08 Januari 2017

Cahaya Tuhan di Cermin yang Bersih


TUHAN juga dijuluki Yang Maha Adil dari sekian banyak julukan yang lainnya. Karena tidak ada pengadilan yang lebih adil dibandingkan pengadilan dari Tuhan dan tempat pengadilan itu adalah ketika kita sudah meninggalkan dunia ini. Di alam lain itulah kita diadili oleh karma kita, baik karma kita di dunia baik pula tempat kita di alam sana, buruk karma kita di dunia tempatnya pun buruk pula. Maka lahirlah istilah sorga dan neraka, sorga untuk kedamaian yang abadi, neraka untuk menjalani hukuman di akhirat.

Pengadilan Tuhan pun tidak berjenjang sebagaimana yang kita alami di dunia ini. Ada pengadilan tingkat pertama, tingkat banding, kasasi bahkan setelah itu masih ada pula upaya peninjauan kembali. Begitu ribetnya pengadilan duniawi. Tuhan hanya sekali mengadili dan tidak memandang siapa yang diadili. Kitab Bhagawad Gita IX. 20 menyebutkan: samo ‘ham sarva-bhutesu, na me dvesyo ‘sti na priyah. ye bhajanti tu mam bhaktya, mayi te tesu capy aham. Terjemahan bebasnya: Aku bersikap sama terhadap setiap makhluk, tidak ada yang Aku benci dan tidak ada yang Aku kasihi. Akan tetapi mereka yang memujaKu dengan penuh rasa bhakti, maka dia akan selalu bersamaKu dan Aku ada pada dirinya.
Bersikap sama itu menyiratkan keadilan. Setiap makhluk, apa pun jenis makhluknya dan dari mana pun berasal, semuanya dipandang sebagai sesuatu yang sama. Dalam pengertian ini maka tak dikenal rasa sayang, sekaligus tidak dikenal pula rasa benci. Bahwa hukuman bisa berbeda di alam sana, ada sorga dan ada neraka, itu semata-mata karena perbuatan kita di dunia yang berbeda.


Tuhan memang Maha Penyayang dan Maha Pengasih, tetapi sifat itu tak mempengaruhi dalam mengambil keputusan. Seperti orang tua yang sesekali memarahi atau menegor anaknya, bukan dalam pengertian tidak sayang apalagi benci, tetapi memberikan pelajaran agar tidak mengulangi perbuatan yang buruk. Maka kalau ada perbuatan buruk yang dilakukan di dunia ini, itulah cobaan Tuhan dan segeralah lakukan perbaikan, segeralah minta ampun dan bertobat, sehingga ketika kita “diadili di dunia sana” persoalannya menjadi lebih jelas.

Minta ampun dan bertobat untuk perbuatan yang buruk adalah kata lain dari mendekatkan diri kepada Tuhan. Itu artinya kita selalu memuja Beliau Yang Maha Suci. Bukankah sudah disebutkan, “mereka yang memujaKu dengan penuh rasa bhakti, maka dia akan selalu bersamaKu dan Aku ada pada dirinya.” Masalahnya apakah kita mau “lebih dekat” atau “selalu dekat” dengan Sang Maha Kuasa atau kita sering melupakannya. Atau kita baru ingat Tuhan kalau dalam keadaan berduka, entah itu sakit atau kemalangan yang lain. Kalau lagi bersenang-senang lupa memuja-Nya. Kalau jiwa kita bersih dan selalu dekat denganNya maka pantulan kemaha-besaran Tuhan itu akan bisa kita rasakan dalam batin.

Kita bisa menganalogikan Tuhan itu ibarat cermin. Kalau cermin itu kotor dan berdebu, maka pantulan cahayanya sangat buram. Kalau cermin itu bersih permukaannya maka cahaya yang dipantulkan jadi terang dan jernih. Padahal kadar cahaya itu sama saja besarnya. Masalah ada pada cermin yang memantulkannya, bukan pada cahaya. Maka kembali kepada sang pemilik cermin, yakni kita sendiri, apakah kita sudah bersih secara rohani untuk menerima cahaya Tuhan, sehingga cahaya itu bisa kita jadikan sesuluh dalam kehidupan ini? Atau kita biarkan cermin dalam diri kita kotor, sementara cahaya tidak pernah bertanya apakah cermin itu kotor atau tidak. Cahaya tetap memancar tanpa peduli bagaimana kondisi yang menerima cahaya itu. Sloka Bhagawad Gita ini jelas menyimpulkan kasih sayang Tuhan dalam “mengadili” umatNya tidak pernah pilih kasih.

Minta ampun dan bertobat itu sangatlah penting, ibaratnya perbuatan itulah yang bisa membersihkan cermin agar cahaya Tuhan bisa kita terima lebih jernih. Pada sloka lebih lanjut, yakni Bhagawad Gita IX.30 disebutkan dengan gamblang: “walau orang yang paling berdosa sekali pun datang kepada-Ku, memuja-Ku dengan penuh rasa bhakti tanpa menyimpang, maka orang seperti itu diterima sebagai orang suci karena dia memiliki itikad yangbenar.”

Marilah kita selalu membersihkan cermin bathin kita agar bisa menerima cahaya Tuhan dengan baik dan kelak dalam pengadilan di alam sana, kita mendapatkan tempat yang baik. 

(Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda - 7 Januari 2017)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar