29 Oktober 2016

Sarasamuccaya - Sloka 55 - 109


Pekerjaan dan Profesi (Prihal Catur Warna)
55. Manusia sesuai profesinya dibagi menjadi empat golongan. Agamawan adalah golongan pertama, ke dua negarawan, ke tiga usahawan, dan ke empat adalah pelayan. Ketiga golongan profesi tersebut di atas haruslah dalam hidupnya melakukan penyucian diri, apabila diinginkan mereka boleh hidup selibat. Sedangkan golongan pelayan juga boleh melakukan penyucian walaupun tidak menjadi keharusan baginya.


56. Profesi agamawan haruslah mempelajari ilmu pengetahuan, mengajarkan kebajikan dan kebenaran, mengajarkan kitab suci, melaksanakan upacara dan pemujaan, melakukan amal sosial, bersembahyang ke tempat-tempat suci,serta menjadi pemimpin upacara.

57. Inilah kewajiban seorang agamawan, melakukan kebajikan dan kebenaran; setia pada ucapan dan janji; teguh pada pelaksanaan kebajikan dan kebenaran, menaklukkan hawa nafsu; tidak mementingkan diri sendiri; rendah hati; sabar dan tahan godaan; tidak diliputi oleh kemarahan dan kejahatan; melakukan persembahan kepada Tuhan; beramal sedekah; menyucikan fisik dan rohani; serta welas asih dan pemaaf.

58. Inilah kewajiban negarawan, mempelajari ilmu pengetahuan dan kitab suci; melaksanakan upacara kurban ke hadapan Tuhan; memfasilitasi upacara kebaktian; menjaga keamanan negara; mengenal bawahannya sampai pada sanak keluarga dan kerabatnya; berderma dan bersedekah.

59. Seorang usahawan, hendaknya belajar kepada agamawan dan negarawan. Mereka hendaknya berderma dan bersedekah pada waktu yang baik; hendaknya mereka bersedekah kepada orang-orang yang memerlukan dan meminta bantuan kepadanya. Mereka hendaknya taat beribadat.

60. Inilah kewajiban pelayan, setia mengabdi kepada agamawan, negarawan, dan usahawan, mereka hendaknya melakukan tugas dengan sebaik-baiknya.

61. Apabila negarawan pengecut, angkara murka, tidak mengusahakan kebahagiaan negara dan tidak mengasihi rakyatnya; agamawan rakus, bewatak jahat, menyeleweng dari norma dan susila; curang; diliputi birahi; mementingkan diri sendiri, mencemarkan tempat suci; negara dimana mereka itu hidup pasti hancur berkeping-keping

62. Usahawan menganggur; pelayan tidak setia; mereka-mereka yang seperti ini pasti akan memperoleh malapetaka.

63. Inilah yang harus dilakukan oleh keempat profesi: jujur; tidak egois dan mementingkan diri sendiri, dapat menasehati diri sendiri; mengendalikan indra-indra.

64. Inilah yang harus dilaksanakan: tidak menyakiti dan membunuh dalam arti luas, setia pada ucapan, berkata benar, tidak berpikiran jahat pada semua mahluk,
tahan cobaan, teliti, orang seperti ini sesungguhnya telah memperoleh kebahagiaan.

65. Jika ketidakjujuran yang menjadi dasar perilaku, ia pasti akan mengantar ke alam maut. Jika kejujuran dan ketulusan hati menjadi pondasi perilaku, ia akan mengantar ke alam surga.

66. Hidup dengan tidak mementingkan diri sendiri, itulah dasar dari kebajikan dan kebenaran utama. Tahan menghadapi cobaan hidup, itulah kekuatan yang utama. Berkeyakinan bahwa orang lain adalah bagian dari diri sendiri, itulah pengetahuan utama. Setia pada ucapan dan janji adalah kesetiaan utama.

67. Perilaku mementingkan kepentingan pribadi tidak disukai oleh siapapun; mereka yang jahat, keji dan berperilaku hina sekalipun akan mebencinya. Bagaikan orang yang meninggalkan sumur kering, menghindari duri dan menyelamatkan diri dari kebakaran, demikianlah orang-orang akan meninggalkan mereka yang hanya mementingkan dirinya sendiri.

68. Orang yang berhati tenang senanantiasa berkeadaan sadar, mereka sanggup menasehati dirinya sendiri. ketenangan hati sesungguhnya lebih utama dari sedekah, sebab sering kali mereka yang dermawan tidak memiliki ketenangan hati, hingga dapat dipengaruhi oleh kemarahan dan keserakahan. Maka lebih utamalah ketenangan hati itu dibanding sedekah.

69. Sesungguhnya bukan lantaran mandi seseorang dapat disebut suci, hanya mereka yang memiliki ketenangan hati sajalah bisa disebut suci.

70. Orang seperti inilah pantas disebut berhati tenang, tidak berbohong, tidak girang hati apabila memperoleh kesenangan, tidak bersedih jika ditimpa kesusahan, memahami filsafat secara mendalam, sanggup menasehati dirisendiri, hanya mereka sajalah yang pantas dianggap suci.

71. Sesungguhnya surga adalah kesuksesan dalam pengendalian nafsu, sedangkan neraka adalah kegagalan dalam mengendalikan nafsu.

72. Mereka yang berhasil menguasai nafsunya akan berumur panjang, termasyur, memiliki nama harum, dan tidak pernah kekurangan harta kekayaan.

Trikaya Parisuda (Pikiran, Perkataan, dan Perbuatan yang baik)
73. Sepuluh banyaknya hawa nafsu yang harus dikendalikan, tiga bagian dari pikiran, empat bagian dari perkataan, dan tiga bagian dari perbuatan.

74. Keinginan untuk memiliki hak milik orang, kebencian pada mahluk hidup, dan ketidak percayaan pada hukum sebab akibat, inilah produk pikiran yang harus dikendalikan.

75. Berkata jahat, berkata kasar, memfitnah, dan berbohong, inilah empat jenis perkataan yang harus dikendalikan.

76. Mencuri, berzinah, dan membunuh inilah perbuatan yang jangan pernah dilakukan.

77. Yang membuat orang dikenal adalah hasil perbuatannya, perkataannya, dan pikirannya. Melalui ketiganya ini orang mengetahui kepribadian diri. Maka dari itu biasakanlah untuk berpikiran baik, berkata benar, dan berbuat bajik.

78. Walau sangatlah sukar mengamalkan kebaikan dan kebajikan dalam pikiran, perkataan dan perbuatan, janganlah semua itu membut kita berhenti untuk melaksanakannya.

79. Kesimpulannya, pikiranlah yang sangat menentukan perkataan dan perbuatan.

80. Mano hi mulam sarvesamindrayanam pravartate, subhasubhasvavashtasu karyam tat suvyavasthitam.
Pikiran adalah sumber dari segala macam nafsu, ialah yang meggerakkan dan mengarahkan perbutan menuju kebajikan atau pun kejahatan. Maka dari itu usahakanlah terlebih dahulu untuk mengendalikan pikiran.

81. Duragam bahudhagami prathanasamssayatmakam manah suniyatama yasya sa sukhi pretya veha ca.
Pikiran itu sangatlah labil dan berubah-ubah, apabila seseorang dapat mengendalikan pikirannya, niscaya ia akan memperoleh surga di dunia dan surga di akherat.

82. Mata dapat melihat sesuatu dikarenakan oleh pikiran. Mata tidak akan melihat apapun dengan jelas jika pikiran kosong dan tidak fokus. Pikiran itulah sesungguhnya yang menerima kesan dari panca indra.

83. Bagian-bagian tubuh lawan jenis bisa menimbulkan rasa hormat ataupun nafsu birahi, masing-masing persepsi yang berbeda muncul dari pikiran yang berbeda pula. Maka celakalah mereka yang memandang lawan jenisnya secara sesat dan penuh birahi.

84. Air liur yang diludahkan, ataupun air liur yang dihisap saat berciuman adalah cairan yang sama. Orang jijik melihat ludah dan sangat bernafsu untuk menghisapnya saat birahi.

85. Seorang anak dan seorang ayah beda persepsinya jika melihat payudara si ibu. Demikianlah sesungguhnya benda yang sama terlihat berbeda akibat pikiran.

86. Bedalah tanggapan orang selibat, pria hidung belang, dan seekor srigala dalam memandang wanita. Mayat menurut si selibat, seksi dan mengairahkan menurut pria hidung belang, makanan lezat menurut srigala. Akibat kebingungan pikiran muncullah beragam persepsi.

87. Seorang ayah lantaran cinta mencium anak dan istrinya, namun perasaan si ayah akan beda tatkala ia mencium anaknya dengan saat ketika ia mencium istrinya. Perbedaan ini disebabkan oleh pikiran si ayah. Pikiran itulah yang sesungguhnya menyebabkan munculnya perbedaan persepsi.

Pengendalian Indria
88. Abhidhyaluh parasvesu neha namutra nandati, tasmadabhidhya santyajya sarvadabipsata sukham.
Bagi mereka yang ingin memperoleh kebahagiaan abadi, hendaknya jangan sekali-kali berkeinginan untuk memiliki sesuatu yang bukan merupakan haknya, jangan sekali-kali berperasaan iri hati kepada orang yang beruntung.

89 Sada samahitam citta naro bhutesu dharayet, nabhidhyayenne sphrayennabaddham cintayedasat
Jangan merindukan sesuatu yang tidak mungkin, jangan menginginkan sesuatu yang mustahil, dan janganlah memikirkan cara-cara jahat guna memenuhi hasrat keinginan. Janganlah dengki dan irihati pada orang yang sukses, berbelaskasihlah kepada segala mahluk.

90. Oleh karenanya, kekanglah dengan kuat indra-indra dan pikiran itu, janganlah dibiarkan melakukan tindakan yang terlarang dan melanggar hakekat kebajikan, janganlah dibiarkan melakukan tindakan tercela yang pada akhirnya akan menimbulkan hal-hal yang tidak menyenangkan.

91. Yasyerya paravittesu rupe virye kulavaye, sukhasaubhagyasatkare tasya vyadhiranatagah.
Sesungguhnya orang yang sengsara adalah mereka yang tidak suka melihat harta kekayaan orang, tidak suka melihat kerupawanan orang, tidak suka melihat status sosial orang, tidak suka melihat kesenangan orang, dan tidak suka melihat keberuntungan orang; bagi mereka yang senatiasa diliputi kedengkian dan irihati, hidupnya akan selalu dilekati oleh duka nestapa.

Kesabaran
92. Segala sesuatu yang ada di bumi ini adalah milik dari orang sabar, demikian juga apa yang ada di jagat raya ini adalah juga milik orang yang berhati sabar. Hanya dengan kesabaranlah keberhasilan itu dapat diperoleh, mereka yang sabar dipuji dan dihormati di bumi, apabila mereka mati surgalah ganjarannya.

93. Natah srimattara kincidanyat pathyatara tatha prabhavisnorytha tata ksama sarvatra sarpvada.
Kekayaan utama adalah kesabaran hati, apagunanya emas permata dibandingkan dengan kesabaran, sebab hanya kesabaran saja yang bisa menasehati orang dari kesesatannya, sedangkan emas dan permata hanyalah bagian dari bongkahan-bongkahan tanah yang membisu.

94. Mustahil ada persahabatan tanpa kesabaran hati, yang ada pastilah kemurkaan, marah dan dendam, maka dari itu pupuklah terus kesabaran di dalam hati masing-masing.

Tentang Kemarahan
95. Seorang manusia sejati dan berbudi luhur keadaannya bagaikan seekor ular yang membuang kulitnya, demikian pulalah orang yang sabar senantiasa meninggalkan kemarahan dari dalam hatinya.

96. Na catravah ksayam yanti yavajjivamapi ghnatah, krodham niyantum yo veda tasya dvesta na vidyate. Meskipun seseorang selalu menang dalam pertempuran, selalu mengalahkan musuh-musuhnya, jika ia tetap terkungkung dalam watak pemarahnya dan sering mengumbar amarahnya pada orang lain, mereka akan selalu kedatangan musuh-musuh baru; sedangkan bagi yang mampu mengekang nafsu amarahnya, tidak akan pernah ada musuh dalam hidupnya.

97. Minuman keras hanya diijinkan bagi orang yang benar-benar telah mampu menguasai indra-indranya, sedangkan bagi orang yang belum mampu untuk menguasai indranya, minuman seperti ini dilarang untuk di konsumsi. Kemarahan hendaknya anda minum, anda kuasai dan anda tundukkan, hingga dari itu kesabaran hati pasti anda dapatkan.

98. Atmopamastu bhutesu yo bhavediha purusah. Tyaktadando jitakrodhah sa pretya sukhamdhate.
Seseorang yang berpikir bahwa mahluk-mahluk di semesta ini adalah bagian dari dirinya, yang perpikir bahwa orang lain adalah juga dirinya, mereka yang seperti ini tidak akan pernah menjadi manusia egois, mereka menjadi kasih terhadap sekalian semesta raya; hanya orang seperti ini sajalah yang mampu memperoleh kesenangan dan kepuasan yang hakiki.

99. Seseorang yang selalu menganggap orang lain sebagai musuh dan selalu menganggap makhluk-makhluk lain sebagai ancaman bagi hidupnya; orang yang seperti ini tidak akan pernah memperoleh kesenangan apalagi kepuasan. Hidup mereka selalu was-was, selalu resah dan selalu merasa terancam walaupun telah berdiam di kamar baja dan dijaga ribuan prajurit.

100. Orang yang sulit tidur (insomnia) adalah mereka yang sedang sakit, mereka yang ketakutan, mereka yang dibenci, mereka yang sedang memikirkan pekerjaannya, dan mereka yang sedang dimabuk asmara serta mereka yang sedang nafsu birahi.

101. Akrodhanah krodhanebhyo visistastatha titiksuratitiksorvistatah, amanusebhyo manusasca pradhana vidvamstathaivavidusah pradhanah
Orang yang dapat menguasai kemarahannya berstatus lebih utama dari orang yang pemarah, mekipun sipemarah itu kaya raya sedangkan si penguasa amarah hidup dalam kemiskinan harta. Orang yang penyabar jauh lebih baik dari orang yang tidak sabaran walaupun mereka ini memiliki kekuasaan. Penjelmaan menjadi manusia lebih utama dari mahluk apapun di bumi ini walaupun makhluk-makhluk ini lebih kuat fisik dan tenaganya; demikian juga mereka yang berhasil menyucikan dirinya lahir batin jauh lebih utama dari manusia manapun walau mereka lebih kaya, lebih berkuasa, lebih wibawa, lebih dihormati.

102. Ketahuilah bahwa orang yang dikuasai oleh kemarahan dan angkara murka apapun yang dipersembahkannya, apapun yang disumbang dan disedekahkannya, apapun jenis puasa dan pantangan yang dilakukannya, apapun yang dikurbankannya, semua itu menjadi tanpa pahala, mereka hanya mendapatkan rasa lelah dan kepayahan, oleh karenanya kuasailah kemarahan dan nafsu angkara itu.

103. Teguhlah dalam penyucian jiwa. Angkara murka dilenyapkan dengan menyucikan hati, kedengkian dilenyapkan dengan kebahagiaan, pengetahuan suci akan membinasakan ego, selanjutnya jagalah pikiran, perkataan dan perbuatan dengan selalu mawas diri.

104. Tiada bedanya kemarahan itu dengan kematian, demikian juga cinta buta itu sekeruh sungai yang dipenuhi kotoran dan bangkai, namun pengetahuan suci
bagaikan kantung ajaib yang dapat menyediakan apapun keperluan dan keinginan dari pemiliknya.

105. Mereka yang sedang diliputi oleh kemarahan dan dikuasai oleh nafsu angkaranya dapat dipastikan akan melakukan perbuatan jahat, mereka yang dibutakan oleh amarah dan angkara dapat menghujat orang suci, bahkan sampai membunuh ayah, ibu, anak dan orang-orang dekatnya.

106. Mereka yang sedang dikuasai oleh angkara murka akan lupa dengan etika berbahasa, hingga perkataan yang kasar, jorok, tabu, dll akan dilontarkannya, demikian juga mereka akan melakukan perbuatan-perbuatan yang terlarang dan menyalahi kebajikan pun kebenaran.

107. Kemarahan dan nafsu angkara adalah musuh yang sesungguhnya berada dalam diri kita, jika ada orang yang dapat menghilangkan kemarahan dan angkaranya, pastilah mereka itu akan dimuliakan dibumi dan di akherat.

108. Maka dari itu, mulai saat ini juga, hendaknya manusia benar-benar berusaha dengan sekuat tenaganya untuk menghilangkan kemarahan dan nafsu angkaranya, kasihlah dengan sesama manusia dan segenap isi semesta ini.

109. Mereka-mereka yang selalu teguh dan sabar dalam melakukan dan mengamalkan kebajikan dan kebenaran, mereka yang dapat menghilangkan kemarahan dan nafsu angkaranya, niscaya akan memiliki nama harum di bumi dan di alam surga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar