BHUTA Kala
menguasai segala penjuru mata angin. Begitulah
konsep dalam ritual Hindu dengan budaya Bali. Bhuta simbol roh yang jahat di
alam semesta ini (bhuwana agung) yang
harus dinetralisir sedangkan toh jahat di dalam diri manusia adalah nafsu buruk
yang harus dikalahkan. Berbagai ritual dipersembahkan
kepada bhuta agar bisa “diusir” sehingga tidak mengganggu. Itu adalah pemahaman
yang sederhana. Karena sesungguhnya dalam konsep agama Hindu, bhuta itu tidak “diusir”
tetapi dikembalikan sifatnya menjadi alam dewa. Proses ini disebut nyomya bhuta. Dalam ajaran Hindu ada
istilah manusa ya, bhuta ya, dewa ya.
Artinya, perwujudan itu hanyalah satu, tetapi sifat-sifat yang membedakannya.
Pada saat Tawur
Kesanga Nyepi yang baru saja kita lewati, bhuta kala itu adalah penguasa alam
dengan sifatnya yang buruk. Kita perlambangkan bhuta kala itu dengan ogoh-ogoh
yang wajahnya seram, wajah keraksasaan. Ini kalau ogoh-ogoh itu sakral dan
tentu harus didekatkan dengan tempat Tawur Kesanga. Nah, bhuta kala dengan
simbol ogoh-ogoh itu diberi sesajen berupa tawur, kemudian terjadilah ritual nyomya butha, mengubah roh jahat bhuta
kala menjadi roh dewa. Namun pada Tawur Kesanga yang lalu banyak kita jumpai
ogoh-ogoh hiburan yang tidak terkait dengan ritual.
Bhuta kala
dalam kaitan dengan ritual Nyepi adalah penguasa jahat alam semesta, dan konsep
Tawur Kesanga itu untuk menetralisir agar alam jadi harmonis sehingga kita bisa
melaksanakan catur brata penyepian.
Ini berbeda dengan Bhuta Tiga Galungan yang mulai datang esok hari pada Minggu
(Redite Pahing) wuku Dungulan. Sang Bhuta Tiga Galungan ini menyerang diri kita
sendiri (bhuwana alit) dan bhuta ini
tak bisa kita usir menjauh. Bhuta Tiga ini harus “dibunuh” yang maknanya adalah
membunuh sifat-sifat buruk kita. Karena harus “dibunuh” tidak diperlukan banten
sejenis tawur, meski dalam bentuknya
yang terkecil yang disebut caru.
Butha Tiga Galungan harus dilawan dengan kekuatan diri kita sendiri. Hanya keteguhan
diri yang membuat bhuta ini tidak mengganggu.
Ketiga bhuta
ini karena menjadi simbul dari nafsu maka dijadikan pula simbul dari adharma, segala jenis kejahatan. Ini
yang harus dikalahkan, karena itu orang menyebut merayakan Hari Raya Galungan adalah merayakan kemenangan dharma melawan adharma.
Rincian ketiga
bhuta ini sebagai berikut. Sang Bhuta Galungan muncul pada hari Minggu besok,
Redite Pahing Wuku Dungulan. Bhuta
ini menyerang kita dan harus dilawan
dengan upaya mengendalikan diri. Hari itu disebut sebagai “hari penyekeban”. Nyekeb atau sekeb berarti menyembunyikan diri dari segala nafsu-nafsu jahat. Jika masyarakat awam melakukan nyekeb buah-buahan itu hanyalah sebagai simbol.
Pada Senin (Soma Pon) datang Bhuta Dungulan. Bhuta ini mau menaklukkan diri kita setelah melakukan penyerangan.
Tetaplah bertahan dengan pengendalian diri terhadap nafsu-nafsu jahat. Hari itu disebut “hari penyajaan” atau “hari
pengejukan”. Kata ngejuk berarti tangkap, mari ditangkap dan ikat nafsu-nafsu buruk itu supaya tidak
berkeliaran. Di masyarakat disimbolkan
dengan ngejuk celeng (menangkap dan
mengikat babi).
Esoknya hari Selasa (Anggara Wage), muncul bhuta yang terakhir,
Sang Bhuta Amangkurat. Karena ini bhuta
yang terakhir dan tetap mau menggoda kita, perlawanan
harus keras. Harus dibunuh supaya kehidupan kita tidak dikuasai
oleh adharma yang dibawa Bhuta Amangkurat itu. Disebut sebagai
“hari penampahan”. Simbolnya
adalah nampah celeng
(menyembelih babi). Padahal
maknanya adalah membunuh nafsu
hewani yang ada dalam diri
kita.
Dengan berhasil menaklukkan Bhuta Kala Tiga maka kita berhasil mengalahkan adharma. Maka pada hari Rabu (Budha
Kliwon Dungulan) kita merayakan kemenangan dharma melawan adharma. Jadi hanya orang yang bisa mengendalikan
diri dari segala nafsu hewani yang sesungguhnya berhak merayakan kemenangan dharma atau merayakan Galungan.
Lontar Sundarigama menyebutkan:
den prayitna anjekung jnana nirmala, lamakane den kasurupan.
Hendaklah kita meneguhkan hati agar jangan sampai
terpengaruh oleh bhuta-bhuta itu. Yang jadi masalah, seberapa banyak umat Hindu menghayati dan mengupas simbol-simbol ini? Jangan cuma dimaknai simbolnya saja, hari pengejukan
benar-benar ngejuk celeng dan hari penampahan betul-betul nampah celeng. Seperti mengarak ogoh-ogoh saat Tawur
Kesanga, kita tak paham apa arti sesungguhnya. Bahkan mungkin tak tahu apa beda
bhuta kala terkait Nyepi dan bhuta kala terkait Galungan. Secara sederhana
sebut saja bhuta kala Nyepi mengobok-obok alam semesta, bhuta kala Galungan
mengobok-obok diri sendiri.
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda - 1 April 2017)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar