04 Februari 2017

Menajamkan Pikiran di Tumpek Landep

ADA yang sering dilupakan oleh sebagian kita dalam menyambut hari Tumpek Landep, hari yang jatuh pada Sabtu ini. Yakni membuat upacara untuk diri sendiri. Orang lebih banyak fokus menghaturkan sesajen untuk mobil atau sepeda motor, bukan untuk dirinya sendiri. Padahal yang utama yang mesti dilakukan adalah “mengupacarai diri kita sendiri” sebelum berlanjut ke harta benda yang kita miliki.

 Tumpek Landep adalah tumpek (Saniscara Kliwon menurut wariga Bali) yang pertama datang di antara lima tumpek lainnya. Ini berkaitan dengan kehidupan manusia sebagai makhluk yang diberi pikiran, bukan seperti ciptaan Tuhan lainnya seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan. Karena manusia diberi pikiran, maka pikiran itulah yang harus dipertajam. Caranya diawali dengan mendapatkan ilmu pengetahuan yang cukup, karena dengan ilmu itulah pikiran kita bisa terus berkembang.

Ilmu itu kita peroleh pada hari terakhir perhitungan wariga Bali, yakni Saniscara Watugunung yang dikenal dengan Hari Raya Saraswati. Dewi Saraswati ini adalah sakti (secara lumrah disebut ardhanareswari atau istri) dari Dewa Brahma, sang pencipta alam. Tanpa ada penciptaan maka tak ada ilmu pengetahhuan. Di saat inilah kita memuja sang dewi untuk memohon ilmu pengetahuan.


Keesokan harinya, kita melakukan pembersihan rohani agar kita bisa menyerap ilmu itu dengan baik. Hari itu disebut banyu pinaruh. Dalam berbagai sastra Weda disebutkan, jika kita menimba ilmu penhgetahuan haruslah melakukan penyucian diri dengan asuci laksana. Bila badan sudah bersih dan pikiran menjadi suci, maka ilmu itu akan dengan mudah merasuk ke dalam hati dengan baik.

Esoknya pada hari Senin disebut Somaribek, adalah proses pembelajaran. Dari situlah kita mulai belajar agar ilmu pengetahuan yang kita peroleh bisa kita serap untuk diamalkan. Esoknya lagi yakni hari Selasa disebut Sabuhmas. Sabuh adalah sarana untuk menyimpan sesuatu sedangkan mas merujuk kepada sesuatu yang sangat berharga. Jadi mari kita menyimpan semua ilmu itu dengan baik, simpan dan ditabung ibarat menaruh mas di dalam sabuh.

Jika ilmu pengetahuan sudah cukup disimpan dan selalu ditambah setiap saat sebagaimana kita menabung, maka selanjutlah adalah membentengi ilmu itu agar berguna untuk kehidupan kita. Itulah hari Rabu yang disebut Pagerwesi. Hari-hari selanjutnya kita memproses atau mempelajari ilmu pengetahuan itu dengan tekun. Setelah sepuluh hari berkutat mempelajarinya, tibalah saatnya kita dianggap mampu menguasainya. Inilah hari Tumpek Landep, saatnya kita dinyatakan telah lulus mempelajari ilmu pengetahuan itu. Bahasa kerennya saat ini adalah kita diwisuda pada Tumpek Landep.

“Wisuda religius” ini disimbulkan dengan ritual pewintenan. Kita memohon kepada Hyang Pasupati, supaya kita punya ketajaman pikiran dalam mempergunakan ilmu pengetahuan yang kita miliki. Karena itu sesajen penting dalam ritual ini adalah sesayut pasupati. Tentu ada sesayut lainnya. Karena di masa lalu leluhur kita juga banyak mencari ilmu untuk menjaga dan mempertahankan diri dari berbagai serangan yang mungkin terjadi, maka diciptakan simbul dengan sesayut jayeng perang dan sesayut kusuma yudha. Dengan harapan selalu menang di dalam peperangan. Di era masa kini peperangan itu bisa diartikan secara luas, ilmu yang kita peroleh selalu menghasilkan sesuatu yang dasyat. Itulah banten pada Tumpek Landep yang pokok, sesayut pasupati, sesayut jayeng perang, sesayut kusuma yudha ditambah yang umum seperti pengeresikan dan ayaban sebagai tradisi setempat.

Bagaimana dengan keris, tombak, pisau dan benda-benda tajam lainnya? Ini adalah “peralatan kerja” yang dipergunakan sehari-hari sesuai zamannya. Ilmu kanuragan (silat) yang tinggi tanpa disertai senjata seperti keris dan tombak, kurang sempurna. Begitu pula ketika zaman beralih. Ilmu yang tinggi tanpa ditunjang peralatan kerja seperti komputer, sepeda motor atau mobil, televisi dan lainnya juga kurang sempurna.

Sebagai rasa syukur telah punya “peralatan kerja” maka ada baiknya benda-benda mati ini mendapatkan percikan tirtha suci pada saat Tumpek Landep. Namun intinya adalah bukannya”peralatan kerja” itu yang difokuskan untuk diberi sesajen, tetapi kita dengan sarana sesajen memohon pengukuhan diri agar diberikan ketajaman pikiran. Kita sendirilah yang “ngayab banten” terlebih dahulu, menghaturkan sembah bhakti kepada Hyang Pasupati, barulah diteruskan ke keris, tumbak, pisau, pahat, mobil, motor dan seterusnya. (*)


(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda - 4 Februari 2017)
Foto ilustrasi: Penulis mewinten (wisuda) sebagai Ida Pandita Mpu Nabe


Tidak ada komentar:

Posting Komentar