02 April 2017

Bhuta Kala dan Bhuta Tiga

BHUTA Kala menguasai segala penjuru mata angin.  Begitulah konsep dalam ritual Hindu dengan budaya Bali. Bhuta simbol roh yang jahat di alam semesta ini (bhuwana agung) yang harus dinetralisir sedangkan toh jahat di dalam diri manusia adalah nafsu buruk yang harus dikalahkan.  Berbagai ritual dipersembahkan kepada bhuta agar bisa “diusir” sehingga tidak mengganggu. Itu adalah pemahaman yang sederhana. Karena sesungguhnya dalam  konsep agama Hindu, bhuta itu tidak “diusir” tetapi dikembalikan sifatnya menjadi alam dewa. Proses ini disebut nyomya bhuta. Dalam ajaran Hindu ada istilah manusa ya, bhuta ya, dewa ya. Artinya, perwujudan itu hanyalah satu, tetapi sifat-sifat yang membedakannya.

Pada saat Tawur Kesanga Nyepi yang baru saja kita lewati, bhuta kala itu adalah penguasa alam dengan sifatnya yang buruk. Kita perlambangkan bhuta kala itu dengan ogoh-ogoh yang wajahnya seram, wajah keraksasaan. Ini kalau ogoh-ogoh itu sakral dan tentu harus didekatkan dengan tempat Tawur Kesanga. Nah, bhuta kala dengan simbol ogoh-ogoh itu diberi sesajen berupa tawur, kemudian terjadilah ritual nyomya butha, mengubah roh jahat bhuta kala menjadi roh dewa. Namun pada Tawur Kesanga yang lalu banyak kita jumpai ogoh-ogoh hiburan yang tidak terkait dengan ritual.

Bhuta kala dalam kaitan dengan ritual Nyepi adalah penguasa jahat alam semesta, dan konsep Tawur Kesanga itu untuk menetralisir agar alam jadi harmonis sehingga kita bisa melaksanakan catur brata penyepian. Ini berbeda dengan Bhuta Tiga Galungan yang mulai datang esok hari pada Minggu (Redite Pahing) wuku Dungulan. Sang Bhuta Tiga Galungan ini menyerang diri kita sendiri (bhuwana alit) dan bhuta ini tak bisa kita usir menjauh. Bhuta Tiga ini harus “dibunuh” yang maknanya adalah membunuh sifat-sifat buruk kita. Karena harus “dibunuh” tidak diperlukan banten sejenis tawur, meski dalam bentuknya yang terkecil yang disebut caru. Butha Tiga Galungan harus dilawan dengan kekuatan diri kita sendiri. Hanya keteguhan diri yang membuat bhuta ini tidak mengganggu.

Ketiga bhuta ini karena menjadi simbul dari nafsu maka dijadikan pula simbul dari adharma, segala jenis kejahatan. Ini yang harus dikalahkan, karena itu orang menyebut merayakan Hari Raya  Galungan adalah merayakan kemenangan dharma melawan adharma.

Rincian ketiga bhuta ini sebagai berikut. Sang Bhuta Galungan muncul pada hari Minggu besok, Redite Pahing Wuku Dungulan. Bhuta ini menyerang kita dan harus dilawan dengan upaya mengendalikan diri. Hari itu disebut sebagai “hari penyekeban”. Nyekeb atau sekeb berarti menyembunyikan diri dari segala nafsu-nafsu jahat. Jika masyarakat awam melakukan nyekeb buah-buahan itu hanyalah sebagai simbol.

Pada Senin (Soma Pon) datang Bhuta Dungulan. Bhuta ini mau menaklukkan diri kita setelah melakukan penyerangan. Tetaplah bertahan dengan pengendalian diri terhadap nafsu-nafsu jahat. Hari itu disebut “hari penyajaan” atau “hari pengejukan”. Kata ngejuk berarti tangkap, mari ditangkap dan ikat nafsu-nafsu buruk itu supaya tidak berkeliaran. Di masyarakat disimbolkan dengan ngejuk celeng (menangkap dan mengikat babi).

Esoknya hari Selasa (Anggara Wage), muncul bhuta yang terakhir, Sang Bhuta Amangkurat. Karena ini bhuta yang terakhir dan tetap mau menggoda kita, perlawanan harus keras. Harus dibunuh supaya  kehidupan kita tidak dikuasai oleh adharma yang dibawa Bhuta Amangkurat itu. Disebut sebagai “hari penampahan”. Simbolnya adalah nampah celeng (menyembelih babi). Padahal maknanya adalah membunuh nafsu hewani yang ada dalam diri kita.

Dengan berhasil menaklukkan Bhuta Kala Tiga maka kita berhasil mengalahkan adharma. Maka pada hari Rabu (Budha Kliwon Dungulan) kita merayakan kemenangan dharma melawan adharma. Jadi hanya orang yang bisa mengendalikan diri dari segala nafsu hewani yang sesungguhnya berhak merayakan kemenangan dharma atau merayakan Galungan.


Lontar Sundarigama menyebutkan:  den prayitna anjekung jnana nirmala, lamakane den kasurupan. Hendaklah kita meneguhkan hati agar jangan sampai terpengaruh oleh bhuta-bhuta itu. Yang jadi masalah, seberapa banyak umat Hindu menghayati dan mengupas simbol-simbol ini? Jangan cuma dimaknai simbolnya saja,  hari pengejukan benar-benar ngejuk celeng dan hari penampahan betul-betul nampah celeng. Seperti mengarak ogoh-ogoh saat Tawur Kesanga, kita tak paham apa arti sesungguhnya. Bahkan mungkin tak tahu apa beda bhuta kala terkait Nyepi dan bhuta kala terkait Galungan. Secara sederhana sebut saja bhuta kala Nyepi mengobok-obok alam semesta, bhuta kala Galungan mengobok-obok diri sendiri. 

(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda - 1 April 2017)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar