Tentang Pergaulan Hidup
224. Tiga yang akan selalu tersedia di rumah orang yang baik budi, di antaranya: 1) makanan; 2) keramahan; dan 3) perlindungan.
225. Mereka yang tidak melakukan yadnya/persembahan kehadapan Tuhan dan mereka yang tidak menjamu orang-orang yang bertamu ke rumahnya, manusia yang seperti ini tidak ada bedanya dengan raksasa.
226. Kesenangan yang diperoleh hendaknya dinikmati bersama, makanan yang dimiliki hendaknya dinikmati bersama, keputusan hendaknya diambil bersama, demikian juga permasalahan hendaknya dipecahkan bersama; sungguh akan terasa janggal bangun paling dulu sementara yang lain masih tidur pulas.
Etika Anak Terhadap Orang Tua
227. Jangan hendaknya anda menjadikan ayah dan ibu anda layakya pembantu atau tukang masak, jangan makan sebelum ayah dan ibu anda makan, mereka yang baru makan setelah mendapat ijin dari ayah dan ibunya akan hidup dalam kesejahteraan di alam fana dan akherat.
228. Seorang putra sejati adalah mereka yang melindungi orang-orang yang kesusahan, menyelamatkan orang-orang yang sengsara, dan bersedekah kepada orang-orang miskin.
229. Seorang putra sejati adalah orang yang menjadi pelindung dari sanak saudaranya, ia hendaknya seperti Indra dewa hujan yang melindungi dan memelihara kelangsungan hidup di bumi, bagaikan pohon-pohon yang menjadi habitat burung-burung; demikianlah ia hendaknya menjadi sumber kehidupan dari orang-orang seisi rumahnya.
230. Jika ada orang kaya yang tidak suka membantu sanak saudaranya, bahkan mereka membiarkan keluarganya hidup terlantar dan miskin; orang kaya yang seperti ini sungguh-sungguh berkeadaan hina di hadapan Tuhan.
231. Ada empat kriteria orang yang patut diajak tinggal di dalam rumah anda, yakni: 1) seorang kerabat yang menderita; 2) orang bajik yang jatuh sengsara; 3) sahabat yang miskin; 4) adik perempuan yang mandul atau disia-siakan suaminya.
232. Sedangkan yang tidak patut diajak berdiam di dalam rumah adalah: 1) orang yang pemalas; 2) orang yang rakus; 3) orang yang berkepribadian tercela; 4) orang yang licik; 5) orang yang selalu menentang peraturan; 6) orang yang tidak perduli keselamatan orang lain; 7) orang yang tidak tahu kelayakan waktu dan tempat; dan 8) orang yang suka berpakaian tidak senonoh.
233. Janganlah ragu-ragu untuk mengajak seorang rohaniawan yang suci untuk tinggal dalam rumah anda, seorang guru yang memahami ilmu pengetahuan, siswa yang berbudi luhur, saudara sedarah, kerabat dan sahabat yang berkelakuan baik.
234. Jika ada orang yang dengan pikiran, perkataan, dan perbuatannya menghianati guru, menghianati ibu dan ayahnya, dosa mereka ini sangatlah besar, bahkan lebih besar dari dosa akibat menggugurkan kandungan.
235. Ibu dan ayah adalah sumber dari kehidupan, sedangkan guru adalah sumber pengetahuan rohani yang mengajarkan hakekat hidup.
236. Guru terlebih dahulu dihormati sebagai penuntun hidup dan kehidupan, sebagai pemberi pengetahuan dan kerohanian, berikutnya hormatilah ibu dan ayah sebagai orang yang melahirkan dan menghidupi secara material.
237. Janganlah menjawab pertanyaan guru dengan cara bercanda, apabila beliau bersedih, gusar, dan marah, hiburlah dengan kata-kata yang manis menyegarkan.
238. Janganlah menghina guru jika beliau ada kesalahan, sebab orang yang menghina gurunya akan dijauhkan dari hakekat hidup, berumur pendek dan masuk neraka.
239. Mereka yang hormat kepada ayah dan ibunya, berkeadaan sama dengan seorang brahmana/spiritualis yang teguh dengan tapanya, kuat menjaga kesucian dan berada pada jalan kebajikan dan kebenaran.
240. Sebab seorang ibu menanggung kewajiban yang lebih berat dari pada bumi, sedangkan seorang ayah berfikir lebih tinggi dari langit, lebih cepat dari angin, dan lebih banyak dari rumput demi kesejahteraan dan keselamatan anak, istri, dan keluarganya. Menyadari itu, seorang anak hendaknya menghormati dan bakti secara bersungguh-sungguh kepada orang tuanya.
241. Barang siapa bakti tulus kepada orang tuanya dan selalu berusaha untuk menyenangkan serta memuaskan hati mereka, orang tersebut akan terpuji dan menjadi bajik.
242. Yang tergolong ayah adalah: orang yang memberikan tubuh, yang memberikan hidup (ayah biologis), yang memberi makan, dan yang mengasuh.
243. Seorang anak hendaknya membuat ayahnya puas, sedangkan kewajiban ayah adalah selalu berusaha untuk mensejahterakan anaknya.
244. Baik pintar atau bodoh, berprilaku bajik atau jahat, kaya atau miskin; cinta seorang ibu sama dan tidak pernah berkurang.
245. Seorang ayah, seberapa miskinpun keberadaannya, ia akan selalu berusaha untuk mencari penghidupan untuk anak-anaknya dan berusaha untuk menyenangkan mereka dengan pemberian dan hadiah.
246. Seorang anak yang tidak menyia-nyiakan hidup ibunya setelah tua, tidak meninggalkan ibunya, setia dan bakti dengan hati yang tulus, anak yang memperlakukan ibu layaknya Dewa, pasti akan berumurpanjang dan memperoleh ganjaran surga di alam akherat.
247. Anak yang ditinggal ibunya atau yang mengusir ibunya, anak yang seperti ini seberapapun kayanya adalah orang yang miskin, seberapapun bahagianya adalah orang sengsara, bagi mereka dunia akan menjadi sangat sepi walau berada dalam hiruk-pikuk keramaian.
248. Oleh karenanya, baktilah pada orang tua bahkan sembahlah mereka dengan ketulusan hati. Jika diminta atau jika tidak diminta sekalipun, tawarkan terlebih dahulu keinginan untuk mengantar kemana pun beliau hendak pergi, jika berkenan antarlah beliau dengan hati yang tulus.
249. Jika berhadapan dengan orang tua (ayah/ibu), si anak akan kehilangan jiwanya, tapi jika si anak sujud dengan hormat kepada orang tuannya, kembalilah jiwa si anak ke tubuhnya.
250.Jika seorang anak bakti tulus kepada orang tuanya, mereka akan memperoleh empat macam pahala berupa: 1) pujian; 2) hidup bahagia dan panjang umur; 3) teman yang setia dan kekuasaan; 4) jasa dan pertolongan
Perbuatan Terpuji
251. Orang yang santun adalah orang yang menyesuaikan diri dengan aturan norma dan etika yang berlaku di masyarakatnya; demikian juga hendaknya prilaku disesuaikan dengan umur; perilaku dan umur disesuaikan dengan harta kepunyaan; umur, prilaku dan harta, disesuaikan dengan pakaian dan perhiasan yang dipergunakan. Orang yang mampu menyesuaikan semuanya adalah orang yang berkeadaan sadar.
252. Hendaknya manusia senantiasa berusaha untuk menyenangkan hati dari semua orang, terutama orang-orang yang sedang kelelahan, orang yang sedang sakit, orang yang terhina dan dikucilkan, orang yang hidup miskin, orang yang sedang ketakutan, orang yang kelaparan, serta orang yang sedang menderita bencana, musibah atau nasib malang.
253. Hilangkanlah kemalasan dan keengganan hati, berusahalah untuk belajar prihal kebajikan dan kebenaran dari kitab suci, kitab hukum, norma dan kesusilaan. Berlatihlah kebijaksanaan untuk menjadi manusia bajik dan benar.
254. Sebab jika tersesat dari kebijaksanaan, sia-sialah kebajikan dan kebenaran yang telah dilakukan, kelak pahala dari perbuatan yang positif tidak akan mungkin diperoleh. Akan halnya orang yang teguh dalam kebijaksanaan, sempurnalah segala perbuatan bajiknya.
255. Hendaknya seorang suami dan istri yang menghendaki hidup langgeng dalam berumah tangga, menghindari untuk melakukan senggama pada bulan mati (tilem), paruh terang dan paruh gelap ke delapan (8), paruh terang dan paruh gelap ke empat belas/14 (prewani) serta pada bulan purnama.
256. Jika ingin memperoleh surga hendaknya jangan minum-minuman keras (termasuk narkoba & obat-obatan terlarang), jangan berbohong, jangan menginginkan pasangan orang (selingkuh), jangan mencuri, jangan menyiksa dan membunuh.
257. Hendaknya makanlah makanan yang menyehatkan, pakailah pakaian dan perhiasan yang pantas, jangan berfoya-foya dan mabuk-mabukkan, jangan malas dan terlalu banyak tidur, jika masih menginginkan surga.
Pengendalian Diri
258. Selalu berlatih mengendalikan nafsu (yama) dan teguhkan mental (niyama). Mereka yang berlatih mengendalikan nafsu indrawinya namun tidak memiliki keteguhan mental/hati niscaya akan gagal dalam usahanya.
259. Ada sepuluh brata yang hendaknya dilakukan (yama): 1) jangan mementingkan diri sendiri; 2) tahan menghadapi cobaan hidup; 3) tidak berdusta; 4) tidak menyiksa dan membunuh makhluk hidup; 5) mampu menasehati diri sendiri (belajar dari pengalaman); 6) jujur dan selalu berterus terang; 7) berbelaskasih
melihat penderitaan manusia dan makhluk hidup lainnya; 8) berhati bersih dan berpikir jernih; 9) berekspresi dan bertutur kata manis; dan 10) berbudi halus.
260. Sepuluh brata yang hendaknya di kerjakan (niyama): 1) sedekah; 2) sembahyang; 3) pengekangan nafsu; 4) perenungan; 5) mempelajari kitab suci; 6) pengendalian birahi; 7) keteguhan hati; 8) puasa; 9) pengendalian kata-kata; 10) penyucian diri lahir batin.
Harta Benda dan Kekayaan
261. Harta yang diperoleh haruslah berlandaskan pada kebajikan dan kebenaran. Setelah keuntungan/hasil usaha diperoleh, hendaknya penggunaannya dibagi dalam tiga kategori.
262. Bagian pertama untuk mengamalkan kebajikan dan kebenaran; bagian kedua untuk memenuhi hidup, kesenangan dan rekreasi; sedangkan bagian ke tiga untuk menjaga kelangsungan usaha.
263. Keuntungan usaha yang berlandaskan pada kebajikan dan kebenaran akan melahirkan kebahagiaan surgawi; sedangkan keuntungan yang diperoleh dari cara-cara licik dan jahat akan melahirkaan kesengsaraan dan neraka.
264. Jika ada orang mencari untung dari tindakan-tindakan licik dan jahat, lalu ia mendermakannya untuk tujuan-tujuan baik; lebih baik jangan melakukan usaha itu walau dengan tujuan-tujuan mulia; sebab keberadaannya sama saja dengan mencemari sesuatu yang bersih dengan sesuatu yang kotor.
265. Karena harta kekayaan yang suci adalah harta kekayaan yang diperoleh dari cara-cara bajik dan benar; harta kekayaan kotor adalah harta kekayaan yang diperoleh dengan cara-cara keji dan jahat.
266. Hendaknya jangan pernah menginginkan harta kekayaan yang diperoleh dengan cara licik dan jahat, seperti uang hasil penyimpangan hukum dan uang pemberian musuh.
267. Jatasya hi kule mukhye paravittesu grhdyatah lobhasca prajnamahanti prajna hanta hasa sriyam.
Orang mulia sekalipun, jika berkeinginan untuk merampas harta orang lain, niscaya akan hilanglah kearifannya. Apabila kearifan itu telah hilang, maka lenyap jugalah kemuliaan dan keagungannya.
268. Tiga merupakan tujuan hidup ini, yakni kebajikan/kebenaran, harta/kekayaan, dan kesenangan/keamanan; janganlah hendaknya ketiga dari tujuan hidup itu dikotori oleh kejahatan.
269. Jangan biarkan waktu itu berlalu tanpa guna, manfaatkanlah waktu itu agar berdayaguna dan bermanfaat; akan sangat tepat jika waktu itu dipakai dalam pelaksanaan kebajikan sekaligus pencarian harta dan perolehan kesenangan. Siapa yang tahu batas hidup dan mati? Oleh karenanya maanfaatkanlah dengan sebaik-baiknya waktu itu, jangan menunda-nunda dan membuang-buang waktu, mumpung masih hidup.
270. Orang yang gagal dalam pelaksanaan kebajikan/kebenaran, gagal dalam menyedekahkan harta/kekayaan, gagal dalam memberi kesenangan/keamanan bagi makhluk hidup lainnya, dan juga gagal menuju kemerdekaan batin; tanpa guna keberadaannya di bumi ini, mereka hidup lalu mati dimakan waktu.
271. Oleh sebab itu, bersedekahlah kepada orang-orang yang patut diberikan sedekah, berikanlah kesenangan kepada orang-orang yang patut memperoleh kesenangan, ingat kematian datang tanpa disangka-sangka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar