan
filsafat atau tatwa yang harus terus-menerus dipelajari. Jadi upacara, etika
dan tatwa itu haruslah menyatu dan saling mendukung. Kalau ketiganya itu
diumpamakan sebagai sebutir telur, maka upacara atau ritualnya adalah kulit
telur. Putih telur adalah etika atau susilanya. Kuning telur itulah inti dari
ajaran yang harus terus-menerus dikuasai.
Bagaimana sekarang menggunakan
telur itu sebaik-baiknya agar bermanfaat bagi kehidupan kita? Apakah kita
diamkan saja dan tanpa perlu berbuat sesuatu? Bagaimana mungkin kita bisa
memanfaatkan kuning telur atau mendalami tatwa kalau kulitnya belum dipecahkan
atau ritual tidak diadakan? Maka rituallah yang pertama-tama harus dilakukan.
Karena ini amalan yang paling luar, sudah tentu ritual ini akan mengalami berbagai
cobaan dan juga bisa dipengaruhi oleh berbagai hal. Gesekan bisa terjadi di
sini dan itu tak jadi masalah karena tak akan menyebabklan kuning telur
ternoda. Tatwa ajaran agama tetaplah suci tak tersentuh oleh berbagai gesekan
itu. Dengan kata lain, kita jangan terjebak pada kulit.
Perubahan apa pun yang terjadi,
pengaruh apa pun yang ada dikarenakan kemajuan zaman, masih ada pelapisnya
untuk sampai pada tatwa sebagai mana yang diajarkan kitab suci. Yakni etika
atau susila yang dalam perumpamaan ini adalah putih telur. Setiap ritual harus
sejalan dengan etika yang ada di mana ritual itu diselenggarakan. Kalau di
masyarakat pedesaan yang akrab dengan kidung
wargasari di saat ada pujawali di pura, janganlah melantunkan bajan atau kritanam di sana. Kalau sebuah pura sejak awal dalam konsep budaya
agama khas masyarakat Bali dengan ritual seperti memakuh, mendem pedagingan, melaspas dan seterusnya, janganlah
tiba-tiba diganti dengan ritual agni hotra
atau homa yadnya. Akan bertentangan
dengan etika dan susila jika ritual mecaru,
misalnya, tiba-tiba tidak menggunakan daging ayam, bebek, anjing dan
seterusnya. Bagaimana pemangku atau sulinggih melantunkan mantram karena daging
cacahan caru itu terkait dengan
penamaan bhuta?
Begitu sebaliknya. Kalau sebuah kelompok
secara etika dan susila sudah menjalankan ritual dengan homa yadnya, tetaplah diteruskan dengan tempat yang sesuai untuk
itu. Ritual bisa berbeda dan tempatnya juga berbeda, namun tatwa sama karena
semuanya ada pijakan di dalam kitab suci. Tatwa tak bisa diperdebatkan namun pengamalannya
bisa dengan susila dan acara yang berbeda.
Dalam hal pengamalan agama tidak
dilakukan berkelompok, artinya kita melakukan secara pribadi tanpa melibatkan
orang lain, konsep “kulit, putih dan kuning telur” pun bisa dipakai acuan.
Tentu hal ini dikaitkan dengan tahapan asrama
atau jenjang kehidupan spiritual kita. Jenjang spiritual ini yang umumnya
sejalan pula dengan jenjang kehidupan sebagai manusia seperti yang diajarkan
dalam konsep Catur Asrama, mempengaruhi antara kulit luar dan isinya itu. Perbedaan jenjang atau tahapan spiritual itu
juga tergantung pada masalah pendidikan maupun status spiritual. Ada yang tetap
menggunakan simbol-simbol seperti banten pada saat pemujaan kepada Tuhan, namun
ada pula yang bisa tanpa simbol. Ritualnya beda, dan etika bisa dikesampingkan
karena tak bersentuhan dengan orang lain. Seperti menggoreng telur, pecahkan
kulitnya maka kuning telur langsung keluar.
Demikianlah cara-cara kita
mengamalkan agama sehingga ajaran Hindu memberi peluang kepada pemeluknya untuk
memilih caranya sendiri sehingga diharapkan tidak ada gesekan antar kelompok
umat yang memakai ritual yang berbeda. Karena setiap ritual masih dilengkapi
dengan etika atau susila yang tak boleh diabaikan. Mari kita tetap rukun dalam
ritual yang beda karena apa yang kita jadikan rujukan, yakni tatwa agama, sama
adanya. Tentu kita juga tak boleh berhenti hanya sampai pada ritual, kita harus
terus mencapai pengetahuan tatwa.
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda - 8 April 2017)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar