Berkatalah Arjuna:
Oh Kreshna, daku berhasrat
sekali untuk mempelajari hal-hal tentang Prakriti (alam) dan Purusha (Sang
Jiwa), tentang ladang dan tentang Yang Mengetahui ladang ini (Sang Pengenal
ladang), tentang ilmu pengetahuan (kebijaksanaan) dan tentang hal-hal yang
perlu untuk diketahui.
Sloka di atas ini tak bernomor,
dan sering tak diterjemahkan karena dianggap sebuah sisipan.
Berkatalah Yang Maha Pengasih:
1.Raga ini, oh Arjuna, disebut sebagai ladang. Seseorang yang sadar
(tahu, mengenal) akan hal ini disebut sebagai sang pengenal ladang ini, oleh
mereka yang mengetahuinya (para resi).
2. Kenalilah Aku sebagai Yang Mengetahui ladang dari semua
ladang-ladang, oh Arjuna! Ilmu pengetahuan tentang ladang dan yang
mengetahuinya -adalah ilmu pengetahuan yang Ku anggap sebagai ilmu pengetahuan
yang sejati.
Dalam bab ini Sang Kreshna
menerangkan tentang filsafat (falsafah) kehidupan ini; ibaratnya menilai suatu
kehidupan di atas batu-karang yang kering dan gersang, maka setiap manusia
sebenarnya memerlukan suatu filsafat-kehidupan (suatu pegangan) agar kehidupan
dapat dijalaninya dengan sempurna. Dan untuk itu, pertama-tama amat penting
untuk menyadari atau memahami dua sifat dominan — manusia dan alam semesta
kedua sifat ini disebut — Prakriti dan Purusha. Prakriti adalah benda atau
raga, dan diibaratkan sebagai ladang (kshetrari), dan Purusha adalah Sang Jiwa
yang disebut dan dikenal sebagai Yang mengetahui tentang ladang ini
(Kshetragnd).
Bahkan dalam Injil pun Yesus
Kristus pun sering menyebut tentang ladang dan penabur benih dalam
parabel-parabelnya. Jadi bukan saja hal ini disiratkan dalam agama Hindu saja
tetapi dapat juga dilihat dan dihayati dalam agama-agama lainnya. Di sini dapat
dikatakan bahwa yang disebut ladang adalah raga kita sendiri dan Sang Penabur
Benih adalah Sang Kreshna, Yang Maha Mengetahui ladang ini, la bersemayam di
dalam diri kita. Dan yang disebutkan sebagai benih di sini adalah kebijaksanaan
(gnanam), yang selalu ditaburkan olehNya untuk kita semua agar sadar dan
kembali ke jalanNya. Sang Kreshna di sini berbicara tentang ladang, tentang
yang mengenal ladang dan tentang ilmu pengetahuan dalam bentuk kebijaksanaan.
Prakriti adalah ladang: di dalamnya setiap benda dan makhluk tumbuh dan
berkembang, lalu layu dan akhirnya binasa, dan hidup dan tumbuh baru lagi.
Prakriti adalah suatu bentuk aktivitas. Di dalam Prakriti dituai buah atau
hasil dari setiap tindakan dan perbuatan kita ~ ibarat sebuah ladang saja.
Fungsi Prakriti adalah aktivitas tanpa dilandasi oleh kesadaran sejati.
Gnanam (kebijaksanaan) adalah
benih yang ditabur dan dituai dari ladang ini; kebijaksanaan ini adalah ilmu
pengetahuan tentang ladang dan tentang Yang Mengetahui atau Yang Mengenal
ladang ini. Di alam semesta ini apapun yang kita lihat adalah gabungan atau
kombinasi dari Purusha dan Prakriti, antara Sang Jiwa dan benda, antara roh dan
raga. Sang Jiwa, Sang Purusha adalah Kshetragna (Yang Mengetahui Ladang) dan
Yang Mengetahui adalah Sang Kreshna, yang dengan kata lain adalah Yang Maha Esa
itu sendiri.
3. Dengarkanlah secara terperinci, dariKu, apakah ladang itu, dan
apakah sifatnya, apakah modifikasi-modifikasinya, bilakah la (ada), apakah la
(Yang Mengetahui tentang ladang) itu, dan apa sajakah kekuatan-kekuatanNya?
4. Para resi telah meyabdakannya dengan berbagai cara, dengan
berbagai mantra, dengan sabda-sabda dalam Brahma-Sutra — disabdakan dengan
penuh alasan dan kata-kata yang konklusif, penuh dengan kebijaksanaan Yang Maha
Abadi.
Ajaran mengenai ladang dan yang
mengetahui ladang ini, bukan ajaran baru, tetapi sudah muncul dalam
pustaka-pustaka dan ajaran-ajaran Hindu kuno, dan sudah dikenal oleh
orang-orang yang mempelajarinya di zaman dahulu.
5. Lima elemen kasar, dan rasa "ke-aku-an," juga
pengertian akan yang tak berbentuk kesepuluh indra dan pikiran, dan kelima
indra yang utama,
6. Keinginan (nafsu) dan rasa-benci, kenikmatan dan penderitaan,
bentuk kolektif, intelegensia, keteguhan - semua ini, secara terperinci
diterangkan, sebagai yang mencakup ladang ini dan modifikasi-modifikasinya.
Kshetra (atau ladang) ini
terdiri dan 24 prinsip, yaitu:
1.
Avyakta - yang tak berbentuk.
Ini adalah Sang Maya (Ilusi-Ilahi), di mana semua akan terserap sewaktu terjadi
pralaya atau kiamat.
2.
Ahankara — rasa ego, rasa ego
yang didasarkan kepada pengalaman-pengalaman pribadi, pada personalitas, pada
diri-pribadi, merupakan kesadaran dari dan untuk diri pribadi saja.
3.
Buddhi — alasan-alasan,
pemahaman, pengertian yang membedakan antara yang benar dan salah, intuisi,
kekuatan untuk langsung mengetahui sesuatu.
4.
Mana — sering disebut juga
sebagai ekam atau satu;
(5-14) Terdiri dari sepuluh bentuk indra, yaitu terbagi dua. Yang lima pertama adalah gnana-indra yang terdiri dari mata (penglihatan), kuping (pendengaran), hidung (penciuman), lidah (rasa), sentuhan atau organ aksi. Kemudian lima indra yang berikutnya adalah karma-indra atau juga disebut indra-indra fungsi yang terdiri dari tangan, kaki, mulut (wicara), anus dan penis (kemaluan).
(5-14) Terdiri dari sepuluh bentuk indra, yaitu terbagi dua. Yang lima pertama adalah gnana-indra yang terdiri dari mata (penglihatan), kuping (pendengaran), hidung (penciuman), lidah (rasa), sentuhan atau organ aksi. Kemudian lima indra yang berikutnya adalah karma-indra atau juga disebut indra-indra fungsi yang terdiri dari tangan, kaki, mulut (wicara), anus dan penis (kemaluan).
(15-19) Kemudian yang disebut lima indra yang penting (indriyah-gocharah) adalah sparsha (sentuhan), rasa (merasakan), rupa (pengetahuan), gandha (penciuman) dan shabda (suara).
(20-24) Lima elemen kasar (mahabhuta) adalah bhum (tanah), apa (air) anala (api), vayu (udara) dan khan (ether).
Kshetra atau ladang ini mempunyai lima vikara, yaitu bentuk atau transformasi, atau bisa disebut juga penggantian atau modifikasi, dan sebagainya. Yang masing-masing adalah:
a.
iccha dan dvesha — yaitu
keinginan dan aversi (rasa dualisme yang saling bertentangan seperti suka-tak
suka, panas-dingin, benci-sayang, dan lain sebagainya);
b.
sukham dan dukham — yaitu
kenikmatan dan penderitaan;
c.
sanghata — yaitu bentuk
kolektif tubuh atau raga;
d.
chetana — yaitu kesadaran,
intelegensia, pikiran dan pengetahuan;
e.
dhriti — yaitu keteguhan, ketegaran dan tekad
yang kuat.
Harus diketahui bahwa fungsi psikological seperti nafsu (keinginan) dan aversi, kenikmatan, dan penderitaan, intelegensia, keteguhan adalah sifat-sifat yang berhubungan dengan kshetra (ladang) dan bukan pada Sang Atman. Kshetra atau ladang ini terbentuk dari raga dan pikiran dan bukan dari Sang Atman. Sebaliknya kshetra ini merupakan tempat bersemayam Sang Atman ini. Vikara atau modifikasi timbul dalam kshetra karena sang jiwa kita berhubungan dengan Sang Maya; Sang Maya kemudian mempermainkan jiwa kita dan timbullah gelombang-gelombang dan pergantian-pergantian dalam pikiran dan jiwa kita, yang selalu terombang-ambing oleh permainan atau ilusi Sang Maya ini. Sekali terlibat dan tenggelam dalam manis dan pahitnya Sang Maya maka sukarlah bagi seorang manusia untuk lepas dari cengkeramannya dan jadilah kita budak duniawi ini. Jiwa kita dengan statusnya yang suci (Sang Atman) tidak ditakdirkan sebagai tuan dari Sang Maya ini, lain dari para Avatar a, yaitu Yang Maha Esa yang menjelma menjadi manusia seperti Sang Kreshna dan Sang Rama, mereka ini masing-masing pada zamannya sewaktu bereinkarnasi sebagai manusia tidak dapat dikuasai oleh Sang Maya, sebaliknya merekalah yang menguasai atau menjadi tuan dari Sang Maya ini.
Harus diketahui bahwa fungsi psikological seperti nafsu (keinginan) dan aversi, kenikmatan, dan penderitaan, intelegensia, keteguhan adalah sifat-sifat yang berhubungan dengan kshetra (ladang) dan bukan pada Sang Atman. Kshetra atau ladang ini terbentuk dari raga dan pikiran dan bukan dari Sang Atman. Sebaliknya kshetra ini merupakan tempat bersemayam Sang Atman ini. Vikara atau modifikasi timbul dalam kshetra karena sang jiwa kita berhubungan dengan Sang Maya; Sang Maya kemudian mempermainkan jiwa kita dan timbullah gelombang-gelombang dan pergantian-pergantian dalam pikiran dan jiwa kita, yang selalu terombang-ambing oleh permainan atau ilusi Sang Maya ini. Sekali terlibat dan tenggelam dalam manis dan pahitnya Sang Maya maka sukarlah bagi seorang manusia untuk lepas dari cengkeramannya dan jadilah kita budak duniawi ini. Jiwa kita dengan statusnya yang suci (Sang Atman) tidak ditakdirkan sebagai tuan dari Sang Maya ini, lain dari para Avatar a, yaitu Yang Maha Esa yang menjelma menjadi manusia seperti Sang Kreshna dan Sang Rama, mereka ini masing-masing pada zamannya sewaktu bereinkarnasi sebagai manusia tidak dapat dikuasai oleh Sang Maya, sebaliknya merekalah yang menguasai atau menjadi tuan dari Sang Maya ini.
7. Rendah-diri, tidak berpura-pura, tidak menyakiti makhluk lainnya
kesabaran, bertindak berdasarkan kebenaran, merawat dan bekerja demi
guru-spiritual, pembersihan diri (raga dan pikiran), ketegaran dan
kendali-diri,
8. Bersikap tidak acuh pada benda-benda atau hal-hal yang
berhubungan dengan indra-indra, tak mempunyai rasa egois, mengenal akan
sifat-sifat buruk dari kelahiran, kematian, masa-tua, penyakit dan penderitaan.
9. Tanpa keterikatan, tidak mengidentifikasikan dirinya dengan
putra-putrinya, dengan istri dan rumahnya, dan selalu bersikap sama rata secara
konstan terhadap hal-hal dan kejadian-kejadian yang menyenangkan maupun yang
tidak menyenangkan.
10. Dedikasi kepadaKu tanpa henti-hentinya, melalui yoga (ilmu
pengetahuan), menyepikan diri ke tempat-tempat yang tenang, tak berkeinginan
untuk berkumpul secara duniawi.
11. Selalu berusaha untuk mempelajari ilmu pengetahuan tentang Sang
Atman, intuisi langsung dengan maksud untuk mengenal Kebenaran - inilah yang
disebut kebijaksanaan. Semua hal yang berlawanan dengan ini adalah kebodohan
(tak-berpengetahuan).
Pelajaran atau jalan
kebijaksanaan dipaparkan dengan baik dan terperinci oleh Sang Kreshna di atas.
Semuanya berjumlah 20 karakter atau sifat, dan kedua-puluh sifat ini adalah
akar atau fondasi dari kebijaksanaan yang akan mengantarkan seseorang kepada
Yang Maha Esa, ke ilmu pengetahuan sejati tentangNya. Kebijaksanaan ini kalau
dipelajari dengan seksama adalah indikasi dari sifat-sifat moral yang amat
super atau prima, yang menjadi dasar dari tindakan-tindakan kita yang baik dan
benar, yang lepas dari rasa duniawi, dan rasa memiliki, dari nafsu-nafsu dan
malahan menjadi dasar yang kokoh dan benar dari setiap tindakan kita dan
mendorong kita untuk lebih banyak melihat ke dalam diri kita sendiri. Kedua-puluh
sifat ini menunjukkan arah seseorang kepadaNya tanpa pamrih dan penuh dedikasi
dan kebenaran bagiNya semata.
12. Akan Ku sabdakan tentang sesuatu yang harus diketahui, yang
setelah diketahui, maka tercapailah keabadian — Sang Brahman, Yang Tak bermula,
Suci dan Agung, Yang dapat disebut Sat (Berbentuk) dan juga dapat disebut Asat
(Tidak Berbentuk).
Yang mengetahui ladang ini
disebut Kshetmgna, lalah Yang Maha Suci dan Agung Para Brahman. la tak dapat
dikualifikasikan karena Yang Maha Esa ini di luar kualifikasi yang dibuat
manusia, seyogyanyalah la lalu disebut sat dan asat (berbentuk dan tidak
berbentuk). la diluar kedua faktor ini dan Maha Agung dan Suci. Ia hadir dan
ada tetapi pada saat yang bersamaan Ia pun tak hadir dan tak ada atau tak
terlihat. Yang Maha Esa tak dapat dikualifikasikan atau digambarkan karena
dengan begitu malahan membatasiNya, dan tak mungkin Ia dapat dibatasi karena
Maha Tak Terbatas Yang Maha Esa ini.
13. Di mana pun Sang Brahman ini mempunyai tangan-tangan dan
kaki-kaki, di mana pun Ia bermata, berkepala dan bermulut. Ia mendengar di
setiap tempat, dan Ia tinggal di dunia ini, menyelimuti (meliput) semuanya.
14. Ia bersinar di semua fungsi indra-indra, tetapi lepas dari indra-indra ini. tak terikat, tetapi Ia lah penunjang semuanya. Ia bebas dari segala kualitas (Nirgunam), tetapi Ia juga yang menikmati semua kualitas.
14. Ia bersinar di semua fungsi indra-indra, tetapi lepas dari indra-indra ini. tak terikat, tetapi Ia lah penunjang semuanya. Ia bebas dari segala kualitas (Nirgunam), tetapi Ia juga yang menikmati semua kualitas.
Sang Brahman ada tapi tak ada.
Ia hadir dalam Prakriti tetapi tak terlihat oleh kita. Ia sukar menemukan
istilah yang tepat tentang Yang Maha Esa ini dan Ia hanya dapat dijelaskan
secara minim dalam paradoks-paradoks saja. Ia hadir dalam setiap hal, sifat,
bentuk atau aksi, tetapi tak pernah terlibat secara langsung.
15. Di luar dan di dalam semua makhluk Ia hadir dan juga bergerak.
Terlalu sukar untuk dipersepsikan Ia ini. Ia dekat tetapi juga Ia amat jauh.
Benar kata filsuf Meister
Eckhart, "Semakin dalam Tuhan di dalam diri sesuatu, semakin di luar Ia
berada dari sesuatu tersebut." Ia bergerak tetapi tanpa gerak, Ia dekat
tapi jauh. Ia tak dapat diterangkan tetapi Ia dapat dirasakan kehadiranNya
ditengah-tengah kita
16. Ia hadir tak terbagi-bagi di dalam makhluk-makhluk, tetapi Ia
bersemayam secara sama rata (di dalam diri makhluk-makhluk seakan-akan
terpisah-pisah). Ia penunjang semua makhluk dan benda. Ia pemusnah kehidupan,
tetapi Ia juga pemberi kehidupan.
Di atas sudah cukup tergambar
atau terbayang atau terasa dan terlihat oleh kita akan semua kebesaranNya.,
sebagai pemusnah sekaligus pemberi kehidupan, sebagai yang tak ada di dalam
setiap yang ada, sebagai yang beraksi dalam setiap tak-aksi, atau pun
sebaliknya.
17. Ia adalah Cahaya dari semua cahaya. Ia yang dikatakan sebagai di
luar kegelapan. Ia adalah kebijaksanaan, tujuan dan kebijaksanaan yang dicapai
dengan kebijaksanaan. Ia bersemayam di dalam hati semuanya.
Salah satu sifatNya adalah
Cahaya atau Nur, Sang Surya Yang Eka, tetapi bersinar dalam hati setiap insan
dan makhluk. Ia juga adalah ilmu pengetahuan yang sejati, sekaligus obyek dan
tujuan ilmu pengetahuan sejati tersebut. Para pencariNya melakukan perjalanan
spiritual guna mencariNya, justru dari luar ke dalam diri mereka sendiri karena
Ia bersemayam dalam diri setiap insan dan makhluk ciptaanNya. Ia hadir di
mana-mana, tangan-tangan dan kakinya tersebar di setiap sudut dan penjuru
dunia. Ia adalah satu-satuNya yang berada di kegelapan, karena Ia lah Cahaya
dari semua cahaya.
18. Begitulah telah Ku katakan kepadamu, secara singkat dan
terperinci, tentang ladang ini, tentang ilmu pengetahuan dan obyek dari ilmu
pengetahuan ini. PemujaKu, setelah mengetahui ini, memasuki DiriKu.
Tiga hal yang penting untuk
diketahui, yaitu ladang (kshetra); ilmu pengetahuan (gnana), yang dimaksud ini
bukan ilmu pengetahuan yang ilmiah, tetapi justru yang gaib dan dianggap
sejati; obyek dari ilmu pengetahuan ini (gneya). Mengenal, mengetahui atau
menghayati ketiga prinsip ini dalam kehidupan kita sehari-hari berarti mencapai
Yang Maha Esa, Yang Agung dan Suci lepas dari segala penderitaan. Seseorang
yang memiliki ilmu pengetahuan ini akan mencapai cinta-kasih (bhakti). Yang
Maha Esa dapat dicapai oleh mereka yang sederhana, rendah-hati dan penuh kasih,
yang telah memurnikan jiwa dan hatinya. Yang ingin mengenalNya dengan baik
harus belajar terlebih dahulu untuk mencintai semuanya, sadar bahwa semua orang
dan makhluk dan benda adalah alat-alatNya belaka yang harus memainkan
peranannya masing-masing di kehidupan ini. Setelah sadar akan hakikat
cinta-kasih yang sejati maka orang ini akan meningkat untuk 'bercinta-kasih
denganNya." Hidup ini lalu berubah penuh dengan cinta-kasihNya. Hidup
tidak seharusnya dihitung dari tahun-ke-tahun atau hari-ke-hari, tetapi dari
dalamnya cinta-kasih kita terhadapNya dan terhadap semua ciptaan-ciptaanNya.
Bagaimana seseorang yang suci-murni dapat merusak atau mencederai
ciptaan-ciptaanNya yang lain, sekiranya la betul-betul telah murni
cinta-kasihnya pada Yang Maha Esa?
Seorang mistik bernama Bayazid
sekali masa pernah ditanya umurnya, dan ia menjawab baru berusia empat tahun.
Padahal usianya telah mencapai 74 tahun. Tentu saja para penanya menjadi heran
karenanya. Tetapi Bayazid dengan rendah hati menerangkan bahwa selama 70 tahun
ia jauh dari Tuhan, dan dekat dengan dunia. Baru empat tahun terakhir ini ia
merasakan dekat kepadaNya dan merasakan kasih-sayangNya yang tak terhingga,
mendengarkanNya Yang tak pernah didengarNya sebelum ini, merasakanNya Yang tak
pernah tersentuh olehNya selama ini. "Jadi baru empat tahun ini aku
betul-betul hidup!" seru Bayazid.
19. Ketahuilah bahwa Prakriti (unsur benda atau sifat) dan Purusha
(sang Jiwa), kedua-duanya tidak bermula. Dan ketahuilah bahwa semua modifikasi
dan guna (kualitas) lahir dariNya.
Prakriti dan Purusha tak bermula
dan sudah hadir sebelum penciptaan dunia. Tetapi semua pergantian, modifikasi
dan sifat-sifat alam ini berasal dari Prakriti, yang lahir dariNya.
20. Benda atau alam dikatakan sebagai yang menjadi penyebab yang
memancarkan sebab dan akibat; sang Jiwa dikatakan sebagai penyebab dari
pengalaman suka dan duka.
21. Sang Jiwa yang bersemayam di dalam benda mencicipi
kualitas-kualitas (guna) yang lahir dari benda. Keterikatannya terhadap guna
inilah yang menjadi penyebab kelahirannya secara baik dan buruk.
Kita lihat sekarang dalam sloka
19-23 tersirat adanya pemikiran baru yang terbagi pada tiga prinsip, yaitu
Prakriti-Benda-Alam, Purusha-Jiwa-Roh dan Purusha-Parah, Sang Jiwa Yang Maha
Agung dan Maha Suci. Purusha dan Prakriti, kedua-duanya bersifat anadi (yaitu
tanpa mula) dan terpancar atau berasal dari Yang Maha Abadi, Yang Maha Esa,
Sang Jiwa Yang Maha Agung dan Maha Suci. Sang Purusha, atau Jiwa yang telah
tergabung dan bersatu dengan Sang Prakriti, menikmati semua
pengalaman-pengalaman duniawi seperti suka-duka dan lain sebagainya. Karena
Jiwa bebas berkehendak maka ia sudah menyalah-gunakan kehadirannya dalam raga
dan ia hanya tenggelam dalam kenikmatan duniawi ini dan terjebak oleh ikatan
waktu dan ruang.
Jiwa sebenarnya adalah bentuk
spiritual tetapi ia diberikan kebebasan untuk menuju kepada Yang Maha Esa. la
dapat memberikan kasih dan dedikasinya kepada Yang Maha Esa atau kepada Sang
Maya (Sang Ilusi-Ilahi). Sekali ia menjadi budak Sang Maya ia akan
bertolak-belakang dari Yang Maha Esa. Dan sekali ia terjebak dalam ilusi ini,
maka ia akan timbul-tenggelam di dalamnya, terjebak dalam ikatan waktu dan
spasi duniawi ini.
22. Dalam raga (yang dimaksud di sini adalah raga manusia)
bersemayam Sang Jiwa Yang Maha Agung dan Suci. la disebut sebagai Pengamat,
Yang Mengabulkan, Yang Menunjang, Yang Menikmati Pengalaman, Tuhan Yang Agung,
dan Sang Jati Diri Yang Agung dan Suci.
Dalam raga setiap makhluk
terdapat Sang Jati Diri (Sang Atman) Yang dikenal atau disebut juga sebagai
Purusha Parah, Sang Purusha Yang Maha Agung dan Suci. Ia lah sebenarnya Tuhan
yang Maha Esa dan Agung dengan nama dan sebutan yang beraneka-ragam. Yang Maha
Esa bersemayam dalam diri kita masing-masing sebagai Pengamat, dari setiap
tindakan dan pikiran kita; dari sang Jiwa atau Roh kita. la membiarkan tindakan
kita untuk kemudian dikoreksi yang salah (teguran hati nurani selalu hadir
sebenarnya dalam setiap tindakan kita yang salah, tetapi sering sekali kita
mengabaikannya karena faktor-faktor ego duniawi kita). Ia, Yang Maha Kuasa,
sebenarnya hadir dalam setiap makhluk.
Seandainya Sang Jiwa atau Roh
kita jatuh ke jalan Sang Maya, maka Sang Paratman atau Sahabat Pengamat kita
ini pun mengikutinya, menegurnya, menjaganya, memberikan peringatan-peringatan
kepada sang Jiwa kita ini, dan tak sekalipun Sang Paratman ini mengabaikannya,
Ia bahkan menuntun sang Jiwa ini kembali ke jalannya yang benar. Dengan caraNya
Sendiri Sang Paratman ini mengajari, mempengaruhi dan mengajak sang Jiwa yang
tersesat ini kembali ke arahNya. Maha Besar dan Pengasih, Ia sebenarnya, karena
selalu menyelamatkan kita semua dari jalan kesesatan dalam hidup ini, agar
tercapai misi kita yang seharusnya kita lakukan, yaitu bersatu kembali
denganNya. Sang Paratman adalah "bintang-harapan" kita yang akan
selalu menuntun kita dalam kegelapan duniawi ini, sehingga akhirnya tak ada
satu jiwa pun yang akan tersesat, semuanya akan dituntun ke arahNya. Sebenarnya
Ia adalah tujuan kita semuanya, kalau saja kita mau menyadari hal ini secara
sejati.
23. Seseorang yang mengetahui (menyadari) tentang Purusha dan
Prakriti dengan segala kualitas-kualitasnya, apapun keadaannya -- ia tak akan
lahir kembali.
Seseorang yang sadar tentang
pengetahuan Purusha dan Prakriti ini dengan ketiga guna (sifat atau kualitas)
nya, akan menuju ke arah pembebasan, yaitu lepas dari dunia ini dan bersatu
denganNya. Seseorang yang benar-benar sadar siapa Sang Purusha Yang Maha Agung
dan Suci ini betul-betul adalah seorang yang telah bebas.
24. Sementara orang menyaksikan Sang Atman melalui Sang Atman dengan
jalan meditasi (dhyana), sementara orang lagi menyaksikan melalui jalan
Sankhya-yoga (jalan ilmu pengetahuan), dan sementara orang lagi melalui Yoga
perbuatan (tindakan, aksi atau pekerjaan)
25. Yang lainnya lagi, tidak mengenal jalan-jalan yoga ini, memuja,
karena pernah mendengarkannya dari yang lain-lainnya; dan mereka pun lepas dari
kematian, pedoman mereka adalah skripsi-skripsi (shruti).
Ada empat metode yang menuntun
kita ke arah Yang Maha Esa, atau yang disebut juga Purusha Yang Maha Agung dan
Suci dan juga boleh disebut Kebebasan atau Penerangan. Masing-masing metode
terurai di bawah ini:
a.
Meditasi (dhyana) — Banyak yang
melakukan metode ini, dan menemukan Sang Jati Diri di dalam dirinya
sendiri. Dengan bermeditasi kita mencoba untuk berhubungan dengan Sang Atman
secara konstan dan penuh konsentrasi, dengan menjauhkan segala gangguan. Yang
penting dalam meditasi adalah ketenangan, dan makin kita tenang dan tak terusik
oleh pikiran dan keadaan-keadaan di sekitar kita, maka makin mendekatlah kita
kepadaNya. Berbicara tanpa henti malahan membuang-buang energi. Sebaliknya
ketenangan dalam meditasi menjauhkan kita dari hal-hal yang buruk dan
kesalahan-kesalahan duniawi. Sebaiknya dan seharusnya setiap hari kita
menyediakan sedikit waktu kita untuk berdiam diri dan menyatu denganNya. Dapat
kita mulai dengan lima menit saja dahulu, kemudian meningkat sampai setengah
atau satu jam secara bertahap. Janganlah jadi budak dari pekerjaan-pekerjaan
kita, dari kenikmatan dan penderitaan kita, dan dari kesibukan kita yang tak
kunjung ada habisnya. Sisihkanlah sejenak waktu setiap pagi dan malam untukNya,
dan dapatkanlah kenikmatan yang tak dapat diperoleh di semua kesibukan,
kenikmatan dan penderitaan duniawi kita. Sekali tercapai komunikasi denganNya,
kita akan mengalami keajaiban-keajaiban yang akan mengubah cara hidup kita, dan
makin tabah dan tegarlah kita dalam menghadapi kehidupan yang unik ini.
Ketenangan yang utama adalah dengan memulainya dalam kehidupan dan diri kita
sendiri, dan jalan terbaik adalah dengan berlatih meditasi dan selalu berusaha
untuk bersatu denganNya, Yang sebenarnya bersemayam tidak jauh, tetapi dalam
diri kita masing-masing, agar tercapai jalan kehidupan yang suci dan sempurna.
b. Ada yang
perlu dilakukan dalam bermeditasi, yaitu mengucapkan japa secara
berulang-ulang. Japa atau mantra ini dapat bermacam-macam sesuai yang diberikan
oleh sang guru meditasi, tetapi semakin pendek japa ini, semakin efektif
hasilnya. Misalnya satu kata OM atau Tuhan atau Allah atau Hari atau Rama atau
Kreshna atau Yesus, dan lain sebagainya yang sebaiknya dipilih sendiri yang
sesuai dengan diri kita pribadi, yang sesuai dengan hati sebaiknya dipilih
sendiri yang sesuai dengan diri kita pribadi, yang sesuai dengan hati nurani
dan panggilan jiwa kita sendiri. Pilihlah atau temukanlah sendiri satu kata
atau beberapa kalimat puja-puji yang menggambarkan kebesaran Yang Maha Esa, dan
sewaktu bermeditasi ucapkanlah berulang-ulang penuh konsentrasi, dedikasi dan
kasih. Lama-kelamaan kata yang spesifik tersebut atau juga japa dan mantra yang
telah teringat itu akan terus mengiang atau terucap dalam kita melakukan
pekerjaan kita sehari-hari, bahkan di tengah-tengah kesibukan atau sedang
berolah-raga misalnya. Kalau ada problem yang datang mengganggu ucapkan kata
sakti tersebut, memohon Yang Maha Esa untuk melindungi kita semua, dan
usahakanlah untuk menyatu denganNya selalu di mana saja dan kapan saja dan lama-kelamaan
perhatikanlah efeknya. Seluruh hidup kita akan berubah menjadi lebih stabil dan
tenang, dan kita jauh dari segala gejolak nafsu kita dan juga jauh
faktor-faktor buruk dan negatif, secara bertahap tetapi pasti hidup akan
bertambah tenang, stabil dan kesadaran akan menyusup masuk ke dalam diri kita
berkat kasihNya yang tak terbatas.
c. Bagi
sementara orang atau para pemula, bermeditasi dengan membayangkan atau
memusatkan pikiran pada suatu bentuk juga sangat bermanfaat; contoh,
membayangkan wajah atau figur Sang Kreshna, Rama, Shiva, Buddha untuk mereka
yang beragama Hindu dan Buddha. Dan untuk mereka yang beriman Kristiani dengan
membayangkan figur Tuhan Yesus, dan lain sebagainya sesuai dengan masing-masing
kepercayaannya.
1.Metode
Sankhya - metode dengan dasar intelektual atau ilmu pengetahuan yang mencoba
atau mempelajari tentang Sang Jati Diri, sebagai sebagian dari Yang Maha Esa.
2.
Karma-yoga — yaitu metode kerja atau tekad
tanpa pamrih dan penuh dengan pengorbanan dan disiplin bagiNya semata. Sang
karma-yogi dalam hal ini melakukan semua perbuatan, tugas dan pekerjaan
duniawinya dalam bentuk dedikasinya kepada Yang Maha Esa dan tak mengharapkan
apapun juga dari hasil pekerjaannya ini, yang semuanya diserahkan secara utuh
dan bulat-bulat kembali kepadaNya. Hidup sang karma yogi jadi suci dan bersih
karena setiap tindakan dan efeknya dipasrahkan kepada Yang Maha Esa dan ia
selalu berpikir dan berkata terjadilah kehendakNya" dan ia pun menerima
semua kehendakNya tanpa protes dan penuh ketenangan, walaupun yang ia terima
itu dalam bentuk suka dan duka, nikmat atau penderitaan, baik atau buruk,
positif atau negatif, semuanya diterima dengan kasih dan dedikasi sebagai
kehendak Yang Maha Kuasa juga. Hidupnya adalah pencetusan dari kehendak Yang
Maha Kuasa, dan diterimanya tanpa pamrih.
d. Metode upasna — dalam metode ini seseorang memuja Yang Maha Esa sesuai dengan yang dipelajarinya atau yang didengarkannya dari sang guru atau orang-orang lain. Cara ini dilakukan oleh para pemula. Dan lama-kelamaan mereka pun terangkat ke permukaan pemujaan mereka dan mendapatkan penerangan Ilahi. Ternyata Yang Maha Pengasih secara amat bebas membuka berbagai jalan untuk mencapaiNya, jalan atau metode apa saja yang diambil seseorang, yang penting adalah dedikasi, kesetiaan, dan kasih yang tulus kepadaNya, dan Ia akan selalu beserta kita menuntun kita ke jalanNya yang terang dan suci.
26. Benda atau makhluk apapun yang
dilahirkan, oh Arjuna, baik ia bergerak maupun tidak bergerak, ketahuilah itu
datang dari gabungan antara ladang dan Yang Mengetahui ladang ini.
Setiap benda
atau makhluk, atau apapun saja yang diciptakan oleh Yang Maha Kuasa di alam
semesta ini tercipta karena gabungan atau kombinasi dari Kshetra (ladang) dan
Kshetragna (Sang Pengenal Ladang), gabungan dari Purusha dan Prakriti, dari
Sang Jiwa dan benda atau alam dan sifat-sifatnya.
27. Seseorang yang melihat Tuhan Yang
Maha Agung dan Suci bersemayam secara sama di setiap benda dan makhluk, Yang
Maha Tak Terbinasakan dalam setiap benda atau makhluk yang dapat binasa — ia
benar-benar melihat.
Yang Maha Esa
bersemayam dalam setiap bentuk ciptaannya secara adil sama rata, jadi
lupakanlah pendangan atau rasa yang penuh diskriminasi atau yang merendahkan
martabat orang lain atau sifat melecehkan makhluk lain. Diskriminasi akan kasta
atau orang-orang yang dianggap berdosa dan buruk harus dijauhi, ingat Yang Maha
Kuasa hadir dalam semuanya tanpa diskriminasi! Ia hadir di setiap sisi dan
sudut alam semesta ini dalam berbagai ciptaan-ciptaanNya. Jangan sekali-kali memandang
tinggi kasta kita, kedudukan atau pun martabat dan kekayaan kita, apalagi
kemampuan kita berbuat sesuatu, karena semua itu sebenarnya tidak berarti
sama-sekali di mataNya. Yang berarti hanyalah la dan kehadiranNya di mana saja,
baik yang di kecil maupun yang di besar.
Siapakah kita
ini sebenarnya yang hanya bisa membeda-bedakan saja, yang hanya bisa melihat
baik dan buruk seseorang tanpa mau tahu akan hakikat dari kebenaran kehidupan
ini. Mengetahui kehadiran Yang Maha Esa di setiap ciptaanNya berarti
menghilangkan rasa takut, benci, diskriminasi, iri-hati pada sesama kita, dan
sebaliknya kemudian menimbulkan kasih-sayang kepada sesama kita baik itu berupa
manusia, makhluk-makhluk di alam semesta ini, pepohonan, batu-batuan dan semua
unsur-unsur alam di sekeliling kita.
Ia Yang Maha
Kuasa adalah Yang Tak Terbinasakan tetapi Ia hadir dalam setiap
ciptaan-ciptaanNya yang tak pernah abadi, yang selalu binasa dan lahir lagi.
Ini mengingatkan kita kepada dialog antara St. Catherine dari Sienna dalam
komuninya dengan Yesus Kristus. la bertanya kepada Tuhan Yesus, "Siapakah
daku, Tuhan? Dan beritahu daku siapakah Engkau?" Dan Yesus menjawabnya,
"PutriKu, engkau adalah yang tiada dan Aku adalah yang Ada."
Yang Ada ini
selalu hidup dalam yang tiada, yaitu kita semuanya ini, dan sadarlah akan
sesuatu hal, mengapa Yang Ada ini mau dan bersedia tinggal dalam diri-diri kita
ini, yang sering oleh kita sendiri dianggap sebagai tubuh-tubuh atau raga-raga
yang penuh dengan dosa-dosa dan nafsu-nafsu iblis? Betulkah semua perkiraan
kita ini? Ataukah pernah terpikir oleh kita semua, bahwa Yang Maha Esa
menciptakan raga ini sebagai suatu tempat bersemayam yang sifatnya agung dan
suci, kalau tidak mengapa pula Ia (Sang Atman) mau bersemayam di dalam diri
setiap makhluk-makhlukNya?
Lihatlah sisi
lain dari alam semesta dan ciptaan-ciptaanNya ini, bukankah semua ini adalah
refleksi atau cermin dariNya semata, dari keindahanNya, dari kesucian dan
keagunganNya. Dan kalau anda setuju akan konsep ini, maka bernyanyilah,
memujalah, berbahagialah dalam DiriNya. la hadir dalam diri kita dan kita ada
dalam DiriNya, seharusnyalah kita berorientasi kepadaNya dan jangan
mempergunakan kebebasanNya secara salah dan kemudian terseret dan terjebak oleh
Sang Maya. Satukan diri kita dengan alur Ilahi Yang Murni dan Suci,
bergembiralah kepadaNya. Ingat kita ini adalah kuil-kuil suci tempat la
bersemayam, dan seharusnya kita bertindak suci dan murni. Renungkanlah
pemikiran ini. Om Tat Sat.
28. Melihat, secara benar, Tuhan Yang
Sama hadir di mana pun juga, seseorang tak akan merusak Diri ini dengan
dirinya, dan dengan berbuat demikian ia mencapai Tujuan Yang Suci dan Agung.
Seperti kita
ketahui sekarang, maka di dalam setiap makhluk yang bernyawa hadir bentuk
"diri" yang rendah dan kecil sifatnya, dan juga bentuk
"Diri" Yang Agung dan Tinggi sifatNya, yaitu yang disebut Sang Atman,
Yang Maha Esa itu Sendiri dalam bentuk yang bersifat sebagian dariNya juga.
Menyadari hal ini, seseorang tak akan membiarkan jiwa-raganya membunuh atau
mengotori dan menodai DiriNya Yang Agung dan Suci yang bersemayam di dalam
jiwa-raga itu sendiri, dan kesadaran semacam ini akan menuntun kita ke arah
Yang Maha Esa atau dengan kata lain ke Tujuan Yang Suci dan Agung.
29. Seseorang yang melihat bahwa semua
perbuatan dilakukan oleh Prakriti (alam) dan bahwa Sang Atman itu tak bertindak
- ia melihat secara benar.
Alam atau
Prakritilah yang bertugas untuk bekerja, beraksi atau bertindak dan berbuat,
tetapi Sang Atman tak pernah melakukan apapun juga. la hadir sebagai saksi,
penuntun, pengamat, tetapi ditegaskan Sang Kreshna, Sang Atman tidak berbuat
suatu tindakan apapun juga. Semua perbuatan kita terjadi akibat dari ikatan
kita pada guna-guna yang berkaitan dengan Prakriti. Sang Jiwa mengikuti kita
terus selama kita mengembara di dunia fana ini sebagai saksi, penuntun dan
pengamat kita dan dengan kasihNya melepaskan kita dari ikatan Prakriti ini yang
diakibatkan oleh ulah kita sendiri yang terlalu bebas untuk 'bermain' dengan
Sang Maya.
30. Bila seseorang menyadari bahwa
berbagai bentuk kehidupan ini berakar pada Yang Esa dan terpancar (tersebar)
keluar dari Yang Maha Esa, maka ia mencapai Brahman.
Menyadari
seluruh alam semesta ini berasal dariNya secara sejati, apapun bentuk atau
manifestasinya, maka seseorang yang benar-benar sadar secara sejati dan
menghayati kesadarannya itu dalam kehidupannya sehari-hari langsung juga akan
segera menyadari akan hakikat Yang Maha Esa. Melihat atau menyadari Yang Maha
Esa adalah mencapaiNya.
31. Sang Atman Yang Tak Terbinasakan, Yang Agung dan Suci ini, oh Arjuna, tak bermula dan tanpa guna (sifat-sifat Prakriti). Dan walaupun la bersemayam di dalam raga, tetapi la tak bertindak atau pun terpengaruh oleh tindakan (raga ini).
Sang
Paratman, Yang bersemayam secara Agung dan Suci dalam diri kita ini, dikatakan
oleh Sang Kreshna sebagai tak bermula, dan tanpa sifat-sifat Prakriti. Walaupun
Ia selalu hadir, Ia tidak bertindak sedikit pun, dan walaupun Ia hadir di dalam
raga kita Ia juga tak tercemar oleh tindakan-tindakan kita yang buruk dan
negatif, begitupun Ia tak tersentuh oleh perbuatan-perbuatan kita yang baik dan
positif. Ia tak terpengaruh sedikit pun oleh kita, sebaliknya makin kotor
perbuatan kita maka makin jauhlah kita ini dariNya, dan makin positif tindakan
kita, maka makin teranglah Ia hadir ke hadapan kita. Maka ibaratkanlah diri
kita sebagai cermin yang bersih, agar refleksi atau bayanganNya tersingkap atau
jatuh secara jelas di raga kita ini. Renungkan ini dengan seksama. Ia jauh
kalau kita jauh, Ia dekat kalau kita dekat. Padahal sebenarnya Ia selalu dekat
di dalam diri kita.
32. Bagaikan ether, walau hadir di mana
pun juga, tak pernah ternoda, karena bentuknya yang lembut (tak terlihat),
begitu pun Sang Atman, walau hadir di raga mana pun, (la) lepas dari segala
noda-noda.
Bagaikan ether
yang terdapat di seluruh alam semesta ini dan menjadi penunjang hidup kita yang
amat vital, tetapi tak pernah terlihat oleh mata kita karena sifat-sifat
alaminya yang demikian lembut, maka begitu juga Sang Atman Yang Mana Hadir di
mana saja dan kapan saja dalam setiap ciptaan-ciptaanNya tak pernah nampak oleh
mata duniawi kita karena kebodohan dan kekurangan-pengetahuan kita, maka
singkapkanlah semua kebodohan kita ini agar dapat kita mengenalnya lebih terang
lagi, dan masuk menyatu kedalamNya. Om Tat Sat.
33. Bagaikan satu mentari yang menyinari seluruh dunia ini, maka
begitu juga Penguasa dari ladang ini menyinari seluruh ladang ini, oh Arjuna!
Perumpamaan satu mentari dengan
Sang Atman Yang Juga Eka (satu) sifatnya adalah suatu perumpamaan yang menarik,
karena Sang Surya walaupun hanya satu yang terlihat dari bumi ini (dunia ini),
ternyata mampu menyinari seluruh bumi kita bahkan juga rembulan dan spasi-spasi
diantara bumi dan bulan dan juga sekitarnya. Sang Surya dari kejauhan nampak
kecil dan amat terang-benderang, tetapi sebenarnya ia amat jauh letaknya dari
bumi kita ini. Begitupun Sang Atman, la dekat tapi jauh, la jauh tetapi dekat,
bahkan sangat dekat dan menerangi kita semua. Dan seperti juga Sang Surya yang
menerangi kita tetapi tak tercemar oleh perbuatan kita, maka Sang Atman pun tak
pernah tercemar atau ternoda oleh perbuatan-perbuatan kita yang buruk atau
terpengaruh oleh perbuatan-perbuatan yang baik.
Suatu saat, Sokrates, seorang
filsuf terkenal dari Yunani di masa lalu, pernah ditanya oleh salah seorang
muridnya tentang 'kebaikan,' yang selalu diajarkan Sokrates kepada
murid-muridnya, dan Sokrates menunjuk kepada matahari sebagai suatu contoh dari
'kebaikan' yang selalu hadir dari masa ke masa, dari waktu ke waktu, tetapi tak
pernah tercemar oleh bumi dan manusia. Mungkin pemikiran atau ajaran Sokrates
ini pun baik untuk kita renungkan untuk lebih menghayati akan kebesaran dan
kehadiran Sang Atman dalam diri kita. Sang Surya selalu bersinar tanpa
bosan-bosannya demi alam yang harus ditunjangnya. Bukankah Yang Maha Esa itu
Sendiri bersifat atau berkarakter demikian juga, selalu mengasihi tanpa
bosan-bosannya dan tanpa henti-hentinya kepada kita semuanya, walaupun sering
sekali kita tersesat dalam perjalanan hidup kita ini. Tetapi Ia Maha Penunjang
dan Penuntun kita semuanya. Om Tat Sat.
34. Mereka yang melihat perbedaan antara ladang dan Sang Pengenal
Ladang ini, dengan mata kebijaksanaan, dan yang sadar bagaimana makhluk-makhluk
maupun benda-benda dapat lepas dari Prakriti - bebas dari bentuk alam - mereka
benar-benar pergi ke Yang Maha Agung dan Suci.
Dalam Upanishad Bhagavat Gita,
Ilmu Pengetahuan Yang Abadi, Karya-Sastra Yoga, dialog antara Sang Kreshna dan
Arjuna, maka bab ketiga-belas ini disebut:
Kshetra Kshetragna
Vibhaga Yoga atau Ilmu Pengetahuan tentang Perbedaan antara Ladang dan Sang
Pengenal Ladang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar