Bersabdalah Yang Maha
Pengasih:
1. Dengan akar-akarnya yang tumbuh ke atas dan cabang-cabangnya yang
menurun, Ashvattha (pohon beringin yang abadi) ini dikatakan sebagai yang tak
dapat dihancurkan. Dedaunannya adalah mantra-mantra Veda. Seseorang yang kenal
akan pohon ini, kenal akan Veda-Veda.
Di sini Sang Kreshna menerangkan
atau menggambarkan Prakriti (kosmos, alam semesta, atau dunia) sebagai pohon
beringin yang abadi, yaitu Ashvattha. Kata Asvattha berarti 'tidak stabil' atau
'selalu bergoyah.' Pohon ini dipercaya oleh orang-orang Hindu sebagai sebuah
pohon beringin yang mempunyai akar-akar yang tumbuh ke atas, dan
cabang-cabangnya tumbuh ke bawah. Sebenarnya bukahkah dunia ini sama saja
ibarat pohon beringin ini, yang abadi tetapi selalu tak pernah stabil, karena
ia lahir dari Sang Maya. Akar-akar pohon ini tumbuh ke atas, ini diartikan
terpusat kepada Yang Maha Esa.
Jadi dunia atau alam kosmos atau
Prakriti atau Sang Maya adalah ibarat pohon beringin yang tak stabil ini, yang
sebenarnya terpusat atau berakar pada Yang Maha Esa, Yang Maha Abadi dan
Stabil. Yang Maha Abadi inilah sebenarnya Unsur Yang Abadi dan Stabil dan bukan
alam semesta dengan segala efek-efeknya. Tetapi hanya manusia yang penuh dengan
vairagya (lepas dari keterikatan duniawi) saja yang dapat melihat 'pohon-dunia'
ini di dalam Yang Maha Esa dan sadar bahwa dunia ini sebenarnya berakar atau
terpusat pada Yang Maha Pencipta dan Abadi.
Akar-akar pohon ini adalah Sang
Maya, pohon beringin adalah Prakriti atau alam kosmos ini, dan tempat akar
pohon ini berasal adalah Yang Maha Esa. Daun-daun dari pohon ini adalah
mantra-mantra Veda-Veda. Dedaunan yang rindang ini diartikan sebagai ilmu
pengetahuan sejati atau kasih Yang Maha Esa yang memberikan naungan atau
keteduhan kepada mereka-mereka yang ingin berlindung dibawah pohon beringin
yang rindang ini. Dengan kata lain dalam perjalanan hidup di dunia ini, kita
semua dapat mencari keteduhan dan perlindungan dengan mempelajari mantra-mantra
atau ajaran-ajaran Veda, ajaran atau pikiran-pikiran agung para resi dan
orang-orang suci pada masa-masa yang telah lama silam, ajaran-ajaran ini
tercakup dalam Veda-Veda dan kitab-kitab suci lainnya
.
2. Ke bawah dan ke atas tersebar cabang-cabang pohon ini. Pohon ini
mendapatkan sarinya dari guna-guna. Obyek-obyek indra adalah putik-putiknya.
Menurun ke bawah, tumbuh lagi akar-akarnya yang lain, akar-akar ini menjadi
pengikat setiap tindakan di dunia manusia ini.
Pohon ini mempunyai banyak
cabang yang tumbuh ke atas dan juga tumbuh ke bawah. Cabang-cabang ini
diartikan sebagai jiwa-jiwa Cabang-cabang yang mencuat ke atas adalah para
dewa, yang ke bawah adalah manusia, fauna, flora, reptil, serangga, dsb. Semua
cabang-cabang ini mendapatkan hidupnya dari sari atau makanan, dan makanan ini
adalah air, udara, dan lain sebagainya. Yang disebut sari atau makanan ini
adalah ketiga guna (sifat-sifat alam dari Prakriti).
Sayang sekali kita manusia
sering sekali atau setiap kali lebih tertarik akan sari atau makanan pohon
kehidupan ini dan tidak sadar akan fungsi akar-akar yang ke atas yang terpusat
pada Sang Pencipta. Kita lebih tertarik atau terikat pada guna, padahal itu
hanyalah makanan atau penunjang dari cabang-cabang dari pohon kehidupan ini.
Subyek utamanya malahan terlepas dari perhatian kita, karena enak dan nikmatnya
makanan ini. Sang Pohon ini juga memiliki putik-putik bunga dan ini diartikan
sebagai obyek-obyek luar atau eksternal (vishaya). Pohon beringin kehidupan ini
juga mempunyai bentuk akar-akar yang lain yang menjuntai ke bawah. Akar-akar
ini menurun dan mengikat pohon ini ke tanah. Akar-akar yang ke bawah ini
diartikan sebagai vasana, trishna, raga-dvesha, semuanya ini adalah
keinginan-keinginan dan nafsu-nafsu duniawi dan badani, yang mengikat pohon
atau kehidupan ini pada karma (aksi) dan hukum-karmanya, mengikat kita semua
pada kelahiran dan kematian yang tak ada henti-hentinya. Akar-akar yang
tersembunyi di dalam tanah ini (vasana) mengikat manusia dunia ini ke dalam
lingkaran-lingkarannya yang tak ada putus-putusnya.
3. Di sini tak dapat dibedakan bentuk asli Pohon ini, juga tidak
akhir, asal, dan dasarnya. Tertancap kuat pohon Ashvattha ini. Tebaslah pohon
ini sampai tumbang dengan senjata tak-keterikatan.
4. Dengan begitu dikau akan meniti jalan ke mana tak ada jalan
kembali, dan dengan begitu dikau akan mencapai Yang Maha Utama Yang dariNya
terpancar keluar Proses Kosmos ini (energi yang telah ada semenjak masa yang
amat silam).
Sayang manusia tidak melihat
atau menyadari Pohon ini secara keseluruhannya, dan tak mengerti akan
kepentingan pohon ini. Manusia lebih terserap kepada daun-daunnya, pada
buah-buah dan putik-putiknya, dengan kata lain manusia terjebak pada rasa manis
dan kenikmatan yang dikeluarkan pohon ini dan langsung terjebak di dalamnya,
dalam ilusi duniawi. Pohon ini sendiri tampaknya tidak bermula dan tak ada
akhirnya; siapa pula yang akan pernah tahu akan asal-mulanya dan akhirnya?
Bukankah Pohon ini berasal dari Sang Maya? Tetapi Sang Maya ada asal dan
akhirnya, yaitu Yang Maha Pencipta. Sedangkan Sang Maya atau pohon Kehidupan
ini sebenarnya hanyalah pantulan atau ilusi. Dan selama kita sibuk berkelana di
hamparan luasnya pohon kehidupan ini, selama itu juga kita akan sesat di
dalamnya tanpa jalan keluar karena begitu luas dan banyaknya jalan-jalan yang
salah di dalamnya seakan-akan tanpa akhir. Maka di situ-situ juga kita akan
berkelana tanpa pernah tahu akan hal-hal yang berada di luar itu, yaitu Sang
Empunya pohon ini.
Jalan satu-satunya untuk keluar
dari pohon ini adalah menebasnya sama-sekali dan jalan atau metode ke arah
penebasan ini adalah dengan menebas rasa keterikatan duniawi kita secara total
dan pasrahkan hasilnya kepada Sang Kreshna, kepada Yang Maha Esa, dan la akan
menyelamatkan kita semua dan menyatukan yang menebas pohon kehidupan ini,
denganNya.
Jalan ketidakterikatan duniawi
ini berulang-ulang ditekankan dalam Bhagavat Gita karena inilah faktor yang
amat vital untuk menyadari atau menyingkapkan kebodohan kita, agar terbuka ilmu
pengetahuan yang sejati, ilmu tentang arti dan hakikat dari kehidupan ini yang
sebenarnya, agar tercapailah kesatuan antara kita denganNya, yang menjadi
tujuan utama mengapa kita dilahirkan sebagai manusia yang berakal-budi, tidak
seperti ciptaan-ciptaan yang lainnya yang berbentuk fauna, flora dan benda-benda
tak bergerak. "Seseorang yang dirinya tak terikat pada obyek-obyek luar,
mendapatkan kebahagiaan yang ada di dalam dirinya sendiri," kata Bhagavat
Gita, dan lagi, "Seseorang yang telah melepaskan semua keinginan, dan
hidup bebas dari keterikatan, mendapatkan ketenangan."
Kebebasan dari keterikatan
adalah penting dan perlu dihayati bagi seseorang yang ingin kenal dengan Yang
Maha Esa, karena ini sudah merupakan syarat yang tidak dapat ditawar-tawar
lagi, dan kebebasan dari keterikatan ini harus dilaksanakan secara sadar dan
tulus dan tidak dapat dibuat-buat. Sang Jiwa di dalam raga kita harus
disadarkan dari ilusinya dan sang jiwa ini (bukan Sang Atman yang bersemayam di
dalam jiwa ini!) harus melepaskan keterikatannya akan uang, harta-benda, berbagai
miliknya seperti rumah, keluarga, negara, posisi, kedudukan, kemasyhuran dan
sebagainya. Bukan berarti semua ini harus diabaikan atau ditinggalkan tanpa
tanggung-jawab, tetapi rasa memiliki semua itu harus ditanggalkan, dan orang
ini harus hidup secara amat sederhana saja, dengan merasa semua itu hanyalah
titipan atau ilusi yang dapat datang dan pergi setiap saat. Bukankah
agama-agama besar lainnya juga menyiratkan hal yang sama, bahwa harta-benda
duniawi ini sebenarnya hanyalah pengikat jiwa kita ke dunia ini, dan selama
jiwa kita terikat pada dunia ini, bagaimana mungkin sang jiwa membersihkan
dirinya agar menjadi suci dan bersih dan mengenal Tujuannya Yang Sejati?
Jadi usahakanlah semaksimal
mungkin untuk tidak terikat kepada dunia atau pohon kehidupan ini, bekerjalah
demi dharma-bhakti kita kepadaNya semata. Hidup dan bekerjalah demi Ia semata
dengan motto atau semboyan, "Aku ini sebenarnya tak memiliki apa-apa, dan
aku ini sebenarnya bukan apa-apa." Dengan menjadikan diri kita nol-besar
dan tak memiliki apapun juga di dunia ini, maka akan turunlah Berkah Yang Maha
Besar, yang kemudian akan menuntun pemuja ini ke arahNya yang abadi dan pasti.
Ia hanya dikenal oleh mereka yang tak memiliki apapun di dunia fana ini selain
dari DiriNya Yang Sejati.
Cobaan yang maha berat
sebenarnya bukan harta-benda, milik atau rasa hormat atau pun keluarga, tetapi
adalah diri kita sendiri. Pengorbanan atau tak-keterikatan yang sejati
sebenarnya adalah pemasrahan total dari diri kita sendiri. Kita mungkin bisa
tak terikat pada harta-benda duniawi, tetapi selama kita belum melepaskan rasa
ego kita, maka jalan kepadaNya masih terasa amat jauh atau bahkan nampak
sia-sia saja. Kata seorang sufi yang suci, "Percuma saja mengganti baju
dan cara makanmu, percuma saja engkau menyantap sehelai rumput selama hidupmu
atau hanya memakai sehelai baju selama hidupmu, atau mengasingkan dirimu jauh
dari masyarakat kalau engkau masih terbius oleh ego juga. Rasa ego sebenarnya
juga salah satu keinginan atau nafsu diri yang amat licik dan lincah
mempermainkan dan menipu seseorang." Seseorang yang benar-benar tak
terikat pada dunia ini adalah yang secara lahir dan batin telah berpasrah total
kepadaNya. Orang semacam ini tak meminta atau bernafsu apapun juga, ia hanya
menerima apa yang diberikan oleh Yang Maha Esa, ia hanya menerima semua
kehendak Yang Maha Esa secara utuh dan tulus dan merasa puas dengan apa saja
yang diterimanya. la selalu berdoa kepada Yang Maha Kuasa, "Tuhan, Engkau
Maha Tahu, akan apa terbaik dan pantas untukku." Om Tat Sat.
Seseorang pernah bertanya kepada
seorang sufi mistik yang bernama Junayd Baghadi, agar memohon kepada Tuhan Yang
Maha Esa, supaya sang sufi dapat melihat Tuhan Yang Maha Esa. Orang itu yakin
bahwa Yang Maha Esa akan memenuhi permintaan sang sufi yang suci ini. Tetapi
apa jawab sufi ini? la berkata dengan tenang, "Aku telah beritikad tidak
meminta atau menginginkan sesuatu. Bukankah Nabi Musa pernah meminta melihat
Tuhan dan doanya tak terkabul, sedangkan Nabi Muhammad mendapatkanNya tanpa
pernah memintanya? Suatu waktu nanti kalau sudah tiba saatnya, maka Yang Maha
Kuasa akan menghapus semua rintangan dan memperbolehkan aku melihatNya sendiri
tanpa aku harus memintanya."
Dengan cara berpasrah total
kepadaNya, tanpa keterikatan duniawi, tebaslah pohon kehidupan yang penuh
dengan ilusi ini, agar tampak Sinar Terang Ilahi menuntun kita kepadaNya juga.
Caranya dengan sekali lagi bertekad untuk tidak terikat kepada semua unsur atau
obyek-obyek duniawi ini dan hanya berpasrah total kepadaNya dan menerima semua
kehendakNya sebagai pemberian dariNya.
5. Mereka pergi ke Rumah Yang Tak Dapat Dihancurkan, mereka ini tak
memiliki rasa keangkuhan dan rasa moha (cinta-kasih yang mengikat), yang telah
menang dan bangkit atas keterikatan yang baik dan buruk, yang selalu terpusat
pada Sang Adhyatman, yang telah meninggalkan nafsu-nafsunya, yang telah bebas
dari rasa dvandva (rasa dualisme yang saling bertentangan), dari kenikmatan dan
penderitaan.
6. Tiada surya atau pun chandra atau agni yang bersinar di sana;
tiada juga yang setelah sampai di sana kembali lagi. Itulah kediamanKu yang
suci dan agung.
Maka mereka ini pun pergi ke
tempat yang tak ada jalan kembali ke dunia ini. Mereka-mereka ini yang hati dan
hidupnya sederhana dan tak terpengaruh oleh noda-noda duniawi. Mereka yang
telah mengalahkan semua ikatan-ikatan duniawi, nafsu dan emosi, yang hidupnya
terfokus atau terpusat pada Sang Adhyatman, Yang Bersemayam di dalam diri
mereka masing-masing, Sang Atman. Mereka ini hidup di dalam Rumah Abadi Sang
Kreshna, dan di Rumah ini tak diperlukan cahaya mentari, rembulan atau pun
cahaya api untuk meneranginya karena cahaya Sang Kreshna Sendiri sudah tak
tertandingi terangnya di sana.
7. Sebagian dari DiriKu Yang Abadi ditransformasikan dalam dunia
kehidupan, ke dalam jiwa yang hidup, dan menarik melingkupi dirinya dengan
indra-indra yang mana sang pikiran adalah indra yang keenam -- yang terbungkus
dalam bentuk benda.
Dalam Pohon Kosmosnya Sang
Prakriti terlahir jiwa-jiwa, individu-individu, dan lain sebagainya. Dan
siapakah mereka semua ini dan juga kita? Setiap jiwa dan setiap makhluk adalah
salah satu fragmen kecil dari Sang Kreshna Yang Maha Esa itu Sendiri, dan
setiap fragmen atau bagian kecil ini timbul atau lahir ke dunia ini sebagai
makhluk atau individu (jiwa-bhuta), sebagai jiwa yang berkelana dalam raga-raga
yang berlainan bentuk dan ragamnya.
Ditegaskan di sini bahwa semua
jiwa-jiwa ini baik yang nampak maupun yang tak terlihat oleh mata kita, berasal
dari Sang Kreshna juga, Yang Maha Abadi dan Esa. Inilah fakta-fakta yang
dilupakan oleh manusia, dan manusia kebanyakan cenderung untuk tenggelam dalam
dunia ini dengan segala kenikmatan dan penderitaannya, tetapi tidak mau
mengenali diri dan jiwanya yang agung, yang merupakan sebuah fragmen dari Yang
Maha Esa. Manusia cenderung mementingkan buah, cabang dari pohon kehidupan ini
daripada asal pohon ini.
Fragmen-fragmen atau jiwa-jiwa
ini kemudian diatur sedemikian rupa oleh Prakriti (Alam) agar terbungkus oleh
indra-indra kita yang jumlahnya semua adalah lima indra organ dan satu indra
pikiran. Sang Jiwa ini kemudian diatur sedemikian rupa sehingga bebas memilih
terjerumus ke dalam nafsu-nafsu duniawi atau menyibak pembungkus Prakriti ini
sehingga dapat melihat Sinar Terang yang sebenarnya ada di dalam dirinya
sendiri, yaitu Sang Adhyatman, Sang Jati Diri, atau Yang Maha Esa iru Sendiri
dalam bentukNya yang kecil. Sang Kreshna adalah Adi Purusha (Manusia Yang
Terutama) di dalam (1) setiap jiwa yang berbentuk aneka-ragam dan (2) dan
sebagai Alam Semesta secara keseluruhan. Ia lah Sang Jati Diri, Sang Jiwa dalam
yang besar dan kecil, dalam alam semesta dan dalam makhluk-makhluk, roh-roh
atau jiwa-jiwa, secara menyeluruh dalam setiap yang hidup ini. Ia adalah
Adhyatman (Sang Atman Yang Tertinggi, Terutama dan menyeluruh dan sumber dari
semua jiwa-jiwa ini)!
8. Sewaktu Yang Maha Esa (Sang Jiwa) memasuki sebuah raga dan
sewaktu la meninggalkannya, la membawa serta semua indra dan pikiran ini dan
pergi bersama mereka, ibarat sang angin yang menerbangkan wewangian dari tempat
asalnya. (Contoh: wewangian bunga yang terbangkan jauh dari sang bunga itu
sendiri.)
Sang Jiwa yang mengembara di
alam kosmos ini dari satu tubuh ke tubuh yang lainnya, selalu membawa serta
semua indra-indra ini dalam tubuh halusnya. Semua ini kemudian jadi asal-mula
karma barunya lagi dalam kelahiran yang berikutnya.
9. Secara suci bersemayam di telinga, di mata, di kulit dan di
hidung - dan juga di dalam pikiran — la menikmati obyek-obyek sensual.
10. Mereka yang tidak sadar (kurang
pengetahuannya) tidak menyadariNya sewaktu la berpisah atau beristirahat atau
merasa, sesuai dengan kerja-samaNya dengan guna-guna. Tetapi mereka yang
memiliki mata kebijaksanaan dapat melihat.
11. Para yogi pun yang berusaha melihatNya di dalam diri
mereka; tetapi mereka yang tidak sadar, yang tidak bersih, mereka berjuang
tetapi tidak melihatNya.
Bagi mereka-mereka yang
bijaksana dan berpengetahuan (dalam agama Hindu selalu dipergunakan kata
berpengetahuan untuk mereka yang sadar akan Yang Maha Esa dan kata bodoh atau
kurang-pengetahuan untuk mereka yang masih jauh dariNya, dan masih bergelimang
akan dosa-dosa. Kata dosa jarang dipergunakan), maka terlihatlah oleh mereka
Sang Atman yang bersemayam di dalam raga kita dengan menikmati obyek-obyek
indra, Ia terlihat hadir di telinga, di mata, di kulit, di lidah, di hidung dan
di pemikiran (pikiran) kita. Bagi yang masih kurang sadar (agnana), maka
kenyataan ini tidak nampak oleh mereka, walaupun sebenarnya banyak di antara
mereka yang berjuang ke arah Yang Maha Esa. Mengapa begitu? Karena sebenarnya
mereka-mereka ini masih terselimut oleh ego mereka, sehingga tidak sucilah diri
mereka ini. Ingatlah! Sedikit saja ego itu masih tersisa di dalam diri kita
maka masih jauh kita ini dari Yang Maha Esa, ingat juga walaupun itu ego yang
baik sifatnya, selama namanya masih ego dan bukan demi Yang Maha Kuasa, maka
selama itu pula jauh kita ini dari Yang Maha Esa!
12. Ketahuilah bahwa gemerlapnya cahaya sang surya yang
menerangi dunia ini, dan cahaya rembulan dan api, semua kebesaran itu datang
terpancar dariKu.
13. Memasuki bumi ini, Kutunjang semua makhluk dengan energi
vitalKu dan, dengan menjadi cairan lembut dari Sang Chandra (sari Soma) yang
nikmat, Kuhidupi semua tumbuh-tumbuhan.
14. Dengan menjadi api-kehidupan, yang bersemayam di dalam raga
setiap makhluk yang bernafas, dan menyatu dengan kehidupan (nafas yang ditarik
dan yang dikeluarkan), Kucernakan semua bentuk makanan (empat jenis makan).
15. Dan Aku bersemayam di dalam hati semuanya; dan dariKu
timbul memori (ingatan) dan gnana (pengetahuan atau kesadaran) dan kekuatan
yang menangkis dan menolak keragu-raguan atau pikiran-pikiran yang negatif.
Akulah yang dimaksud dalam Veda-Veda, dan Akulah yang dimengerti oleh Veda-Veda
ini, dan juga Akulah Pengarang Vedanta - 'akhir' dari Veda.
Sang Kreshna atau Yang Maha Esa
adalah kehidupan total dari alam semesta ini. Setiap unsur dari alam semesta
ini berasal dariNya atau dengan kata lain Ia juga semuanya ini. Ia juga sumber
dari energi di alam semesta ini, Ia juga cahaya yang bersinar di dalam matahari,
rembulan dan api. Ia juga sari Soma dalam rembulan yang menghidupi
tumbuh-tumbuhan di bumi ini. Ia juga api-kehidupan dalam setiap manusia dan
makhluk-makhluk lainnya, Ia lah sumber tanpa batas dari segala-galanya. Ia juga
yang bersemayam dalam pikiran kita yang membedakan antara pikiran yang jahat
dan yang baik. la juga yang selalu disebut-sebut dalam Veda-Veda dan
kitab-kitab suci lainnya sebagai Tujuan Yang Abadi, Tuhan Yang Maha Esa, bahkan
Ia sendiri adalah Sang Pengarang dari Vedanta, yaitu kitab suci Hindu yang
terakhir dalam jajaran kitab-kitab Veda.
16. Ada dua Purusha (energi) di dunia ini, yaitu yang dapat
binasa dan yang tak dapat binasa. Yang dapat binasa adalah semua makhluk dan
benda-benda, yang tak dapat binasa disebut Kutashta (duduk secara tegar,
terbungkus oleh misteri dan bersemayam dalam Sang Maya).
17. Ada lagi seorang Purush -- Yang Maha Tinggi - Yang disebut
Purushottama (Sang Jati Diri Yang Suci dan Agung). la menunjang semuanya; la
menghidupi ketiga loka-loka ini. Ia lah Yang Maha Abadi (Yang Tak Dapat
Binasa).
18. Karena Aku berada di atas yang dapat binasa, dan juga Aku
lebih tinggi dari yang tak dapat binasa, maka baik di dunia ini maupun di dalam
Veda Aku dikenal sebagai Manusia Yang Maha Agung dan Suci.
Ada tiga bentuk Purusha, atau
orang atau energi di alam semesta ini:
(1) Disebut Kshara-prakriti atau berarti yang tidak abadi, yang dapat berganti-ganti, sama dengan semua makhluk dan benda-benda yang dapat binasa.
(2) Akshara-prakriti atau Kutashta (yang duduk tegar bagaikan batu di dalam Sang Maya) — yaitu Sang Jiwa atau Chaitanya-shakti yang melahirkan bentuk purusha yang pertama tadi.
(1) Disebut Kshara-prakriti atau berarti yang tidak abadi, yang dapat berganti-ganti, sama dengan semua makhluk dan benda-benda yang dapat binasa.
(2) Akshara-prakriti atau Kutashta (yang duduk tegar bagaikan batu di dalam Sang Maya) — yaitu Sang Jiwa atau Chaitanya-shakti yang melahirkan bentuk purusha yang pertama tadi.
(3) Uttama Purusha,
atau Purushottama, Paramatman, atau Sang Jati Diri Yang maha Agung dan Suci. Ia
adalah Yang Maha Esa Yang menunjang, menghidupi, menghadirkan alam semesta ini.
Ia lah Sang Kreshna Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Om Tat Sat.
Di bab VII, oleh Sang Kreshna,
kedua bentuk energi ini disebut Purusha dan Prakriti, sebagai dua buah bentuk
dari PrakritiNya. Di bab XV ini, Sang Kreshna menyebut kedua-duanya sebenarnya
bermakna sama, yaitu dua bentuk Energi (atau Upadhi) dari Satu Purusha Yang
Maha Agung dan Suci, yaitu Yang Maha Esa, Sang Purushottama, Sang Kreshna, Yang
Hadir dan Berkuasa di atas Kshara dan Aksara.
19. Seseorang yang telah sadar, mengenalKu sebagai
Purushottama, orang ini tahu akan semua hal dan ia memujaKu dengan seluruh
jiwanya, oh Arjuna!
20. Demikian telah ku beritahukan kepadamu ajaran
yang amat rahasia ini, oh Arjuna! Seseorang yang tahu akan hal ini, adalah orang
yang telah mencapai penerangan dan tugas-tugasnya selesai sudah, oh Arjuna!
Ilmu pengetahuan tentang Sang Kreshna sebagai Purushottama menuntun seseorang ke arah bhakti (dedikasi tulus tanpa pamrih). Ilmu atau pengetahuan ini memberikan rasa pengertian atau penerangan akan Yang Maha Esa dan segala aspek-aspekNya yang terlihat di alam semesta dan diri kita. Dan seseorang yang telah sadar akan hal ini adalah orang yang telah mendapatkan penerangan Ilahi, dan menurut Sang Kreshna selesai sudahlah tugas-tugas dan kewajibannya di dunia ini. Orang ini lalu sadar bahwa semua yang manis dan baik dalam hidup ini, seperti sahabat-sahabat, orang-orang yang dikasihinya, kekayaan, kesehatan, ilmu-ilmu pengetahuan dan lain sebagainya, hanyalah merupakan 'bunga-bunga' dan 'buah-buah' kehidupan belaka, yang merupakan hadiah atau pemberian Sang Purushottama kepadanya, untuk digunakan demi menunjang kehidupannya selama ia berkelana di dunia ini. la tak akan pernah lupa, bahwa tujuannya ke dunia ini sebenarnya adalah untuk mengenal Yang Maha Esa, bekerja demi Yang Maha Esa, dan berusaha untuk kembali kepadaNya lagi secara sadar. Untuk mencapai Rumah Yang Maha Esa ini maka semua materi-materi yang merupakan penunjang hidupnya di dunia ini harus ditinggalkannya, bukan diikat erat-erat dengannya. Seseorang yang secara sejati telah menyadari akan hakikat ini disebut Vairagi. la sadar dunia beserta seluruh isinya dapat binasa, tetapi Yang Maha Esa adalah Abadi. Pemuja semacam ini walau sehari-hari tetap bekerja seperti biasa dan sesuai dengan kewajibannya, sebenamya secara spiritual tugas-tugasnya di dunia ini telah selesai, karena walau masih memiliki raga ia sudah mencapai dan mengenal Sang Misteri Yang Maha Agung dan Suci, Yang Maha Pengasih dan Penyayang, Yang memiliki Keajaiban-Keajaiban Yang Tak Tertandingi. Pemuja yang suci ini di dalam hidupnya telah mencapai Nirvana. Om Tat Sat.
Dalam Upanishad
Bhagavat Gita, Ilmu Pengetahuan Yang Abadi, Karya Sastra Yoga, dialog antara
Sang Kreshna dan Arjuna, maka bab ini adalah yang kelima-belas dan disebut:
Purushottama Yoga atau Ilmu Pengetahuan tentang Manusia Utama Yang Maha Agung dan Suci
Tidak ada komentar:
Posting Komentar