Berkatalah Arjuna:
1. Aku berhasrat, oh Kreshna, mengetahui kebenaran tentang sanyasa dan
tentang tyaga.
Arjuna sebenarnya bertanya dan
ingin mengetahui apakah perbedaan antara sanyasa dan tyaga. Sanyasa adalah meninggalkan
setiap tindakan, perbuatan dan aksi (kamya-karma), yaitu tindakan dan perbuatan
yang diikuti oleh keinginan-keinginan tertentu. Tetapi dalam hidup ini ada saja
perbuatan atau tindakan-tindakan tertentu yang tidak bermotif egois seperti
makan, tidur, mandi, jalan dan lain sebagainya yang tak dapat ditinggalkan atau
diserahkan kepada Yang Maha Esa dalam arti harfiah, baik oleh seorang yang
teramat suci sekalipun. Sedangkan kalau seseorang sama sekali tak bekerja atau
berbuat sesuatu, maka orang semacam ini pun tentunya tak dapat disebut seorang
sanyasin.
Sedangkan tyaga berarti
penyerahan total hasil dari setiap tindakan, perbuatan dan aksi kita ini.
Setiap buah atau hasil dari berbagai perbuatan kita dipasrahkan atau
dikembalikan kepadaNya lagi. Semua pekerjaan orang semacam ini (sanyasin)
adalah kewajibannya kepada Yang Maha Esa tanpa pamrih atau mengharapkan
sesuatu. Pekerjaan dan perbuatannya penuh dengan dedikasi semata; dedikasi
inilah sebenarnya motor penggerak dari individu-individu semacam ini, dedikasi
yang tanpa pamrih dan demi Ia semata.
Seorang tyagi (penganut tyaga)
tidak akan menjauhi ketiga pekerjaan utamanya, yaitu: yagna, dana, dan
tapa. Tindakan-tindakan ini baginya adalah kewajiban, disiplin bagi
diri pribadinya dan untuk tujuan sosial bagi sesamanya, berdasarkan kewajiban
dan dedikasinya kepada Yang Maha Esa. Perbuatan dan pekerjaan ini bukan
merupakan ikatan-ikatan duniawi tetapi sebenarnya adalah jalan ke arah
pembebasan atau penerangan baginya. Sanyasa atau tyaga tidak berarti menjauhi
pekerjaan atau hal-hal yang bersifat duniawi dan segala efek atau aktivitasnya,
tetapi berarti tetap bekerja tetapi tanpa suatu motivasi, imbalan atau pamrih
yang penuh dengan ego, keserakahan dan harapan. Semuanya seharusnya dilakukan
dan dipersembahkan kembali kepada Yang Maha Esa tanpa pamrih.
Bersabdalah Yang Maha Pengasih:
2. Para resi sadar bahwa sanyasa itu adalah penyerahan dari
bentuk-bentuk pekerjaan yang diikuti oleh nafsu dan keinginan-keinginan
tertentu; sedangkan tyaga oleh mereka-mereka yang bijaksana diartikan sebagai
penyerahan total seluruh hasil atau buah sesuatu perbuatan yang dilakukan
seseorang.
3. "Aksi harus dilepaskan karena ibarat iblis," kata
sementara pemikir. "Aksi-aksi seperti dana dan disiplin spiritual tidak
boleh dilepaskan," kata yang lainnya.
Banyak pemikir atau orang-orang
pintar, para penganut ajaran Kapila (yang disebut ajaran Sankhya), mengutuk
semua bentuk aksi, tindakan dan perbuatan karena bagaimanapun juga kata mereka
tak ada pekerjaan, aksi atau sesuatu perbuatan yang tanpa maksud dan motif,
sekecil apapun tindakan tersebut. Jadi menurut mereka setiap pekerjaan ada
motivasinya, dan itu berarti menyandang dosha, dan dosha (dosa) inilah penyebab
keterikatan kita pada dunia ini. Jadi semua bentuk aksi atau tindakan harus
dilepaskan. Tetapi para pemikir golongan lainnya, yang disebut Mimansaka,
berpendapat tindakan atau perbuatan pengorbanan (yagna), tapa dan dana harus
dilaksanakan karena tindakan-tindakan ini menyucikan diri dan membantu
seseorang mendaki tahap-tahap evolusi spiritualnya.
Apa yang dianjurkan oleh
Bhagavat Gita sebenarnya adalah melepaskan semua keterikatan-keterikatan akan
hasil atau buah dari semua yang kita lakukan dan perbuat. Dengan kata lain
terjadilah kehendakNya adalah arti dari ajaran Bhagavat Gita. Semua pekerjaan
atau kewajiban sehari-hari kita harus dilakukan demi kebenaran dan kebaikan
(dharma) dan dedikasi kita kepadaNya. Seseorang benar-benar bertindak
seandainya ia bertindak atau bekerja tanpa pamrih, tanpa mengharapkan sesuatu dari
hasil perbuatannya.
4. Dengarkanlah sekarang, oh Arjuna, kesimpulanKu mengenai
penyerahan total akan buah atau hasil kerja seseorang. Penyerahan total dari
hasil kerja ini terbagi tiga sifatnya.
5. Perbuatan (tindakan) pengorbanan, dana (amal) dan disiplin-spiritual
tidak boleh diabaikan, tetapi wajib dikerjakan, karena pengorbanan, dana dan
disiplin spiritual adalah unsur-unsur yang menyucikan bagi mereka yang
bijaksana.
Yagna atau pemujaan atau
pengorbanan/persembahan adalah kewajiban bagi setiap manusia terhadap Yang Maha
Kuasa. Dana atau amal adalah kewajiban terhadap guru-guru spiritual dan
terhadap masyarakat atau yang membutuhkannya. Tapa atau disiplin spiritual
adalah kewajiban kita terhadap diri sendiri sebenarnya. Mengabaikan ketiga
tindakan positif ini sama saja mengotori diri sendiri dengan unsur-unsur
duniawi yang negatif. Lakukanlah semua tindakan ini secara sattvik dan
bersihkanlah raga, hati dan jiwa kita dari noda-noda duniawi ini.
6.Tetapi tindakan-tindakan ini pun harus dilakukan dengan mengesampingkan
sesuatu pamrih. Inilah, oh Arjuna, keputusan dan pandanganKu yang
final.
Jadi walaupun ketiga faktor
penting di atas harus dilakukan, tetapi tetap saja menurut keputusan akhir
(keputusan final) Sang Kreshna, perbuatan-perbuatan itu harus dikerjakan tanpa
mengharapkan sesuatu imbalan dalam bentuk apapun juga, baik secara spiritual
maupun duniawi. Ini sudah merupakan keputusan Yang Tegas, dari Yang Maha Esa,
tidak bisa ditawar-tawar lagi. Di pihak lain setiap tindakan sehari-hari apapun
juga harus tetap dilaksanakan tanpa pamrih tetapi demi kewajiban kita kepada
semuanya dan terhadap Yang Maha Esa dan lokasangraha (kesejahteraaan demi
kemanusiaan). Yang penting adalah penyerahan total dari semua nafsu dan
keinginan, semua bentuk ego yang mementingkan diri sendiri. Kalau kita tidak
mau menyerahkan pikiran-pikiran negatif ini secara total, maka timbullah kama
(nafsu dan keinginan) yang sebenarnya sudah ada dan hadir dalam pikiran dan
indra-indra kita.
Sering timbul pertanyaan
bagaimana caranya untuk menyingkirkan kama ini? Menurut teori di Barat yang
diilhami oleh Freud, maka sebaiknya kama dijadikan teman saja dan semua
keinginannya dipenuhi saja. Tetapi ajaran Hindu menolak mentah-mentah hal ini,
karena kama ini ibarat api dan kalau dipenuhi terus menerus semua
hasrat-hasratnya maka ibarat memberi minyak pada api ini, yang akibatnya adalah
makin membara dan membesarnya api ini. Lalu ada ajaran yang mengatakan
tindaslah kama atau nafsu ini. Tidak, menindasnya tidak menolong sama-sekali,
karena bentuk nafsu atau kama ini tidak dapat ditindas karena sifat-sifatnya
yang tidak dapat dimengerti dan amat misterius, apalagi oleh mereka yang masih
jauh dari jalan spiritual.
Jalan yang benar untuk
menjauhkan kama atau nafsu ini adalah dengan abhyasa atau meditasi, dengan
usaha upaya atau praktek yang berketerusan. Dengan kata lain, seperti yang
dianjurkan oleh Bhagavat Gita, yaitu dengan kendali diri yang disertai dengan
penuh kesadaran atau mawas diri. Dengan kesadaran dan tekanan pada pikiran kita
bahwa sebenarnya indra-indra dan nafsu kita juga bisa diarahkan ke arah yang
positif secara spiritual dan duniawi, yaitu ketenangan dan kekuatan, kesucian
dan kebenaran. Langkah demi langkah, secara perlahan tetapi pasti kita harus
mengarahkan pikiran kita dan mengendalikannya (bukan menghentikannya sama
sekali, tetapi mengendalikannya!) secara positif. Secara perlahan pastikan diri
kita bahwa pemuasan nafsu-nafsu indra-indra kita secara tanpa kendali itu
bukanlah cara dan jalan yang baik, begitupun menindas nafsu ini bukan juga
jalan keluar.
Jalan yang terbaik adalah yang
terletak di tengah-tengah kedua metode tersebut, yaitu kendali-diri dengan
mengendalikan nafsu-nafsu yang beraneka-ragam ini dan mempergunakannya
seperlunya saja dan secara positif. Sadarlah akan suatu pengetahuan, yaitu
tubuh kita ini dibentuk ibarat mata-pisau yang tajam dan peka; pisau itu dapat
dipergunakan untuk tujuan positif seperti memotong sayur-sayuran dan kayu, atau
untuk hal-hal negatif seperti membunuh atau merampok orang. Lalu bagaimana
seharusnya kita gunakan tubuh ini dan semua indra-indranya. Untuk tersesat di
dunia ini tanpa kendali dan terikat selama-lamanya secara duniawi atau untuk
mengabdi dan kembali mengenal Yang Maha Esa. Dalam melakukan kendali diri yang
penuh kesadaran ini, maka setahap demi setahap akan terbuka horizon baru dalam
kehidupan kita dan akan nampak pergantian yang ajaib, misterius dan penuh
dengan mukjizat yang sukar dilukiskan dengan kata-kata karena merupakan suatu
pengalaman yang misterius dan spiritual. Seseorang yang indra-indranya
terkendali dan terpakai secara positif akan menemui pengalaman-pengalaman unik,
karena jiwa dan pikirannya yang bersih akan melakukan kontak-kontak ke
obyek-obyek indranya dengan hasil yang berlainan sifatnya dari yang dialami
selama ini.
Kontak-kontak spiritual akan
berlangsung secara otomatis, ingat pisau yang bermata dua, begitu pun
indra-indra kita dapat dipergunakan secara duniawi dan secara spiritual, suatu
potensi yang tersembunyi tetapi amat dahsyat karena kita tidak tahu akan hal
ini selama kita terjebak dengan yang duniawi. Setelah itu akan timbul, secara
perlahan tetapi pasti, sinar atau penerangan dalam hidup kita. Dan sekali ini
tercapai maka seseorang yang telah hasil kerjanya secara total kepada Yang Maha
Esa tanpa pamrih, akan menjadi seseorang yang tetap bekerja di dunia ini sesuai
dengan kewajibannya, tetapi sama sekali tanpa nafsu atau keinginan duniawi,
karena ia telah mendapatkan sesuatu yang lebih menarik lagi dari semua itu,
sesuatu kekuatan yang misterius dan membahagiakannya secara lahir dan batin, ia
pun akan menjadi pusat dan inspirasi atau penerangan bagi mereka-mereka yang
masuk ke dalam radius pengaruhnya.
Jalan ke arah ini memang
nampaknya sukar untuk manusia, tetapi tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini
seandainya seseorang telah beritikad ke arah itu, karena memang setiap manusia
diberikan potensi yang amat besar untuk melakukannya. Jadi terserah kita lagi,
jalannya memang sukar, dan banyak jatuh-bangunnya, banyak jurang dan jeram yang
menghadang, tetapi Yang Maha Esa sendiri secara "pribadi" akan
menuntun kita, akan membimbing kita dan mengajarkan kita cara-cara mengatasi
semua rintangan ini dan individu-individu yang kuat akhirnya akan sampai
kepadaNya, karena itulah janji Yang Maha Esa kepada kita semua dan itulah
tujuan yang dimaksud olehNya, yang telah ditentukan olehNya. Tanyakanlah
kebenaran akan hal ini kepada mereka-mereka yang dianggap telah mencapai
kesadaran ini, dan semua kebenaran akan dijawab dengan kebenaran. Om Tat Sat.
7. Sebenarnya mengesampingkan pekerjaan-pekerjaan
yang sudah seharusnya itu, adalah tidak benar. Memasrahkan dengan cara tersebut
karena kebodohan, disebut bersifat tamasik (gelap).
Pekerjaan atau perbuatan yang sudah seharusnya menjadi kewajiban seseorang dan merupakan keharusan sehari-hari (tertera jelas dalam pustaka-pustaka Hindu), tidak boleh dikesampingkan dengan alasan apapun juga. Berbuat demikian menandakan kebodohan yang amat dalam dari si pelaku tersebut. Begitupun tindakan seperti dana, tapa dan yagna, berulang-ulang ditekankan agar tidak diabaikan, karena merupakan penyucian dari jiwa dan raga kita.
Tyaga sendiri
terbagi dalam tiga sifat, yaitu tamasik, rajasik dan sattvik. Tyaga yang sejati
adalah yang bersifat sattvik di mana lepas sudah bahkan itikad akan hasil atau
buah dari tyaga itu sendiri. Sedangkan dalam sifat tyaga yang tamasik terlihat
jelas dominasi dari keterikatan (moha), ilusi, kebodohan, kegelapan dan hasrat
untuk mendapatkan imbalan-imbalan tertentu baik secara spiritual maupun duniawi.
Tyaga semacam ini disebut gelap sifatnya. Misalnya: seorang pria meninggalkan
semua pekerjaannya atau kewajiban rumah-tangganya demi seorang wanita atau demi
menuntut suatu kesaktian tertentu untuk tujuan duniawi, ini disebut
cinta-duniawi yang menyesatkan dan bukan tyaga pemasrahan total.
8. Seseorang yang tidak mau bertindak sesuatu karena merasa tindakan itu menyusahkannya atau khawatir akan menjadi derita untuk fisiknya, disebut melakukan tyaga bersifat rajasik. Dan tyaga semacam ini tidak akan menghasilkan keuntungan apapun juga.
Tyaga bersifat rajasik tidak
akan menghasilkan mukti (pembebasan) karena seorang yang melakukan tyaga ini
hanya melakukannya demi menjauhi derita, tantangan hidup dan kesusahan atau
kerja keras.
9. Seseorang yang melakukan sesuatu tindakan seperti yang telah
diwajibkan, oh Arjuna, karena harus dilakukannya, tanpa keterikatan dan pamrih
— tyaga semacam itu dipandang sebagai bersifat sattvik (bersih).
Tyaga yang sejati adalah yang
bersifat sattvik, yaitu tyaga yang tanpa keterikatan, hasil atau buah.
Pekerjaan yang dilakukan ini sudah menjadi kewajibannya sesuai dengan anjuran
dan kaidah-kaidah yang tertulis di buku-buku suci. Dan semua kewajiban ini
dilaksanakan sebagai kewajiban semata tanpa mencari atau mengharapkan sesuatu keuntungan,
imbalan dan rasa egoisme.
10. Seseorang bijaksana yang telah diliputi oleh sifat-sifat
sattva (kesucian), yang keragu-raguannya telah terbuang jauh — seseorang yang
pasrah semacam ini tidak membenci sesuatu tindakan yang tidak menyenangkan,
juga tidak terikat pada suatu tindakan yang menyenangkan.
Seorang tyagi (pelaksana tyaga)
yang telah pasrah total kepada Yang Maha Esa, yang telah menyerahkan diri dan
semua tindakan-tindakannya sekecil apapun perbuatan atau tindakan tersebut
kepadaNya dan telah mencari dan mendapatkan perlindunganNya, tak akan pernah
ragu-ragu dalam bertindak apapun juga. Baik itu tindakan nikmat dan memberikan
kepuasan dan kesenangan ataukah tindakan itu memberikan rasa derita, kegagalan
atau kedukaan, baginya sama saja sifatnya.
Baginya yang wajib adalah
bekerja, dan semua emosi, hasil atau efek dari pekerjaan itu tidak penting
sifatnya karena ia sadar bahwa ia tidak menghasilkan atau memberikan suatu efek
kepada setiap tindakannya, melainkan semua itu sudah diatur oleh Yang Maha
Kuasa, dan terjadilah kehendakNya sesuai dengan keinginanNya, ia hanya alat dan
sebuah alat hanya berkewajiban untuk bekerja sewaktu dipergunakanNya dan tidak
berhak untuk memprotes majikan yang mempergunakannya ataupun menilai hasil
kerja dari alat itu sendiri. Semuanya terserah kepadaNya. Baginya nikmat dan
derita sama saja rasanya, saling mengisi malahan, dan semua itu diterimanya
dengan sama rata dan tanpa banyak mengeluh. Jadi dengan kata lain, Sang Kreshna
Yang Maha Pengasih sedang mengajarkan Arjuna dan kita semua agar menerima dan
memainkan peranan kita masing-masing di dunia ini secara setia dan penuh
semangat. Jangan berduka atau bersuka baik dalam kegagalan maupun dalam
kesuksesan.
Pasrahkan semuanya kepada Yang
Maha Esa!" Karena hanya kehendakNya saja yang akan terlaksana, bukankah
kita tidak tahu mengapa kita dilahirkan di dunia ini, dan sekali kita lahir dan
tumbuh, lalu mengapa harus kita yang mengatur hidup ini, mengapa tidak
dikembalikan semua skenario kehidupan ini kepada Sang Sutradaranya sendiri.
Camkanlah pesan ini dan jadilah sebuah alat yang baik atau seorang pemain
sandiwara kehidupan ini yang baik dan penuh dedikasi.
Seseorang yang bekerja sesuai
dengan kewajibannya sadar bahwa suatu kewajiban yang dilaksanakan tanpa pamrih
akan menuntunnya ke arah penerangan Ilahi, ke arah pembebasan dari ikatan dan
derita duniawi. Seseorang yang secara sejati bekerja tanpa pamrih tidak akan
pernah mau mengkhayal mengharapkan sedikit pun akan penerangan Ilahi, semua
pekerjaan ia lakukan secara tulus dan penuh dengan tekad, yaitu dengan
pemikiran terjadilah kehendakNya semata, dan pekerjaan adalah hukum alam di
dunia ini bagi semuanya, sebagai misi yang diembannya dari Yang Maha Esa.
Itulah kaidah atau hukum spiritual ini — yakinlah akan Yang Maha Esa dan semua
kehendakNya. Tyaga yang sejati berarti bekerja tanpa pamrih, bukan tidak
bekerja sama sekali.
11. Sebenarnya, tidak mungkin bagi seseorang
makhluk yang memiliki raga untuk tidak bekerja secara total. Sebenarnya,
seseorang yang memasrahkan hasil dari setiap pekerjaan atau perbuatannya --
disebut sebagai seorang tyagi.
12. Tidak nikmat, nikmat dan perpaduan keduanya - ketiga sifat
ini adalah hasil dari setiap perbuatan yang akan didapati setelah meninggalkan
dunia ini, bagi mereka-mereka yang tidak menyerahkan perbuatannya. Tetapi bagi
mereka-mereka yang telah menyerahkan hasil perbuatannya, tak ada semua itu.
Seorang tyagi yang sejati adalah seseorang yang tidak mengabaikan pekerjaannnya, tetapi hasil atau buah dari pekerjaannya. Dan di sloka di atas ini Sang Kreshna menyinggung soal hasil atau buah perbuatan seorang sanyasin, yaitu sesorang yang telah memasrahkan secara total dan tanpa pamrih seluruh efek dari perbuatan-perbuatan dan kewajibannya. Bagi orang semacam ini, menurut Sang Kreshna tak akan menghasilkan suatu efek atau buah (karma), karena perbuatan-perbuatannya telah menyatu dengan kehendakNya.
Di Bhagavat Gita sering kita
jumpai istilah-istilah seperti tyaga dan sanyasa, tyagi dan sanyasin, yang
kesemuanya ini sebenarnya adalah istilah-istilah alternatif yang dipergunakan
oleh Sang Kreshna dalam mengajar Bhagavat Gita. Sang Kreshna pada prinsipnya
tidak menganjurkan seseorang agar melepaskan atau mengabaikan pekerjaannya. la
hanya menganjurkan agar terjadi peralihan dari semua kamya-karma (pekerjaan
yang bermotivasi sesuatu) ke nishkama (yaitu pekerjaan tanpa pamrih).
Seseorang yang tidak mempunyai
motif-motif duniawi untuk setiap pekerjaannya adalah ibarat sebuah pohon yang
lebat di tepi sebuah sungai (tempat yang subur). Buah pohon ini pergi ke
orang-orang yang membutuhkannya. Sedangkan orang ini sendiri tidak perlu ke
mana-mana lagi, karena ia sudah tegar dalam kewajibannya dan telah menyatu
dengan Yang Maha Esa.
13. Pelajarilah dariKu, oh Arjuna, lima unsur penyebab,
penyelesaian semua tindakan, seperti yang telah disabdakan dalam doktrin
Sankhya.
14. Tempat bersemayam semua tindakan (raga ini), Sang Jiwa
(Karta) berbagai organ tubuh (karanam), berbagai ragam usaha (cheshta) dan yang
kelima, yaitu takdir (daivam).
Di sloka ini Sang Kreshna mulai
menerangkan tentang lima penyebab atau unsur atau kondisi dari setiap tindakan
sampai selesai atau (akhir dari tindakan/perbuatan tersebut). Yang
pertama adalah adhishthanam, yaitu raga atau badan kita yang merupakan tempat
bersemayam (rumah-tinggal) Sang Jiwa dan berbagai keinginan kita. Yang pertama
ini adalah raga duniawi atau jasad kasar kita. Yang kedua disebut karta atau
sang agen. Siapakah Sang Agen? Tidak lain dan tidak bukan adalah sang jiwa
kita, personalitas dalam raga ini, sang raja ego. Bergabung dengan Sang
Prakriti, Sang Jiwa ini pun lupa pada bentuknya yang Asal dan Asli, yaitu
Atma-Svanipa, dan dalam keangkuhan rasa egoisme ia pun lain berkata
"aku," "akulah yang memiliki ini dan itu," "akulah
yang berbuat," dan lain sebagainya. Dalam mencapai kebebasan jiwa kita,
maka rasa ego ini harus dilepaskan agar tersingkaplah yang asli ini. Yang
ketiga disebut karanam atau instrumen/alat. Alat-alat ini adalah kesepuluh
indra-indra, pikiran, rasa intelek, dan ahankara kita. Yang keempat adalah
cheshta, yaitu usaha, fungsi prana atau energi-vital atau nafas dalam raga
kita. Yang kelima disebut daivam, takdir, sesuatu yang tak terjangkau oleh
manusia itu sendiri, pada hal ini yang menentukan dan menjadi jalan hidup kita
sebenarnya; yang menghasilkan setiap usaha dan efeknya yang berhubungan dengan
usaha atau perbuatan tersebut masing-masing. Daivam atau takdir ini adalah yang
mengatur semua tindak-tanduk kita.
Kelima unsur penting ini adalah
kelima instrumen yang menjadi penyebab dari semua tindakan kita baik yang
positif maupun yang negatif, baik atau buruk, dalam perjalanan hidup kita.
15. Apapun tindakan yang diambil seseorang melalui raganya,
kata-kata dan pikirannya, baik yang benar maupun yang salah - kelima unsur
inilah penyebabnya.
16. Dengan begitu, seseorang yang salah pengertiannya, yang
karena tidak terlatih kesadarannya, memandang dirinya sebagai satu-satunya
pelaku (setiap perbuatannya) -- sebenarnya orang-orang ini tidak melihat!
Seseorang yang berpikir sebagai
pelaku tunggal dari setiap tindakannya adalah seorang yang egois, yang pandir
dan terlalu buta untuk menyadari atau melihat suatu kenyataan Ilahi. Orang
semacam ini disebut sebagai seorang yang gagal melihat hal yang sebenarnya.
17. Seseorang yang bebas dari itikad, egoisme, yang pengertian (intelektualnya) tidak tertutup, walaupun ia membunuh orang-orang ini, ia tidak membunuh, atau terikat (oleh perbuatan-perbuatannya).
Arjuna boleh saja membantai para
Kaurawa (Kurawa = bahasa Jawa), dan selama ia berbuat itu bukan karena ego
pribadinya, tetapi melainkan karena kewajibannya untuk menegakkan keadilan dan
kebenaran, maka selama itu juga segala perbuatannya tidak akan mengikat dia dan
di mata Sang Kreshna (Yang Maha Esa), ia bukan seorang pembunuh tetapi hanya
sebuah alat dariNya belaka, tidak lebih dan tidak kurang.
Seseorang yang telah berada di
atas kesadaran bahwa "akulah yang sebenarnya berbuat," dan telah
sadar akan Sang Atman, Sang Jati Diri, dan yang telah dapat mengatasi
pikiran-pikiran perbuatannya, maka orang ini tidak dapat dipuji atau dihukum
untuk setiap perbuatan-perbuatannya. Tetapi jangan sekali-kali menyalah gunakan
sloka ini, karena bagi yang rasa ego, atau fanatismenya (fanatisme juga adalah
suatu bentuk ego yang ekstrim!) masih tinggi, atau yang masih kurang
kesadarannya, maka penghayatan yang salah akan berakibat amat fatal bagi
sesamanya. Lalu bagaimanakah cara yang terbaik untuk memahami sloka ini?
Bhagavat Gita menekankan bahwa ada dua faktor penting yang harus diperhatikan
dalam bertindak atau berbuat sesuatu, yaitu kebebasan dari rasa egoisme dan
kesadaran yang tidak ternoda! Camkanlah hal ini secara sejati dan dengan
hati-nurani yang bersih dan murni berdasarkan ratio atau intelektual anda
sebelum bertindak sesuatu seperti yang dianjurkan di sloka ini. Mereka yang
telah secara total berlindung di dalam Yang Maha Esa dan pasrah dengan segala
kehendakNya, yang telah melewati rasa dualisme yang bertentangan, akan tahu
secara sadar (sejati) akan makna dan perbuatan yang tertulis di sloka ini!
18. Pengetahuan, obyek pengetahuan (hal-hal yang
diketahui), subyek yang mengetahui (yang mengetahui), adalah tiga unsur
stimulus ke arah setiap tindakan. Sang alat, tindakan, dan sang jiwa adalah
tiga unsur gabungan dari setiap tindakan.
Setiap tindakan ada dua penyebabnya:
subyektif dan obyektif. Yang subyektif ini dimaksudkan dengan
rangsangan-rangsangan awal dari setiap tindakan, yaitu suatu kondisi sebelum
suatu tindakan diambil, yaitu konsep yang tergambar dahulu dalam benak pikiran,
yang lalu ditransformasikan dalam bentuk tindakan ragawi. Keadaan ini disebut
karmachodana, dan hal ini terdiri dari tiga unsur, yaitu pengetahuan, yang
diketahui dan yang mengetahui.
Sedangkan yang obyektif disebut karmasangraha. Sewaktu sesuatu tindakan dilakukan, maka ada tiga faktor yang menyertainya: karana, yaitu alat, instrumen atau indra-indra kita; kemudian subyek tindakan/aksi, yaitu karta, Sang Jiwa; dan akhirnya, obyek tindakan/aksi, yaitu karma itu sendiri, yaitu akhir atau tujuan yang ingin dicapai oleh tindakan yang dimaksud. Dengan kata lain, karmachodana ini adalah perencanaan secara mental dan karmasangraha adalah perbuatan atau tindakan hasil dari perencanaan secara aktual.
Sedangkan yang obyektif disebut karmasangraha. Sewaktu sesuatu tindakan dilakukan, maka ada tiga faktor yang menyertainya: karana, yaitu alat, instrumen atau indra-indra kita; kemudian subyek tindakan/aksi, yaitu karta, Sang Jiwa; dan akhirnya, obyek tindakan/aksi, yaitu karma itu sendiri, yaitu akhir atau tujuan yang ingin dicapai oleh tindakan yang dimaksud. Dengan kata lain, karmachodana ini adalah perencanaan secara mental dan karmasangraha adalah perbuatan atau tindakan hasil dari perencanaan secara aktual.
19. Pengetahuan, aksi (tindakan) dan sang pemeran dikatakan
dalam pengetahuan tentang sifat-sifat (guna-guna dalam filosofi Sankhya), ada
tiga jenis saja, sesuai dengan perbedaan sifat-sifat (guna-guna) ini.
Dengarkanlah juga dengan seksama mengenai hal ini.
20. Sesuatu pengetahuan dengan mana seseorang melihat Yang Maha
Esa dan Tak Terbinasakan di dalam semua makhluk — tak terpisah-pisah di dalam
keterpisah-pisahan - ketahuilah pengetahuan tersebut bersifat sattvik (bersih).
Dalam sesuatu kepercayaan yang
bersifat sattvik, maka Yang Maha Esa dianggap Satu-Satu-Nya Inti Kehidupan yang
hadir dalam setiap makhluk dan benda di alam semesta ini. Yang Maha Esa ini
juga disebut sebagai Avyayam, yaitu Tak Terbinasakan, juga disebut sebagai
Avibhaktam, yaitu Keseluruhan Yang Tak Terpisahkan.
Yang Maha Esa itu hadir secara
sama rata dalam setiap makhluk, benda dan manusia. Baik dalam seorang kaya atau
miskin, dalam seorang kriminal maupun dalam seorang pendeta, hadirlah Yang Maha
Esa secara sama dalam setiap jiwa ini, tanpa diskriminasi atau perbedaan
sedikitpun. Walau di alam semesta ini terdapat jumlah jiwa-jiwa yang tak
terbatas dan terhitung jumlahnya, pada hakekatnya semua jiwa-jiwa ini ber
Intisari atau berasal dari Satu, yaitu Yang Maha Esa. Jadi dengan kata lain,
semua jiwa ini sifatnya Eka atau Satu dan identik dengan Yang Maha Esa.
Pengetahuan atau kesadaran semacam ini disebut bersifat sattvik.
21. Pengetahuan yang melihat berbagai-ragam kelainan dalam
berbagai makhluk-mahuk, setiap makhluk lain dari yang lainnya, yang
beraneka-ragam pengetahuan itu ketahuilah olehmu sebagai rajasik.
Seseorang yang berpengetahuan
rajasik memandang setiap makhluk atau benda di dunia ini sebagai terpisah-pisah
atau berdiri sendiri-sendiri. Bagi orang semacam ini setiap individu makhluk,
atau benda adalah unsur yang berbeda-beda. Pengetahuan rajasik adalah
pengetahuan tentang nama dan rupa seseorang belaka, bukan pengetahuan tentang
Intisari yang sejati. Ibarat seseorang yang tahu bahwa sesuatu benda disebut
tempayan, tetapi tidak tahu bahwa benda tersebut dibuat dan berasal dari apa.
Ibarat seseorang mengetahui apa itu lampu, tetapi tidak mengenal unsur cahaya
di dalamnya, atau ibarat mengenal yang namanya baju tetapi tidak tahu unsur apa
yang menjadi bahan dasar dari baju tersebut.
Bagi seorang yang berpengetahuan
rajasik semuanya nampak berbeda-beda dan berlainan derajatnya. Bagi orang
semacam ini status seseorang dewa, brahmana atau seekor tikus itu lain, padahal
sabda Sang Kreshna semua yang ada di alam semesta ini berintikan satu unsur
yang sama, yaitu Yang Maha Esa.
22. Pengetahuan yang tergantung pada suatu unsur atau obyek
yang seakan-akan adalah segala-galanya, tanpa mau tahu akan asal-usul unsur
tersebut, tanpa mau menyadari yang realitas, dan berpandangan sempit - disebut
sebagai pengetahuan yang tamasik.
Pengetahuan yang bersifat
tamasik adalah pengetahuan yang palsu dan tak berdasar sama sekali. Orang yang
berpengetahuan ini amat sempit pandangannya. la melihat suatu obyek kecil
sebagai sesuatu yang amat penting dan lalu bergantung kepada obyek tersebut
seakan-akan tidak ada lagi yang lainnya di dunia ini. Misalnya seseorang yang
mencintai seorang wanita cantik dan menganggap wanita tersebut sebagai
segala-galanya di dunia ini, atau seseorang berpikir bahwa keluarganya adalah
di atas segala-galanya di dunia ini, Tuhan lalu dinomorduakan. Hal semacam ini
disebut moha (keterikatan) dan keterikatan ini disebut pengetahuan yang
bersifat tamasik atau gelap.
Hal yang sama berlaku sekiranya
seseorang hanya tergantung pada pesta-pesta pora, makanan atau kenikmatan dan
keterikatan duniawi lainnya, yang memberikannya kenikmatan yang bersifat
sementara dan merasa itulah arti kehidupan dunia. Pengetahuan semacam ini
adalah hampa dan irasional. Pengetahuan tentang Sang Atman adalah pengetahuan
yang sejati. Pengetahuan tentang logika duniawi yang berdasarkan perbedaan atau
diskriminasi adalah rajasik. Sedangkan pengetahuan yang tanpa dasar, tanpa
pengorbanan atau pengertian pada Yang Maha Esa adalah sifat tamasik.
23. Suatu tindakan yang berdasarkan moral, yang lepas dari
keterikatan, yang dilakukan tanpa mengharapkan suatu pamrih dan yang dilakukan
bukan karena cinta atau benci — tindakan tersebut adalah sattvik (bersih).
Suatu tindakan, aksi atau
perbuatan yang bersih atau yang benar dan sejati disebut sattvik, yaitu
perbuatan yang berdasarkan nilai-nilai moral, kewajiban dan prikemanusiaan.
Pekerjaan seperti bekerja sehari-hari, mencari nafkah secara jujur demi
kehidupan keluarga adalah pekerjaan yang bersifat sattvik. Seorang ibu yang
mengasuh anak-anaknya dengan baik adalah seorang yang sattvik dan bekerja
sattvik. Pekerjaan-pekerjaan atau perbuatan yang dianjurkan pustaka-pustaka
kuno seperti yagna, tapa dan dana adalah perbuatan sattvik.
Berbicara jujur, menolong yang
harus ditolong, memuja Yang Maha Esa adalah perbuatan sattvik yang harus
dilakukan. Dan semua pekerjaan ini harus dilakukan tanpa mengharapkan kembali
sesuatu pamrih atau imbalan dalam bentuk apapun juga baik dari siapapun maupun
dari Yang Maha Esa atau para dewa-dewa.
Semua pekerjaan ini harus lepas
dari rasa ego dan keterikatan, secara total harus dihayati bahwa yang berbuat
ini sebenarnya hanya alat dari Yang Maha Esa, tidak lebih dan tidak kurang.
Setiap pekerjaan harus dikerjakan lepas dari hawa-nafsu dan dengan
tanggung-jawab dan penuh kewajiban terhadap sesama makhluk dan terutama
terhadap Yang Maha Esa, karena Ialah sumber atau asal-mula kehidupan ini.
24. Tetapi suatu tindakan yang dilakukan secara penuh dengan
ketegangan (stres) oleh seseorang yang ingin memuaskan keinginan-keinginannya,
dan yang berdasarkan kepentingan dirinya — disebut bersifat rajasik (mementingkan
diri pribadi).
Tindakan atau perbuatan rajasik
selalu bercirikan kepentingan pribadi, dan tindakan ini sebenarnya tidak akan
menghasilkan suatu keuntungan spiritual, melainkan akan menghasilkan duka atau
penderitaan. Tindakan-tindakan rajasik ini memperlihatkan tanda-tanda khas
seperti:
a. Tindakan-tindakan ini selalu
dilakukan secara bergegas secara menggebu-gebu, dan penuh semangat yang
menderu-deru, tetapi diikuti oleh rasa tegang yang luar biasa atau stres berat
dan penghamburan energi secara sia-sia.
b. Pekerjaan ini dilakukan karena pengaruh karma (nafsu) atau keinginan-keinginan duniawi untuk mendapatkan kepuasan seksual, harta-benda, kedudukan, kekuasaan, wanita dan lain sebagainya.
b. Pekerjaan ini dilakukan karena pengaruh karma (nafsu) atau keinginan-keinginan duniawi untuk mendapatkan kepuasan seksual, harta-benda, kedudukan, kekuasaan, wanita dan lain sebagainya.
c. Tindakan-tindakan ini
dilakukan berdasarkan kepentingan atau kepuasan pribadi ego, kesombongan
pribadi, dan ini semua disebut ahankara.
25. Tindakan yang dilakukan berdasarkan moha (cinta dan keterikatan duniawi) tanpa memperhitungkan akibat-akibatnya - yang merugikan dan melukai yang lain - yang tak memikirkan kemampuan pribadinya - disebut sebagai tindakan atau perbuatan yang tamasik.
Ciri-ciri perbuatan atau
tindakan tamasik adalah:
a.
Dikerjakan karena keterikatan
akan hal-hal yang sifatnya duniawi dan gelap. Orang-orang yang mengerjakan
perbuatan-perbuatan ini sudah jauh tenggelam dalam kegelapan duniawi.
b.
Dilakukan tanpa memikirkan
akibat-akibatnya, yang bukan saja dapat menghancurkan dirinya, tetapi juga
orang-orang atau makhluk-makhluk lainnya. Semua ini dilakukan tanpa pikir
panjang karena mabuk kekuasaan, karena kenikmatan dunia dan lain sebagainya.
c.
Dan
perbuatan-perbuatan ini dilakukan tanpa
melihat atau sadar akan keterbatasan orang yang
melakukan ini, karena jalan pikiran yang sudah gelap dan buntu. Dan kalau ia
gagal, ia akan menempuh segala jalan baik yang bersifat kekerasan maupun yang
gelap, walaupun itu harus dibayar mahal olehnya.
26. Seseorang yang bertindak lepas dari keterikatan, yang pembicaraannya jauh dari rasa egois yang penuh dengan tekad yang teguh dan antusiasme yang tak tergoyahkan oleh sukses atau kegagalan - orang ini disebut sattvik karta (orang yang benar atau bersih perbuatannya).
Seorang
sattvik karta ini benar-benar bertindak sesuai dengan kewajibannya, menerima
semua kehendakNya. Dalam menghadapi sukses atau kegagalan ia tenang-tenang
saja, dalam menghadapi yang jahat dan suci, yang busuk dan bersih, ia sama saja
sikapnya. la maju terus dengan tekad yang amat teguh, yaitu selalu bertindak
tanpa pamrih, hanya demi kebenaran dan kewajibannya terhadap Yang Maha Esa
semata. Orang semacam ini memiliki beberapa tanda atau ciri khas:
a. la selalu
bertindak tanpa pamrih dan keterikatan. la tidak membutuhkan pujian, jasa,
sanjungan, keagungan dan kehormatan duniawi untuk apa saja yang dilakukannya.
b. la tidak
membual akan apa yang dilakukannya. Tak mau ia berkata bahwa tanpa dia sesuatu
hal mustahil terjadi. Setiap patah katanya jauh dari rasa egoisme atau demi
kepentingan diri sendiri.
c. la penuh
dengan kesabaran dan semangat yang tinggi. Dalam setiap halangan ia penuh
dengan tekad, berjuang terus dan tidak patah semangat.
d. la
memiliki rasa sama, yaitu selalu bersikap sama baik dalam
menghadapi keuntungan maupun kerugian, baik dalam kesenangan maupun
penderitaan. Tak tersentuh ia oleh kemenangan dan tak terganggu oleh kekalahan,
sama dalam sukses maupun kegagalan.
27. Seseorang yang terombang-ambing oleh
kepentingan nafsunya, yang mencari imbalan dari hasil perbuatannya, yang
serakah, merugikan yang lainnya, yang tidak bersih (perbuatannya), yang
terombang-ambing oleh kesenangan dan penderitaan -- orang ini disebut seorang
rajasik karta.
Seorang rajasik karta mempunyai beberapa tanda dan sifat-sifat tertentu seperti:
a. Ia tenggelam dalam nafsu duniawi beserta segala kenikmatannya. la terikat pada indra-indranya.
b. la selalu
memerlukan imbalan untuk setiap perbuatannya. Setiap tindakannya penuh dengan
motivasi tertentu.
c. Ia amat
serakah.
d. la bersifat
brutal, sifatnya ini selalu merugikan, melukai dan menyakiti orang lain, atau
pun makhluk-makhluk lain,
e. Dalam setiap
sukses dan kemenangan ia cepat gembira, dalam kegagalan dan kekalahan ia cepat
putus asa.
28. Seorang yang tak stabil, kasar, keras-kepala, penuh
kepalsuan, beritikad jahat, malas, tak punya harapan, mudah putus-asa, dan
selalu menunda-nunda sesuatu -- disebut seorang tamasik.
Seorang tamasik nampak aneh atau
eksentrik dan tak berbudaya dalam tingkah-lakunya. Hati atau pikirannya tidak
tertuju pada tindakan-tindakannya. la juga pandir dan keras kepala. la penuh
tipu-daya dan licik atau penuh dengan kepalsuan. la gemar menunda-nunda sesuatu
dalam tindakan dan perbuatannya, dan sering membatalkan sesuatu yang akan
dikerjakan dengan alasan-alasan tertentu. la mudah putus asa dan orang dengan
sifat-sifat ini bekerja atau bertindak dengan motif-motif kejahatan dan
berdasarkan pengaruh jahat dan iblis. la bisa saja berwajah meyakinkan dan
hidup mewah dan necis, tetapi secara kejiwaan ia tak berbudaya dan memiliki
semua karakter tamasik di dalam dirinya.
29. Dengarkanlah olehmu, oh Arjuna, diterangkan secara lengkap
dan berulang-ulang, ketiga bagian, yang didasarkan pada ketiga guna
(sifat-sifat) dari buddhi (intelektual) dan dhriti (kebulatan tekad).
Ada tiga macam atau jenis buddhi
(intelektualitas atau kesadaran manusia). Dan juga ada tiga jenis sifat dari
dhriti, yaitu tekad atau suatu keputusan tetap yang diambil seseorang
berdasarkan kadar intelektualitasnya, atau kadar kesadaran dan pengertiannya.
Buddhi dan dhriti ini sangat
dekat dengan setiap tindakan yang kita ambil. Buddhi menganalisa apa yang harus
dilaksanakan seseorang dalam setiap aksi, sedangkan dhriti memutuskan dan
menyelesaikan suatu aksi atau tindakan sehingga selesailah atau tuntaslah
perbuatan tersebut. Buddhi dengan kata lain adalah suatu kekuatan yang dapat
membedakan antara yang baik dan buruk, yang salah dengan yang benar.
Sering sekali kita manusia
memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk ditunjukkan jalan yang benar dalam
menghadapi rintangan-rintangan di depan kita. Yang memohon ini sebenarnya
adalah suatu faktor pengertian atau kesadaran, dan ini disebut buddhi
(intelektualitas). Tindakan selanjutnya berdasarkan pengertian tersebut adalah
yang didasarkan pada kebulatan tekad atau suatu keputusan yang tuntas, dan ini
secara keseluruhan disebut dhriti.
30. Buddhi yang menyadari akan pravritti (tindakan yang benar)
dan nivritti (tindakan yang tidak harus dilakukan) - apa yang harus dilakukan
dan apa yang tidak harus dilakukan, apa yang harus ditakuti dan apa yang tidak
harus ditakuti, perbuatan dan pekerjaan apa yang mengikat dan apa yang
membebaskan — pengertian (buddhi) tersebut, oh Arjuna, adalah sattvik (suet dan
bersih).
Sloka di atas jelas sekali
pengertiannya dan kita manusia seharusnya tahu akan apa yang harus kita lakukan
dan apa yang harus kita jauhi dan cegah. Siapakah sebenarnya yang harus
ditakuti dalam hidup ini dan siapa pula yang harus kita lawan dan hadapi. Lebih
dari itu pengertian atau kesadaran yang bersih akan memberikan pengetahuan akan
apa yang mengikat secara duniawi dan apa saja yang akan melepaskan kita dari lingkaran
penderitaan dan karma kita.
31. Sesuatu yang diketahui secara menyimpang, secara salah —
tentang dharma dan adharma (yang betul dan salah), tentang apa yang harus
diperbuat dan yang tidak harus dilakukan - pengertian semacam itu, oh Arjuna,
bersifat rajasik.
Sesuatu pengertian atau buddhi
yang bersifat rajasik yang terpengaruh sifat-sifat raja ini adalah suatu
pengertian berdasarkan konsep yang salah atau menyimpang karena berdasarkan
semangat egoisme. Pengertian semacam ini selalu mencampur-adukkan yang baik dan
yang buruk. Sedangkan pengertian sattvik akan tegas dalam keputusan dan
pengertiannya. Buddhi secara rajasik sering melakukan perbuatan salah dan
menyimpang karena keputusan yang diambil selalu berdasarkan nilai-nilai yang
salah persepsinya. Keputusan semacam ini mencampur-adukkan kewajiban dengan
kesenangan, benar dengan salah, dan lain sebagainya dan menganggap semua itu
adalah tindakan yang benar. Bagi seorang yang bersifat rajasik, nilai-nilai
kebenaran jadi kabur penghayatannya.
32. Buddhi yang terbungkus oleh kegelapan, yang berpikir bahwa
adharma (kesalahan) sebagai dharma (benar), dan melihat semuanya secara tidak
benar - buddhi (atau pengertian) ini, oh Arjuna, adalah tamasik.
Suatu pengertian yang bersifat
tamasik, malahan mengacaukan semuanya, semua nilai-nilai moral bisa saja jadi
kacau-balau oleh pola pemikiran semacam ini. Semua ini karena kegelapan yang
menyelimuti pengetahuan orang yang bersifat tamasik ini. Yang salah malahan
terasa benar baginya. Buddhi ini tidak sadar atau tahu mana yang benar dan mana
yang salah. Bagi seorang tamasik, pemujaan kepada Yang Maha Esa itu salah,
bersikap anti-Tuhan dan anti-kebenaran malahan benar jadinya. Baginya kebenaran
akan hidup dan dunia ini tidak ada hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa.
Orang-orang semacam ini lebih condong ke arah kekuatan-kekuatan gelap.
33. Suatu tekad atau keputusan (yang diambil seseorang) yang
tidak terombang-ambing sifatnya, melalui yoga atau konsentrasi pengendalian
aktivitas-aktivitas pikiran, pernafasan dan indra-indranya — tekad tersebut, oh
Arjuna, adalah tekad (atau keputusan) yang sattvik sifatnya.
Tekad atau keputusan ini disebut dhriti. Tekad yang bersih dan sattvik karena:
• bersifat tegas dan tidak mudah digoyahkan, alias stabil,
• diperkuat atau didasari oleh latihan-latihan dan konsentrasi yoga,
• mengendalikan secara benar aktivitas-aktivitas pikiran, pernafasan (meditasi) dan indra-indranya. Orang ini lalu mempunyai potensi lahir-batin yang amat kuat, tegas, teguh pendirian dan raganya.
Tekad yang bersifat sattvik ini,
mengendalikan pikiran atau jiwa kita ke arah pengetahuan akan tenaga-tenaga
yang tersembunyi dan juga potensi-potensi yang tak nampak tetapi sebenarnya
banyak terdapat dalam diri kita. Juga akan terbuka potensi dan kekuatan yang
ada di alam semesta ini yang dapat dikaruniakan kepada orang yang teguh, yang
penuh dedikasi kepadaNya semata. Tekad sattvik kemudian menimbulkan kendali
pada pemikiran kita, yang kemudian mengendalikan setiap tindakan kita, sehingga
kita pun berubah menjadi sattvik, tanpa pamrih. Hanya bertindak karena harus
dan karena kewajiban yang bersifat dedikasi semata.
Tekad yang bersih ini
mendisiplinkan pikiran, nafas, dan indra-indra kita, dan diarahkan semua ini
ketujuan yang benar. Indra-indra kita akan terkendali secara otomatis secara
bertahap. Dan ini bukan ilusi, tetapi kenyataan yang telah dialami oleh
mereka-mereka yang telah bersifat sattvik, walaupun dalam abad modern ini.
34. Seseorang yang bertekad kuat pada dharma (kewajiban), pada
kama (kenikmatan), dan pada artha (harta) tetapi menginginkan imbalan untuk
tekadnya ini — tekad semacam ini, oh Arjuna, adalah rajasik.
Tekad yang bersifat rajasik
adalah suatu tekad yang hanya dilakukan untuk suatu imbalan tertentu.
35. Sesuatu tekad yang diambil seseorang, yang berasal dari
kebodohan, terlalu banyak tidur, ketakutan, kesusahan, depresi dan kepentingan
diri sendiri --tekad tersebut, oh Arjuna, bersifat tamasik (gelap).
Seseorang yang bersifat tamasik
sangat keras sifatnya, tetapi kekerasannya bersifat ngawur, karena berdasarkan
kemalasan dan kebodohan. Tindakan-tindakannya hanya berdasarkan opini sendiri
yang didasarkan pada sifat-sifat pribadinya yang dominan dan serba gelap. la
pun selalu dekat dengan rasa takut, depresi, penderitaan dan selalu berada di
dalam lingkaran gelap.
36. Dan sekarang dengarlah dariKu, oh Arjuna, tiga bentuk kebahagiaan. Kebahagiaan ini, bagi seseorang yang mempelajarinya (mempraktekkannya), akan menghasilkan kebahagiaan yang mengakhiri penderitaannya.
37. Yang terasa bagaikan racun pada awalnya
tetapi serasa air-surgawi pada akhirnya, dan yang terpancar dari pengertian
yang murni dari Sang Atman -kebahagiaan tersebut dikatakan bersifat sattvik
(bersih).
Kebahagiaan sattvik yang sejati timbul dari kesadaran diri atau dari penampilan/wahyu atau wangsit dari Sang Atman pada diri kita. Tetapi kebahagiaan ini tidak mudah didapat karena harus dipelajari dan dipraktekkan untuk jangka waktu yang lama yang tidak dapat ditentukan oleh seseorang, dan harus diikuti oleh kepasrahan total kepada Yang Maha Esa. Ada tiga ciri khas sattvik-sukha (kebahagiaan sattvik) ini:
1. Dicapai dengan abhyasa (praktek dan usaha spiritual seperti pemujaan dan meditasi pada Yang Maha Esa secara berkesinambungan).
2. Sangat sukar dan pahit rasanya pada permulaan ini dilakukan, tetapi terasa nikmat dan manis pada akhirnya.
3. Tidak didapatkan dari suatu unsur luar raga kita, tetapi terpancar keluar dari diri sendiri yang sudah bersih dari awan-awan gelap dan kebodohan, terpancar keluar dari lubuk jiwa kita yang paling dalam. Sang Atman, Sang Jati Diri kita Yang Sejati akan memancarkan kenikmatan Ilahi ini secara langsung pada waktunya.
Sattvik-sukha ini bersifat ananda, yaitu bersifat amat menenangkan jiwa, suatu kebijaksanaan atau kesadaran yang amat menentramkan dan membahagiakan jiwa kita.
38. Sesuatu yang terjadi karena kontak-kontak indra dan
obyek-obyeknya (vishaya), yang pada mulanya, terasa sebagai air-surgawi, tetapi
pada akhirnya terasa sebagai racun - kebahagiaan atau sukha ini dikatakan
sebagai rajasik.
Kenikmatan atau kebahagiaan
rajasik itu terasa manis seperti amrita (air-surgawi) pada mulanya, karena
memang bersifat duniawi dan tercipta akibat hubungan antara obyek-obyek sensual
dan indra-indra kita. Tetapi sesudah itu berakibat penderitaan yang amat menyakitkan.
Semua kenikmatan duniawi baik itu secara seksual, maupun melalui pesta-pora dan
hidup mewah terasa nikmat pada mulanya tetapi selalu terasa pahit pada
akhirnya, karena tidak disertai oleh nilai-nilai moral yang sejati, yaitu demi
dan untuk Yang Maha Esa semata, tetapi demi kesenangan dan kenikmatan pribadi,
dan ini disebut kebahagiaan rajasik, yaitu bersifat sementara saja.
39. Kenikmatan yang pada mulanya dan kemudian selanjutnya
menyesatkan sang jiwa, dan yang timbul dari tidur, kemalasan dan kekurangan
perhatian --kenikmatan tersebut dikatakan tamasik (gelap).
Kenikmatan tamasik sudah
menyesatkan dan menderitakan seseorang dari awal-mula dan selanjutnya pada
akhirnya tetap mendatangkan penderitaan. Seseorang yang terbius secara tamasik
ini tenggelam dalam kenikmatan yang diakibatkan oleh kebodohan,
kekurang-pengetahuan, dan kekacauan jiwa-raganya.
40. Tak ada satu makhluk pun, baik di bumi atau juga di antara
para disvarga-loka, yang bebas dari ketiga guna (sifat-sifat Prakriti) ini,
yang lahir dari Prakriti (alam).
41. Mengenai para Brahmin, Kshatrya, Vaishya dan para Sudra, oh
Arjuna, aktivitas-aktivitas mereka ini telah dijelaskan, sesuai dengan
guna-guna yang lahir dan sifat sejati mereka.
Svabhava, atau sifat seseorang,
adalah pembawaan karma seseorang atau sesuatu makhluk dari kehidupan masa
lampaunya. Keempat varna (sistim kasta) manusia pun terpengaruh oleh sifat atau
guna-guna ini, dan semua itu mempengaruhi cara kerja atau sifat perbuatannya.
Svabhava dengan begitu menentukan suatu kewajiban atau perbuatan seseorang
berdasarkan guna-guna yang dominan dalam orang tersebut. Kewajiban setiap varna
dengan kata lain datang dari Prakriti itu sendiri.
Sattva dominan dalam seseorang
yang ditakdirkan menjadi Brahmin sejati, raja dominan dalam seorang Kshatriya,
dan kemudian setelah sifat raja ini menyusul dua sifat, yaitu sattva dan tama
dalam Kshatriya. Dalam Vaishya yang dominan adalah unsur atau sifat raja plus
tama, unsur sattva menyusul kemudian.
Dalam Shudra, unsur yang dominan
adalah tama, kemudian menyusul raja dan terakhir sattva. Tetapi ingat dalam
naungan Sang Atman, setiap makhluk dan manusia adalah sama, yaitu hanya satu
unsur, yaitu Sang Atman Sendiri. Dalam IntiNya yang sejati dan secara spiritual
kita semua adalah berasal dari satu unsur yang tunggal. Satu dalam perjalanan,
tujuan dan takdir kita. Tetapi di dalam olahan sang Prakriti kita berbeda-beda,
dan ingat sistim varna atau kasta adalah produk dari sang Prakriti ini!
Semua bentuk kasta-kasta ini
adalah ibarat alat-alat atau anak-anak dari Yang Maha Esa. Kepandaian, ilmu
pengetahuan, dan kekayaan dunia lahir dan batin, dibagikan secara sama rata
kepada masing-masing kasta ini sesuai dengan kewajiban-kewajibannya di dunia
ini untuk mencapai Yang Maha Esa kembali.
Tetapi tidak ada perlombaan
kekuasaan atau kedudukan atau diskriminasi yang dianjurkan di antara
mereka-mereka ini. Yang ada hanya sifat-sifat dominan pada seseorang, dan
sifat-sifat inilah yang menentukan kewajibannya dan kastanya. Jadi kasta itu
ditentukan oleh jenis sifat, pekerjaan dan perbuatan seseorang sehari-hari dan
bukan karena status kelahiran seseorang. Seseorang dalam perjalanan hidupnya di
dunia ini bisa raja berubah dari seorang yang lahir secara (atau tidak) Vaishya
menjadi seorang brahmana sesuai dengan panggilan atau ketentuan Ilahi, menurut
takdirnya masing-masing, dan begitupun sebaliknya. Mukti atau pembebasan
spiritual terbuka untuk siapa saja tanpa pandang bulu, yang penting seseorang
itu mau bertindak tanpa pamrih, dan penuh dengan dedikasi yang luhur terhadap
Yang Maha Esa.
Sekali lagi ditegaskan di sini,
Svabhava adalah sanskara (penderitaan duniawi) yang diakibatkan oleh perbuatan
dari kelahiran yang silam. Sesuai dengan sanskara ini, maka dalam hidup ini
terciptalah pada seseorang unsur-unsur sattva, raja dan tama. Dan sesuai atau
berdasarkan guna ini timbullah keempat sistim varna (kasta) atau jenis-jenis
profesi dan perbuatan masing-masing orang, bukan diskriminasi atau perbedaan
kekayaan/kedudukan/status seseorang. Status seseorang, makhluk dan benda di
mata Yang Maha Esa adalah sama saja, yaitu satu: sebagai alatNya belaka, tidak
lebih dan benda tidak kurang. Om Tat Sat.
42. Ketenangan, pengendalian diri, disiplin spiritual,
kebersihan lahir-batin, kesabaran, menjunjung tinggi kebenaran, kebijaksanaan,
pengetahuan dan iman -- adalah kewajiban seorang Brahmin, lahir dari sifatnya
yang pribadi.
Keempat sistim varna ini
sebenarnya kalau ditinjau dengan kaca-mata yang benar, maka melambangkan suatu
fungsi sehat dari suatu tata-negara dalam satu negara yang baik dan bijaksana
pemerintahannya. Negara yang sehat dan kuat, aman dan makmur adalah suatu
negara di mana kaum brahmana, kshatriya, vaishya dan sudra bersatu, bergabung,
bahu-membahu bekerja demi kesejahteraan yang lainnya, dan bukan saling mendepak,
menjatuhkan atau merendahkan lainnya.
Tetapi inti dari sistim varna
atau kasta ini sebenarnya adalah kaum Brahmin. Bukan harta-benda atau jumlah
tentara yang melimpah-ruah, bukan perencanaan ekonomi yang fantastis, atau
pidato-pidato kosong yang muluk-muluk para politisi, tetapi kehidupan
orang-orang awam yang berdedikasi, bermoral tinggi dan beragama secara saleh,
yang sebenarnya menjadi dasar atau sendi utama dari varna atau kasta-kasta
lainnya.
Dan orang-orang yang sederhana
tetapi bermoral tinggi inilah yang sebenarnya yang disebut brahmin-brahmin
dalam arti yang sebenarnya, yang orientasinya selalu dalam menegakkan dharma
dan bhaktinya. tanpa pamrih demi Yang Maha Esa dan masyarakat banyak. Dan kalau
masyarakat banyak bermoral baik, maka negara itu akan baik, sehat dan kuat.
Tetapi seandainya masyarakat itu sakit, maka negara itupun akan sakit dan
lemah. Semakin banyak yang bersifat brahmin dalam suatu masyarakat atau negara
makin jayalah negara itu, karena akan selalu jauh dari unsur-unsur yang merugikan.
Seorang brahmin sejati adalah seorang guru bagi sesamanya.
43. Keberanian, semangat, ketegaran, pandai berunding, tidak
bersifat pengecut (tidak lari dari suatu peperangan), bermurah-hati dan
berwibawa sebagai pemimpin (sifat asli seorang pemimpin) - semua ini adalah
kewajiban seorang kshatriya yang lahir dari sifat-sifat pembawaannya.
Brahmin yang sejati adalah guru,
dan kshatriya yang sejati adalah pengayom masyarakat yang bersedia mati setiap
saat ia dibutuhkan demi tegaknya kebenaran, kedamaian dan kemajuan atau
kemakmuran suatu negara dan masyarakat. Orang-orang yang berjiwa kshatriya
tidak mengenal takut, selalu bersemangat baja, dan tak mudah dipengaruhi oleh
uang dan harta-benda. Harapan bangsa terletak di pundak mereka, dan itulah
dharma-bhakti mereka pada Yang Maha Esa dan masyarakat.
Salah satu contoh adalah Sang
Bhishma, suatu waktu Yudhishthira pernah memohon kepada Sang Kreshna agar ia
dijadikan muridnya. Oleh Sang Kreshna ia diminta berguru ke Bhisma, dan salah
satu ajaran Sang Bhishma pada Yudhishthira adalah, "Di mana Sang Kreshna
bekerja, di situ terdapat dharma (kebenaran), di mana dharma berfungsi, di situ
terdapat kemenangan." Seorang kshatriya sejati adalah yang bekerja
berdasarkan dharma, dan tak merasa takut akan apapun juga selain Yang Maha Esa.
Biasanya seorang pemimpin semacam itu sudah lahir dengan wibawa dan kharisma
semacam itu. Maka dikatakan, seorang kshatriya adalah seorang pemimpin bangsa,
sedangkan seorang brahmin adalah guru dari masyarakat (semuanya).
44. Berladang, menjaga ternak dan berdagang adalah kewajiban
seorang vaishya, lahir dari sifat pribadinya. Tindakan atau perbuatan yang
bersifat jasa atau pelayanan (masyarakat) adalah kewajiban seorang shudra, yang
lahir dari sifat pribadinya.
Seorang yang berkarakter atau
hidup sebagai seorang vaishya berciri khas seperti (1) petani dan yang
berhubungan dengan pertanian, (2) beternak dan menjaga agar ternak-ternak
dipelihara dengan baik karena sapi, kerbau dan sejenisnya dianggap suci dan
amat bermanfaat dalam agama Hindu, (3) berdagang atau berwira swasta dalam
berbagai bidang ekonomi adalah sifat-sifat dominan seorang vaishya. Sedangkan
yang digolongkan sebagai shudra adalah orang-orang yang berkerja di bidang jasa
atau pelayanan secara umum, juga sebagai buruh, karyawan, dan petugas dalam
segala bidang pekerjaan milik pemerintah maupun non-pemerintah.
Dengan demikian jelaslah sudah
bahwa sistim varna atau kasta ini sebenarnya adalah pembagian golongan kerja,
dan bukan pembagian hak hidup seseorang yang dapat diatur semena-mena. Tidak
boleh ada orang yang merasa dilahirkan dalam kasta ini atau kasta itu. Yang
benar adalah sewaktu seseorang tersebut dewasa dan ingin menentukan pekerjaan
dan jalan-hidupnya sendiri maka terserah olehnya pekerjaan apa yang akan
dipilihnya.
Jadi sistim kasta yang berlaku
sekarang ini yang membeda-bedakan, hak, status, nama dan sebutan, dan pekerjaan
adalah salah besar. Yang benar itu, kasta ini hanyalah sekedar pembagian
golongan, yang dalam abad modern ini bisa disebut sebagai berikut: para
rohaniwan untuk sebutan modem para brahmana (tercakup di dalamnya para guru dan
ilmuwan dan lain sebagainya yang berhubungan), kemudian para ekonom adalah
sebutan modern atau masa kini untuk para pedagang, bankir dan lain sebagainya
yang berhubungan dengan bidang ekonomi, para petani dan nelayan termasuk juga
dalam golongan ini.
Para politisi, pejabat negara,
tentara dan pamong-praja dan lain sebagainya adalah istilah modern para
kshatriya; dan para buruh, pekerja, petugas dan lain sebagainya yang berstatus
bekerja pada seseorang, negara, dan lainnya disebut shudra. Keempat golongan
ini menjadi tiang-tiang utama dari sebuah negara, dan saling menunjang karena
setiap tiang ini sama kekuatan dan kedudukannya. Satu tiang patah maka patahlah
juga tiang-tiang lainnya, karena tidak akan mampu menyanggah negara yang ibarat
sebuah gedung besar bertiang empat.
Seandainya sesuatu bangsa dan
negara tidak melakukan suatu diskriminasi dengan, golongan-golongan yang ada di
dalamnya, dan menghargai setiap golongan ini, maka aman-sejahtera dan
sentosalah negara ini. Berbeda-beda tetapi eka, berbagai aspirasi tetapi satu
tujuan, yaitu kesejahteraan bagi sesama dan semuanya adalah misi yang dikandung
di sloka-sloka di atas ini, dan ingat bukan perbedaan kasta yang diskriminatif.
Sebuah bangsa dan negara yang besar, maju dan sejahtera adalah yang
masyarakatnya harmonis, dan duduk sama penting di antara sesamanya.
45. Seseorang mencapai kesempurnaan apabila ia
berdedikasi kepada kewajibanya sendiri. Dengarkanlah olehmu bagaimana
kesempurnaan ini didapatkan oleh seseorang yang setia kepada kewajibannya
sendiri.
Yang dimaksudkan dengan kesempurnaan ini adalah penyadaran akan Ilahi. Seseorang dapat mencapainya dengan bekerja secara setia dan penuh dedikasi kepada kewajibannya sendiri, yaitu bekerja sesuai dengan sifat sejati yang dimilikinya. Sewaktu seseorang menyerahkan semua pekerjaan dan perbuatannya kepada Yang Maha Esa tanpa pamrih sedikitpun, maka secara bertahap ia akan mencapai kesempurnaan ini atas karuniaNya. Tidak menjadi masalah kalau pekerjaan itu secara duniawi sifatnya amat sederhana atau kecil. Sekali perbuatan atau pekerjaan ini diserahkan secara total kepadaNya maka terbukalah jalan ke arah Yang Maha Esa.
Bekerjalah demi Yang Maha Esa sesuai dengan sifat-sifat kita yang sejati, janganlah iri atau berganti-ganti profesi karena harta duniawi, padahal belum tentu kita menghayati pekerjaan baru kita karena tidak berbakat ke arah itu. Pekerjaan, profesi atau perbuatan seharusnya dilakukan karena dedikasi kita kepada Yang Maha Esa, bukan karena nafsu atau keinginan duniawi. Maka sebaiknya setiap orang mengerjakan pekerjaan yang disenanginya, dihayatinya dan sesuai kodratnya, walaupun profesi tersebut tidak menghasilkan sesuatu harta duniawi. Harta sesungguhnya di dunia ini adalah Yang Maha Esa sendiri dengan segala karunia-karuniaNya, jadi seyogyanyalah kita selalu bekerja demi Yang Maha Esa semata, tanpa pamrih dan tulus jiwa-raga. Om Tat Sat.
46. la dari siapa semua makhluk dan benda ini datang dan oleh
siapa seluruh ciptaan ini dijaga — dengan memujaNya melalui kewajibannya
masing-masing, maka seseorang akan mencapai kesempurnaan.
Suatu pekerjaan yang menjadi
kewajiban seseorang dapat menjadi pemujaan kepada Yang Maha Esa seandainya
semua itu dipersembahkannya kepada Yang Maha Esa secara mental dan ragawi,
untukNya, demi Ia semata tanpa pamrih. Tetapi pekerjaan ini harus selaras
dengan kewajiban orang tersebut, yang juga senada dengan kewajibannya terhadap
sesamanya secara tulus, bukan pekerjaan atau perbuatan orang lain yang ditiru
atau dipaksakan olehnya.
Yang Maha Esa adalah sumber
segala ciptaanNya di alam semesta, dan Ia juga yang menjaga semua itu, maka
dengan bekerja demi Yang Maha Esa sesuai kewajiban kita masing-masing
sebenarnya seseorang ikut melestarikan dan menjaga alam semesta ini. Dan Yang
Maha Esa pun lalu tentu dengan senang hati akan membuka jalan ke arah
kesempurnaan bagi sang pemuja yang penuh dengan bakti yang tulus ini.
47. Lebih utama dharma seseorang itu sendiri, walaupun ada
kekurangan-kekurangannya, daripada melakukan dharma orang lain walaupun
dikerjakan dengan baik. Seseorang yang melakukan dharmanya sendiri, yang
didasarkan pada sifatnya pribadi (svabhava), tidaklah berdosa.
Jangan sekali-kali mengabaikan
kewajiban anda, untuk sesuatu perbuatan atau pekerjaan orang lain, walaupun
perbuatan atau pekerjaan tersebut nampak dan terasa lebih baik dan menghasilkan
laba yang lebih besar, atau nampaknya lebih bermanfaat daripada pekerjaan
seseorang itu sendiri.
Contoh: seorang yang bersifat dan berpembawaan
sejati sebagai brahmana janganlah melakukan pekerjaan seorang politisi,
akibatnya bisa kacau nanti semua hasil akibatnya lahir dan batin. Pekerjaan
atau kewajiban kita yang asli adalah di mana svabhava (sifat pembawaan) kita
menemukan ekspresi keluarnya yang sejati tanpa berdasarkan suatu rasa iri-hati,
dengki dan cemburu. Biarkanlah alam bekerja melalui diri kita masing-masing
secara alami, dan itu akan lebih utama bagi kita, daripada menentang kodrat dan
kemauan alam yang ada dan hadir setiap saat dalam diri kita.
Seorang tukang pembuat sepatu
sebaiknya bekerja sebagai tukang sepatu, ia boleh bercita-cita setinggi langit,
itu haknya, tetapi ia lebih baik mengembangkan usaha yang dihayatinya daripada
ia merasa iri-hati terhadap salah satu saudaranya yang diangkat menjadi kepala
desa oleh masyarakat setempat.
Begitu iri-hatinya sang tukang
sepatu sehingga ia mengorbankan segala-galanya untuk mendapatkan posisi
tersebut, padahal ia sama sekali tidak menghayati peranan seorang kepala desa
yang harus bekerja untuk seluruh masyarakat di sekitarnya tanpa pamrih. Hal
semacam ini tidak akan diterima oleh Yang Maha Esa, dan semua usahanya sia-sia
saja secara spiritual. Ia, Yang Maha Esa, lebih mengutamakan kewajiban seorang
yang sejati walaupun sifat pekerjaan itu sederhana saja, karena pekerjaan yang
sederhana ini kalau dikerjakan penuh dengan dedikasi kepadaNya semata akan
mengantar orang ini ke moksha. Seorang penjaga toko atau seorang kusir kereta
yang sederhana mungkin lebih dekat dengan kehidupan yang benar dan sejati
dibandingkan seorang raja atau presiden yang hidupnya bergelimang kemewahan
tetapi lupa akan kewajibannya yang sejati akan rakyat yang menjadi tujuannya
mengabdi.
48. Yang sudah menjadi kewajiban seseorang walaupun cacat,
tidak boleh dilepaskan. Karena semua perbuatan itu terselubung oleh kecacatan
ibarat api yang terselubung oleh asap.
Jangan sekali-kali melepaskan
kewajiban yang sudah menjadi panggilan nurani kita yang tulus dan sebenarnya.
Walaupun kewajiban tersebut terasa kurang sempurna dalam pelaksanaannya. Karena
sebenarnya tidak ada sesuatu pekerjaan pun, atau aksi dan perbuatan yang
sempurna. Semuanya selalu ada saja cacat atau kurungnya, yang sempurna adalah
Yang Maha Esa dan segala kehendak-kehendakNya, yang scring sekali tidak dapat
dimengerti oleh manusia. Secacat-cacatnya suatu pekerjaan pada mulanya, pasti
akan lebih sempurna pada tahap-tahap selanjutnya. Bekerjalah sesuai dengan
kewajiban kita semata, dengan segala ketulusan dan kesucian hati kita, dan
secara bertahap akan makin dekatlah kita kepadaNya.
49. Seseorang yang buddhinya (pengertian) tidak terikat di mana
pun juga, yang telah mengendalikan dirinya, yang keinginannya telah lari jauh –
dengan pemasrahan segala hasil pekerjaannya secara total, orang ini menuju ke
Kesempurnaan Yang Agung yang disebut naishkarmya (kebebasan dari perbuatan atau
tindakan).
Inilah salah satu petunjuk
penting dalam Bhagavat Gita, yaitu melalui suatu perbuatan atau tindakan,
seseorang dapat mencapai suatu bentuk kesempurnaan dalam non-tindakan atau
non-aksi (perbuatan). Kesempurnaan ini adalah suatu kebebasan dari karma,
kesempurnaan ini adalah suatu penyadaran akan Yang Maha Esa secara sejati.
Ada tiga tahap dalam jalan ke
arah kesempurnaan ini: a. Pada tahap pertama seseorang melepaskan rasa ego,
rasa "ke-aku'an" nya, rasa memiliki, rasa superior atas dirinya
sendiri, atas setiap tindakan dan perbuatannya. b. Pada tahap kedua ia
melepaskan semua hasil atau buah dari perbuatan, aksi dan tindakannya, termasuk
hasil dari semua pekerjaannya. c. Pada tahap ketiga ia melepaskan semua
pemikiran atau ide-ide mengenai kewajibannya, ia melepaskan semua
karma-karmanya. la menjadi tuan atau majikan bagi dirinya sendiri, yaitu yang
dalam agama Hindu disebut mencapai suatu kekuatan dari non-perbuatan (non-aksi
yang sempurna). Ia dengan kata lain mencapai penyatuan dengan Sang Brahman,
Yang Maha Agung, yang jauh dari semua tindakan-tindakan di dunia ini. la sadar
sesungguh-sungguhnya bahwa bukan ia yang bekerja, tetapi Ia yang bekerja dan
berbuat, sesuatu non-aksi dalam setiap aksi.
Dalam sloka di atas, sanyasa
yang berarti penyerahan total dari setiap hasil perbuatan disamakan dengan
tyaga yang berarti penyerahan atau pelepasan nafsu dan keinginan. Naishkarmya
di sloka di atas bukan berarti akarma, melainkan berarti tidak berbuat aksi
atau tindakan yang dapat menimbulkan keterikatan duniawi.
50. Pelajarilah dariKu secara singkat, oh Arjuna, bagaimana
sesudah mencapai kesempurnaan, orang itu mencapai Sang Brahman -- Yang Maha
Memiliki Kebijaksanaan.
Pada sloka-sloka berikutnya,
Sang Kreshna mulai mengajarkan kepada Arjuna bagaimana seseorang yang telah
berhasil melakukan usaha-usaha non-tindakan, non-aksi dan non-perbuatan ini
dapat mencapai Sang Brahman, yang menjadi tujuan kesadaran dari Sang Atman
dalam diri kita. Berbagai tahap-tahap dalam pencapaian kesadaran diri ini
diterangkan di sloka-sloka berikut ini.
51. Penuh dengan pengertian yang bersih, secara
tegar mengendalikan dirinya, menjauhi suara dan obyek-obyek sensual
(indra-indra dan obyek-obyeknya), melepaskan rasa senang dan rasa benci akan
sesuatu.
52. Tinggal di tempat yang sepi dan tenang, memakan secukupnya
(sedikit yang diperlukan saja), mengendalikan kata-kata, raga dan pikirannya,
selalu terserap di dalam yoga meditasi, berlindung (kepadaNya) tanpa sesuatu
keinginan duniawi.
53. Menjauhkan "rasa-kepunyaanku," kekerasan,
kepentingan pribadi, keinginan (dan nafsu), harta-benda; merasa dirinya bukan
apa-apa dan bersifat damai -- orang semacam ini pantas untuk bersatu dengan
Sang Brahman.
Seorang pemuja, untuk mencapai
Sang Brahman, harus berjuang melalui berbagai tahap-tahap yang jauh dari
sifat-sifat duniawi. Yang pertama adalah sadar akan pengetahuan yang sejati dan
pengetahuan ini dicapai melalui karma (tindakan atau perbuatan yang tidak
mementingkan diri pribadi. Yang kedua, lain menyusul dedikasi dalam pemujaannya
kepada Yang Maha Esa.
Sewaktu mencapai pengetahuan sejati melalui tindakan atau perbuatan yang tidak mementingkan diri sendiri, maka sang pemuja Yang Maha Esa ini mengalami berbagai hal seperti berikut:
Sewaktu mencapai pengetahuan sejati melalui tindakan atau perbuatan yang tidak mementingkan diri sendiri, maka sang pemuja Yang Maha Esa ini mengalami berbagai hal seperti berikut:
a.Timbul dalam dirinya suatu
pengertian yang bersih, suci dan murni, dan bangkit juga tekadnya akan hal-hal
yang bersih, suci dan murni, yang lepas dari ilusi-ilusi duniawi; dan sang
pemuja ini sadar bahwa raganya lain dengan Yang menumpang raganya, yaitu Sang
Atman.
b.la menjauhi semua
kenikmatan-kenikmatan sensual atau indra-indranya seperti menjauhi suara-suara
yang berisik, yang penuh polusi dan rangsangan sensual, dan lain sebagainya
yang menyebabkan gangguan pada jiwa; juga menjauhi melihat dan menyentuh
hal-hal yang negatif baginya.
c.la akan mampu mengendalikan
dirinya dan berada di atas sifat-sifat dualislik yang saling bertentangan
seperti suka-duka, cinta-benci, panas-dingin, dan seterusnya.
d. la akan menyenangi tempat
yang sepi dan tenang.
e. Makan-minumnya, tidur dan
bicaranya akan secukupnya saja, amat bersahaja dan sattvik sifatnya. Baginya
sedikit tetapi mencukupi sudah amat baik baginya.
f. la terkendali dalam kebutuhan
dan gerak-gerik tubuhnya, pikirannya dan pembicaraannya.
g. la selalu terserap dalam meditasi, demi Kebenaran Yang Sejati, demi Yang Maha Esa.
g. la selalu terserap dalam meditasi, demi Kebenaran Yang Sejati, demi Yang Maha Esa.
h. Jauh dari rasa
keinginan-keinginan duniawi, dari nafsu dan mengarah kepada hal-hal yang tidak
bersifat duniawi atau keterikatan (vairagya).
i. Jauh dari ambisi, rasa memiliki
atau "aku," kepalsuan, kekerasan, kesombongan, ego, nafsu, dan rasa
marah.
j. Selalu bersikap damai, penuh
dengan ketenangan jiwa, sopan-santun, budi baik, penuh simpati kepada sesama
makhluk, penolong dan tidak serakah.
54. Menyatu dengan Sang Brahman, jiwanya tenang, ia tidak
bersedih, atau bernafsu. Memandang setiap benda dan makhluk sama rata, ia
mencapai dedikasi nan agung di dalamKu.
Seorang pemuja Yang Maha Esa
yang telah menyatu akhirnya dengan Sang Brahman, tak akan pernah bersedih untuk
apapun juga dan tak pernah bernafsu untuk hal-hal yang bersifat duniawi maupun
yang bersifat spiritual demi kebutuhan-kebutuhan egonya. Raga, jiwa dan
batinnya telah berubah suci, bersih dan murni, dan ia telah lepas dari semua
karma-karmanya. la bahagia dengan dirinya sendiri. la melihat secara sama-rata
pada setiap benda dan makhluk. la mencintai Yang Maha Esa dengan penuh bakti,
kasih yang tulus dan dedikasi yang murni. Bagi Yang Maha Esa, Sang Kreshna,
pemuja semacam ini adalah agung dan merupakan Sang Atman sendiri secara
keseluruhan. Dan bakti pemuja ini dianggap berada di atas semua sifat-sifat
alam (guna-guna) Sang Maya (Prakriti), di atas semua bentuk karma.
Bakti pemuja semacam ini
sesungguhnya mulai setelah ia menyadari atau mendapatkan penerangan Ilahi.
Begitu bergabung dengan penerangan yang dikaruniakan Yang Maha Esa, maka
tindak-tanduknya, intuisi, maupun pemikiran dan pemujaannya akan sinkron dan
selaras dengan kehendak Yang Maha Esa (Sang Atman), pemujaannya akan penuh
dedikasi yang tulus dan murni, secara sejati ia akan memuja Yang Maha Esa.
55. Dengan dedikasi dan kesetiaan ia mengenalKu, (menyadari)
apa kemampuanKu dan apa Aku ini dalam arti yang sejati, kemudian setelah
mengenalKu secara sejati, maka berlanjutlah ia memasuki Itu, Yang Maha Agung.
Untuk mencapai atau memasuki
Sang Brahman adalah dengan mencintai dan mengasihi Sang Kreshna
setulus-tulusnya. Untuk mencintai Sang Kreshna adalah dengan mengenal Sang
Kreshna dulu, mengenal betapa menakjubkan Ia, apa saja bentuk sejati dari
sifat-sifatNya, keajaiban-keajaibanNya, mukjizat-mukjizatNya dan kegaibanNya,
keagungan dan kebesaranNya.
Untuk mengetahui ini semua
adalah dengan memasuki kehidupanNya. Dan seseorang bekerja dan bertindak bukan
untuk dirinya lagi, tetapi hanya demi Ia semata. Jadi dengan kata lain, klimaks
dari kesadaran akan kasih itu sebenarnya terletak pada bhakti (bakti) dan prema
(kasih-Ilahi). Memasuki atau menyatu dengan Yang Maha Esa bukan berarti
"menyia-nyiakan diri kita," tetapi lebih berarti bahwa Sang Jiwa kita
harus dilepaskan dari ikatan-ikatan duniawinya, kemudian akan terbukalah tabir
yang selama ini menutupi jiwa kita, dan terlihatlah sifat gaib Yang Maha Esa
dalam diri kita, yang sebenarnya adalah duplikat atau rupa dari Yang Maha Suci
dan Agung, Sang Kreshna Yang Sejati; Menyatu atau masuk ke dalamNya berarti
menjadi gambaranNya, menjadi seperti Sang Kreshna. Dan karena Sang Kreshna,
Yang Maha Esa, itu kasih adanya, maka menyatu denganNya berarti mencintai
dengan kasih Yang Tak Kunjung Habis secara konstan dan abadi, selama-lamanya,
kepadaNya dan sesama makhluk dan manusia di alam semesta ini. Bayangkan seperti
apakah kasih ini: di luar kata-kata untuk menggambarkan kebesaran dan
keagunganNya, di luar batas-batas khayalan manusia awam!
Mencintai Sang Kreshna adalah
dengan (sekali lagi!) mengenalNya, mengenal sifat-sifatNya yang paling dalam
mengenal kebenaran apa saja Ia ini sebenarnya. Melalui pengetahuan kasih ini,
Sang Jiwa kita akan memasukiNya. Dan dengan dedikasi yang disertai dengan kasih
yang tulus dan sejati, maka Sang Jiwa akan tinggal di dalam Sang Kreshna sampai
saat ajal datang menjemput, kemudian secara abadi ia larut dan bersatu tinggal
di dalam Yang Maha Esa (setelah kematian pemuja yang tulus ini).
56. Melakukan semua tindakan secara konstan, apapun jenis
tindakan ini, berlindung kepadaKu, dengan karuniaKu, ia akan mencapai tempat
nan abadi, yang tak pernah binasa.
Dalam sloka ini Sang Kreshna
menggabungkan seluruh doktrin atau ajaran-ajaranNya yang terdiri dari
unsur-unsur karma, gnana dan bhakti. Seorang pemuja Sang Kreshna yang sejati
tidak perlu malu-malu untuk ber-karma. la dapat melakukan pekerjaan apa saja
yang positif tentunya, selama itu disertai oleh rasa bhakti yang tulus. Dan
karunia Yang Maha Esa akan memutuskan seluruh ikatan-ikatan karmanya. Seseorang
yang secara sejati telah bersandar kepada Sang Kreshna, Yang Maha Esa, walau ia
bertindak apa saja, apapun yang dilakukannya walau mungkin terkesan salah bagi
sebagian orang, sebenarnya hasil atau buah dari perbuatan itu sudah diambil dan
dinetralisir oleh Yang Maha Kuasa. Pemuja ini sebenarnya sudah bersandar total
kepadaNya, dan hanya hidup dan bekerja atas karuniaNya yang sejati.
Ada tiga pemikiran yang dapat disimpulkan dari sloka-sloka di atas, yaitu:
a. Sang Jiwa dituntun ke arah gnana (pcngetahuan atau kesadaran) oleh tindakan-tindakan yang tanpa pamrih, atau yang telah dipasrahkan secara total kepada Yang Maha Esa.
a. Sang Jiwa dituntun ke arah gnana (pcngetahuan atau kesadaran) oleh tindakan-tindakan yang tanpa pamrih, atau yang telah dipasrahkan secara total kepada Yang Maha Esa.
b. Sarnagati, yaitu bersandar
pada Yang Maha Kuasa, (walaupun mungkin dengan motif-motif yang penuh dengan
maksud-maksud pribadi), mendedikasikan berbagai kewajiban-kewajiban kepadaNya.
c. Prema-bhakti, yaitu melalui
cinta atau kasih yang agung dan suci.
57. Menyerahkan dalam pikiran semua tindakan kepadaKu,
memandangKu sebagai Yang Maha Agung, berlindung dalam buddhi-yoga, yoga
kebijaksanaan yang dapat membedakan, maka pusatkanlah pikiranmu senantiasa
kepadaKu.
Di sloka ini Sang Kreshna
bersabda agar secara mental Arjuna mcnyerahkan atau memasrahkan semua
tindakan-tindakannya kepada Yang Maha Esa dari lubuk hati dan jiwanya secara
tulus dan sejati.
Yang dimaksud di sini amat
penting, yaitu menjadikan diri kita tidak lain dan tidak bukan semacam wakil
atau utusan dari Yang Maha Esa Itu sendiri, yang ditugaskan bekerja dan
beribadah kepadaNya di bumi ini, sesuai dengan kehendakNya, dan senantiasalah
berpikir akan Yang Maha Esa dan memohon petunjuk-petunjuk dan
tuntunan-tuntunanNya. Kemudian secara tulus memasrahkan secara total semua
perbuatan itu dan hasil-hasilnya kepada Yang Maha Esa: terjadilah kehendakNya.
Dan janganlah ini disertai dengan pamrih atau pemikiran akan imbalan
sedikitpun, sekecil apapun, janganlah terlintas pikiran akan pamrih ini! Dengan
belajar, berusaha dan mempraktekkan tahap demi tahap, langkah demi langkah
buddhi-yoga sebagai dasar dari semua yoga-yoga lainnya, seseorang harus hidup
di dunia ini dengan segala kewajiban-kcwajibannya, dengan segala efek dan aspek
dari kewajiban, perbuatan, pekerjaan dan aksi ini, bukannya melarikan diri dari
semua aspek kehidupan yang kita hadapi ini dengan berbagai alasan, misalnya
berdosa atau sukar melakukan sesuatu.
Semua alasan-alasan yang dicari
untuk menghindar dari aksi-aksi yang positif dan sesuai dengan kewajiban adalah
kebodohan yang amat sangat. Bekerjalah, berbuatlah, berkarmalah, beraksilah,
semuanya dengan dasar kewajiban kita, memakai istilah agama Islam, berdasarkan
ibadah kita kepada Yang Maha Kuasa, dan serahkan hasilnya secara total dan
murni kepadaNya semata. Dengan demikian bersihlah karma kita dari ikatan-ikatan
duniawi ini. Sekali lagi, bersatulah dengan Yang Maha Esa dalam tekad, iman,
jiwa dan kesadaran!
58. Berpikir akan Aku, maka dikau akan mengatasi semua
rintangan-rintangan dengan karuniaKu. Tetapi kalau terdorong rasa egoisme dikau
tak mau mendengarkan Aku, maka dikau akan binasa.
Sang Jiwa harus bermeditasi
kepada Sang Kreshna dan melupakan pikiran akan kepentingan diri-pribadinya
sendiri. Seseorang yang telah membunuh rasa egonya, akan mendapatkan bimbingan
Sang Kreshna ke arah sukses spiritual. Tetapi seseorang yang karena hanya
mementingkan egonya dan tak mau acuh kepada ajaran-ajaran Sang Kreshna akan
binasa. Jadi tinggal memilih sendiri keselamatan atau kehancuran. Kalau kita
menginginkan kehancuran maka percayalah diri-sendiri dan ikutilah segala
kemauan diri ini. Kita bisa saja menentang yang Maha Esa, tetapi tidak mungkin
menentang kehendakNya. Sekali menentangNya, maka jatuh, hancur dan binasalah
kita, dalam arti masuk ke dalam lingkaran setan kelahiran dan kematian yang
seakan-akan tidak ada habis-habisnya.
Seandainya secara salah kita
mengidentifikasi diri kita dengan badan dan pikiran kita, dan hanya tergantung
pada "ego" kita, (dan berpikir bahwa kitalah pelaku setiap tindakan)
atau pun yang ada disekitar kita berdasarkan ego kita pribadi, maka kita pasti
akan jatuh. Dengan demikian kita akan jauh dari Yang Maha Esa, kalau kita makin
jauh maka kita akan bertambah kotor dan penuh dengan polusi duniawi, dan
hancurlah kita kemudian jadinya. Biasanya rasa kesombongan, ego dan kebesaran
kita akan diri kita ini akan hancur dahulu sebelum kita sendiri kemudian
menyusul hancur. Tetapi bergandengan tangan dengan Sang Kreshna Yang Maha
Pengasih dan Penyayang, maka tujuan dan sukses pasti akan tercapai. Dengan kata
lain, kejatuhan sang jiwa kita adalah karena tidak patuhnya, karena pertentangan
kita dengan kehendakNya. Dalam perjalanan atau evolusi hidupnya Sang Jiwa ini
lalu menjadi cacat dan cemar, dan inilah yang disebut kehancuran dan kejatuhan
Sang Jiwa ini ke dalam kegelapan.
59. Kalau bertahan dalam egoisme, dikau berpikir, "Aku tak
akan berperang," maka ketahuilah bahwa keputusanmu itu sia-sia saja. Alam
(pembawaan dan takdir) akan memaksamu untuk bertindak!
60. Oh Arjuna, terikat oleh tindakan-tindakanmu sendiri, lahir
dari sifatmu sendiri. Hal-hal yang karena kekurang-sadaranmu tidak ingin kau
lakukan, tanpa daya akan kau lakukan juga.
Seandainya Arjuna yang berstatus
kshatriya ini tidak ingin berperang karena rasa egonya yang salah tidak
menginginkan ia berperang. Tetapi tanpa akan disadarinya segala naluri
alaminya, sifat dan pembawaannya beserta takdir yang sudah digariskan Yang Maha
Kuasa akan memaksanya untuk bertindak dan berperang demi kelangsungan hidupnya
atau demi alasan-alasan lainnya.
Semua tindakan ini sebenarnya
berdasarkan akan karma-karma yang kita buat sendiri pada kelahiran-kelahiran
yang lalu. Jalan yang paling benar secara spiritual dan kejiwaan adalah dengan
mempersembahkan secara tulus dan penuh kesadaran jivva-raga kita kembali kepada
Yang Maha Esa. Lalu karma-karma kita secara tahap demi tahap akan menyesuaikan
diri dan berubah karakternya menjadi penuh dengan dedikasi dan kesetiaan demi
Yang Maha Kuasa. Bahkan seorang yogipun tak akan bisa berubah sekaligus, semua
atau setiap orang harus melalui tahap penyerahan total kepadaNya dulu. Ada
suatu hal yang tak dapat kita perkirakan, yaitu episode-episode yang akan
terjadi dalam perjalanan hidup kita ini, bahkan setiap hari kita jumpai
kisah-kisah yang penuh dengan pengalaman yang unik, dan semua itu bisa saja
jauh dari perkiraan dan rencana kita yang sudah matang.
Bahkan sering kita melakukan
hal-hal yang mungkin tidak terpikirkan dulunya, bahkan sering sekali kita
melakukan hal-hal tanpa kesadaran; sering sekali bahkan secara suka-rela,
sering juga tanpa daya dan terpaksa, hal-hal ini semuanya ada yang bertentangan
dengan diri kita, ada yang selaras, ada yang setelah dilakukan menimbulkan
sesal, ada yang setelah dilakukan secara terpaksa tetapi kemudian mendatangkan
suatu kesenangan tersendiri. Sebenarnya tanpa kesadaran kita, semua ini telah
diatur dan tercipta sewaktu kita sendiri mulai tercipta di dunia ini bahkan
mungkin sebelumnya. Seperti wayang atau pemain sandiwara kita ini sudah
diatur cara bermainnya oleh sang dalang dan sutradaranya, mau tak mau kita
harus memainkan peranan kita masing-masing, karena itulah karma-karma kita yang
berjalan di bawah kuasa Sang Prakriti.
61. Yang Maha Esa bersemayam di dalam hati (jiwa) setiap
makhluk, oh Arjuna, mengakibatkan mereka terputar oleh Sang Maya (kekuatanNya),
ibarat makhluk-makhluk ini diletakkan di atas suatu alat (yang berputar).
Sebenarnya semua yang kita
berbuat adalah perbuatan atau kehendak Yang Maha Esa itu sendiri yang
bersemayam di dalam jiwa kita dan dalam jiwa setiap makhluk lainnya. Ia lah
yang 'membolak-balikkan" kita tanpa kita bisa berdaya atau menentang
kehendakNya sedikitpun, dan alat pemutar ini adalah Sang Maya (ilusi, tenaga
alami, dan juga kekuatanNya). Sering alat-pemutar ini disebut juga ibarat
gangsing oleh penterjemah sloka ini di versi-versi lain dari Bhagavat Gita).
Yang Maha Esa adalah ibarat seorang dalang dalam pertunjukan, Yang Mengatur
segala-galanya baik segi kostum, tata-ruang, penampilan dan semua gerak-gerik
dan dialog kita. Sedangkan motor penggerak atau alat penggerak dibalik semua
itu adalah Ia juga dalam benluk kekuatannya, yaitu Sang Maya yang diciptakanNya
Sendiri; tanpa Sang Maya tidak akan ada kekacauan dan kebaikan di dunia ini.
Sang Maya ini dengan kehendakNya membuat kita "menang, berlari,
jatuh-bangun, tunggang-langgang, terbuai, dan lain sebagainya.
Yang Maha Esa ini, oh manusia, Yang Menentukan seseorang harus berperang, berjuang, dan melawan kegelapan, kezaliman dan kekurangan pengetahuan kita. Prakriti memberikan kepada setiap makhluk, manusia dan benda peranan-peranan tertentu dalam kehidupan kita ini, tetapi semua itu juga diikuti oleh ikatan-ikatan duniawi, jadi mau tak mau harus bertindak, berbuat dan beraksi sesuai dengan pola dari Sang Prakriti ini (kekuatanNya).
Di alam semesta ini yang
merupakan suatu roda dari Sang Waktu, maka Yang Maha Kuasa telah menggariskan
atau merencanakan setiap karma bagi setiap makhluk-makhluk ciptaanNya yang
harus dilaksanakan oleh makhluk-makhluk ini. Jadi setiap manusia dan makhluk
dan benda harus berputar atau berfungsi ibarat di atas suatu alat pemutar
pembuat keramik, dan sewaktu diputar ini maka keramiknya atau tanah-liat yang
akan dijadikan benda keramik inipun dipoles dan dibentuk sesuai dengan kehendak
dan cita-rasa sang pembuat keramik. Dan dalam proses pembuatan keramik ini,
tentu saja tidak semua keramik ini akan terbentuk dengan sempurna atau sama.
Ada yang cacat, dan ada juga yang pecah berantakan, tetapi banyak juga yang
cantik dan sempurna bentuknya. Jadi dengan kata lain, tidak ada suatu kejadian
atau nasib atau takdir yang kebetulan sifatnya atau penuh dengan "seandainya,"
yang ada hanyalah Yang Maha Esa dan semua rencana-rencanaNya, tidak lebih dan
tidak kurang!
62. Berlarilah mencari perlindungan di dalamNya dengan segenap
jiwa-ragamu, oh Arjuna! Dengan karuniaNya dikau akan mendapatkan Kedamaian Yang
Agung -- Tempat Tinggal Yang Abadi.
Sang Kreshna Yang Maha Bijaksana
setelah mengajarkan rahasia yang amat suci dan agung sifat ini, masih saja
bersifat amat demokratis dan tidak mau menang sendiri atau memaksakan
ajaran-ajaran ini kepada Arjuna atau kita semua. Malahan Ia menganjurkan agar
semua ajaran dan wejangan ini dipelajari dan direnungkan dulu, dengan kata
lain, kita semua diberikan kebebasan olehNya untuk bertindak atau memutuskan
apa kita ingin mengikuti semua ajaran-ajaran ini secara semestinya, atau ingin
bebas beritikad sesuai dengan selera kita sendiri.
Pengetahuan tentang kesadaran
atau pencapaian Sang Brahman oleh manusia melalui tindakan atau perbuatan tanpa
pamrih secara total adalah sebuah rahasia atau misteri yang sifatnya lebih dari
rahasia itu sendiri, apapun bentuk rahasia itu. Rahasia yang lainnya adalah
bahwa Sang Kreshna, Yang Maha Esa itu, adalah monitor yang bersemayam di dalam
diri setiap makhluk, yang sebenarnya menyelenggarakan dan yang dengan
kekuatanNya (Sang Maya) mcmbuat kita bertindak, berbuat, bekerja, beraksi dan
"menari-nari" tanpa daya di panggung dunia ini.
Maka berlindunglah selalu
kepadaNya semata, kepada Yang Maha Esa, kepada Sang Kreshna Yang Maha Pengasih
dan Penyayang. Kebijaksanaan ini amat jelas sifatnya, terserah kepada kita semua
mau mengikuti semua ajaran-ajaran kebijaksanaan ini dan mengamalkan kepada
sesama kita dan demi Yang Maha Esa tanpa pamrih atau mengikuti kehendak pribadi
kita sendiri. Yang Maha Esa jelas sifat dan pendirianNya, yaitu amat demokratis
dan tidak memaksa. Semua ini tentunya kembali lagi kepada kita untuk
direnungkan dan dijalani.
63. Demikianlah ilmu pengetahuan yang paling rahasia dari semua
mistik, telah Ku-ajarkan kepadamu; Setelah mempertimbangkan semua ini
sepenuhnya, bertindaklah seperti yang engkau kehendaki.
Setelah sekian banyak ajaran
yang telah diberikan Kreshna kepada Arjuna, hingga saat ini. Dia sepenuhnya
menyerahkan segala keputusan akhir di tangan Arjuna sendiri, yang bebas memilih
dan menentukan sendiri apa yang harus dilakukannya. Disini Arjuna harus
menemukan jati dirinya terlebih dahulu agar dapat menentukan arah yang tepat
dan benar bagi penentuan selanjutnya. Ajaran dari Sri Kreshna ini bukanlah
indoktrinasi dan memberikan kebebasan penuh kepada siswa untuk mempergunakan
penalaran dan kemampuan pemahamannya dalam mengambil keputusan akhir.
64. Dengarkanlah lagi kata-kataKu yang agung, yang paling
rahasia sifatnya dibandingkan semuanya. Dikau adalah yang amat Kukasihi, maka
akan Kukatakan kepadamu demi kebaikanmu.
Sebenarnya sabda atau wejangan-wejangan
Sang Kreshna adalah "sabda-sabda nan agung" sifatnya, yang menjadi
intisari dari Bhagavat Gita, intisari dari yoga atau ilmu pengetahuan yang
sejati.
65. Pusatkanlah pikiranmu padaKu; berdedikasilah kepadaKu;
berkorbanlah demi Aku; sujudkanlah dirimu di hadapanKu. Maka dikau dengan
demikian akan datang kepadaKu. Aku menjamin dikau dengan kebenaranKu; dikau
adalah kesayanganKu!
Arjuna adalah kesayangan Sang
Kreshna, maka diturunkanlah ajaran mengenai bhakti yang amat murni sifatnya ini
kepadanya. Sang Kreshna atau Yang Maha Esa pun menyayangi kita semua, dan
diturunkanlah ajaran Bhagavat Gita kepada kita semuanya, maka dengan memberikan
segenap jiwa-raga kita secara total kepadaNya, dengan mencintai dan
mengasihiNya, memujaNya, selalu mengingatNya, tunduk dan bersujud selalu
kepadaNya bekerja untukNya semata apapun jenis pekerjaan itu tanpa pamrih, maka
kita semua akan menemukanNya, menemukan Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan dari segala
bentuk kehidupan dan tujuan kehidupan ini, kehidupan kita semua ini. Om Tat
Sat.
66. Serahkanlah semua kewajiban, datanglah kepadaKu semata
untuk berlindung. Janganlah bersedih! Akan Kubebaskan dikau dari semua
dosa-dosa.
Sloka ini dianggap sebagai sloka
yang amat penting dalam Bhagavat Gita, dan merupakan suatu ungkapan dan ajaran
yang dianggap amat rahasia sekaligus penuh dengan kasih-sayang Yang Maha Esa
yang tak terbatas. Ajaran atau wejangan ini dianggap sebagai suatu
kebijaksanaan yang amat dalam artinya dan menjadi patokan yang amat disegani
dan dihormati oleh umat Hindu yang suci semenjak ribuan tahun yang silam di
India dan di mana saja agama Hindu ini berkembang. "Serahkan semua
kewajiban," pada sloka ini berarti tanggalkan atau lepaskanlah dharma yang
ditekankan atau terdapat di pustaka-pustaka suci kuno untuk sesuatu yang
nilainya lebih luhur dan agung, yaitu dengan menjadikan Yang Maha Esa secara
tunggal tempat kita berlindung, memohon dan mengabdi, dan memandangnya sebagai
Yang mengayom dan Yang Menuntun kita sesuai dengan kehendakNya semata.
Jangan membuang-buang waktu
untuk mendiskusikan soal kasta yang sudah jelas maksudnya, yaitu pembagian
kerja dan bukan perbedaan status atau diskriminasi. Jangan membuang-buang waktu
yang berharga dengan melakukan tradisi dan upacara-upacara yang membingungkan
dan membuang-buang energi, tetapi langsung saja menuju ke suatu perbuatan nyata
yang hakiki dan sejati sifatnya, yang tanpa pamrih demi dan untuk Yang Maha Esa
semata, dan bukan demi kepuasan mata, kepuasan jiwa atau indra-indra dan
pikiran pribadi kita. Janganlah menerapkan kewajiban-kewajiban atau
instruksi-instruksi dalam dharma-shastra kita secara ngawur dan salah, secara
metafisik dan etika belaka, tetapi lakukanlah secara murni sesuai dengan
sabda-sabda Sang Kreshna, Tuhan dari semua dewa-dewa dan kekuatan-kekuatan di
alam semesta ini. Semua kewajiban dan instruksi yang terdapat di dalam
dharma-shastra ini akan hilang nilai dan artinya sekali seseorang sudah
melakukan bhakti yang luhur dan tulus kepada Yang Maha Esa secara langsung.
Seorang jignasu (pencari kebenaran)
harus menyerahkan secara total, jiwa dan raganya bagi Yang Maha Esa, dan Yang
Maha Esa pasti akan membebaskannya dari segala dosa-dosa dan keterbatasannya,
dari kekurang-pengetahuannya dan dari semua segi negatifnya. Ini adalah janji
tulus Sang Kreshna, Yang Maha Esa, kepada kita semua dan ini menunjukkan
kasihNya Yang Agung dan Suci. Rahasia ke Tuhan Yang Maha Suci adalah bhakti
yang tulus dan tanpa pamrih, tanpa benci, tanpa keinginan duniawi, tetapi hanya
demi dan untuk Ia semata. Terjadilah kehendakNya. Om Tat Sat.
Seseorang yang dedikasinya
kepada Yang Maha Esa masih dalam taraf yang belum matang, sewaktu bertindak
sesuatu akan menganalisa dan mengkonfirmasikan setiap tindakan dan efeknya
secara mental, fisik, moral, kewajiban, hukum, kaidah, kegunaan, bahkan dari
segi spiritual juga akan diperhitungkan olehnya. Tetapi sekali ia berjalan dan
berdedikasi secara tulus, tanpa pamrih dan dengan kesadaran yang matang, maka
semua unsur, kaidah, dan nilai-nilai kewajibannya akan sirna, dan kemudian hanya
timbul satu kesadaran Ilahi yang amat sukar diterangkan dengan kata-kata atau
bahasa awam.
Kesadaran ini bentuknya amat
spiritual dan orientasinya hanya Yang Maha Esa semata. Di sini semua yang
dikerjakan, diperbuat dan setiap aksi akan menjadi ibadah atau dedikasi yang
amat tulus sifatnya dan setiap bentuk perbuatan pemuja ini akan sinkron dengan
kehendakNya, dan inilah misteri dari kehendakNya, yang hanya bisa dimengerti
secara spiritual dan duniawi oleh pemuja itu berkat karuniaNya juga.
Suatu bentuk pengalaman atau
kehidupan yang sukar dapat diterangkan dengan logika duniawi. Maka
seyogyanyalah jangan menjadikan diri anda sebagai budak dari tradisi, kewajiban
yang belum tentu positif nilainya, atau sesuatu tindakan yang nampaknya positif
berdasarkan prinsip-prinsip tertentu. Ini bukan wejangan sesat atau ajaran Sang
Kreshna yang salah, tetapi bhakti yang tulus kepada Yang Maha Esa memang akan
menimbulkan semacam prema (kasih-Ilahi) yang tak terbatas agung dan suci yang
penuh dengan pengetahuan-pengetahuan spiritual yang sukar dijangkau dengan
logika duniawi, dan sukar diterangkan dengan kata-kata biasa, dan kebijaksanaan
atau kesadaran Ilahi ini berada di atas semua kebaikan dan keburukan duniawi.
Tanggalkanlah semua baju-baju duniawi anda, dan secara
"telanjang-bulat" lepaslah dari nafsu-nafsu dan keinginan. Sambutlah
Yang Maha Esa dengan bhakti yang tulus, berlindunglah di dalamNya dan selalulah
berdoa "terjadilah kehendakNya."
Inilah intisari ajaran Bhagavat
Gita yang agung dan suci ini. Aliran Ramanuja di India menyimpulkan sloka 66
ini sebagai intisari atau klimak dari ajaran Bhagavat Gita. Bekerja, bertindak
dan berbuat suatu apapun; misalnya hal-hal yang dianggap terbaik dan suci,
tetapi demi Yang Maha Esa semata dan tanpa harapan akan imbalan, maka perbuatan
ini akan dilindungi oleh Yang Maha Esa dan sang pemujanya akan diselamatkan
dari segala mara bahaya. Tetapi kalau sang pemuja sebaliknya berpikir bahwa
semua tindakan tanpa pamrih ini malahan akan melepaskannya dari mara-bahaya dan
akan dilindungi oleh Yang Maha Esa, maka pikiran semacam ini tidak murni lagi
karena sudah terkena polusi dari pamrih itu sendiri. Ingat secercah harapan
sekecil apapun merupakan tanda bahwa dedikasi itu sudah tidak murni lagi.
"Terjadilah kehendakNya," apapun itu! Baik yang terlihat
negatif maupun positif, Yang Maha Esa yang tahu apakah hasil dan efek yang
diberikannya kepada seseorang itu negatif atau positif. Seorang yang bersatu
denganNya secara sejati akan mendapatkan juga pengetahuan ini, dan ia akan selalu
bahagia dengan apapun yang dibcrikan oleh Yang Maha Esa kepadanya. Om Tat
Sat.
67. Jangan sekali-kali dikau bicarakan ajaran ini kepada
seseorang yang tidak berdisiplin secara spiritual dalam hidupnya, juga tidak
kepada seseorang yang tak memiliki dedikasi, juga tidak kepada seseorang yang
tidak ingin mendengarkannya, juga tidak kepada yang menjelek-jelekkan Aku.
Kebenaran yang sejati ini jangan
diajarkan atau dibicarakan dengan mereka-mereka yang hidupnya penuh dengan
kemewahan dan kenikmatan duniawi, yang sudah terbius oleh semua unsur duniawi
ini juga tidak kepada yang tak memiliki dedikasi atau ibadah kepadaNya, atau
kepada mereka-mereka yang tak mau melakukan disiplin-disiplin spiritual seperti
puasa, pemujaan, sembahyang, meditasi dan kegiatan-kegiatan spiritual lainnya
yang berorientasi kepada Yang Maha Esa, atau mereka-mereka yang tidak mau
memikirkan sesamanya.
Jangan juga ajarkan Bhagavat
Gita kepada orang-orang yang anti-Tuhan dan yang senang dan gemar
menjelek-jelekkan Tuhan Yang Maha Esa. Juga jangan ajarkan Bhagavat Gita kepada
mereka yang nafsu sensualnya terlalu besar, atau mereka-mereka yang selalu
mencari-cari kesalahan dalam setiap agama dan ajaran-ajaran suci lainnya.
Karena ini sama saja meletakkan sebutir mutiara yang berharga dihadapan seekor
babi, yang hanya senang makan kotoran dan tidak sadar atau tahu akan nilai
mutiara ini.
Ajarkanlah Bhagavat Gita kepada
mereka yang memperlihatkan dedikasi yang tinggi kepadaNya, yang hidupnya penuh
dengan perbuatan baik bagi sesamanya, yang berdisiplin secara spiritual, karena
orang-orang yang tidak memenuhi syarat-syarat ini akan salah mengerti akan
ajaran-ajaran Bhagavat Gita, dan menyalah gunakannya. Jadi lebih baik tidak
diajarkan, karena malahan akan menimbulkan kekacauan dan kebatilan daripada
kebaikan dan kebenaran.
68. Seseorang yang membukakan (menjelaskan) rahasia agung ini
kepada pemuja-pemujaKu, memperlihatkan dedikasi yang tertinggi kepadaKu - ia,
tanpa diragukan, akan datang kepadaKu.
69. Juga tak ada di antara manusia yang lebih tinggi
dedikasinya kepadaKu selain ia. Juga tak akan ada orang lain yang lebih
Kukasihi di bumi ini selain ia.
Seseorang yang
dengan bakti dan dedikasi yang tulus mengajarkan Bhagavat Gita kepada yang
lain-lainnya adalah seorang manusia yang amat dikasihi oleh Sang Kreshna, oleh
Yang Maha Esa, demikian sabda Sang Kreshna disloka-sloka di atas, karena orang
ini membantu orang lain untuk menyeberangi kehidupan (sansara) ini ke Tujuan
Nan Abadi, Tempat Tinggal Kita Yang Selama-lamanya. Om Tat Sat.
70. Dan seseorang yang mempelajari dialog Kita yang suci ini,
maka ia akan memujaKu dengan mengorbankan (mempersembahkan) ilmu pengetahuan.
Begitulah ketetapanKu.
Mempelajari atau melakukan suatu
studi akan Bhagavat Gita secara tulus adalah suatu bentuk pemujaan akan Yang
Maha Esa. Barangsiapa mempelajari Bhagavat Gita berarti mempersembahkan
suatu persembahan yang tak ternilai harganya bagi Yang Maha Esa. Ini sudah
menjadi ketetapan Sang Kreshna, Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Om Tat Sat.
71. Dan seseorang yang penuh dengan iman dan tanpa itikad mencemoohkan, walaupun ia hanya mendengarkan saja, ia pun, lepas (dari perbuatan-perbuatan iblis), akan mencapai loka-loka kebenaran nan terang-benderang.
Bahkan seseorang yang tidak
mempelajari Bhagavat Gita, dan hanya mendengarkan
ajaran-ajaran ini dari mulut orang lain, dapat berubuh menjadi seorang mukta,
yaitu yang mendapatkan mukti (kebebasan), selama ia mendengarkannya dengan
penuh iman dan kepercayaan penuh tanpa maksud untuk mencemohkan ajaran ini.
Tetapi kebebasan yang didapatkan orang ini bukan kebebasan dari lahir dan mati
yang berulang-ulang, tetapi kebebasan dari dosa-dosanya, dari
perbuatan-perbuatan buruknya — karena dosa-dosa atau perbuatan-perbuatan iblis
seseorang adalah hambatan-hambatan yang sukar di jalan bakti atau dedikasi
kepada Yang Maha Esa. Sekali terbebas dari dosa-dosanya, dan setelah
meninggal-dunia, ia akan pergi ke loka-loka di mana tinggal orang-orang yang
selama hidupnya penuh dengan tindakan-tindakan yang suci dan murni.
Bhagavat Gita adalah salah satu
karya Ilahi yang berbentuk amat spiritual; yang menghancurkan kegelapan bagi
seseorang yang tekun dan mau untuk merenungi ajaran-ajaran suci ini. Ajaran ini
menghancurkan keragu-raguan seseorang yang beriman kepadaNya.
Dengarkanlah pesan-pesan Sang Kreshna dengan penuh penghayatan, dan kalau ada
yang kurang di mengerti jangan ragu-ragu untuk bertanya kepada guru atau pada
yang mengetahuinya, dan suatu saat yang tepat nanti kita akan sampai ke tujuan
hidup ini, yang sebenar-benarnya, yaitu kehidupan yang sejati bersamaNya.
72. Sudahkan dikau dengarkan ini, oh Arjuna, dengan pikiran
yang terpusat pada suatu arah? Sudah hancurkah moha (kegelapan) mu yang
dikarenakan oleh agnana (kekurangan-pengetahuan), oh Arjuna?
Sang Kreshna kini bertanya kepada
Arjuna apakah keragu-raguannya yang dikarenakan oleh kekurang-pengetahuan akan
ilmu pengetahuan yang sejati telah pupus kini, setelah mendengarkan wejangan
dan sabda-sabda suci Sang Kreshna. Apakah moha (kasih-sayang atau keterikatan
duniawinya) akan keluarga dan negaranya telah berganti menjadi kasih-sayang
Ilahi Yang Sejati, yang penuh dengan kesadaran sejati akan arti dan hakikat
misi kita ke dunia ini?
Berkatalah Arjuna:
73. Hancurlah sudah kegelapanku, telah kudapatkan kesadaran ini
melalui karuniaMu, oh Kreshna! Tegarlah daku kini, dan hilanglah sudah
keragu-raguanku. Daku akan bertindak sesuai dengan sabda-sabdaMu.
Akhirnya, Arjuna mendapatkan
kesadarannya dan siap melakukan sabda-sabda Sang Kreshna, tegarlah sudah jiwa,
pikiran dan raganya. Kebenaran Ilahi, kebenaran dan penerangan Sang Atman
datang sudah ke dalam dirinya. Hilang sudah kegelapan dari diri dan jiwanya,
dan sadarlah Arjuna kini, bahwa Sang Jiwa itu sebenarnya adalah abdi Yang Maha
Kuasa yang sifat sejatinya adalah abadi dan tidak bisa binasa. Tempat
sebenarnya dari Sang Jiwa di dunia adalah di telapak kaki suci Sang Kreshna,
Yang Maha Esa. Dengan kata lain, ini berarti Sang Jiwa seharusnya mengabdi di
dunia sesuai dengan kehendakNya dan bukan sesuai dengan kehendak dan nafsu Sang
Jiwa sendiri, dan Arjuna pun sadar akhirnya bahwa kebijaksanaan yang tertinggi
adalah dalam bentuk penyerahan total jiwa, raga, pikiran dan perbuatan serta
hasil perbuatan-perbuatan itu, secara tulus dan tanpa pamrih, kepada Yang Maha
Esa semata. Tidak mengherankan kalau di sloka ini Arjuna akhirnya berkata,
"Daku akan bertindak sesuai dengan sabda-sabdaMu."
Begitulah selalu, setelah Sang
Jiwa dalam diri kita sadar maka — egoismenya akan hilang, ilusi-ilusi di
sekitarnya hilang, kegelapannya tersibak dan keragu-raguannya hancur-lebur,
maka --- akan terdengarlah sebuah suara kecil dari Yang Maha Esa di dalam
dirinya, dan mulailah ia bertindak mengikuti semua instruksi-instruksi dan
tuntunan-tuntunanNya, ia menjadi alat atau instrumen Yang Maha Kuasa dengan penuh
kesadaran dan penerangan Ilahi penuh dengan ilmu pengetahuan yang sejati.
Berkatalah Sanjaya:
74. Demikianlah telah kudengar dialog yang amat menakjubkan
antara Sang Vasudeva (Kreshna) dan Partha (Arjuna) yang berjiwa luhur (besar),
dialog ini membuat bulu-bulu romaku berdiri.
Sanjaya yang pada awal Bhagavat
Gita memulai kisah Bhagavat Gita kepada Raja Dhritarashtra; telah menceritakan
semua yang didengarkan dan yang dilihatnya ini pada sang raja, dan di
sloka-sloka berikutnya ia akan mengakhiri kisah Bhagavat Gita.
75. Dengan kebaikan Vyasa, kudengar rahasia agung ini, Yoga
yang diajarkan sendiri oleh Sang Kreshna, Tuhan dari segala ilmu pengetahuan
yang bersabda di depanku.
Sanjaya menerangkan kepada raja
Dhristarashtra bahwa dengan pertolongan Resi Vyasa yang memberikan Sanjaya
penglihatan mistik, maka ia telah mendengarkan sabda-sabda Sang Kreshna kepada
Arjuna, tetapi tidak dengan telinga duniawi milik raganya, karena kekuatan
mistik Resi Vyasa. Bukan saja Sanjaya mendengarkannya, tetapi ia pun bertekad
untuk mempelajari dialog suci ini. Sang raja sebaliknya akan menderita karena
masih penuh dengan itikad-itikad jahat.
76. Mengingat-ingat dialog antara Sang Kreshna dan Arjuna yang
menakjubkan dan suci ini, oh raja. Aku gemetar dalam kebahagiaan, lagi dan
lagi!
Sanjaya sendiri yang mendengar
dan melihat dari jauh tak dapat melupakan dialog suci ini dan raganya
berulang-ulang gemetar kalau meningat-ingat lagi akan apa saja yang ia saksikan
dan dengar. Sebaliknya raja Dhritarashta, ayah para Kaurawa tidak nampak
tertarik akan ajaran-ajaran suci Sang Kreshna ini, karena ia lebih mementingkan
keluarga dan putra-putranya. Sanjaya di lain pihak akan bertambah terus
keyakinannya terhadap Sang Kreshna dan ajaran-ajaranNya.
77. Teringat, dan teringat juga, bentuk yang menakjubkan dari
Sang Kreshna, besar takjubku, oh raja, dan aku gemetar dengan kebahagiaan, lagi
dan lagi!
78. Di mana hadir Sang Kreshna, Tuhan dari ilmu pengetahuan, di
mana hadir Arjuna, sang pemanah, terjaminlah di sana kemakmuran, kemenangan
(kejayaan), kesejahteraan dan neeti (kebenaran atau moralitas).
Sang Kreshna adalah ilmu
pengetahuan yang sejati, dan Arjuna adalah energi. Kalau kedua unsur ini
bergabung maka terciptalah kemenangan, kejayaan, kesejahteraan, kesentosaan,
kemajuan dan kebenaran. Dengan kata lain, Sang Kreshna adalah Sang Para-Atman
yang bersemayam di dalam diri kita semua. Arjuna adalah tidak lain dan tidak
bukan, kita, manusia di dunia ini. Kalau kedua unsur ini bergabung secara
sejati, maka terciptalah kebenaran yang sejati. Om Tat Sat.
Dalam Upanishad Bhagavat Gita,
Ilmu Pengetahuan Yang Abadi, Karya Sastra Yoga, dialog antara Sang Kreshna dan
Arjuna, maka bab ini adalah yang kedelapan-belas yang
berjudul:
Moksha Sanyasa Atau llmu
Pengetahuan mengenai Pembebasan melalui Penyerahan secara Total
Om Shri Kreshna Arpanam Astu Shubham Bhavantu
Puja-puji bagi Sang Kreshna Yang Maha Pengasih dan Penyayang,
Semoga tercipta kebahagiaan di manapun.
Dengan ini berakhirlah Upanishad Bhagavat Gita, Semoga damailah setiap benda dan makhluk di alam semesta ini.
Om Tat Sat. Om Shanti, Shanti, Shanti. Om Tat Sat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar