19 Oktober 2026

Kenapa Cuma Bahlil dan Raja Juli

Oleh Mpu Jaya Prema

Pernyataan juru bicara Partai Gerindra Kamrussamad dalam debat dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran sangat menarik. Ini pernyataan politik paling telanjang dalam setahun terakhir. Cobalah baca. "Saya menilai memang kita perlu mengusulkan kepada Presiden untuk mengevaluasi secara sungguh-sungguh Menteri Kehutanan. Sangat perlu dievaluasi. Jadi saya merespons sangat serius, kalau benar Presiden ingin mengganti, ya, kita semua aminkan." Kalimat itu ditujukan untuk Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni.


Lalu ada satu nama lagi ditambah: Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Kamrussamad bahkan menyebutkan, Fraksi Gerindra di DPR sedang mengevaluasi 42 menteri dan wakil Menteri. Namun, dari 42 menteri itu, hanya dua nama itu yang disebut berulang-ulang: Bahlil dan Raja Juli.

Kenapa hanya dua menteri itu? Mari kita jujur. Gerindra tidak sedang melakukan evaluasi kinerja. Gerindra sedang melakukan eksekusi politik secara terbuka. Alasan teknis yang diberikan masuk akal, bahkan sangat masuk akal. Gerindra menggunakan skor versi CELIOS lewat survei yang disebut Key Performance Indicator (KPI) — dalam bahasa Indonesia: Indikator Kinerja Utama. KPI adalah tolok ukur yang terukur untuk menilai apakah seorang menteri berhasil atau gagal menjalankan tugasnya. Untuk Bahlil Lahadalia skornya -159, terendah se-Kabinet Merah Putih. Kita tahu, Bahlil baru saja rangkap jabatan menjadi Menko Hilirisasi dan Transisi Energi dan Menteri ESDM per 1 Oktober 2026.

Dengan dua jabatan rangkap, krisis BBM meluas di 11 provinsi — dan Bali yang paling lumpuh. Alasan yang dipakai Pertamina berubah-ubah dari distribusi truck yang kena macet sampai jangkar kapal tanker yang rusak. Di Belawan kapalnya tidak bisa bongkar karena ombak tinggi, di Kalimantan Barat kapalnya tidak bisa lewat karena Sungai Kapuas surut. Lalu ada pemadaman listrik massal di Kepulauan Riau. Publik melihat Bahlil sibuk berpolitik sebagai Ketua Umum Golkar ketimbang mengurusi jangkar kapal tanker.

Untuk Raja Juli Antoni, skor KPI-nya -103. Kebakaran hutan naik 66 persen dari 261 ribu hektare (2024) menjadi 433.751 hektare (2025) menurut data STADI Auriga Nusantara. Tiga provinsi yang dulu kena korban banjir angka kebakaran hutan juga naik. Aceh naik 426 persen, Sumut 281 persen, Sumbar 1.034 persen. Kebakaran hutan juga meluas dari Sumatera, Kalimantan, hingga Papua. Asapnya sudah sampai mengganggu hubungan diplomatik dengan negara tetangga. Bahkan belakangan mulai masuk Jakarta. Menteri yang seharusnya menjaga hutan justru jarang diajak Presiden dalam rapat terbatas penanganan kebakaran hutan.

Dua alasan itu memang valid. Tak ada yang membantah. Tapi pertanyaannya: apakah hanya dua menteri ini yang bermasalah? CELIOS mencatat 10 menteri ber-skor negatif, termasuk Menteri HAM Natalius Pigai (-158) yang skornya hampir sama dengan Bahlil, Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryono (-47) dengan kasus keracunan MBG massal, Menko Pangan Zulkifli Hasan (-43), hingga Menteri ATR Nusron Wahid (-24). Mengapa Gerindra diam untuk mereka? Mengapa hanya Bahlil dan Raja Juli yang di-mention dengan kata "Aamiin" jika keduanya diganti?

Jawabannya adalah keduanya menyangkut “orang partai”. Bahlil adalah Ketua Umum Partai Golkar. Raja Juli Antoni adalah Sekretaris Jenderal PSI. Keduanya bukan kader Gerindra. Inilah yang membuat desakan evaluasi itu tercium aroma bagi-bagi kekuasaan, bukan sekadar perbaikan kinerja. Gerindra sebagai partai Presiden, yang merasa memiliki hak moral untuk mengawal Asta Cita, nampaknya melihat dua kursi strategis — ESDM dan Kehutanan — yang mengelola sumber daya alam triliunan rupiah. Kok keduanya dipegang oleh partai lain. ESDM mengatur hilirisasi nikel, batu bara, dan distribusi BBM yang menentukan hidup mati rakyat. Kehutanan mengatur 120 juta hektare kawasan hutan, izin pelepasan kawasan, dan PSN food estate.

Apakah berani Prabowo mengevaluasi kedua menteri itu? Di sinilah dilemanya. Jika Prabowo me-reshuffle Bahlil dan Raja Juli sekarang, ia memang akan dicatat sebagai Presiden yang membersihkan kabinet dari menteri yang gagal. Sebagian besar rakyat mungkin ikut mengamini. Tapi Prabowo juga akan dituduh melakukan politisasi, menyingkirkan Ketua Umum Golkar, partai terbesar kedua di koalisi. Juga meyingkirkan  Sekjen PSI, partainya Joko Widodo, orang yang sangat dekat dengan istana. Tapi begitulah, Jika Prabowo tidak me-reshuffle, ia akan dianggap tidak berdaya di depan partainya sendiri. Dan membiarkan krisis BBM dan kebakaran hutan yang terus berulang. Ini membuat citra Prabowo negatif.

Gerindra sedang memainkan bola yang cerdik: lempar bola ke publik, biarkan publik marah pada Bahlil dan Raja Juli, lalu Presiden tinggal eksekusi dengan legitimasi "suara rakyat dan partai". Tapi kita harus mengingatkan Prabowo: reshuffle bukan alat untuk ganti orang partai. Jika evaluasi hanya menyasar menteri dari partai lain, sementara menteri dari Gerindra yang skornya merah dibiarkan, maka yang terjadi bukan efisiensi, melainkan pembersihan koalisi.

Publik tidak butuh drama siapa dari partai apa yang menterinya gagal. Publik butuh BBM tersedia dan hutan tidak semakin meluas terbakar. Jika Prabowo berani, evaluasilah semua 42 menteri itu secara objektif, bukan hanya dua yang kebetulan bukan dari Gerindra. Jangan hanya berani pada partai lain, tapi lembek pada yang dari dalam rumah sendiri. Karena jika tidak, sejarah akan mencatat: dua tahun Prabowo-Gibran bukan diisi dengan evaluasi kinerja, tapi dengan evaluasi siapa pemilik kursi.

Harapan kita – setidaknya saya – Prabowo berani melakukan evaluasi total terhadap kabinet setelah dua tahun pemerintahan berjalan. Ini kesempatan emas karena perjalanan ke depan masih panjang, tiga tahun lagi. Jika perlu kabinet dirampingkan dengan menggabungkan kementrian seperti dulu dan itu berarti Prabowo melakukan efisiensi nyata dan bukan efisiensi omon-omon.

Misalnya, Kementerian HAM dikembalikan ke Kementrian Hukum. Menteri HAM Natalius Pigai skornya -158 (peringkat 2 terburuk) karena dinilai gagal menangani kasus HAM berat. Nusron Wahid skornya -24 (peringkat 6 terburuk) sebagai Kementerian ATR/BPN sebaiknya diganti lebih cepat lagi karena sudah diincar Komisi Pemberantasan Korupsi. Untuk apa lagi menunda.

Kementerian Desa & PDT Yandri Susanto, skor KPI-nya memang tak masuk 10 terburuk sama dengan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana. Tapi “baiknya” kinerja mereka justru karena “tak banyak bekerja”. Coba lihat, seminggu antre dasyat BBM di Bali, Menteri Pariwisata tak datang memulihkan nama buruk Bali. Kementerian Desa gabungkan saja dengan Kementrian Transmigrasi dan Kementrian Pariwisata digabung kembali dengan Kementrian Kebudayaan. Rasanya tak perlu banyak ada pejabat setingkat menteri plus para wakil menterinya untuk menangani program Prabowo. Jangan-jangan Prabowo sendiri lupa apa pernah melantik Menteri Kependudukan, dan siapa orangnya? Ya, karena kerjanya “tak sampai telihat”.

Masalahnya, Presiden Prabowo baru saja mengganti sejumlah menternya. Kalau sekarang mengganti lagi, bisa-bisa Prabowo mendapat Piagam MURI untuk presiden yang paling sering mengganti menterinya. Untuk kebaikan, kenapa tidak? Masih tiga tahun masa jabatan itu, terlalu panjang dengan main drama-dramaan.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar