ADA yang sering dilupakan
oleh sebagian kita dalam menyambut hari Tumpek Landep, hari yang jatuh pada
Sabtu ini. Yakni membuat upacara untuk diri sendiri. Orang lebih banyak fokus
menghaturkan sesajen untuk mobil atau sepeda motor, bukan untuk dirinya
sendiri. Padahal yang utama yang mesti dilakukan adalah “mengupacarai diri kita
sendiri” sebelum berlanjut ke harta benda yang kita miliki.
Ilmu itu kita peroleh
pada hari terakhir perhitungan wariga Bali, yakni Saniscara Watugunung yang
dikenal dengan Hari Raya Saraswati. Dewi Saraswati ini adalah sakti (secara lumrah disebut ardhanareswari atau istri) dari Dewa
Brahma, sang pencipta alam. Tanpa ada penciptaan maka tak ada ilmu
pengetahhuan. Di saat inilah kita memuja sang dewi untuk memohon ilmu
pengetahuan.
Keesokan
harinya, kita melakukan pembersihan rohani agar kita bisa menyerap ilmu itu
dengan baik. Hari itu disebut banyu pinaruh. Dalam berbagai sastra Weda
disebutkan, jika kita menimba ilmu penhgetahuan haruslah melakukan penyucian diri dengan asuci laksana. Bila badan sudah bersih dan pikiran menjadi suci, maka ilmu
itu akan dengan mudah merasuk ke dalam hati dengan baik.
Esoknya pada hari
Senin disebut Somaribek,
adalah proses pembelajaran. Dari
situlah kita mulai belajar agar ilmu pengetahuan yang kita peroleh bisa kita
serap untuk diamalkan. Esoknya lagi yakni hari Selasa disebut Sabuhmas. Sabuh adalah sarana untuk menyimpan sesuatu sedangkan mas merujuk kepada sesuatu yang sangat
berharga. Jadi mari kita menyimpan semua ilmu itu dengan baik, simpan dan
ditabung ibarat menaruh mas di dalam sabuh.
Jika ilmu pengetahuan sudah cukup disimpan dan selalu ditambah setiap saat sebagaimana kita menabung, maka selanjutlah adalah
membentengi ilmu itu agar berguna untuk kehidupan kita. Itulah hari Rabu yang
disebut Pagerwesi. Hari-hari selanjutnya kita memproses atau mempelajari ilmu pengetahuan
itu dengan tekun. Setelah sepuluh hari berkutat mempelajarinya, tibalah saatnya kita
dianggap mampu menguasainya. Inilah hari Tumpek Landep,
saatnya kita dinyatakan telah lulus
mempelajari ilmu pengetahuan itu. Bahasa kerennya saat ini adalah kita diwisuda
pada Tumpek Landep.
“Wisuda religius” ini
disimbulkan dengan ritual pewintenan. Kita memohon kepada Hyang Pasupati, supaya kita punya ketajaman
pikiran dalam mempergunakan ilmu
pengetahuan yang kita miliki. Karena itu sesajen penting dalam ritual ini
adalah sesayut pasupati. Tentu ada sesayut lainnya. Karena di masa lalu
leluhur kita juga banyak mencari ilmu untuk menjaga dan mempertahankan diri
dari berbagai serangan yang mungkin terjadi, maka diciptakan simbul dengan sesayut jayeng perang dan sesayut kusuma yudha. Dengan harapan selalu menang di dalam
peperangan. Di era masa kini peperangan itu bisa diartikan secara luas, ilmu
yang kita peroleh selalu menghasilkan sesuatu yang dasyat. Itulah banten pada
Tumpek Landep yang pokok, sesayut
pasupati, sesayut jayeng perang, sesayut kusuma yudha ditambah yang umum
seperti pengeresikan dan ayaban sebagai tradisi setempat.
Bagaimana dengan keris,
tombak, pisau dan benda-benda tajam lainnya? Ini adalah “peralatan kerja” yang
dipergunakan sehari-hari sesuai zamannya. Ilmu kanuragan (silat) yang tinggi
tanpa disertai senjata seperti keris dan tombak, kurang sempurna. Begitu pula
ketika zaman beralih. Ilmu yang tinggi tanpa ditunjang peralatan kerja seperti
komputer, sepeda motor atau mobil, televisi dan lainnya juga kurang sempurna.
Sebagai rasa syukur telah
punya “peralatan kerja” maka ada baiknya benda-benda mati ini mendapatkan percikan
tirtha suci pada saat Tumpek Landep. Namun intinya adalah bukannya”peralatan
kerja” itu yang difokuskan untuk diberi sesajen, tetapi kita dengan sarana
sesajen memohon pengukuhan diri agar diberikan ketajaman pikiran. Kita
sendirilah yang “ngayab banten” terlebih dahulu, menghaturkan sembah bhakti
kepada Hyang Pasupati, barulah diteruskan ke keris, tumbak, pisau, pahat,
mobil, motor dan seterusnya. (*)
(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda - 4 Februari 2017)
Foto ilustrasi: Penulis mewinten (wisuda) sebagai Ida Pandita Mpu Nabe

Tidak ada komentar:
Posting Komentar