10 Oktober 2026

Penasehat yang Perlu Dipertimbangkan

Presiden Prabowo Subianto melantik anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) di Istana Negara, Jumat pekan lalu. Yang membuat masyarakat bertanya-tanya adalah jumlahnya yang amat banyak, 26 orang. Semakin berjubellah orang-orang yang berada di sekeliling presiden. Prabowo sudah membentuk 8 menteri kordinator dengan satu orang wakil. Ada 41 menteri dengan 57 wakil. Lalu 11 badan serta 7 utusan khusus. Dan kini ditambah 26 Wantimpres padahal sudah ada 10 penasehat presiden. Kalau dijumlah seluruhnya menjadi 161 orang, sementara di era Presiden Joko Widodo hanya 70 orang. Di era Soesilo Bambang Yudhoyono bahkan cuma 64 orang.

Pelantikan Wantimpres di Istana Merdeka

Wantimpres dimulai di era Soesilo Bambang Yudhoyono lewat UU No. 19 Tahun 2006. Jumlahnya dibatasi hanya 9 orang. Cikal bakal lahirnya Wantimpres ini karena tak befungsinya Dewan Pertimbangan Agung (DPA) yang pernah ditetapkan sebagai lembaga tinggi negara. DPA dibubarkan dan diganti Wantimpres yang berada langsung di bawah presiden.

 Di era Jokowi, Wantimpres dengan 9 anggota itu dipertahankan. Perubahan baru terjadi lewat UU No. 64 Tahun 2024. Yang berubah hanya jumlahnya dari 9 orang menjadi “tergantung kebutuhan presiden”. Prabowo memilih jumlah 26 orang tanpa menjelaskan alasannya. Lalu orang pun pada becanda, 26 itu adalah 2 + 6 sama dengan 8. Angka favorit Prabowo.

Wantimpres menjadi candaan? Tentu tidak. Cuma lembaga yang memberi pertimbangan terhadap segala keputusan presiden itu tak jelas kriteria orangnya. Ada Pratikno, Budi Gunawan, Djamari Chaniago, pejabat yang baru dikeluarkan dari kabinet. Ada pengusaha sepuh dan pemuka agama. Lalu ada Anwar Usman, mantan ketua Mahkaman Konstitusi yang dicopot dari jabatannya karena mengubah syarat usia pencalonan capres/cawapres agar keponakannya Gibran Rakabuming bisa lolos. Yang paling ramai dapat sorotan adalah masuknya Rocky Gerung, pengamat politik yang gemar ceplas ceplos. Suka mengumbar kata yang tak enak didengar seperti dungu, goblok, bajingan dan seterusnya.

Nampaknya Prabowo mau merangkul semua kalangan. Inilah paradok yang ke sekian dari Prabowo. Mencanangkan efisiensi dengan memotong anggaran ke desa, namun membayar mahal orang untuk berkumpul di istana. Coba dipikir, Prabowo sudah punya 10 penasehat presiden, untuk apa lagi Wantimpres sebanyak itu? Adakah perbedaan besar antara “pertimbangan” dengan “nasehat” sehingga Prabowo perlu kedua-duanya?  

Kita tahu Wantimpres adalah lembaga fomal berdasarkan Pasal 16 UUD 1945 yang tugas pokoknya memberi nasehat dan pertimbangan. Sedang penasehat presiden dasarnya hanya keputusan presiden dengan tugas spesifik per bidang dan bersifat individual. Contohnya, Wiranto penasehat untuk bidang politik dan keamanan, Luhut Binsar Pandjaitan bidang digitalisasi dan teknologi pemerintahan,  Muhadjir Effendy bidang haji,  Terawan Agus Putranto di idang kesehatan. Bahkan  Dudung Abdurachman yang baru saja menjadi Menko Politik dan Keamanan masih tercatat sebagai pensaehat khusus di bidang pertahanan nasional.

Lembaga penasehat memang ada di berbagai negara. Bahkan lembaga itu sudah dikenal di zaman Kerajaan Nusantara, jauh di masa lalu. Pada kerajaan di Jawa yang masih berakar ke tradisi Hindu, lembaga itu namanya Purohita. Ini Bahasa Sanskerta. Purohita dari kata puras yang berarti “depan” dan kata  hita yang berarti “ditempatkan”. Purohita adalah orang yang berada paling depan yang dimintai raja untuk mendapatkan nasehat bagaimana menjalankan misi kerajaan. Namun anggota Purohita itu hanya 3 orang dan semuanya pendeta. Nasehat pun lebih banyak dalam urusan agama dan ritual.

Di Bali, penasehat kerajaan itu disebut Bagawanta. Mereka adalah orang suci yang juga berstatus pendeta, namun nasehat yang disampaikan tak cuma urusan agama. Juga urusan sosial kemasyarakatan terutama masalah etika dan akhlak yang ujungnya memang bersentuhan dengan agama.

Pada masa pemerintahan Raja Udayana dan Gunapriya Dharmapatni, bagawanta paling populer adalah Mpu Kuturan. Beliau berperan penting sebagai penasihat raja yang membantu menyelaraskan sekte-sekte agama. Tapi jasanya yang monumental adalah Mpu Kuturan pendiri konsep desa adat di Bali yang disebut Desa Pekraman. Sampai kini desa adat itu dilestarikan yang beda dengan konsep desa atau kelurahan di era modern.

Kemudian pada masa Raja Dalem Waturenggong, ada bagawanta yang luar biasa jasanya bernama Danghyang Nirartha. Peran besarnya adalah menata reformasi keagamaan di Bali dan beliau memperkenalkan tempat pemujaan yang bisa digunakan oleh seluruh masyarakat tanpa memandang keturunan dan asal warga desa. Tempat pemujaan itu kini disebut Padmasana dan lokasinya disebut Pura Jagatnatha, yang bisa dikunjungi oleh siapa pun tanpa memandang keturunan dan asal usul. Beda dengan pura yang ada di desa-desa adat.

Nah, jika Prabowo sudah punya 10 penasehat dengan bidang keahlian yang berbeda, apakah dasar Prabowo memilih Wantimpres? Asal rangkul? Mari kita lihat sejauh mana pemerintah ini berjalan lebih baik dan apakah berdampak buat Prabowo secara pribadi. Jika tidak, lebih baik anggota Wantimpers mengabdi di bidang lain, misalnya, momong cucu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar